Kabupaten Bekasi, Liputan9news –Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, dinamika menuju suksesi kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia mulai menghangat. Dari Bumi Jombang, nama Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menjadi sorotan setelah menyatakan kesiapan apabila mendapat amanah untuk memimpin PBNU.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Kikin saat menemui awak media di Ndalem Kesepuhan Pesantren Tebuireng, Sabtu (18/4/2026), menjelang agenda Musyawarah Nasional Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE).
Dalam keterangannya, Gus Kikin menegaskan dirinya tidak pernah memiliki ambisi mengejar jabatan. Namun sebagai bagian dari tradisi pengabdian pesantren dan organisasi, ia mengaku siap apabila diminta mengemban amanah oleh warga Nahdliyin.
“Kalau didorong dan dianggap mampu, saya siap menjalankan. Tapi saya tidak pernah meminta,” ujar Gus Kikin dengan tenang namun penuh ketegasan.
Sebagai Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Kikin menilai NU saat ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks, baik dari internal organisasi maupun pengaruh kondisi politik dan ekonomi global. Karena itu, ia menekankan pentingnya mengembalikan kekuatan utama NU pada soliditas organisasi dan persatuan umat.
Menurutnya, sejarah NU pada era 1930-an hingga 1940-an menunjukkan bagaimana kekompakan ulama dan jamaah mampu menjadikan NU sebagai kekuatan sosial yang sangat disegani di Indonesia.
“NU sejak awal berdiri hingga periode awal tersebut dikenal sangat solid. Kondisi itu menjadi kekuatan penting, tidak hanya bagi internal organisasi, tetapi juga bagi stabilitas masyarakat sipil di Indonesia,” katanya.
Gus Kikin juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai dasar perjuangan santri di tengah berbagai dinamika dan perbedaan pandangan yang berkembang di ruang publik. Ia meyakini, jika NU kembali pada khittah perjuangan dan soliditas organisasi, maka NU akan kembali menjadi motor penggerak peradaban sekaligus penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Selain itu, ia menyoroti besarnya kontribusi warga NU dalam sejarah perjuangan bangsa. Menurutnya, kekuatan Indonesia lahir dari sinergi dan kebersamaan seluruh elemen masyarakat yang bergerak dalam satu tujuan.
Di lokasi yang sama, dukungan terhadap proses suksesi yang sehat juga disampaikan Ketua Umum Presidium Nasional IKAPETE, Prof Dr KH Masykuri Bakri. Ia berharap alumni Tebuireng dapat menjadi perekat persatuan di tengah masyarakat serta menjaga nilai perjuangan NU sebagaimana diwariskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
“Fokus kami adalah bagaimana alumni bisa menjadi peneduh. Kami ingin alumni Tebuireng di berbagai daerah tetap menjaga peran NU sesuai dengan nilai-nilai yang dirintis oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari,” ujar Masykuri.
IKAPETE juga menegaskan harapannya agar pelaksanaan Muktamar NU mendatang berlangsung secara bermartabat dan bersih dari praktik politik uang. Menurut Masykuri, proses pemilihan pemimpin NU harus mengedepankan musyawarah, integritas, dan persatuan organisasi.
“Persatuan adalah kunci utama. Kami sangat berharap tidak ada praktik money politics dalam proses ke depan. Intinya, siapapun yang terpilih, NU harus kembali ke rel dan khittah perjuangannya,” pungkasnya.

























