• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

Polemik Nasab Sesama Orang Arab di Indonesia Kurun 1910-1930, Tentang Baalwi Mulai dari Irsyadi Hingga Imadi

June 4, 2025
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto saat memberikan keterangan kepada awak media (Foto: Dok: Istimewa).

Mangkir, KPK Akan Panggil Ulang Haji Her Terkait Kasus Mafia Cukai Rokok

April 8, 2026
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Budi Prasetyo. (Foto: Antara)

KPK Usut Keuntungan Ilegal Rp 40,8 Miliar dari Kuota Haji Khusus, Penyidik Cecar 3 Bos Travel

April 7, 2026
Alumni Lemhabas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

Alumni Lemhannas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

April 7, 2026
Dr. KH. Zakky Mubarok, MA, Dewan Pakar Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU)

Jaminan Bagi Manusia yang Bertakwa

April 7, 2026
Ra Mamak dan Inayah

Inayah Wahid Putri Gus Dur Menikah dengan Ra Mamak Guluk-Guluk Sumenep

April 7, 2026
Dr. KH. Shalahuddin A Warits Ilyas Pengasuh Ponpes Anuuqayah

Ra Mamak Pengasuh Ponpes Annuqayah Nikahi Inayah Wahid Putri Gus Dur

April 7, 2026
Komandan Quds IRGC Warning Bakal Datangnya Kejutan Baru untuk Elite Epstein

Komandan Quds IRGC Warning Bakal Datangnya Kejutan Baru untuk Elite Epstein

April 7, 2026
Operasi Penyelamatan Pilot AS di Isfahan Gagal, Iran Hancurkan C-130 dan Black Hawk (Foto: MKPS/MSN)

Iran Gagalkan Operasi Penyelamatan Pilot AS di Isfahan, IRGC Hancurkan C-130 dan Black Hawk

April 7, 2026
Peringati Hari Penyiaran Nasional, Resonara Gelar Diskusi Publik Tantangan Era Digital

Peringati Hari Penyiaran Nasional, Resonara Gelar Diskusi Publik Tantangan Era Digital

April 7, 2026
Jusuf Kalla -Rismon Sianipar

Jusuf Kalla Polisikan Rismon Sianipar Terkait Kisruh Ijazah Jokowi

April 6, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Wednesday, April 8, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Polemik Nasab Sesama Orang Arab di Indonesia Kurun 1910-1930, Tentang Baalwi Mulai dari Irsyadi Hingga Imadi

Oleh: Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

liputan9news by liputan9news
June 4, 2025
in Opini
A A
1
Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA, Penulis buku Desain Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Teori dan Praktik Penelitian

529
SHARES
1.5k
VIEWS

Bondowoso | LIPUTAN9NEWS

Polemik seputar nasab Ba’alawy di Indonesia masih belum mereda. Sebagian orang mungkin mengira bahwa persoalan habib dan sayid mengemuka belakangan ini. Padahal jika kita merunut sejarah, masalah yang hampir sama sebenarnya pernah terjadi di Hindia Belanda antara tahun 1910-an hingga tahun 1930-an.

Riwayatnya bermula, ketika pada 17 Juli 1905, di Batavia berdiri organisasi Al Jam’iyat Al-Khairiyah, yang lebih dikenal Jamiatul Khair. Organisasi ini dibentuk untuk mewadahi orang Arab atau keturunan Arab yang ada di Hindia Belanda. Di antara tokoh populernya bernama Ahmad Surkati (1875-1943). Ia merupakan seorang ulama asal Sudan, yang baru bergabung ke Jamiatul Khair pada Oktober tahun 1911.

Belum lama bergabung, keberadaan Ahmad Surkati menimbulkan friksi di internal Jamiatul Khair. Sebagai seorang cendekiawan muslim yang terpengaruh oleh gagasan reformis Muhammad Abduh (1849-1905), ia memiliki ide-ide tentang kesetaraan umat Islam. Dalam sebuah pertemuan anggota Jamiatul Khair di Solo tahun 1913, Ahmad Surkati berfatwa bahwa Islam memperjuangkan persamaan dan tidak mengakui kedudukan yang mendiskriminasikan berbagai kalangan, hanya karena darah keturunan, harta, atau pangkat (Deliar Noer. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. 1991: 87).

BeritaTerkait:

Setop Banggakan Nasab: Sebuah Otokritik

KH. Abdul Hakim Mahfudz: Kombinasi Nasab, Leadership, dan Kemandirian Ekonomi sebagai Modal Kuat Memimpin PBNU

Mbah Hasyim tidak Mempunyai Guru Klan Habib Ba’alwi

Kiai Imad Sebut Ishlah Bukan Solusi Kemelut PBNU: Rais Aam, Ketum, dan Sekjen Harus Mundur, itu Sumber Masalahnya!

