• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
KH. Imam Jazuli, Lc., MA.

Setop Banggakan Nasab: Sebuah Otokritik

March 2, 2026
Dubes Iran Terima Cinderamata Keris dari Kiai Said, Simbol Solidaritas 14 Ormas Islam Lawan Zionis

Dubes Iran Terima Cinderamata Keris dari Kiai Said, Simbol Solidaritas 14 Ormas Islam Lawan Zionis

April 18, 2026
FPII Resmi Tempuh Jalur Hukum untuk Jusuf Kalla demi Jaga Ketertiban dan Stabilitas Publik

FPII Resmi Tempuh Jalur Hukum untuk Jusuf Kalla demi Jaga Ketertiban dan Stabilitas Publik

April 18, 2026
Ahmad Tomy Wijaya, Koordinator Pusat BEM Pesantren

Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, BEM Pesantren Seluruh Indonesia Serukan Klarifikasi dan Edukasi Publik Demi Kerukunan Umat

April 18, 2026
Foto: ILustrasi

PNIB Soroti OTT Bupati Tulungagung dan Kepala Daerah lainya: Miskinkan Koruptor Tanpa Syarat

April 18, 2026
Ramadhan Isa, Koordinator Nasional Poros Muda NU (Foto: Dok.PMNU)

Poros Muda NU Sambut Positif Ikhtiar Gus Salam Maju Calon Ketua Umum PBNU

April 17, 2026
Konferensi pers Tim Advokat Pembela Yaqut Cholil Qoumas terkait kasus dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024, di Jakarta Pusat, pada Kamis (16/4/2026). (Foto: Ibriza/Tribunnews)

Pengacara Bantah Yaqut Beri Uang ke Anggota DPR RI

April 16, 2026
Khutbah Jumat: Amaliah Terbaik Pasca Ramadan (Foto: Pinterest)

Khutbah Jumat: Amaliah Terbaik Pasca Ramadan

April 16, 2026
Ketua Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII) Muhammad Fathur Rozaq, menyikapi pernyataan Jusuf Kalla

Forum Persatuan Islam Indonesia Akan Tempuh Jalur Hukum demi Stabilitas Umat Beragama

April 16, 2026
Mellisa Anggraini, Pengacara mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Ist/MSN)

Kuasa Hukum Yaqut Cholil Qoumas Katakan Pembagian Kuota Haji Sesuai Aturan

April 16, 2026
Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil Yang Dibelokkan (Foto: newsky.id/MSN)

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil Yang Dibelokkan

April 16, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Saturday, April 18, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Setop Banggakan Nasab: Sebuah Otokritik

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., MA.

KH. Imam Jazuli, Lc. MA. by KH. Imam Jazuli, Lc. MA.
March 2, 2026
in Opini
A A
0
KH. Imam Jazuli, Lc., MA.

KH. Imam Jazuli, Lc., MA., Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. (Foto: Dok. Kiai Imjaz/MSN)

517
SHARES
1.5k
VIEWS

CIREBON | LIPUTAN9NEWS

Polemik nasab pada awal tahun ini memang sudah tidak sesanter tahun sebelumnya, di mana ruang digital dan majelis-majelis kita sesak oleh kegaduhan yang tidak produktif.

Energi kolektif umat, khususnya di lingkaran Nahdlatul Ulama (NU), tersedot habis untuk membedah validitas mengenai nasab atau garis keturunan.

Kegaduhan karena nasab merembet ke mana-mana. Kita menyaksikan tokoh tertentu ditolak di berbagai tempat, masyarakat pun menjadi terbelah.

Ironisnya, saat kita sibuk berdebat mengenai nasab dan siapa yang paling “murni” darahnya, kita justru abai pada realitas sosiologis yang ada di depan mata, yaitu kemiskinan struktural dan ketertinggalan intelektual.

BeritaTerkait:

Tokoh Muda Nahdliyin Sebut NU Bukan Komoditas, Muktamar Harus Steril dari Mainan Aktor Politik

Ra Mamak Pengasuh Ponpes Annuqayah Nikahi Inayah Wahid Putri Gus Dur

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

Ketua PCNU Jakut: Pemimpin NU Harus Dibesarkan dari Kaderisasi dan Paham Akar Rumput

Sudah saatnya kita melakukan otokritik tajam. Kita perlu bermigrasi dari mentalitas “berebut nasab” menuju perjuangan “memperbaiki nasib”.

