• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Dari Fabel Kaum Sufi

October 18, 2022
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur

Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia Di BoP dan NU Harus Tegas Mengingatkan

February 1, 2026
Gus Yahya

Rais Aam dan Sekjen PBNU Hingga Prabowo tidak Hadiri Harlah Ke-100 NU, Ini Penjelasan Gus Yahya

February 1, 2026
Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM., Pengamat Sosial dan Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN Bandung

Meneguhkan Polri di Bawah Presiden: Kuatkan Agenda Reformasi, Bukan Degradasi Institusi

February 1, 2026
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat memimpin konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: NU Online/Syakir NF)

Ketum PBNU Tegaskan Seluruh Unsur Organisasi Kompak Hadiri Harlah Ke-100 NU

January 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Dunia Islam Tasawuf

Dari Fabel Kaum Sufi

Oleh: Sulaiman Djaya, (Pengasuh Program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe 102.8 FM)

Abdus Saleh Radai by Abdus Saleh Radai
October 18, 2022
in Tasawuf
A A
0
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Ketua Bidang Perfilman Majelis Kebudayaan Banten/Foto: Liputan9News

502
SHARES
1.4k
VIEWS

“Sebagaimana dicatat oleh Sayid Syarif Radhi dalam Nahjul Balaghah, Sayidina Ali berkata: Jadikanlah dirimu sebagai timbangan dalam hubunganmu dengan orang lain, dan cintailah orang lain itu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, dan bencilah orang lain sebagaimana kamu benci dirimu sendiri, janganlah engkau menganiaya sebagaimana engkau tidak senang dianiaya, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana engkau senang orang lain berbuat baik kepadamu, dan pandang jeleklah terhadap dirimu sebagaimana orang lain memandang jelek, dan tumpahkan relamu kepada manusia sebgaimana engkau rela jika orang lain rela kepadamu.”

Kita selalu berbicara tentang pengaruh agama pada sebuah masyarakat sembari kita melupakan manipulasi dan politisasi oleh orang-orang yang mengaku-ngaku diri saleh yang seringkali mengatasnamakan perintah agama ketika melakukan kekerasan dan penodaan pada sesama manusia.

Saya masih ingat ketika saya masih aktif nimbrung dalam diskusi-diskusi Kajian Islam atau Islamic Studies yang membahas tulisan-tulisan dan buku-bukunya Fazlur Rahman sewaktu saya masih ngendon di Ciputat. Dari tulisan-tulisan dan buku-buku Fazlur Rahman yang kami baca dan kami diskusikan bersama-sama di Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) itu, saya jadi paham bahwa untuk mengerti ruh Islam, kita mau tidak mau mesti merujuk pada biografi historis dan personal Muhammad saw itu sendiri.

Hal itu dimaksudkan Fazlur Rahman bukan karena Al-Qur’an tidak penting. Tetapi lebih karena dengan membaca dan mengetahui biografi historis dan personal Muhammad saw itu sendiri, kita jadi maphum dengan situasi historis, kultural, sosiologis, bahkan nuansa personal apa yang akan kita sebut sebagai Islam, baik sebagai sejumlah doktrin atau pun wawasan.

BeritaTerkait:

Rumi

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

Menjadi Bermakna Sebagai Manusia

Garis yang sama juga dilakukan Karen Armstrong ketika ingin mempelajari dan memahami Islam. Dengan sudut pandang seperti itu, Rahman dan Armstong, percaya bahwa kita akan mengerti dan memahami setiap celah dan sisi manusiawi dari iman atau pun keyakinan keagamaan yang kita anut. Di mana ukuran kesalehan dan keimanan tetap meniscayakan sebuah tempat dan konteks dimana kita hidup dan berada sebagai manusia dan orang beriman.

