TANGERANG | LIPUTAN9NEWS
Perjuangan para kyai dan kaum santri tidak lepas dari doktrin luhur yang terpatri di dalam sistem nilai keislaman, yaitu Hubbul Wathan minal Îmân, Cinta Tanah Air adalah Manifestasi Keimanan. Ia bukanlah sebuah redaksi dari hadits Nabi, bukan pula redaksi dari ayat suci dari Al-Qur`an. Namun, doktrin Hubbul Wathan minal Îmân yang digagas dan dicetuskan oleh Hadhratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) ini sejurus dan senapas dengan sabda Nabi dan firman suci Ilahi.
Cinta tanah air adalah tentang pentingnya manusia memiliki tempat tinggal yang memberinya kenyamanan dan kehangatan. Cinta tanah air juga tentang kemerdekaan dan kedaulatan. Sehingga, siapapun yang berusaha menjajah dan mengusir dari tanah air tersebut, Islam memerintahkan untuk melakukan pembelaan dan perlawanan
أَلْحَمْدُ لله، أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِينَ بِهِ مَكَانًا عَلِيًّا.
أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه، شَهَادَةً مَنْ هُوَ خَيْرُ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
أَللّهُمَ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا وَنَبِيًا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّّذِينَ يُحْسِنُونَ إِسْلَامَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوا شَيْئًا فَرِيًّا.
أّمَّا بَعْدُ…فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ، أُوْصِينِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى الله، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِهِ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Ma’âsyiral muslimîn akramakumullâh
Tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah akhir dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Agresi Militer Belanda Kedua yang membonceng tentara Sekutu (Inggris) untuk kembali menjajah Indonesia, pasca kekalahan Jepang, memantik kesadaran para kyai dan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang belum lama diproklamirkan. Melalui Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadhratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selaku pendiri Nahdlatul Ulama/NU) pada tanggal 22 Oktober 1945, perlawanan para kyai, kaum santri dan segenap rakyat menentang penjajah Belanda berkobar di seantero negeri. Puncaknya, meletuslah pertempuran hebat antara kaum santri dan pasukan Belanda di Surabaya, pada tanggal 10 November 1945, yang kemudian kita peringati sebagai Hari Pahlawan.
Dari episode sejarah bangsa Indonesia tersebut di atas, dan episode panjang lainnya dari perjuangan para kyai dan kaum santri untuk negeri ini, akhirnya melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015, perjuangan para kyai dan kaum santri diakui oleh Pemerintah Indonesia, dengan diperingatinya Hari Santri Nasional pada setiap tanggal 22 Oktober, meski baru 70 tahun setelah episode sejarah Fatwa Resolusi Jihad berlalu. Alhamdulillah, jasa dan peran serta keberadaan pesantren pun semakin diakui dan diapresiasi dengan lahirnya UU No. 18 Tahun 2019.
Jama’ah yang mulia
Perjuangan para kyai dan kaum santri tidak lepas dari doktrin luhur yang terpatri di dalam sistem nilai keislaman, yaitu Hubbul Wathan minal Îmân, Cinta Tanah Air adalah Manifestasi Keimanan. Ia bukanlah sebuah redaksi dari hadits Nabi, bukan pula redaksi dari ayat suci dari Al-Qur`an. Namun, doktrin Hubbul Wathan minal Îmân yang digagas dan dicetuskan oleh Hadhratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) ini sejurus dan senapas dengan sabda Nabi dan firman suci Ilahi.
Cinta tanah air adalah tentang pentingnya manusia memiliki tempat tinggal yang memberinya kenyamanan dan kehangatan. Cinta tanah air juga tentang kemerdekaan dan kedaulatan. Sehingga, siapapun yang berusaha menjajah dan mengusir dari tanah air tersebut, Islam memerintahkan untuk melakukan pembelaan dan perlawanan. Allah SWT berfirman dalam Surah al-Mumtahanah ayat 8:
لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kalian karena agama kalian dan tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
Dari ayat di atas, kita pahami bahwa al-Qur`an mensejajarkan antara agama dan tanah air. Al-Qur`an memberi jaminan kebebasan beragama, sekaligus jaminan bertempat tinggal secara merdeka dan berdaulat. Maka jelas sekali, cinta kepada tanah air adalah bagian integral dari cinta kepada agama.