Mengapa isu nasab begitu laku dijual di kalangan akar rumput Nahdliyin? Jawabannya pahit. Karena keterbatasan akses ekonomi serta faktor pendidikan.

Ekonomi yang pas-pasan dan rendahnya tingkat pendidikan menjadi penyakit akut yang sangat mudah menjadi penyulut seseorang untuk tidak lagi berpikir masuk akal, termasuk terkait masalah nasab.

Ketika seseorang hidup dalam kemiskinan dan tidak memiliki pencapaian intelektual yang bisa dibanggakan, mereka cenderung mencari “pegangan” pada kemuliaan orang lain, salah satunya lewat jalur nasab.

Mengultuskan nasab tertentu adalah cara instan untuk merasa dekat dengan kesucian, tanpa harus berpayah-payah memperbaiki kualitas diri.

Ini sungguh ironis, kita sering dipertontonkan dengan adegan-adegan yang tidak masuk akal, pameran nasab yang tidak mencerdaskan.

Struktur masyarakat kita masih terjebak pada penghormatan buta berdasarkan pada nasab atau kasta darah, bukan kasta karya. Ini menciptakan ekosistem di mana “siapa kakekmu” lebih dianggap penting daripada “apa kontribusimu”.

Seharusnya kita berani berkata lantang, “inilah karyaku”, bukan justru berkata ” Inilah karya bapakku, kakekku atau leluhurku” yang bertumpu pada nasab.

Selama sumber daya manusia kita masih rendah, kita akan selalu menjadi objek manipulasi narasi nasab. Orang yang lapar dan kurang literasi lebih mudah dikendalikan dengan janji keberkahan lewat penghambaan pada figur, daripada diajak berpikir kritis tentang kedaulatan ekonomi.

Ada fenomena menarik, sekaligus menyedihkan dalam polemik nasab ini. Sebagian pihak yang dengan keras menafikan keabsahan nasab Ba’alawi, ternyata di saat yang sama membangun narasi baru untuk mengklaim diri sebagai keturunan Rasulullah dari jalur Walisongo atau raja-raja Jawa.

Ini adalah lingkaran setan yang terus berputar ke arah salah. Kita hanya berpindah dari satu berhala nasab ke berhala nasab lainnya. Jika kita menolak satu klaim hanya untuk meninggikan klaim personal kita sendiri, maka substansi masalahnya tetap sama: kita masih kecanduan pada legitimasi tulang belulang.

Mentalitas ini justru mengonfirmasi bahwa kita belum merdeka secara intelektual. Kita masih merasa tidak cukup berharga sebagai manusia mandiri jika tidak “menyantol” pada nama besar leluhur alias nasab.

Apa dampak jika energi mengenai nasab ini terus dipelihara? Stagnasi intelektual. Dalam organisasi, jabatan atau kehormatan cenderung diberikan berdasarkan kedekatan darah atau trah, bukan pada kompetensi dan integritas.

Budaya seperti ini akan menghambat kemajuan sebuah lembaga atau organisasi apapun dan bahkan mengancam keberlanjutan sebuah jam’iyyah karena akan dihuni oleh orang-orang yang tidak punya kompetensi.

Dampak lainnya, umat terbelah menjadi faksi-faksi yang saling merendahkan silsilah. Ini tentu saja melemahkan ukhuwah nahdliyyah yang selama ini menjadi fondasi kekuatan NU.

Diskusi di pesantren dan kampus-kampus NU seharusnya fokus pada diskursus kekinian, seperti kecerdasan buatan (AI), krisis iklim, atau kedaulatan pangan, bukan malah mundur ke perdebatan tes DNA yang bersifat partikular.

Langkah taktis

Untuk keluar dari kubangan ini, kita membutuhkan revolusi mentalitas Nahdliyin yang radikal, berupa pendidikan yang membebaskan. Majelis ta’lim nahdliyin dan kurikulum di pesantren atau madrasah harus mulai menekankan pada metodologi berpikir kritis (tashwirul afkar).

