• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Dari Fabel Kaum Sufi

October 18, 2022
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur Bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar

Tokoh Muda Nahdliyin Sebut NU Bukan Komoditas, Muktamar Harus Steril dari Mainan Aktor Politik

April 15, 2026
Tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji dan penyelenggaraan ibadah haji Yaqut Cholil Qoumas memasuki mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Yaqut Disebut KPK Siapkan USD1 Juta untuk Pansus Haji DPR

April 15, 2026
Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

April 15, 2026
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Achyar, saat menghadiri Muskerwil PWNU Jawa Timur di Sunan Bejagung 2, Tuban, Jaw Timur, Minggu (12/4/2026) (Foto: ANTARA/HO-PWNU Jawa Timur)

Rais Aam PBNU Ungkap Gelaran Muktamar ke-35 NU pada 1-5 Agustus, Tempat Belum Pasti!

April 14, 2026
KPK Uangkap Polisi Aktif Terima Rp16 Miliar dari Proyek di Bekasi

KPK Uangkap Polisi Aktif Terima Rp16 Miliar dari Proyek di Bekasi

April 14, 2026
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, Founder Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (Barong Grup) (Foto: Liputan9news/MSN)

Deklarasi PANCA AMPERA, Gus Lilur Sampaikan Lima Amanat Petani Tembakau Madura-Nusantara

April 13, 2026

Dukungan Tokoh Muda Alkhairaat Menguat, Helmi Kwarta Siap Menjadi Kapolda Sulteng

April 13, 2026
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo. (Foto: Liputan9nwes/MSN)

KPK Periksa Rokhmawan Pengusaha Rokok sebagai Saksi Dugaan Korupsi di Bea Cukai

April 13, 2026
Muhammad Ihsan Adz-Dzikra, Mahasiswa STMIK Tazkia Bogor, Semester 2 - Prodi Teknik Informatika

Bunga, Riba dan Dampaknya dalam Kehidupan Manusia

April 13, 2026
Koalisi Nasional Relawan Prabowo Gibran – Jokowi Laporkan Saiful dan Islah ke Bareskrim, Atas Himbauan Makar

Koalisi Nasional Relawan Prabowo Gibran – Jokowi Laporkan Saiful dan Islah ke Bareskrim, Atas Himbauan Makar

April 12, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Wednesday, April 15, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Dunia Islam Tasawuf

Dari Fabel Kaum Sufi

Oleh: Sulaiman Djaya, (Pengasuh Program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe 102.8 FM)

Abdus Saleh Radai by Abdus Saleh Radai
October 18, 2022
in Tasawuf
A A
1
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Ketua Bidang Perfilman Majelis Kebudayaan Banten/Foto: Liputan9News

502
SHARES
1.4k
VIEWS

“Sebagaimana dicatat oleh Sayid Syarif Radhi dalam Nahjul Balaghah, Sayidina Ali berkata: Jadikanlah dirimu sebagai timbangan dalam hubunganmu dengan orang lain, dan cintailah orang lain itu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri, dan bencilah orang lain sebagaimana kamu benci dirimu sendiri, janganlah engkau menganiaya sebagaimana engkau tidak senang dianiaya, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana engkau senang orang lain berbuat baik kepadamu, dan pandang jeleklah terhadap dirimu sebagaimana orang lain memandang jelek, dan tumpahkan relamu kepada manusia sebgaimana engkau rela jika orang lain rela kepadamu.”

Kita selalu berbicara tentang pengaruh agama pada sebuah masyarakat sembari kita melupakan manipulasi dan politisasi oleh orang-orang yang mengaku-ngaku diri saleh yang seringkali mengatasnamakan perintah agama ketika melakukan kekerasan dan penodaan pada sesama manusia.

Saya masih ingat ketika saya masih aktif nimbrung dalam diskusi-diskusi Kajian Islam atau Islamic Studies yang membahas tulisan-tulisan dan buku-bukunya Fazlur Rahman sewaktu saya masih ngendon di Ciputat. Dari tulisan-tulisan dan buku-buku Fazlur Rahman yang kami baca dan kami diskusikan bersama-sama di Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI) itu, saya jadi paham bahwa untuk mengerti ruh Islam, kita mau tidak mau mesti merujuk pada biografi historis dan personal Muhammad saw itu sendiri.

Hal itu dimaksudkan Fazlur Rahman bukan karena Al-Qur’an tidak penting. Tetapi lebih karena dengan membaca dan mengetahui biografi historis dan personal Muhammad saw itu sendiri, kita jadi maphum dengan situasi historis, kultural, sosiologis, bahkan nuansa personal apa yang akan kita sebut sebagai Islam, baik sebagai sejumlah doktrin atau pun wawasan.

