BANGKALAN | LIPUTAN9NEWS
Selain kisah tongkat dan tasbih, salah satu kisah masyhur tentang detik-detik menjelang berdirinya NU adalah kisah kegelisahan 60-an ulama dari seluruh Nusantara. Satu-satunya informan tentang seluruh kisah ini adalah Kiai As’ad. Dalam sebuah rekaman yang hingga hari ini masih bisa didengarkan [1], Kiai As’ad menyebutkan 60-an ulama (termasuk Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, dan lain-lain) datang ke Bangkalan untuk acabis (bahasa Madura untuk kata ‘sowan’) ke Kiai Khalil. Karena segan untuk langsung menghadap ke Demangan, para kiai tersebut pergi menuju menantu beliau, Kiai Muh. Taha Jàngkèbuàn — akrab disebut Ndoro Muntaha (kata ‘ndoro’ atau dhàràh dalam dialek Madura adalah ‘gus’ di Madura pada masa itu — belum ada istilah ‘lora’ sependek pengetahuan saya).
Syahdan, di langgar Jàngkèbuàn, tiba-tiba kabhulà’àn (santri dekat) Kiai Khalil datang. Kiai As’ad bahkan menyebut nama kabhulà’àn tersebut, yakni Nasib. Dhàràh Nasib membawa pesan dari Kiai Khalil: Surat Al-Ṣaff ayat 8 (bisa juga Surat Al-Taubah ayat 32). Tak lama pasca kejadian tersebut, Kiai As’ad diutus membawa pesan berupa tongkat dan surat Ṭāhā ayat 17 – 21. Puncaknya, pada tahun 1924 M akhir, Kiai As’ad diutus lagi oleh Kiai Khalil untuk pergi ke Tebuireng menyampaikan tasbih dan “Yā Jabbār, yā Qahhār … “
Mengenai kisah ini, setidaknya ada tiga argumen saya ragu akan kisah tersebut. Argumen pertama:
Keluarga di Jàngkèbuàn adalah keluarga yang dikenal rapi dalam mencatat sesuatu. Ketika saya melihat perpustakaan Kiai Taha, yg kini diampu oleh cicitnya, Kiai Syamsuddin, saya terkejut melihat semua kejadian dan momen dicatat sedemikian rapi. “Tanggal sekian, bulan sekian, datang Kiai Fulan dari Kabupaten Fulani berkunjung,” demikian Kiai Taha mencatat. Bahkan ayam dijual saja dicatat oleh beliau. Lebih dari itu, jam dinding yang baru didapat pun oleh beliau diberi goresan tinta.
Termasuk pertemuan Kiai Hasyim, Kiai Wahab Hasbullah, dll, ternyata pernah dicatat oleh Kiai Taha. Catatan itu berbunyi:
وقعت الجمعية الانتظامية في لنغر جعكيبون بحضور رئيس جمعية نهضة العلماء الشيخ هاشم أشعري وعبد الوهاب وحضر من أهل [الـ]بلاد القاضي محمد صداقة والسيد أحمد الجفري وغيرهم من الأعيان وذلك ليلة الأربعاء رابعةَ ذي الحجة المباركة سنة ١٣٤٩
“Terjadi rapat konsolidasi di Langgar Jàngkèbuàn dihadiri Rais Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, Syaikh Hasyim Asy’ari dan Abdul Wahhab. Hadir pula para pembesar dari berbagai daerah, di antaranya Al-Qāḍī Muhammad Ṣadāqah, Sayyid Ahmad Aljufri, dan lain-lain. Hal itu terjadi pada malam Rabu, tanggal 4 Dzulhijah, tahun 1349 H.” [2]
Catatan Kiai Taha, salah satu mustasyar pertama Nahdlatul Ulama [3] ini bertarikh 1349 H alias 1931. Itu artinya perkumpulan yang dimaksud Kiai As’ad sudah lewat 6 tahun pasca Kiai Khalil wafat. Bisa saja pertemuan ulama itu terjadi dua kali, namun sejauh informasi yang saya dapat, belum ada catatan yang mendukung hal ini. Mari kita beralih ke argumen kedua:
Ada beberapa catatan-catatan primer menyangkut hal ini. Catatan primer tentang kronologi berdirinya NU yang terawal adalah Oetoesan Nahdlatul Oelama edisi pertama. Majalah ini sama sekali tidak menyebutkan kisah tongkat dan tasbih. [4] Sama dengan Oetoesan Nahdlatoel Oelama, Berita Nahdlatoel Oelama dalam edisinya yang keempat tahun kedelapan memuat sebuah artikel berjudul “Riwajat dan Djasa N.O.” tidak menyebut kisah tongkat dan tasbih. [5] Dalam buku “Kiai Hasjim Asjari Bapak Umat Islam Indonesia”, Akarhanaf (Abdul Karim Hasyim) juga tidak menyebutkan kisah ini. [6]
Kisah ini juga tidak saya jumpai dalam catatan Kiai Abdul Chalim Leuwimunding tentang sejarah NU. [7] Mas Ayung Notonegoro memberi saya informasi bahwa dalam buku khusus tentang sejarah NU terawal karya Sofyan Cholil, kisah ini juga tidak ditemukan. Kisah ini baru muncul di buku Choirul Anam, “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama”. [8] Dalam catatan kakinya, Cak Anam menyebutkan bahwa kisah tersebut dituturkan secara lisan oleh Kiai As’ad kepadanya pada tahun 1982. Cak Anam menduga, kisah tersebut muncul untuk meredam kubu Kiai Idham Chalid dan Kiai Ali Ma’sum.