Dengan landasan pemahaman demikian, sebagai orang beriman sekalipun kita adalah manusia dan individu yang hidup di bumi, bukan terkunci di surga. Dan karena itu pula, tak jarang misalnya, persoalan-persoalan manusiawi acapkali membajak dan meminjam retorika dan wawasan keagamaan demi mendapatkan legitimasi bagi setiap tindakan yang sengaja dipilih seseorang atau kelompok tertentu.

Sebagai pengusung wawasan baru, demikian menurut Armstrong dan juga seperti telah kita ketahui, Muhammad saw adalah orang yang menentang pembunuhan dan penguburan anak perempuan yang masih hidup dalam kebudayaan Arab di mana Muhammad saw hidup. Sebuah sikap yang saat itu cukup berbahaya dan melawan mainstream. Sebab, kebiasaan itu sudah berjalan selama bertahun-tahun sebelum Muhammad saw dilahirkan.

Dengan itu semua, saya hanya ingin mengatakan bahwa agama atau “iman” sekalipun pada akhirnya harus bergelut dengan sejarah. “Kita selalu berbicara tentang pengaruh agama pada sebuah masyarakat”, tulis Amin Maalouf, “sembari kita melupakan manipulasi dan politisasi oleh orang-orang yang mengaku-ngaku diri saleh yang seringkali mengatasnamakan perintah agama ketika melakukan kekerasan dan penodaan pada sesama manusia”.

Keresahan Amin Maalouf tersebut adalah juga kegelisahan seorang Umberto Eco dan Kardinal Carlo Maria Martini dalam dialog intens mereka seputar wahyu dan agama di tengah dunia modern dan orang-orang awam atau orang-orang yang tidak beriman. Ketika dalam aspek tertentu, misalnya, semaraknya sikap-sikap keagamaan acapkali hanya bersifat permukaan semata. Basah di kulit tapi kering di hati. Sebuah fenomena yang menurut Harvey Cox terjadi di Amerika yang dilanda puritanisme dan arah balik menuju fundamentalisme keagamaan, di saat Eropa mengaku diri atheis tetapi peka pada situasi kemanusiaan karena belajar dari trauma dan sejarah perang keagamaan dan perang sekuler karena wabah nasionalisme.

Baik Amin Maalouf atau Karen Armstrong sebenarnya tengah berbicara tentang agama atau “iman” yang pada akhirnya “direbut” oleh kepentingan manusiawi para penganutnya. Entah dalam situasi keterdesakan atau pun dalam situasi normal dan biasa. Agama dalam sejarahnya, demikian banyak penulis seperti Armstrong dan Maalouf itu menyatakan, tak pernah imun atau kebal dari hasrat-hasrat politisasi dan manipulasi.

“Agama atau doktrin apapun”, tulis Maalouf, “senantiasa membawa tanda-tanda jaman dan tempatnya. Masyarakat yang percaya diri tercermin dalam perilaku keagamaan yang percaya diri, tenang, dan terbuka. Tetapi masyarakat yang dogmatis dan inferior tercermin dalam perilaku keagamaan yang hipersensitif, sok suci, dan menutup diri”.

Apa yang dikatakan Maalouf tersebut terjadi juga dalam masyarakat Islam, meski tidak semuanya, setelah perjalanan sejarah mereka menerjemahkan Yunani bagi Eropa dan membangun peradaban puncak-puncak ilmu pengetahuan dari Bagdad hingga Cordoba di masa Imperium Abbasid.

Dalam konteks itu, puritanisme versi kaum takfiri (wahabisme) sebenarnya lebih merupakan entitas yang bertolak-belakang dengan spirit pembebasan yang diperjuangkan Muhammad saw selama hidupnya.

Di sisi lain, dogmatisme, yang seperti kita tahu, tumbuh dalam sikap-sikap dan kesalahpahaman tentang kepercayaan dan keimanan sebagai kehendak untuk menutup diri rapat-rapat dari kehadiran “yang lain”. Sikap-sikap seperti itu sebenarnya pernah disindir dengan halus oleh Ibn Arabi:

“Janganlah kaulekatkan dirimu pada satu kepercayaan secara tertutup, sehingga kau jadi tidak mempercayai yang lainnya. Jika demikian, kau akan kehilangan banyak kebaikan. Bukan hanya itu saja, kau pun akan gagal mengenal kebenaran segala sesuatu. Tuhan, yang serba hadir dan kuasa, tidaklah terbatas pada satu kepercayaan saja, karena dia mengatakan: ke mana pun wajahmu menghadap, di sana ada wajah Tuhanmu.”