BeritaTerkait:

Belajar dari Einstein

Seni yang Menyadarkan

Pemimpin Harus Mengafirmasi Aspirasi Masyarakat

Ekoteologi dan Falsafah Perennial Ekologi Masyarakat Kanekes Banten

Garis yang sama juga dilakukan Karen Armstrong ketika ingin mempelajari dan memahami Islam. Dengan sudut pandang seperti itu, Rahman dan Armstong, percaya bahwa kita akan mengerti dan memahami setiap celah dan sisi manusiawi dari iman atau pun keyakinan keagamaan yang kita anut. Di mana ukuran kesalehan dan keimanan tetap meniscayakan sebuah tempat dan konteks dimana kita hidup dan berada sebagai manusia dan orang beriman.

Dengan landasan pemahaman demikian, sebagai orang beriman sekalipun kita adalah manusia dan individu yang hidup di bumi, bukan terkunci di surga. Dan karena itu pula, tak jarang misalnya, persoalan-persoalan manusiawi acapkali membajak dan meminjam retorika dan wawasan keagamaan demi mendapatkan legitimasi bagi setiap tindakan yang sengaja dipilih seseorang atau kelompok tertentu.

Sebagai pengusung wawasan baru, demikian menurut Armstrong dan juga seperti telah kita ketahui, Muhammad saw adalah orang yang menentang pembunuhan dan penguburan anak perempuan yang masih hidup dalam kebudayaan Arab di mana Muhammad saw hidup. Sebuah sikap yang saat itu cukup berbahaya dan melawan mainstream. Sebab, kebiasaan itu sudah berjalan selama bertahun-tahun sebelum Muhammad saw dilahirkan.

Dengan itu semua, saya hanya ingin mengatakan bahwa agama atau “iman” sekalipun pada akhirnya harus bergelut dengan sejarah. “Kita selalu berbicara tentang pengaruh agama pada sebuah masyarakat”, tulis Amin Maalouf, “sembari kita melupakan manipulasi dan politisasi oleh orang-orang yang mengaku-ngaku diri saleh yang seringkali mengatasnamakan perintah agama ketika melakukan kekerasan dan penodaan pada sesama manusia”.

Keresahan Amin Maalouf tersebut adalah juga kegelisahan seorang Umberto Eco dan Kardinal Carlo Maria Martini dalam dialog intens mereka seputar wahyu dan agama di tengah dunia modern dan orang-orang awam atau orang-orang yang tidak beriman. Ketika dalam aspek tertentu, misalnya, semaraknya sikap-sikap keagamaan acapkali hanya bersifat permukaan semata. Basah di kulit tapi kering di hati. Sebuah fenomena yang menurut Harvey Cox terjadi di Amerika yang dilanda puritanisme dan arah balik menuju fundamentalisme keagamaan, di saat Eropa mengaku diri atheis tetapi peka pada situasi kemanusiaan karena belajar dari trauma dan sejarah perang keagamaan dan perang sekuler karena wabah nasionalisme.

Baik Amin Maalouf atau Karen Armstrong sebenarnya tengah berbicara tentang agama atau “iman” yang pada akhirnya “direbut” oleh kepentingan manusiawi para penganutnya. Entah dalam situasi keterdesakan atau pun dalam situasi normal dan biasa. Agama dalam sejarahnya, demikian banyak penulis seperti Armstrong dan Maalouf itu menyatakan, tak pernah imun atau kebal dari hasrat-hasrat politisasi dan manipulasi.

“Agama atau doktrin apapun”, tulis Maalouf, “senantiasa membawa tanda-tanda jaman dan tempatnya. Masyarakat yang percaya diri tercermin dalam perilaku keagamaan yang percaya diri, tenang, dan terbuka. Tetapi masyarakat yang dogmatis dan inferior tercermin dalam perilaku keagamaan yang hipersensitif, sok suci, dan menutup diri”.

Apa yang dikatakan Maalouf tersebut terjadi juga dalam masyarakat Islam, meski tidak semuanya, setelah perjalanan sejarah mereka menerjemahkan Yunani bagi Eropa dan membangun peradaban puncak-puncak ilmu pengetahuan dari Bagdad hingga Cordoba di masa Imperium Abbasid.

Dalam konteks itu, puritanisme versi kaum takfiri (wahabisme) sebenarnya lebih merupakan entitas yang bertolak-belakang dengan spirit pembebasan yang diperjuangkan Muhammad saw selama hidupnya.

Di sisi lain, dogmatisme, yang seperti kita tahu, tumbuh dalam sikap-sikap dan kesalahpahaman tentang kepercayaan dan keimanan sebagai kehendak untuk menutup diri rapat-rapat dari kehadiran “yang lain”. Sikap-sikap seperti itu sebenarnya pernah disindir dengan halus oleh Ibn Arabi:

“Janganlah kaulekatkan dirimu pada satu kepercayaan secara tertutup, sehingga kau jadi tidak mempercayai yang lainnya. Jika demikian, kau akan kehilangan banyak kebaikan. Bukan hanya itu saja, kau pun akan gagal mengenal kebenaran segala sesuatu. Tuhan, yang serba hadir dan kuasa, tidaklah terbatas pada satu kepercayaan saja, karena dia mengatakan: ke mana pun wajahmu menghadap, di sana ada wajah Tuhanmu.”

