JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Penetapan seorang Gus sebagai tersangka bukan sekadar perkara hukum, melainkan guncangan batin bagi santri dan kader di akar rumput.
Di tengah budaya ta’dhim dan loyalitas pesantren, kasus ini membuka retakan sunyi antara ketaatan, nurani, dan godaan kekuasaan.
Ada keheningan yang ganjil di beranda itu, setelah sorak-sorai “Siapa Kita?” perlahan mereda. Berita itu datang tidak seperti dentum meriam, melainkan seperti retakan kaca yang menjalar pelan namun pasti: sang “panglima” itu kini berstatus tersangka.
Bagi para santri dan kader yang pernah berdiri satu gerbong, mengenakan baju seragam itu dengan dada membusung, ini bukan sekadar berita hukum. Ini adalah sebuah gempa di dalam batin-sebuah keguncangan psikologis yang sunyi.
Kita tahu, di pesantren, hierarki ketaatan dibangun di atas fondasi ta’dhim dan mahabbah. Seorang Gus, sebagai dzurriyah kiai, adalah simbol yang nyaris sakral. Kepadanya dilekatkan husnudhon yang tak putus-putus. Namun, ketika angka-angka kuota haji ditudingkan sebagai komoditas dagang, ketika amanah umat diduga ditukar dengan pundi-pundi, ada sesuatu yang luruh di dada para muhibbin itu.
Terjadi sebuah disonansi. Sebuah pertarungan yang melelahkan antara doktrin sami’na wa atha’nadengan akal sehat yang terusik. Lalu berujung di denial.
Mereka, para santri di akar rumput yang tulus berkhidmah, kini seolah menjadi anak ayam yang kehilangan induk di tengah badai. Ada rasa malu yang disembunyikan, ada kecewa yang ditelan bersama ludah. Mereka bertanya-tanya: apakah selama ini keringat dan loyalitas mereka hanya menjadi bahan bakar bagi ambisi yang profan?
Apakah marwah pesantren sedang dipertaruhkan di meja judi kekuasaan?
Barangkali kita memang telah lama alpa.
Di zaman ketika “viral” adalah mata uang baru, fenomena para Gus yang terjebak dalam citra selebritas kian lumrah. Kita melihat mereka di layar gawai: dipuja, bermandi ketenaran, akrab dengan kemewahan, dan canggung untuk hidup di luar lingkar itu.
Dulu, kaum sufi mengingatkan kita dengan keras tentang bahaya ini. Sebagaimana Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani pernah mewanti-wanti tentang ulama yang merobek agamanya demi menambal dunianya.
Sepotong hadis, yang kini terasa menyengat, adalah yang membedah wajah dan sikap para pemuka agama yang telah kehilangan izzah (harga diri) di hadapan kekuasaan:
من تواضع لغني لأجل غناه ذهب ثلثا دينه
“Barangsiapa bersikap tawadhu’ terhadap orang kaya lantaran kekayaannya, maka lenyaplah dua pertiga agamanya.”
Ketika seorang Gus lebih sibuk mematut diri di cermin popularitas, ketika ia lebih takut kehilangan ketenaran ketimbang kehilangan wira’i (kehati-hatian dari melakukan dosa), maka ia sedang membunuh kharismanya sendiri. la bukan lagi waratsatul anbiya, melainkan sekadar oportunis berjubah.
Bagi mereka yang kini termangu di gerbong yang retak itu, mungkin ini adalah momen untuk kembali ke khittah moral. Bahwa loyalitas mutlak (wala’) sejatinya hanya milik Allah dan Rasul-Nya, bukan pada sosok manusia yang bisa tergelincir, betapapun mulia nasabnya.
Sejarah, seperti biasa, selalu punya cara yang kejam untuk mengajarkan kerendahan hati. Di ujung senja kekuasaan, ketika pesta usai dan lampu sorot dimatikan, yang tersisa hanyalah jejak laku. Dan Tuhan, kita tahu, tidak pernah tidur.
Saiful Bahri, Budayawan Madura
























