JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Berbakti kepada kedua orang tua merupakan kewajiban yang paling tinggi setelah kita berbakti kepada Allah dan rasul-Nya. Dalam al-Qur’an dan al-Sunnah banyak disebutkan kewajiban berbakti kepada keduanya, baik semasa mereka masih hidup maupun setelah wafat, antara lain:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku di masa kecil”. (QS. al-Isra, 17:23-24).
Ketika Rasulullah s.a.w. merekrut para mujahid untuk berjuang dan berperang di jalan Allah, ajakan Nabi disambut oleh para sahabatnya dengan sungguh-sungguh. Di antara mereka ada seorang anak muda yang datang kepada Rasulullah untuk diirekrut sebagai mujahid dengan penuh semangat. Anak muda itu ditanya oleh Rasulullah apakah ia masih memiliki kedua orang tua. Anak muda itu menjelaskan bahwa ia masih memiliki kedua orang tua dan dialah yang merawatnya, menyiapkan makanan dan minumannya, melayani ketika keduanya akan melakukan shalat, dan kegiatan lain yang sangat dibutuhkan oleh keduanya.
Rasulullah s.a.w. menyampaikan kepada anak muda itu agar berjihad di rumahnya, dengan berbakti kepada kedua orang tuanya dan melayaninya dengan baik. Karena hal itu juga merupakan jihad yang sangat agung. Nabi menyatakan: فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْmengurus kedua orang tuamu itu bagian dari jihad. (HR. Bukhari, 3004, Muslim, 2549).
Setiap orang merasakan dengan sungguh-sungguh, kasih sayang dari ayah dan ibunya sejak masih kecil. Kehidupan masa lalu setiap orang merasakan betapa besarnya kasih sayang kedua orangtuanya dirasakan sejak balita, ketika anak-anak, remaja, dan dewasa. Sebelum balita, kasih sayang ibu dan ayah lebih tinggi lagi, yaitu ketika masa dalam kandungan, ketika melahirkan, dan ketika menyusui.
Banyak di antara kita yang merasakan kasih sayang itu selama bertahun-tahun. Setelah kita sukses menyelesaikan kuliah, bekerja mendapatkan penghasilan yang layak, kita ingin berbakti kepada keduanya, namun sayang keduanya telah tiada. Dada seorang anak terasa sesak mengingat kembali kepada orangtuanya. Dia sungguh-sungguh ingin berbakti kepadanya, apakah seseorang masih bisa berbakti kepada kedua orangtuanya yang telah wafat?
Mengenai hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits bahwa ketika ada seorang anak muda yang datang kepada Rasulullah s.a.w. dan menyampaikan pertanyaan: “Apakah aku masih bisa berbakti kepada kedua orangtuaku setelah mereka tiada?”. Nabi menjawab: “Bisa, yaitu dengan jalan (1) berdoa untuk kebaikan keduanya, (2) beristighfar memohon ampunan kepada Allah untuk kedua orangtua, (3) melaksanakan rencana dan janji orang tua kepada kebajikan yang belum terlaksana.
Misalnya orangtua merencanakan akan membangun sebuah mushalla di pinggir pasar, namun sampai wafat rencana itu belum terlaksana. Maka dilaksanakan oleh anaknya, itu merupakan wujud perbuatan baik seorang anak kepada orangtuanya. (4) menghormati dan memuliakan teman-teman kedua orangtua kita, yang ke (5) merajut hubungan silaturrahim dengan keluarga orang tua, kerabat, dan generasi penerusnya.
بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ: نَعَمْ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا.
Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, datanglah seorang laki-laki dari Bani Salimah. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku masih bisa berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal dunia?” Beliau menjawab, “Ya, mendoakan keduanya, memohonkan ampunan bagi keduanya, menunaikan janji keduanya setelah wafatnya, menyambung silaturahmi yang tidak dapat tersambung kecuali melalui keduanya, dan memuliakan teman keduanya.” (HR. Ibnu Majah, 3664).
Abdullah bin Umar bin Khattab ketika melakukan perjalanan dengan teman-temannya, tiba-tiba beliau berjumpa dengan salah seorang Arab Badwi. Ibnu Umar menghadiahkan surbannya yang bagus kepada Arab Badwi itu. Para sahabatnya bertanya: “Mengapa kamu hadiahkan surbanmu kepada orang itu?”. Beliau menjawab: “Orang itu adalah anak dari teman ayahku”.
إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْمَرْءِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ
Sesungguhnya sebaik-baik bentuk bakti adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dan orang-orang yang dicintai ayahnya setelah ia wafat. (HR. Muslim, 2547).
Mereka yang meraih kesuksesan dalam kehidupannya sehingga memperoleh kedudukan yang tinggi dan memperoleh rizki yang berlimpah, ketika ia merasakan kesedihan karena ingin berbuat baik kepada kedua orang tuanya, padahal orangtuanya telah tiada. Hal ini tidak perlu kecewa, karena ia masih bisa berbakti kepada kedua orangtua yang sangat dicintainya setelah wafat, yaitu dengan kegiatan yang disebutkan di atas.
Dr. KH. Zakky Mubarok Syakrakh, MA., Dewan Pakar Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU) dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)