Zumratal Mu`minîn hafizhakumullâh
Dalam sebuah riwayat Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah Saw. pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada tanah kelahirannya, Makkah al-Mukarramah. Beliau bersabda:
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي منكِ، ما سكنت غيرَكِ
Betapa baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau adalah negeri yang paling kucintai. Andai kaumku tidak mengusirku darimu (Makkah), tentu aku tidak tinggal di negeri selainmu. (HR. Ibnu Hibban)
Setelah pengusiran tersebut, Nabi Saw. lalu hijrah ke kota Yatsrib, yang di kemudian hari beliau namakan dengan Madinah. Di tempat tinggal yang baru ini, Rasulullah Saw. pun berharap besar bisa mencintai Madinah sebagaimana beliau mencintai Makkah. Di dalam Shahih al-Bukhariy, doa Rasulullah itu terekam:
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ
Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, bahkan lebih (HR. Al-Bukhari)
Jama’ah shalat Jum’at yang berlimpah rahmah dari Allah SWT
Cinta tanah air adalah fitrah dan naluri yang tumbuh dari nurani keimanan manusia. Ketika sesorang mencintai sesuatu, apapun itu, termasuk tanah air, maka ia akan memelihara dan merawat apa yang ia cintai. Ia akan menyempurnakan segala kekurangan yang ada pada apa yang ia cintai. Ia selalu bersedia berkorban untuk kemaslahatan dan kepentingan yang ia cintai. Ia akan melindungi apa yang ia cintai. Ia tidak akan mengkhianati dan menodai cintanya itu dengan segala hal dan perbuatan yang dapat merusak dan menghancurkan apa yang ia cintai ini. Begitulah seharusnya cinta kita terhadap tanah air kita ini, Indonesia.
Akhirnya, semoga doktrin Hubbul Wathan minal Îmân yang kita warisi dari para kyai, kaum santri dan para pahlawan negeri ini, etos juangnya senantiasa dapat kita pupuk dan kita rawat, agar terus tumbuh berkembang dan menghasilkan aneka buah pembangunan Indonesia, yang hasilnya dapat kita nikmati bersama, dan juga kita wariskan kepada anak cucu kita, generasi penerus bangsa, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيم. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ, إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم. أَقُولُ قَوْلِي هذَا, وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ, فَاسْتَغْفِرُوه…إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم.
أَلْحَمْدُ للهِ ذِى الْعَظَمَةِ وَالْجَلَال، أَلَّذِى قَدَّرَ الْأَعْمَارَ وَحَدَّدَ الآجَال، وَأَمَرَنَا بِالْعِبَادَةِ وَصَالِحِ الْأَعْمَال. أَشْهَدُ اَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه، جَعَلَ الدُّنْيَا مَزْرَعَةً لِلْآخِرَة، وَمَكْسَبَ زَادٍ لِلْحَيَاةِ الْفَاخِرَة، لِلْخَلَاصِ مِنَ الْأَهْوَالِ الْقَاهِرَة. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، أَلَّذِى حَذَّرَنَا مِنَ الدُّنْيَا دَارِ الدّوَاهِى، وِمَكَانِ الْمَعَاصِى وَالْمَلَاهِى. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الْكِرَام، وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامَ، وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَيُّهاَ النَّاس، إِتَّقوُا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه، وَرَاقِبُوهُ مُرَاقَبَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرَاه.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِه:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
صَدَقَ اللهُ الْعَظَيم.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد.
أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات، أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَات، يِا قَاضِيَ الْحَاجَات.
أَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هذَا الْبَلَدَ إندونيسيا آمِناً مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَار.
عِبَادَ الله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان، وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَ الْبَغي، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون. أَقِمِ الصَّلَاة.
KH. A. Muzaini Aziz, Lc., MA., Pimpinan Perguruan Al-Mu’in Tengerang Banten, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta

