Argumen ketiga adalah tentang sikap-sikap santri dekat Kiai Khalil terhadap NU. Memang mayoritas santri Kiai Khalil adalah pengurus NU generasi awal. Namun ada di antara santri dekatnya yang menolak untuk bergabung ke NU. Di antara santrinya itu adalah Kiai Mas Mansur, ketua umum Muhammadiyah keempat (1937-1942 M). Kiai Mas Mansur adalah termasuk santri dekat dan bahkan hafal Alfiyah di bawah bimbingan Kiai Khalil. Lebih dari itu, ayah beliau, Kiai Ahmad Marzuki Sawahan, adalah santri yang mondok di Kiai Khalil lama sekali. [9]
Santri Kiai Khalil selanjutnya yang menolak bergabung ke NU adalah Kiai Ahmad Qusyairi. Dalam tulisan sebelumnya di laman Facebook saya, sudah saya sebutkan bahwa Kiai Ahmad Qusyairi, ayahnya, dan putranya adalah santri Kiai Khalil. Namun demikian, ketika diajak bergabung ke NU, Kiai Ahmad menggubah syair tiga bait yang diawali:
إني اعتذرت لمن قيل هم العلما * لدى محافل تدعى نهضة العلما
“Saya mohon maaf kepada orang-orang yang katanya ulama — di perkumpulan-perkumpulan mereka menamakan diri Nahdlatul Ulama.” [10]
Santri beliau selanjutnya yang menolak NU adalah dua bersaudara Kiai Abdullah dan Kiai Muhammad Pasuruan. Nama-nama terakhir ini, juga ayahnya, juga saudara-saudaranya adalah santri Kiai Khalil [11]. Namun demikian, keduanya bersepakat menolak NU dan bahkan membuat kitab khusus tentang ini. [12]
Yang hendak saya katakan dari argumen ketiga ini adalah bahwa andaikan kisah tongkat dan tasbih itu faktual, maka tentu kisah tongkat dan tasbih ini akan muncul lebih awal dari tahun ‘80-an. Sekian.
- Mengenai kisah ini, lihat rekaman asli Kiai As’ad berikut: https://youtu.be/kBzl3wmJEy4?si=d1yxQkaUT7TKjghB diakses pada 27 Juli 2025 pkl. 18.33.
- MS, Jàngkèbuàn. Lihat foto pertama.
- Al-Qanūn Al-Asāsī li Jam’iyyat Nahḍat al-‘Ulamā’ hlm. 15-16
- Oetoesan Nahdlatoel Oelama vol. i, no. i, hlm. 12
- BNO, no. iv, thn. viii, hlm. 59
- Kiai Hasjim Asjari Bapak Umat Islam Indonesia, Akarhanaf, Djombang, 1949.
- K.H. Abdul Chalim, Sejarah Perjuangan Kiyāhī Ḥāj ʿAbd al-Wahhāb, Bandung, Percetakan Baru, tt. mulai hlm.
- Choirul Anam, Pertumbuhan & Perkembangan NU, Surabaya, Duta Aksara Mulia, hlm. 72-73. Lihat juga catatan kaki nomor 81
- Sālim b. Jindān, Al-Sāmī fī Muʿjam al-Asāmī, MS. Al-Fachriyyah, vol. i, hlm. 15
- MS. KH. Aḥmad Qusyairī, di kediaman Kiai Hamid Ahmad, tt. Lihat foto kedua.
- AA. Alboneh, Al-Qalam, vol. x, no. ii, 1998, hlm. 28-31. Mengenai Kiai Yasin b. Rais, ayah Kiai Abdullah dan Kiai Muhammad, sebagai santri Kiai Khalil, lihat: Yāsin b. Īsā Al-Fādānī, MS. Lajnah Turāth, hlm. 6
- Di antaranya adalah: Al-Fatḥ Al-Raḥmānī, MS. Wizārat al-Ḥajj, Makkah, di rak Fiqh Mālikī, nomor panggil 126. Al-Ijādah fī al-Radd ʿAlā al-Ziyādah, Pasuruan: Al-Sunniyyah, 1934 M. Al-Ḥujaj Al-Bālighah, Pasuruan: Al-Sunniyyah, 1931 M. Al-Qaul Al-Ajma’, MS. Jàngkèbuàn. Semuanya karya Kiai Abdullah b. Yasin. Serta bantahan Kiai Muhammad b. Yasin terhadap NU, Al-Bayyināt, Pasuruan: Al-Sunniyyah, 1931 M. Untuk syair Kiai Abdullah mengkritik NU, lihat foto ketiga.
Gus Kholili Kholil, Cendekiawan Muda Nahdlatul Ulama
























