BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Tergerak hati untuk menjawab ucapan penceramah Salafi Wahabi bahwa niat yang diucapkan seperti usholli atau nawaitu itu tidak ada dalilnya, baik sumbernya nash Qur’an maupun hadits, jangankan yang sahih cari yang dlaif pun tidak bakal ada, Intinya penceramah tersebut ingin bilang bahwa tidak perlu niat dilafalkan, cukup di hati.
Dalil niat itu selalu berdasarkan hadits Rosulullah S.a.w berikut ini, dan kita bisa lihat di kitab al-‘Arbain Nawawi.
عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: ( إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ )
Artinya: “Dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata: aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda ” amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya, dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” ( H.R. Bukhori Muslim).
Hadits tersebut memang mutawatir, karena yang meriwayatkan itu dua imam hadits yaitu Imam Bukhori dan Imam Muslim. Semua ulama ittifaq atas hadits di atas sebagai dalil wajibnya niat dalam setiap kegiatan ibadah atau amalan di luar ibadah.
Karena itu niat selalu dibarengi dengan amal, dan amal tidaklah sah jika tidak diawali niat, jika melirik pada hadits di atas paham kita begitu.
النية بلا عمل خير من عمل بلا نية
Artinya: Niat dengan tidak dibarengi amal itu lebih baik dari amal tapi tidak dengan niat.
Sementara dalam kitab Safinatu al-Najah, niat didefinisikan sebagai berikut.
النِّيَّةُ: قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرِناً بِفِعْلِهِ وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ
Artinya: Niat adalah menyengaja sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya, dan tempat niat itu di dalam hati.
Benar niat itu di hati, lalu untuk tahu qosdu dan ta’yin-nya bagaimana? Ini harus dijelaskan, karena kalau seperti itu dikhawatirkan tidak sama antara niat dan apa yang dikerjakannya. Biasanya hanya pada qosdu tapi kadang luput ta’yin-nya, terkadang pula niat di hati mengerjakan ibadah fardliyah tetapi berubah menjadi ibadah nafilah, begitu pula sebaliknya kadang niatnya ibadah nafilah tapi pelaksanaannya ibadah fardliyah, ketika perubahan ibadahnya tersebut lalu bagaimana status ibadahnya?
Syaikh Shidqi al-Burnu berpendapat dalam kitabnya al-Wajiz fi Iydhah Qawaid al-Fiqh al-Kulliyyah ( h. 135 ).
فمن نقل فرضا إلى فرض لم يحصل واحد منهما ومن نقل نفلا إلى فرض لم يحصل واحد منهما وإما أن نقل فرضا إلى نفل فإنه يصح
Artinya: “Barangsiapa merubah niat amalan fardhu menjadi amalan fardhu lainnya, maka keduanya sama-sama batal. Dan barang siapa merubah niat amalan sunnah kepada amalan fardhu, maka keduanya juga sama-sama batal. Sedangkan barangsiapa merubah niat amalan fardhu menjadi amalan sunnah, maka amalan sunnah tersebut dinilai sah.”
Karena itu kedudukan talaffudh niat begitu penting untuk menghindari batalnya ibadah atau amaliah akibat rubah qoshdu di hati, tetapi kalau sudah dilafalkan ada paduan hati dan lisan yang saling menguatkan.
Seperti yang sudah dijelaskan oleh Imam Khotib al-Syarbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj ( h. 15 ), berikut ini.
ويندب النطق بالمنوي قبيل التكبير ليساعد اللسان القلب و لانه ابعد عن الوسواس .
Berikutnya Imam al-Ramli dalam kitabnya Nihayatu al-Muhtaj ( h. 437 ) menegaskan pentingnya talaffudh niat, berikut ini.
ولأنه ابعد عن الوسواس والخروج من خلاف من أوجبه
Dari kedua imam madzhab Syafi’i tersebut talaffudh niat telah dihukumi Sunnah ( يندب ).
Lalu dari mana dalil talaffudh niat itu kemudian disunnahkan atau dibolehkan. Ada hadits riwayat Saidina Umar bin Khattab yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitabnya Sahih Bukhori.
سمعت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم يقول وهو في وادى العقيق أتاني الليلة آت من ربي فقال صل في هذا الوادى المبارك و قل عمرة في حجة
Dari hadits tersebut Imam al-Qasthalani telah menjelaskan di dalam kitabnya al-Mawahib al-Laduniyah ( juz 2 h. 218 ), yaitu.
وهذا تصريح باللفظ والحكم كما يثبت بالنص يثبت بالقياس
Dan ini jelas dengan lafadh, dan hukum itu seperti sudah ditetapkan melalui Nash dan berlaku qiyas. Yaitu Qiyas talaffudh niat umroh dalam haji dengan ibadah lainya yang wajib, seperti sholat, zakat dan puasa.
Terdapat pula hadits riwayat Anas R.A bahwa Nabi S.a.w ketika tengah ibadah haji melafalkan niat umroh dan haji.
من حديث أنس أنه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يلبى بالحج و العمرة جميعا يقول لبيك عمرة و حجا
Hadits di atas tersebut oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya Tuhfatu al-Muhtaj ( Juz 2, h. 12 ).
وقياسا على ما يأتى في الحج
Niat umroh dan haji yang dilafalkan oleh Nabi S.a.w saat haji dan umroh itu kemudian oleh ulama madzhab Syafi’i, diqiyaskan pada ibadah lainnya, terutama ibadah fardliyah ( wajib ).
لان التلفظ بالنية أمر اجتهادي لا أمر توقيفي
Karena sesungguhnya pelafalan niat adalah perkara ijtihadi bukan perkara yang tawqif (ketetapan dari Allah SWT).
Dengan demikian niat dan talaffudh niat jelas beda, niat di hati sedangkan talaffudh di lisan, untuk mengikat niat dengan cara talaffudh, karena itulah secara ijtihadi dihukumi Sunnah menurut pendapat madzhab Syafi’i. Adapun yang mengatakan bid’ah dan tidak ada dalil talaffudh niat disarankan agar banyak membaca.
Serang 17 Maret 2026
KHM. Hamdan Suhaemi, Pengajar Pesantren Ashhabul Maimanah Sampang Susukan Tirtayasa Serang, Wakil Ketua PW GP Ansor Banten, Ketua PW Rijalul Ansor Banten, Sekretaris komisi Haub MUI Banten, Sekretaris Tsani Idaroh wustho Jam’iyah Ahlith Thoriqah Mu’tabaroh An-Nahdliyah Jatman Banten, Ketua FKUB Kab Serang, dan Anggota Dewan Pakar ICMI Provinsi Banten.