Sikap-sikap seperti itu pada aspek tertentu didasarkan pada egoisme dan pada aspek yang lain karena politisasi institusi keagamaan. “Setiap orang memuji apa yang dipercayainya”, tulis Ibn Arabi, “Tuhannya adalah ciptaannya sendiri, dan dalam memuji itu ia sebenarnya memuji diri sendiri. Akibatnya, dia menyalahkan kepercayaan orang lain, sesuatu yang tidak akan dilakukannya jika dia bersikap adil. Kebenciannya didasarkan pada ketidaktahuan”.

Apa yang tengah disindir Ibn Arabi adalah agama dan dogma yang menjelma ideologi tertutup yang tidak memberikan tempat bagi kepekaan dan kesalehan manusiawi kita sebagai sesama manusia yang tengah hidup dan menjalani keseharian kita bukan di surga.

Sedangkan pada sisi yang lainnya lagi, masalah kesalehan yang acapkali terjebak sekadar rutinitas dan dogmatisme keseharian telah disadari oleh penyair sufi masyhur Fariduddin Attar yang produktif menulis puisi-puisi fabel dan satir itu. Seperti ketika ia menggunakan kisah tentang Hakim Sana’i demi memngembangkan wawasan keagamaannya sendiri sebagaimana termaktub dalam Musibah-nama:

“Dalam pengembaraan tanpa akhirnya, Sana’i pernah melihat tukang sapu yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dan ketika melihat ke sisi lain, matanya luruh ke arah muazin yang tengah menyerukan panggilan sholat. Lalu ia pun berkata: pekerjaan yang kedua (maksudnya pekerjaan muazin) sama-sekali tidak lebih baik (dari pekerjaan si tukang sapu). Sesungguhnya mereka menjalankan tugas yang sama. Mereka tidak tahu apa yang sesungguhnya mereka kerjakan. Mereka hanya melakukan kewajiban sebagai pekerjaan demi memperoleh makanan mereka”.

Yang ia maksud kewajiban yang dilakukan si tukang sapu dan muazin dalam anekdot tersebut adalah ketika kewajiban telah menjelma rutinitas yang menggerus penghayatan dan refleksi bathin kita. Sebab, si muazin atau pun si tukang sapu dalam anekdot yang diceritakan Attar itu adalah individu-individu yang telah digaji oleh pemerintah kota. Pesan didaktiknya cukup jelas: kesalehan bukanlah kapasitas birokratis, tetapi lebih merupakan sebuah sikap dan perilaku yang didasarkan pada pilihan dan penghayatan yang bersumber dari kejujuran.

Bila demikian, maka kita tak perlu heran ketika ada seseorang yang rajin sholat tetapi pada saat yang sama rajin menghina dan menista orang lain. Bahkan, dan ini yang sering kita sesalkan, orang seperti itu acapkali mudah digerakkan sebagai mesin pembunuh sesama.

Oleh: Sulaiman Djaya, pengasuh Program Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe 102.8 FM

Tags: Kaum SufiSulaiman DjayaTasawuf
Share201Tweet126SendShare
Abdus Saleh Radai

Abdus Saleh Radai

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Sulaiman-Djaya
Opini

Belajar dari Einstein

by Sulaiman Djaya
March 10, 2026
0

BANTEN | LIPUTAN9NEWS “Saya bukan jenius, saya hanya selalu ingin tahu,” demikian ujar Einstein tentang betapa bakat dan kecerdasan saja...

Read more
Sulaiman Djaya

Seni yang Menyadarkan

February 27, 2026
Sulaiman Djaya

Pemimpin Harus Mengafirmasi Aspirasi Masyarakat

February 25, 2026
Sulaiman-Djaya

Ekoteologi dan Falsafah Perennial Ekologi Masyarakat Kanekes Banten

March 15, 2026
Load More

Comments 1

  1. finessa says:
    2 months ago

    **finessa**

    Finessa is a natural supplement made to support healthy digestion, improve metabolism, and help you achieve a flatter belly.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2549
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur Bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar

Tokoh Muda Nahdliyin Sebut NU Bukan Komoditas, Muktamar Harus Steril dari Mainan Aktor Politik

April 15, 2026
Tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji dan penyelenggaraan ibadah haji Yaqut Cholil Qoumas memasuki mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Yaqut Disebut KPK Siapkan USD1 Juta untuk Pansus Haji DPR

April 15, 2026
Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

April 15, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In