CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat. Salah satu nama yang muncul dengan gelombang dukungan kuat adalah KH Muhammad Yusuf Chudlori, atau yang akrab disapa Gus Yusuf.
Langkah mengejutkan Gus Yusuf yang menyatakan mundur dan tidak lagi aktif dalam struktur Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)—baik sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah maupun pengurus DPP— ini menjadi sinyal kuat kesiapannya untuk berkhidmah sepenuhnya di jalur struktural NU. Menurutnya, keputusann itu telah dikomunikasikan secara langsung kepada pimpinan partai demi fokus pada perjuangan keumatan yang lebih luas.
Diantara sekian nama yang paling potensial dari sisi kapasitas, dukungan pemilih dan kekuatan di belakangnya untum memimpin NU, tentu Kiai Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). Ada beberapa alasan signifikan, mengapa Gus Yusuf dinilai sangat layak mengemban amanat menjadi ketua PBNU di muktamar ke 35.
Gus Yusuf pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo, Magelang. Sebagai seorang pengasuh dari sebuah pondok besar dengan latar belakang historis yang panjang, Gus Yusuf memiliki modal sosial yang sangat cukup. API Tegalrejo adalah simbol sosial-keagamaan, yang dapat menjadi pusat dan medan magnet dukungan kepadanya.
Gus Yusuf adalah putra dari ulama legendaris, KH Chudlori, pendiri Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, Magelang. Sebagai putra kiai kharismatik, ia mewarisi nilai-nilai ketawaduan dan kedalaman ilmu agama yang menjadi pondasi utama kepemimpinan di lingkungan Nahdliyin.
Reputasi dan kontribusi API Tegalrejo bagi umat muslim khususnya dan bangsa umumnya tidak perlu diragukan, dan itu artinya jaringan API Tegalrejo tinggal selangkah lagi untuk berkhidmat secara lebih luas melalui PBNU. Gus Yusuf khususnya dan jaringan API Tegalrejo umumnya sangat layak memimpin NU.
Kapasitas intelektual dan spiritual Gus Yusuf tidak perlu diragukan. Pesantren yang ia asuh, API Tegalrejo, memiliki sejarah emosional yang sangat kuat dengan tokoh-tokoh besar NU. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tercatat pernah menimba ilmu di sini sebagai santri langsung dari ayahanda Gus Yusuf. Kedekatan historis ini membuat Gus Yusuf dipandang sebagai penjaga api semangat pemikiran Gus Dur yang inklusif namun tetap memegang teguh tradisi salaf.
Tidak cukup mengandalkan jaringan API Tegalrejo, modal sosial lainnya yang dimiliki Gus Yusuf adalah jaringan Lirboyo. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Lirboyo. Dengan memasrahkan kepemimpinan NU pada tangan Gus Yusuf, maka itu sama saja dengan kader terbaik Lirboyo memimpin NU.
Bagaimana pun, seperti halnya API Tegalrejo, Pondok Pesantren Lirboyo adalah pusat keagamaan yang menempati papan atas untuk wilayah Jawa Timur, sebagaimana API Tegalrejo untuk wilayah Jawa Tengah. Gus Yusuf dengan begitu adalah representasi dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Jadi, sebagai alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Gus Yusuf memiliki jaringan santri dan kiai yang sangat luas. Latar belakang pendidikan di salah satu “paku bumi” pesantren di Jawa Timur ini memberikan legitimasi kuat di mata para kiai sepuh (syuriyah) maupun santri muda (tanfidziyah) akan kedalaman pemahaman kitab kuning dan hukum Islam.
Berbeda dengan tokoh yang hanya muncul di balik meja, Gus Yusuf dikenal sebagai mubaligh yang aktif berkeliling ke berbagai pelosok desa. Ia konsisten menyapa warga melalui pengajian-pengajian rakyat, menjadikannya sosok yang sangat memahami denyut nadi dan problematika Nahdliyin di akar rumput. Gaya bicaranya yang santun, sejuk, namun lugas membuat pesan-pesannya mudah diterima oleh lintas generasi.
Pengalamannya dalam memimpin berbagai organisasi memberikan Gus Yusuf keunggulan dalam hal manajemen massa. Ia memiliki basis pendukung yang loyal di Jawa Tengah dan sekitarnya. Yang paling menonjol, meski memiliki pengaruh besar, ia tetap mempertahankan karakter sopan dan rendah hati khas pesantren, sebuah syarat etis yang tak tertulis namun vital bagi seorang Ketua Umum PBNU.
Keputusannya meninggalkan7 jabatan struktural di parpol menjadi poin tambah paling krusial. Di tengah aspirasi warga NU yang ingin organisasi ini kembali ke khittah dan tidak dikooptasi oleh kepentingan politik praktis, Gus Yusuf hadir sebagai sosok yang telah menanggalkan jubah politik demi mengabdi secara murni kepada jam’iyyah NU.
Gusdurian maupun Gus Yusuf memiliki visi kebangsaan yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini. Yaitu, paham moderat. Di titik ini, jika NU di masa-masa yang akan datang mendambakan sosok pemimpin dengan visi moderat, maka Gus Yusuf adalah pilihan yang tepat.
Apalagi potensi ancaman yang dapat merusak kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara hingga hari ini masih belum tuntas. Di mana-mana masih ada suara-suara sumbang yang mencoba merusak kehidupan harmonis. NU di tangan Gus Yusuf tidak akan kekurangan solusi dalam memecahkan persoalan seperti radikalisme, fundamentalisme, terorisme, dan para perusak NKRI.
Usia Gus Yusuf yang masih muda adalah kredit poin tersendiri. Dibanding calon-calon terkuat hari ini, Gus Yusuf jauh relatif lebih muda. Ini artinya, ia memiliki potensi dukungan dari kaum milenial, bahkan banyak media massa mengabarkan bahwa Gus Yusuf ini merupakan tokoh idola kaum milenial.
Di dalam usianya yang relatif muda itu, ia telah memenuhi banyak kualifikasi yang biasanya hanya dimiliki oleh kiai-kiai sepuh. Tidak heran, Gus Yusuf lebih dikenal akrab sebagai seorang cendikiawan idola kaum muda. Bagaimana tidak, di usia muda, ia telah berhasil meneruskan trah perjuangan ayahanda sebagi tokoh agama, intelektual, bahkan politisi.
Maka, dengan kombinasi antara nasab ulama, rekam jejak pengabdian, kemandirian politik, dan kedekatan dengan rakyat, KH Muhammad Yusuf Chudlori adalah profil pemimpin yang mampu membawa PBNU menuju Muktamar ke-35 dengan semangat kemandirian dan martabat yang tinggi. Wallahu’alam bishawab.
KH Imam Jazuli Lc., MA., Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

























