JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Mudir ‘Ali Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), KH Ali Masykur Musa, menyerukan keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) untuk mulai menekuni tarekat sebagai jalan menjernihkan hati dan memperkuat kehidupan ruhani.
Seruan tersebut disampaikan Kiai Ali dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-69 JATMAN di Plaza Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya No. 164, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).
“Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat,” serunya di hadapan para jamaah.
Menurut Kiai Ali, penguatan spiritualitas menjadi kebutuhan penting di tengah sistem pendidikan yang cenderung lebih menitikberatkan kecerdasan kognitif dan keterampilan dibandingkan pembinaan ruhani.
Padahal, menurutnya, hati memiliki peran mendasar dalam menentukan kualitas perilaku, tindakan, hingga keputusan seseorang. Karena itu, pendidikan hati perlu mendapatkan perhatian serius agar kecerdasan intelektual berjalan seiring dengan kematangan spiritual dan moral.
“Kalau hati itu jernih, maka seluruh pengambilan keputusan, seluruh tindakan yang diamalkan adalah bicara dengan hati,” ujarnya.
Selanjutnya, Kiai Ali Masykur menjelaskan, persoalan perilaku manusia tidak cukup dilihat dari apa yang tampak secara kasatmata. Ia menilai, pelanggaran terhadap syariat dan kesalahan dalam bertindak juga berkaitan dengan kondisi batin seseorang.
“Banyak orang yang salah, melanggar (syariat), itu bukan karena matanya yang buta, tapi sungguh yang buta adalah hatinya,” tuturnya sembari mengutip Surah Al-Hajj ayat 46.
Dalam konteks tersebut, Kiai Ali Masykur menegaskan bahwa tarekat menjadi salah satu jalan pembinaan ruhani yang memiliki akar kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama.
Ia menyebut amalan tarekat sebagai bagian dari warisan spiritual yang turut menginspirasi para pendiri NU, termasuk melalui bimbingan ulama besar, KH Khalil Bangkalan.
“Maka dengan demikian, tarekat adalah amalan dari Nahdlatul Ulama yang menjadi inspirasi dari para muassis di bawah pimpinan sang guru Kiai Khalil Bangkalan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan bahwa kemampuan mengelola dan menjaga hati merupakan modal penting dalam membangun organisasi yang kuat.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, tersebut, persatuan tidak cukup dibangun melalui struktur organisasi dan kesepakatan formal. Hubungan batin yang terjaga antarsesama anggota juga menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan organisasi.
Gus Kikin mengaitkan nilai tersebut dengan perjuangan Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam membangun NU dan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) untuk menghadapi kolonialisme.
Ia menilai, semangat persatuan tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Qanun Asasi NU, yang menekankan pentingnya keterhubungan hati di tengah perbedaan.
“Tampaknya itu apa yang ada di Qonun Asasi, yang disebut hati itu tersambung bukan hanya di kalangan (umat) Islam yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan paham yang berbeda-beda pun ikut,” terang Gus Kikin.
Selain itu, Gus Kikin juga menyoroti pentingnya melatih spiritualitas dalam beribadah. Menurutnya, tanpa pembiasaan dalam laku tasawuf, seseorang bisa kehilangan fokus ketika menjalankan ibadah karena pikirannya masih dipenuhi berbagai kepentingan duniawi.
“Nah ini (hati) kalau tidak diasah shalatnya itu susah, baru takbiratul ihram itu sudah ingat macam-macam. Enggak tersambung dengan Allah,” jelasnya.
Ia menambahkan, shalat semestinya menjadi salah satu sarana membentuk pribadi yang mampu menjauhi perbuatan tercela. Karena itu, pendidikan hati perlu dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Gus Kikin pun mendorong JATMAN mengambil peran lebih besar dalam mengampanyekan pendidikan spiritual di lingkungan NU.
“Ini kita harus lebih serius lagi di dalam melakukan (pendidikan hati) ini, dan yang bisa melakukan dengan serius itu adalah JATMAN ini,” pungkasnya.
Seruan kedua tokoh tersebut menegaskan pentingnya penguatan dimensi spiritual dalam kehidupan Nahdliyin. Bagi JATMAN, tarekat bukan hanya berkaitan dengan amalan ritual, tetapi juga menjadi bagian dari ikhtiar membentuk pribadi yang berakhlak, menjaga persatuan, dan menjadikan hati nurani sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat maupun berorganisasi.

























