TANGERANG SELATAN | LIPUTAN9NEWS
Sebuah kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) yang digagas oleh tim dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) berhasil membawa angin segar bagi para anggota Koperasi Griya Asri Bambu Apus.
Bertempat di dalam kawasan Perumahan Griya Asri Pamulang, Bakti Jaya, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, kegiatan ini mengangkat tema besar: “Peningkatan Mindset Anggota Koperasi: Dari Sekadar Simpan Pinjam Menuju Koperasi yang Berkembang.”
Selama ini, Koperasi Griya Asri Bambu Apus dikenal warga sekitar sebagai wadah simpan pinjam sederhana yang membantu kebutuhan finansial jangka pendek para anggotanya, mayoritas ibu-ibu rumah tangga di lingkungan perumahan tersebut. Namun, tim pengabdi menilai potensi koperasi ini sesungguhnya jauh lebih besar apabila para anggotanya memiliki pola pikir (mindset) yang lebih berkembang dalam mengelola dan memanfaatkan koperasi.
Mengusung pendekatan growth mindset dalam kerangka Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), tim pengabdi memperkenalkan konsep bahwa kemampuan mengelola keuangan, berorganisasi, dan berwirausaha bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa terus diasah dan dikembangkan melalui proses belajar yang konsisten.
“Selama ini banyak anggota berpikir koperasi ya cuma tempat pinjam uang saat butuh. Padahal kalau mindset-nya diubah, koperasi bisa jadi ruang belajar bersama, tempat mengembangkan usaha kecil-kecilan, bahkan wadah untuk saling menguatkan secara ekonomi,” ujar salah satu anggota tim pengabdi dalam sesi pemaparan materi.
Dalam kegiatan ini, para ibu rumah tangga diajak memahami beberapa prinsip dasar growth mindset yang diadaptasi ke dalam konteks perkoperasian, di antaranya:
1. Melihat tantangan sebagai peluang belajar.
Banyak peserta, terutama ibu-ibu yang sudah lama tidak aktif bekerja di luar rumah maupun para pensiunan, sering merasa “sudah terlambat” atau minder untuk mencoba hal baru seperti mengelola usaha atau memahami sistem keuangan yang lebih rapi. Tim pengabdi menekankan bahwa rasa canggung saat pertama kali mencatat pemasukan-pengeluaran usaha, atau kesulitan di awal saat mencoba berjualan, bukanlah tanda ketidakmampuan, melainkan bagian wajar dari proses belajar di usia berapa pun. Melalui sesi curhat dan berbagi pengalaman antaranggota, peserta diajak menormalkan rasa “belum bisa” sebagai titik awal, bukan batas akhir.
2. Membangun kebiasaan reflektif.
Mengingat banyak peserta memiliki waktu luang lebih banyak di rumah — baik karena anak-anak sudah besar maupun karena sudah memasuki masa pensiun — tim pengabdi memperkenalkan kebiasaan sederhana seperti mencatat arus kas rumah tangga mingguan dan mengevaluasi bersama pasangan atau sesama anggota koperasi setiap akhir bulan. Kebiasaan reflektif ini dirancang agar mudah dilakukan sambil mengisi waktu luang, misalnya saat kumpul rutin arisan atau pertemuan koperasi, sehingga terasa ringan dan tidak membebani.
3. Berani mencoba peran baru.
Menyadari bahwa sebagian besar peserta sebelumnya hanya berperan sebagai anggota pasif (menyimpan dan meminjam saja), kegiatan ini mendorong mereka mengambil peran yang lebih aktif sesuai kapasitas masing-masing – misalnya menjadi koordinator kelompok usaha kuliner rumahan, membantu pencatatan sederhana, atau menjadi mentor bagi anggota baru. Pendekatan ini sengaja dirancang bertahap dan tidak memaksa, mengingat banyak ibu rumah tangga dan pensiunan yang butuh waktu untuk membangun kepercayaan diri sebelum tampil memimpin atau mengambil tanggung jawab baru.
4. Membangun jejaring dan kolaborasi.
Bagi ibu-ibu rumah tangga dan pensiunan, koperasi sering kali menjadi salah satu ruang sosial utama di luar keluarga. Tim pengabdi memanfaatkan kedekatan sosial yang sudah terjalin ini untuk mendorong kolaborasi usaha bersama, misalnya patungan modal kecil untuk usaha kuliner rumahan atau kerajinan tangan yang dikerjakan bergantian. Dengan begitu, jejaring sosial yang selama ini hanya sebatas silaturahmi dapat bertransformasi menjadi jejaring ekonomi yang saling menguntungkan, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan antaranggota.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini disambut antusias oleh para peserta. Selain pemaparan materi, tim pengabdi juga mengadakan sesi diskusi kelompok dan simulasi sederhana yang membahas rencana pengembangan unit usaha bersama di lingkungan koperasi, mulai dari usaha kuliner rumahan, kerajinan, hingga penguatan sistem pencatatan keuangan yang lebih rapi.
Salah satu peserta yang juga anggota koperasi, seorang pensiunan yang telah bergabung sejak koperasi berdiri, mengaku mendapat perspektif baru setelah mengikuti kegiatan ini. “Selama ini saya pikir koperasi ya cuma buat pinjam-pinjam kalau lagi butuh saja. Baru sekarang saya sadar, ternyata bisa juga dipakai buat kembangkan usaha kecil bareng-bareng. Awalnya saya juga ragu, umur segini apa masih bisa belajar hal baru. Tapi setelah ikut diskusi tadi, jadi lebih percaya diri untuk coba,” ungkapnya sambil tersenyum.
Hal senada disampaikan oleh peserta lain, seorang ibu rumah tangga yang aktif mengelola usaha kue kering musiman. “Biasanya saya jualan sendiri, itu pun kalau ada pesanan saja, tidak pernah kepikiran untuk gabung sama anggota lain. Dari kegiatan ini saya jadi lihat, kalau kita patungan modal dan bagi tugas sama-sama, usahanya bisa lebih besar dan risikonya juga tidak ditanggung sendirian,” katanya.
Salah satu pengurus Koperasi Griya Asri Bambu Apus menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “Kami merasa sangat terbantu. Banyak ibu-ibu di sini sebenarnya punya potensi usaha, tapi belum percaya diri atau belum tahu caranya memulai. Dengan pendampingan seperti ini, harapannya koperasi kita tidak lagi hanya soal simpan pinjam, tapi bisa berkembang jadi lebih dari itu,” tuturnya.
Tim pengabdi dari UPNVJ berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dari rangkaian pendampingan berkelanjutan bagi Koperasi Griya Asri Bambu Apus. Dengan tertanamnya pola pikir bertumbuh (growth mindset) di kalangan anggota, koperasi diharapkan dapat bertransformasi menjadi lembaga ekonomi masyarakat yang lebih adaptif, produktif, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi kesejahteraan keluarga di lingkungan Perumahan Griya Asri Pamulang.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini merupakan salah satu bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam hal pengabdian, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi masyarakat sekitar kampus.
Penulis: Tim Pengabdian Kepada Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta

