Nahdliyin atau kalangan santri harus diajarkan bahwa kemuliaan hanya bisa diraih melalui ilmu dan amal, sebagaimana bunyi kaidah: Al-fadhlu lil mubtadi’ wa in kana al-muqallidu afdhal (kemuliaan itu bagi mereka yang memulai karya, meski yang mengikuti mungkin lebih mulia nasabnya).

Kemudian kedaulatan ekonomi. Nasib kaum Nahdliyin tidak akan berubah dengan “tahlilan” nasab. Kita butuh gerakan kewirausahaan kolektif. Orang yang mandiri secara ekonomi tidak akan mudah “disihir” oleh klaim-klaim feodalistik yang merendahkan martabat manusianya.

Lalu kita perlu melakukan dekonstruksi budaya penghambaan. Menghormati ulama adalah kewajiban, namun menghamba pada personil (apalagi sekadar karena faktor darah) adalah bentuk kebodohan. Kita harus mulai menghargai orang karena gagasan dan dedikasinya pada kemanusiaan.

Rasulullah SAW bersabda bahwa amalnyalah yang akan mempercepat seseorang menuju surga, bukan nasabnya.

Jika kita mengaku mencintai KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU), maka warisan yang harus kita jaga adalah semangat intelektual dan pergerakan (nahdlah), bukan sibuk mencari-cari dahan silsilah untuk bergantung.

Siapapun nakhoda NU nanti, harus menyudahi kegaduhan nasab ini. Mari kita kembali ke khittah: Mendidik yang bodoh, memberdayakan yang miskin, dan memanusiakan manusia.

Kemuliaan NU di masa depan ditentukan oleh seberapa banyak ilmuwan, teknokrat, dan pengusaha hebat yang lahir dari rahimnya, bukan seberapa panjang silsilah yang bisa kita tulis di secarik kertas. Nasib kita, ada di tangan kita sendiri, bukan di darah kakek moyang kita. Wallahu’alam bishawab.

KH. Imam Jazuli, Lc., MA., Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir (Dept. Theology and Philosophy); alumni Universiti Kebangsaan Malaysia (Dept. Politic and Strategy); alumni Universiti Malaya (Dept. International Strategic and Defence Studies); Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015

Tags: Nahdlatul UlamaNasabNUSetopStop Banggakan Nasab
Share207Tweet129SendShare
KH. Imam Jazuli, Lc. MA.

KH. Imam Jazuli, Lc. MA.

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

BeritaTerkait

HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur Bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar
Nasional

Tokoh Muda Nahdliyin Sebut NU Bukan Komoditas, Muktamar Harus Steril dari Mainan Aktor Politik

by Yuzep Ahmad
April 15, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Menyongsong pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, tokoh muda nahdliyin HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab...

Read more
Dr. KH. Shalahuddin A Warits Ilyas Pengasuh Ponpes Anuuqayah

Ra Mamak Pengasuh Ponpes Annuqayah Nikahi Inayah Wahid Putri Gus Dur

April 7, 2026
Muhamad Didi Rosadi, Ketua Umum Forkom Jurnalis Nahdliyin, Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35

April 6, 2026
KH Agus Muslim, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Utara

Ketua PCNU Jakut: Pemimpin NU Harus Dibesarkan dari Kaderisasi dan Paham Akar Rumput

April 6, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2551
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Dubes Iran Terima Cinderamata Keris dari Kiai Said, Simbol Solidaritas 14 Ormas Islam Lawan Zionis

Dubes Iran Terima Cinderamata Keris dari Kiai Said, Simbol Solidaritas 14 Ormas Islam Lawan Zionis

April 18, 2026
FPII Resmi Tempuh Jalur Hukum untuk Jusuf Kalla demi Jaga Ketertiban dan Stabilitas Publik

FPII Resmi Tempuh Jalur Hukum untuk Jusuf Kalla demi Jaga Ketertiban dan Stabilitas Publik

April 18, 2026
Ahmad Tomy Wijaya, Koordinator Pusat BEM Pesantren

Sikapi Pernyataan Jusuf Kalla, BEM Pesantren Seluruh Indonesia Serukan Klarifikasi dan Edukasi Publik Demi Kerukunan Umat

April 18, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In