• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Yusuf mars

Jika Kiai Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU, Nasib Gus Yahya Game Over?

June 2, 2026
KH. Khotimi Bahri, Katib Syuriah PCNU Kota Bogor dan Sedang Menyelesaikan Program Doktoral di SPI UNUSIA

Salafi-Wahabi Dalam Sejarah Gerakan Radikalisme Islam

June 6, 2026
Gus Salam; Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

Gus Salam: Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

June 6, 2026
Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

June 6, 2026
SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

June 6, 2026
Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur). Oleh: Ahmad Samsul Rijal

Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur)

June 6, 2026
BGN Jadi Ladang Korupsi, PNIB Ngamuk

BGN Jadi Ladang Korupsi, PNIB Ngamuk

June 6, 2026
Mantan Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), di Surabaya, Rabu (03/06/2026).(Foto: kompas.com/Adhi Dwi)

Gus Salam Sebut pada Muktamar NU Ke-35 PC dan PWNU Ingin Perubahan di PBNU

June 5, 2026
KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang Rembang.

Gus Rosikh: NU Jangan Dibuat Mainan, Jangan Jadi Alat Kepentingan Antar Kelompok, NU Ora Didol, Reformasi PBNU

June 5, 2026
Prabowo Mania 08 Apresiasi Pergantian Kepala BGN Baru Naniek S. Deyang

Prabowo Mania 08 Apresiasi Pergantian Kepala BGN Baru Naniek S. Deyang

June 4, 2026
Pemberantasan Korupsi di BGN, Bukti Nyata dan Komitmen Prabowo Sesuai Amanat Reformasi 98

Pemberantasan Korupsi di BGN, Bukti Nyata dan Komitmen Prabowo Sesuai Amanat Reformasi 98

June 4, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Sunday, June 7, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Jika Kiai Miftachul Akhyar Kembali Jadi Rais Aam PBNU, Nasib Gus Yahya Game Over?

Oleh Yusuf Mars

liputan9news by liputan9news
June 2, 2026
in Opini
A A
0
Yusuf mars

Yusuf Mars, Founder & Editor In Chief Padasuka TV Youtube Channel/Foto: Liputan9news

559
SHARES
1.6k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

Konflik internal Nahdlatul Ulama di penghujung 2025 bukan sekadar riak organisasi, melainkan momen ekstrem dan pertama dalam sejarah PBNU: pemakzulan Ketua Umum oleh Syuriyah dalam sidang Pleno di Hotel Sultan, Jakarta. Bisa dikatakan peristiwa tersebut adalah konflik politik tingkat tinggi yang membuka tabir pertarungan kekuasaan di tubuh NU.

Perlawanan pun terjadi dari kubu Gus Yahya hingga munculnya pertemuan Lirboyo—yang melibatkan hampir seluruh spektrum struktur dan kiai—meledak ke ruang publik, NU tidak lagi sekadar berhadapan dengan konflik internal, tetapi dengan krisis legitimasi yang disaksikan luas.

Memang, pada akhirnya KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dipulihkan sebagai Ketua Umum PBNU. Namun pemulihan itu lebih menyerupai kompromi darurat ketimbang rekonsiliasi strategis. Bara konflik tidak padam; hanya dipendam, menunggu momentum berikutnya: Muktamar NU ke-35.

Di titik ini, peta pertarungan tidak lagi samar, melainkan mengeras menjadi dua poros besar: kubu Gus Yahya di satu sisi, dan poros Rais Aam yang beririsan dengan kekuatan struktural lain di sisi berbeda. Ini bukan lagi soal gaya kepemimpinan atau perbedaan visi, melainkan rivalitas terbuka yang akan menentukan arah NU ke depan.

BeritaTerkait:

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur)

Gus Salam Sebut pada Muktamar NU Ke-35 PC dan PWNU Ingin Perubahan di PBNU

Gus Rosikh: NU Jangan Dibuat Mainan, Jangan Jadi Alat Kepentingan Antar Kelompok, NU Ora Didol, Reformasi PBNU

Dan seperti biasa dalam tradisi NU, kunci permainan tidak berada di tangan Ketua Umum, melainkan di Rais Aam.

Di atas kertas, mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU bisa berlangsung demokratis melalui voting. Namun dalam praktik kultural NU, restu Rais Aam adalah “filter tak tertulis” yang jauh lebih menentukan daripada prosedur formal. Tanpa restu itu, seorang kandidat bisa kehilangan legitimasi bahkan sebelum masuk arena. Di sinilah skenario paling krusial itu muncul: jika Kiai Miftachul Akhyar kembali terpilih sebagai Rais Aam.