Sikap-sikap seperti itu pada aspek tertentu didasarkan pada egoisme dan pada aspek yang lain karena politisasi institusi keagamaan. “Setiap orang memuji apa yang dipercayainya”, tulis Ibn Arabi, “Tuhannya adalah ciptaannya sendiri, dan dalam memuji itu ia sebenarnya memuji diri sendiri. Akibatnya, dia menyalahkan kepercayaan orang lain, sesuatu yang tidak akan dilakukannya jika dia bersikap adil. Kebenciannya didasarkan pada ketidaktahuan”.

Apa yang tengah disindir Ibn Arabi adalah agama dan dogma yang menjelma ideologi tertutup yang tidak memberikan tempat bagi kepekaan dan kesalehan manusiawi kita sebagai sesama manusia yang tengah hidup dan menjalani keseharian kita bukan di surga.

Sedangkan pada sisi yang lainnya lagi, masalah kesalehan yang acapkali terjebak sekadar rutinitas dan dogmatisme keseharian telah disadari oleh penyair sufi masyhur Fariduddin Attar yang produktif menulis puisi-puisi fabel dan satir itu. Seperti ketika ia menggunakan kisah tentang Hakim Sana’i demi memngembangkan wawasan keagamaannya sendiri sebagaimana termaktub dalam Musibah-nama:

“Dalam pengembaraan tanpa akhirnya, Sana’i pernah melihat tukang sapu yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dan ketika melihat ke sisi lain, matanya luruh ke arah muazin yang tengah menyerukan panggilan sholat. Lalu ia pun berkata: pekerjaan yang kedua (maksudnya pekerjaan muazin) sama-sekali tidak lebih baik (dari pekerjaan si tukang sapu). Sesungguhnya mereka menjalankan tugas yang sama. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka kerjakan. Mereka hanya melakukan kewajiban sebagai pekerjaan demi memperoleh makanan mereka”.

Yang ia maksud kewajiban yang dilakukan si tukang sapu dan muazin dalam anekdot tersebut adalah ketika kewajiban telah menjelma rutinitas yang menggerus penghayatan dan refleksi bathin kita. Sebab, si muazin atau pun si tukang sapu dalam anekdot yang diceritakan Attar itu adalah individu-individu yang telah digaji oleh pemerintah kota. Pesan didaktiknya cukup jelas: kesalehan bukanlah kapasitas birokratis, tetapi lebih merupakan sebuah sikap dan perilaku yang didasarkan pada pilihan dan penghayatan yang bersumber dari kejujuran.

Bila demikian, maka kita tak perlu heran ketika ada seseorang yang rajin sholat tetapi pada saat yang sama rajin menghina dan menista orang lain. Bahkan, dan ini yang sering kita sesalkan, orang seperti itu acapkali mudah digerakkan sebagai mesin pembunuh sesama.

Oleh: Sulaiman Djaya, pengasuh Program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe 102.8 FM

Tags: Kaum SufiSulaiman DjayaTasawuf
Share201Tweet126SendShare
Abdus Saleh Radai

Abdus Saleh Radai

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Rumi
Opini

Rumi

by liputan9news
January 17, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS “Cinta adalah dasar perbuatanku” (Muhammad Rasulullah Saw). “Agama itu cinta dan cinta adalah agama” (Imam Muhammad Al-Baqir...

Read more
Sulaiman-Djaya

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

December 28, 2025
Sulaiman-Djaya

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

December 24, 2025
Sulaiman Djaya

Menjadi Bermakna Sebagai Manusia

December 11, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In