Khilafah Sebelum Imam Mahdi Akan Tegak Dimana? Di Wilayah Indonesia atau di Arab. Jawabannya sangat mudah, yaitu di Arab, berdasarkan hadis-hadis berikut ini:
1) Rasulullah saw. bersabda:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُبْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِى أَبِى عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِى الْخَلِيلِ عَنْ صَاحِبٍ لَهُ عَنْأُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ » يَكُونُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَمَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُإِلَيْهِ بَعْثٌ مِنَ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَالرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِى النَّاسِبِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ -صلى الله عليه وسلم- وَيُلْقِى الإِسْلاَمُ بِجِرَانِهِ إِلَىالأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Mu’adz binHisyam, telah menceritakan kepada saya oleh ayahku, dari Qatadah dari Shalih Abi Al Khalil dari seorang temannya dari Ummu Salamah isteri Nabi SAW dari Nabi SAW beliau bersabda, ”Akan ada perselisihan pada saat matinya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki dari penduduk kota Madinah berlari menuju Makkah. Orang-orang dari penduduk Makkah mendatanginya, lalu mereka mengeluarkan laki-laki itu sedang laki-laki itu membencinya. Kemudian mereka membaiat laki-laki itu di antara rukun [Yamani] dan Maqam [Ibrahim], lalu dikirimkan kepadanya satu pasukan lalu pasukan itu ditenggelamkan di Baida` yang terletak antara Makkah dan Madinah. Maka tiba-tiba orang-orang melihat laki-laki itu didatangi oleh para Abdal dari Syam dan kelompok-kelompok dari Irak lalu mereka membaiat laki-laki itu di antara rukun [Yamani] dan Maqam [Ibrahim]. Lalu muncullah seorang laki-laki dari golongan Quraisy yang paman-pamannya dari suku Kalb, kemudian dia [Imam Mahdi] mengirimkan kepada mereka satu pasukan lalu pasukan itu pun mengalahkan mereka. Itu adalah pasukan suku Kalb, dan adalah suatu kerugian bagi siapa saja yang tidak mempersaksikan ghanimah dari Kalb itu. Kemudian dia [Imam Mahdi] mengamalkan di tengah manusia sunnah Nabi mereka dan menyebarkan Islam ke seluruh bumi. Dan dia [Imam Mahdi] akan tinggal selama tujuh tahun lalu [meninggal dan] disholatkan oleh kaum muslimin.” (HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz 4/175 no 4288; Musnad Ahmad, 6/316 no 26731; At Thabrani, Al Mu’jam Al Ausath, no 1153; Shahih Ibnu Hibban, 15/160 no 6757; MusnadAbu Ya’la, 12/369 no 6940; Al Hakim, Al Mustadrak, Juz 4 no 8328
Dalam hadis di atas, kota Jakarta, Bandung, Ciputat, Pangkalpinang, Tasikmalaya, Gombong, Sorong, Kendari, Balikpapan, Palembang, Bogor, Medan, Lombok, Manado, Semarang, Ambon, Banda Aceh, Merauke, dsb, tidak disebut-sebut oleh Nabi Saw.
Sehingga dapat dipastikan bahwa Khilafah Imam Mahdi tidak akan berdiri di wilayah Indonesia. Khilafah Imam Mahdi berdiri di Arab.
Pertikaian saat kematian seorang khalifah pada hadis di atas akan terjadi di Arab, bukan di Indonesia, sebab, selang waktu antara pertikaian tersebut dengan proses pelarian Imam Mahdi dari Madinah sampai dibaiat di dekat Ka’bah di Mekkah, sangat cepat.
Proses yang demikian cepat sulit terjadi apabila khilafah sebelum Imam Mahdi berlokasi di Indonesia. Jarak Indonesia dari kota Jakarta ke Jeddah Arab Saudi sekitar 7971 km. Jika naik pesawat butuh waktu sekitar 9 jam.
HTI berasumsi bahwa pertikaian saat kematian khalifah terjadi dalam sistem khilafah. Sangat janggal apabila sistem khilafahnya di Indonesia, lalu Imam Mahdi pengganti khalifah yang terbunuh berdomisili Madinah.
Dengan kata lain negara khilafah tempat terjadinya pertikaian tersebut berlokasi di Arab, bukan Indonesia.
Hadis di atas juga tidak memberi satu qarinah (indikasi) pun yang menunjukkan dan mengarahkan makna lokasi pembunuhan khalifah dan pertikaian akibat pembunuhan tersebut terjadi di Indonesia.
2. Rasulullah Saw bersabda:
قَرَأْتُ بِخَطِّ أَبِي الْحُسَيْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّازِيِّ ، أنا أَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ عُمَيْرِ بْنِ جَوْصَا ، أَنْبَأَنَا أَبُو عَامِرٍ مُوسَى بْنُ عَامِرٍ ، أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ ، أَنْبَأَنَا مَرْوَانُ بْنُ جَنَاحٍ ، عَنْ يُونُسَ بْنَ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” هَذَا الأَمْرُ كَائِنٌ بَعْدِي بِالْمَدِينَةِ ، ثُمَّ بِالشَّامِ ، ثُمَّ بِالْجَزِيرَةِ ، ثُمَّ بِالْعِرَاقِ ، ثُمَّ بِالْمَدِينَةِ ، ثُمَّ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَإِذَا كَانَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ فَثَمَّ عُقْرُ دَارِهَا ، وَلَنْ يُخْرِجَهَا قَوْمٌ فَتَعُودَ إِلَيْهِمْ أَبَدًا ” . يَعْنِي بِقَوْلِهِ بِالْجَزِيرَةِ : أَمْرٌ مَرْوَانَ بْنَ مُحَمَّدٍ الْحَمَّارَ ، وَبِقَوْلِهِ بِالْمَدِينَةِ : بَعْدَ الْعِرَاقِ ، يَعْنِي بِهِ الْمَهْدِيَّ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ ، ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَبِهَا يُحَاصِرُهُ الدَّجَّالُ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
Artinya: “Perkara ini (khilafah) akan ada sesudahku di Madinah (Yastrib), lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Iraq, lalu di Madinah (Konstantinopel), lalu di Al-Quds (Baitul Maqdis). Jika ia ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksanya (ibu kota) keluar dari sana (al-Quds), ia tak akan kembali ke sana selamanya.”
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab tarikhnya (Tarikh Dimasyq, 1/185) dan Nu’aim bin Hammad dalam kitabnya (al-Fitan, 276).
Kota Depok, Pekanbaru, Citayam, Banjarmasin, Sukabumi, Palu, Bali, Surabaya, Cilegon, Bandar Lampung, Padang, Jayapura, Bone, Mataram, dsb, tidak disebut-sebut oleh Nabi saw.
Sehingga dapat dipastikan bahwa khilafah sebelum dan pada saat Imam Mahdi akan berdiri di Arab, bukan di Indonesia.
Oleh karena itu, berdasarkan hadis-hadis Nabi Saw, direkomendasikan kepada aktivis HTI agar pindah ke Arab. Tegakkan khilafah di sana. Di sanalah tempat khilafah sebelum Imam Mahdi akan berdiri. Jangan mendirikan khilafah di wilayah Indoesia, karena hal tersebut bertentangan dengan hadis Nabi Saw.
KH. Ayik Heriansyah, M.Si, Mahasiswa Kajian Terorisme SKSG UI, dan Direktur Eksekutif CNRCT, Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat. Pernah menjadi Ketua HTI Bangka Belitung.
Asyik kang kajiannya, bikin senyum2