Dengan jejak konflik 2025 yang begitu tajam—hingga berujung pemakzulan—sulit membayangkan adanya restu politik bagi Gus Yahya untuk kembali maju. Ini bukan sekadar soal hubungan personal, tetapi soal memori politik dan posisi kekuasaan. Dalam logika elite NU, restu bukan diberikan kepada rival yang baru saja berhadapan secara frontal.

Artinya jelas: peluang Gus Yahya bisa tertutup sejak garis start.

Bahkan jika sistem voting tetap dipertahankan, absennya restu Rais Aam akan menjadi sinyal kuat bagi struktur di bawah untuk tidak memberikan dukungan. Dalam kultur NU, isyarat semacam ini sering lebih efektif daripada instruksi formal.

Lebih ekstrem lagi, jika mekanisme pemilihan bergeser—dari voting ke model yang lebih terkonsentrasi pada otoritas Rais Aam—maka peluang itu bukan sekadar mengecil, tetapi hilang sepenuhnya. Dalam skema ini, Rais Aam bukan hanya “king maker”, tetapi juga penentu siapa yang tidak boleh menjadi Ketum PBNU.

Maka, narasi “Gus Yahya game over” bukan lagi retorika berlebihan. Tapi konsekuensi paling logis jika variabel Rais Aam tidak berubah.

Situasi ini memaksa Gus Yahya menghadapi satu kenyataan pahit: pertarungan tidak bisa dimenangkan di level Ketua Umum jika kalah di level Rais Aam. Arena sesungguhnya bukan di muktamar, tetapi sebelum muktamar—pada siapa yang akan menguasai kursi syuriyah tertinggi.

Satu-satunya jalan adalah membangun poros tandingan: mendorong figur kiai sepuh lain yang memiliki otoritas pesantren, legitimasi keulamaan, dan daya terima lintas faksi untuk maju sebagai Rais Aam. Tanpa itu, semua kalkulasi politik di level Ketua Umum menjadi tidak relevan.

Masalahnya, figur seperti itu tidak tersedia secara instan. NU bukan ruang politik elektoral biasa; tapi ekosistem tradisi di mana legitimasi tumbuh dari sanad, waktu, dan pengakuan kolektif yang panjang.

Jika Gus Yahya gagal menghadirkan tokoh alternatif di kursi Rais Aam, maka Muktamar NU ke-35 bukanlah arena pertarungan bagi Gus Yahya melainkan “kalah” sebelum bertanding!

Di titik itulah ironi NU modern terlihat jelas: seorang Ketua Umum aktif dengan jaringan global dan posisi strategis bisa kehilangan masa depan politiknya.

Dan dalam NU, restu Rois Aam tidak pernah menjadi pelengkap, tapi penentu!

Yusuf Mars, Kandidat Doktor Sejarah Peradaban Islam UNUSIA, Dosen Universitas Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik (USG), Fouder LASKAR NUSA (Lembaga Strategis Kajian Peradaban Islam Nusantara & Asia Tenggara) & Founder @PadasukaTV

Tags: Gus YahyaMiftachul AkhyarMuktamar NU Ke-35Nahdlatul UlamaRais Aam PBNU
Share224Tweet140SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021
Opini

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

by liputan9news
June 6, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Perubahan nomenklatur dari Rais Akbar menjadi Rais ’Aam Syuriyah dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) sering kali dipahami...

Read more
Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur). Oleh: Ahmad Samsul Rijal

Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur)

June 6, 2026
Mantan Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), di Surabaya, Rabu (03/06/2026).(Foto: kompas.com/Adhi Dwi)

Gus Salam Sebut pada Muktamar NU Ke-35 PC dan PWNU Ingin Perubahan di PBNU

June 5, 2026
KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang Rembang.

Gus Rosikh: NU Jangan Dibuat Mainan, Jangan Jadi Alat Kepentingan Antar Kelompok, NU Ora Didol, Reformasi PBNU

June 5, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2579
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
KH. Khotimi Bahri, Katib Syuriah PCNU Kota Bogor dan Sedang Menyelesaikan Program Doktoral di SPI UNUSIA

Salafi-Wahabi Dalam Sejarah Gerakan Radikalisme Islam

June 6, 2026
Gus Salam; Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

Gus Salam: Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

June 6, 2026
Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

June 6, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In