Fatwa ini rupanya ditentang oleh orang-orang Arab dari kalangan sayid. Ide-ide Ahmad Surkati dianggap dapat menjadi ancaman bagi mereka kaum Alawiyin yang kedudukannya lebih tinggi dibanding golongan lain dalam masyarakat Islam di Hindia Belanda, khususnya di Pulau Jawa.

Penting diketahui, pada masa Hindia Belanda, berdasarkan Undang-Undang tahun 1854, pemerintah kolonial membagi masyarakat menjadi tiga kelas secara hierarkis dan diskriminatif; Orang Eropa (Europeanen), Orang Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), dan pribumi (Inlander). Dalam hierarki ini, orang-orang Arab termasuk kategori Timur Asing, yang kemudian dipetakan lagi antara orang-orang Arab Sayid dan orang-orang Arab non-Sayid. Ahmad Surkati salah satu dari yang non-Sayid atau bukan Baalawy.

Atas apa yang diperjuangkannya, Ahmad Surkati kemudian dikucilkan di Jamiatul Khair. Hingga akhirnya, pada 6 September 1914, ia mendirikan organisasi baru bernama Jam’iyat al Islam wal Irsyad al ‘Arabia disingkat Al-Irsyad, yang baru satu tahun kemudian (11 Agustus 1915) mendapat legalitas dari pemerintah.

Adapun dalam hal keanggotaan, Al Irsyad lebih inklusif. Baik Arab maupun non-Arab, termasuk orang pribumi, boleh bergabung di dalamnya. Kecuali, kelompok Sayid, tidak diterima di organisasi ini. Bahkan dalam AD/ART Al Irsyad tahun 1915 dituliskan bahwa seorang Sayid tidak boleh menjadi pengurus.

Dari sini, perselisihan semakin memanas. Dalam banyak literatur sering disebut “konflik Alawi-Irsyadi”. Yaitu antara para Sayid (yang mayoritas berafiliasi pada Jamiatul Khair dan Rabithah Alawiyah) dengan non-Sayid (yang sebagian besar berafiliasi pada Al-Irsyad). Banyak hal yang mereka pertentangkan. Persoalan taqbil, misalnya. Taqbil adalah tradisi yang berisi keharusan bagi non-Sayid untuk mencium tangan para Sayid.

Al Irsyad menuntut ini dihapuskan, sedangkan Jamiatul Khair keukeuh ingin mempertahankan. Termasuk soal pernikahan. Jamiatul Khair melarang pernikahan seorang Syarifah dengan orang non-Sayid. Sedangkan Ahmad Surkati, dalam Fatwa Solo 1913 membolehkan pernikahan seorang perempuan keturunan Sayid, dengan non-sayid (Taufik Abdullah, dkk. Muncul dan Berkembangnya Faham-Faham Keagamaan Islam di Indonesia, 2008: 71).

Ada pula persoalan gelar. Jamiatul Khair menuntut bahwa gelar “Sayid”, “Syarif”, atau “Habib” adalah gelar keistimewaan yang sakral dan bagian dari syariat Islam, serta hanya mereka lah yang berhak menyandangnya. Sementara Al Irsyad mempunyai pandangan bahwa kata “Sayid” dan sejenisnya hanyalah panggilan biasa, sama dengan kata “Mister” dalam bahasa Inggris, “Meneer” dalam bahasa Belanda, atau “Monsieur” dalam Perancis (Huub de Jonge, Socio-cultural Essays. 2000: 153)

Lebih ekstrem dari itu, Al Irsyad juga berpendapat bahwa semua keturunan Hassan dan Hussain tidak dapat disebut sebagai keturunan Nabi Muhammad, mengingat kebiasaan bangsa Arab sebagai penganut sistem Patrilinial. Ditambah lagi, kalau pun benar mereka bisa disebut keturunan Nabi Muhammad, bagi Al Irsyad tidak ada satu pun aturan dalam Islam yang memberikan kedudukan istimewa kepada para keturunan Nabi Muhammad tersebut. Dalam sebuah tulisan berjudul Titel Sajid Djadi Oeroesan (1932: 7-8), Al Irsyad mengkritik perlakuan para Sayid terhadap masyarakat pribumi.

Cobalah dengarkan di kampung-kampung, bagaimana anak-anak Ba’alawi itu yang masih kecil-kecil sudah pandai membesarkan diri kepada orang-orang kampung. Coba dengarkan bagaimana mereka dalam bermain-main dengan anak orang kampung menceritakan kesaktian mereka sebagai “cucu Nabi”, dan mengancam akan membacakan “Kulhu”, sebab kalau dibacakan “Kulhu” oleh “cucu Nabi”, orang akan menjadi pohon kelapa atau binatang atau apa saja yang diminta oleh “cucu Nabi” itu. Cobalah perhatikan, bagaimana di kampung-kampung anak-anak tuan Sayid yang dianggap orang keramat atau setengah keramat, pergi meminta uang kepada orang-orang kampung itu, yang hidup miskin dan sengsara. Mereka tidak berani menampik permintaan tuan Sayid atau tuan Saripah itu karena takut “ketulahan”, “takut durhaka” kepada “cucu Nabi” itu. Lagi pula ada kepercayaan kalau memberi kepada “orang keramat” ada berkatnya. Nanti dapat untung berlipat ganda dari pemberian itu.

