TANGERANG | LIPUTAN9NEWS
Kunci kebahagiaan bukan pada banyaknya harta, melainkan pada lapangnya rasa syukur dan ketenangan menerima ketetapan Allah.
Saat engkau sibuk membandingkan hidupmu dengan orang lain, engkau akan lupa betapa banyak nikmat Allah yang telah engkau miliki. Padahal setiap hamba telah ditetapkan rezekinya masing-masing oleh Allah, tidak akan tertukar dan tidak akan berkurang.
Berhentilah membandingkan, mulailah bersyukur. Karena bahagia itu bukan saat memiliki semua yang kau inginkan, tapi saat kau mensyukuri semua yang telah Allah berikan.
Rezekimu tidak akan diambil orang lain, maka tenangkan hatimu. Tugasmu hanya bersyukur dan berikhtiar.
Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk:
> وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
“Dan tidak suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Larangan iri terhadap nikmat orang lain:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia.” (QS. Thaha: 131)
Lihatlah yang di bawahmu agar mudah bersyukur:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim no. 2963)
Rezeki sudah ditetapkan dan tidak akan tertukar:
إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رُوعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا، وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya dan dia menghabiskan semua jatah rezekinya.” (HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, hadits shahih)
Kekayaan bukan bukti kemuliaan, dan kemiskinan bukan bukti kehinaan. Keduanya hanyalah ujian. Yang memuliakan adalah takwa.
وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ۚ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ
“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki. Tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS. An-Nahl: 71)
Allah-lah yang dengan hikmah-Nya membedakan rezeki hamba-Nya. Ada yang dilebihkan menjadi kaya, ada yang dicukupkan menjadi miskin. Ini bukan karena kemuliaan atau kehinaan, tapi ujian.
Yang kaya diuji dengan syukurnya, yang miskin diuji dengan sabarnya. Dan rezeki setiap orang sudah ditetapkan dan tidak akan tertukar.
Ayat ini mengajarkan kita:
- Jangan iri melihat orang yang dilebihkan rezekinya.
- Jangan sombong jika dilebihkan rezeki, karena itu amanah untuk berbagi.
- Diantara mereka yang dilapangkan rizkinya, ada yang amanah dengan berbagi/menyampaikan amanah itu kepada mereka yang berhak menerimanya.
- Akan tetapi ada yang tidak amanah dengan tetap menggenggam hartanya, karena alasan sekuler seperti Qorun yang berkata “Aku bisa kaya kan karena usahaku sendiri”
فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ – وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ – كَلَّا ۖ
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Dan adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’ Sekali-kali tidak (demikian).” (QS. Al-Fajr: 15-17)
Kata كَلَّا (Sekali-kali tidak) di akhir ayat itu adalah bantahan dari Allah.
Artinya: Kekayaan bukan tanda Allah memuliakan, dan kemiskinan bukan tanda Allah menghinakan.
Para Ulama Tafsir menjelaskan (Tafsir Ibnu Katsir): Manusia salah paham. Mereka mengira jika Allah melapangkan rezeki itu tanda dia mulia, dan jika disempitkan itu tanda dia hina. Padahal tidak. Keduanya hanyalah ujian.
Allah memuliakan dan menghinakan seseorang bukan dengan harta, tapi dengan ketaatan dan ketakwaan.
- Firaun kaya raya tapi hina di sisi Allah
- Qarun hartanya melimpah tapi dibenamkan ke bumi
- Bilal bin Rabah miskin, budak, tapi mulia sampai sandalnya terdengar di Surga
- Rasulullah ﷺ sering menahan lapar tapi beliau adalah manusia termulia
Wallahu a’lam bisshowab
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)
Domisili: Thali’a Clauster (Ps. Ceger) Jl. Musholla Nurul Huda No.1, blok B12Jurang Mangu Barat, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222 HP/WA +62852-1737-0897.
























