JAKARTA, LIPUTAN9NEWS
Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) mendorong penguatan spiritualitas umat dan penerapan nilai-nilai tarekat dalam kehidupan bernegara. Langkah ini dinilai penting untuk menghadapi pragmatisme, persaingan ekonomi yang semakin tajam, hingga konflik sosial di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Mudir ‘Ali Idarah ‘Aliyyah JATMAN, KH Ali Masykur Musa, dalam peringatan hari lahir (harlah) ke-69 JATMAN di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Selasa (13/10/2026) malam.
Peringatan tersebut ditandai dengan pemotongan tumpeng dan dihadiri Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), jajaran pengurus JATMAN, serta masyarakat umum.
Kiai Ali Masykur mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan JATMAN selama 69 tahun. Menurutnya, JATMAN memiliki peran khusus dalam membangun kehidupan spiritual umat melalui pendekatan hati.
“Kita bersyukur hari ini tepat 69 tahun JATMAN berdiri dan dengan segala kiprahnya, JATMAN lebih mengambil peran-peran spiritual, melalui pendekatan hati,” ujarnya.
Memasuki usia ke-69, Kiai Ali Masykur Musa menekankan tiga hal yang perlu diperkuat JATMAN. Pertama, memperkuat pengamalan spiritualitas tarekat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai upaya membina dan memperdalam kehidupan ruhani umat.
Kedua, menjadikan JATMAN sebagai sumber inspirasi nilai untuk mendamaikan masyarakat yang menghadapi tekanan pragmatisme kehidupan. Ia menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin berorientasi pada kepentingan ekonomi dan kompetisi tanpa batas yang terukur sehingga berpotensi memicu konflik.
“Menjadikan JATMAN sebagai inspirasi nilai dalam rangka mendamaikan masyarakat yang dirundung oleh pragmatisme kehidupan, sekarang semua serba ekonomi, semua serba kompetisi tanpa terukur, konflik tajam,” utara Mudir Ali dalam sambutannya.
Ketiga, Kiai Ali Masykur Musa mendorong agar nilai-nilai tarekat turut mewarnai penyelenggaraan negara. Menurutnya, para pemimpin, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, perlu mengedepankan hati nurani dalam menjalankan amanah.
Ia mencontohkan pelaksanaan istighosah di istana saat peringatan kemerdekaan maupun di kantor dan pendopo pemerintahan daerah ketika memperingati hari jadi provinsi atau kabupaten.
“Jadi, amalan thariqah itu sejalan bersamaan dengan kita bernegara. Jadi, berthoriqoh tidak boleh terpisah sama sekali dengan negara,” tutur Kiai Ali Masykur.
Menanggapi arahan Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, Kiai Ali Masykur berharap JATMAN terus menjadi lentera yang menerangi berbagai aktivitas di lingkungan NU.
Ia menjelaskan, peran spiritual para mursyid melalui dzikir dan istighosah sering kali berlangsung tanpa banyak terlihat di ruang publik. Namun, aktivitas tersebut menjadi bagian penting dari khidmah JATMAN dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan spiritual warga Nahdliyin.
“Gus Ketum, Gus Kikin, yang memberi highlight agar JATMAN terus menjadi lentera, menjadi cahaya dari semua kegiatan-kegiatan di lingkungan Nahdlatul Ulama,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan pentingnya peran JATMAN dalam memperkuat hubungan spiritual umat dengan Allah SWT.
“Harapannya ya dikuatkan terus JATMAN-nya, dia penting. JATMAN itu hubungan dengan Allah. NU itu keagamaan. Oleh karena itu, hablun minallah, hubungan dengan Allah itu diperkuat dan itu di JATMAN inilah tempatnya,” tuturnya.
Gus Kikin juga mendorong agar silaturahmi di lingkungan NU terus diperluas melalui diskusi dan istighosah. Menurutnya, upaya tersebut penting untuk memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus menjaga kebersamaan di kalangan Nahdliyin.
Peringatan harlah ke-69 ini menjadi momentum bagi JATMAN untuk mempertegas peran tarekat bukan hanya dalam pembinaan spiritual individu, melainkan juga sebagai sumber nilai moral, keteduhan sosial, dan penguatan kehidupan berbangsa dan bernegara.

