Sementara itu, dari pihak Jamiatul Khair menyarankan kepada pemerintah kolonial untuk mengambil tindakan terhadap orang-orang Al Irsyad yang mereka tuduh sebagai penganut Komunisme dan pengikut Bolshevic. Para Sayid yang pada saat itu memiliki jaringan luas dari Hindia Belanda, Singapura, India, hingga Timur Tengah (Hadramaut), menggunakan koneksi ini untuk menghambat pergerakan anggota Al-Irsyad.

Seorang Sayid terkemuka bernama Ali bin Ahmad bin Shahab (1870-1944) membujuk pemerintah kolonial Inggris di Singapura untuk menghadang perjalanan anggota Al-Irsyad yang berlayar hendak berziarah ke Hadramaut (Ulrike Freitag and William G. Clarence-Smith. Hadhrami Traders, Scholars and Statesmen in the Indian Ocean, 1750s to 1960s, 1927: 125).

Seorang tokoh mantan PBNU Prof. Dr. Said Aqil Siroj turut berkomentar terkait polemik ini, seraya membela tesis Imadi. Dalam salah satu wawancaranya berpendapat:

“Perselisihan antara Al Imadi dengan Ba’alawi adalah boleh diumpamakan sebagai peperangan antara aristokrasi dan demokrasi. Haluan yang dikemukakan oleh Imadi adalah yang cocok betul dengan Islam, karena sesuai keilmuan Islam yang tidak asal ikut ikutan apalagi katanya orang yang tidak punya kapabilitas membicarakan dan mengklaim dirinya sebagai keturunan nabi padahal belum ditemukan data valid dan otentik secara ilmiah.” Dawuhnya.

Semangat demokrasi dalam meneliti oleh Imadi perlu diapresiasi. Inilah yang menjadi satu di antara sebab-sebab yang terutama kenapa agama Islam menjadi banyak tersiar di seluruh dunia ini. Maka orang-orang yang menghalang-halangi roh dan semangat ini, adalah orang-orang yang menghalangi kemajuan.

Tulisan ini, hanya mencoba menjadi penyeimbang agar tidak terjerumus pada fanatik buta sampai sampai istrinya pun dipersembahkan untuk sang habib. Memang ini dilakukan oleh oknum habib tapi ini fakta yang tidak boleh dinafikan.

Dr. KH. Muhammad Saeful Kurniawan, MA, Penulis buku Desain Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Teori dan Praktik Penelitian

Tags: HabibIsu NasabKiai ImadNasabPolemik Nasab
Share212Tweet132SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

KH. Imam Jazuli, Lc., MA.
Opini

Setop Banggakan Nasab: Sebuah Otokritik

by KH. Imam Jazuli, Lc. MA.
March 2, 2026
0

CIREBON | LIPUTAN9NEWS Polemik nasab pada awal tahun ini memang sudah tidak sesanter tahun sebelumnya, di mana ruang digital dan...

Read more
KH Abdul Hakim Mahfudz atua Gus Kikin (Foto: Ai/MSN)

KH. Abdul Hakim Mahfudz: Kombinasi Nasab, Leadership, dan Kemandirian Ekonomi sebagai Modal Kuat Memimpin PBNU

January 13, 2026
Hasyim Asy'ari

Mbah Hasyim tidak Mempunyai Guru Klan Habib Ba’alwi

December 20, 2025
Kiai Imad Sebut Ishlah Bukan Solusi Kemelut PBNU, Rais Aam, Ketum, dan Sekjen Harus Mundur, itu Sumber Masalahnya!

Kiai Imad Sebut Ishlah Bukan Solusi Kemelut PBNU: Rais Aam, Ketum, dan Sekjen Harus Mundur, itu Sumber Masalahnya!

December 5, 2025
Load More

Comments 1

  1. herpafend says:
    2 months ago

    **herpafend**

    herpafend is a natural wellness formula developed for individuals experiencing symptoms related to the herpes simplex virus.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2543
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto saat memberikan keterangan kepada awak media (Foto: Dok: Istimewa).

Mangkir, KPK Akan Panggil Ulang Haji Her Terkait Kasus Mafia Cukai Rokok

April 8, 2026
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Budi Prasetyo. (Foto: Antara)

KPK Usut Keuntungan Ilegal Rp 40,8 Miliar dari Kuota Haji Khusus, Penyidik Cecar 3 Bos Travel

April 7, 2026
Alumni Lemhabas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

Alumni Lemhannas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

April 7, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In