JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Bulan Rajab menegaskan bahwa kesalehan sejati tidak hanya terwujud dalam meningkatnya ibadah individu, tetapi juga dalam komitmen menjaga kedamaian dan memperbaiki hubungan antarsesama. Rajab mengajarkan kita untuk mengendalikan diri dari kezaliman, penghentian konflik, serta pentingnya islah dan rekonsiliasi sosial sebagai wujud nyata dari ketakwaan.
Khutbah Jumat yang berjudul: “Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian” ini. Sebelumnya telah tayang di NU Online dengan judul yang sama. Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan tautan di bawah artikel ini. Semoga bermanfaat.
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Tidak bosan-bosannya khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan yang sempurna bukan hanya tampak dalam ibadah ritual individual semata, namun juga terwujud dalam akhlak, sikap, dan perilaku sosial kita sehari-hari. Ketakwaan yang benar-benar tertanam dalam diri kita adalah ketakwaan yang melahirkan kedamaian, keadilan, dan kasih sayang antarsesama.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ 1:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Artinya: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Terlebih pada momentum bulan Rajab yang merupakan bulan ketujuh dan mulia dalam penanggalan qamariah saat ini. Allah SWT menegaskan kemuliaan bulan Rajab sebagai bagian dari empat bulan haram atau bulan-bulan yang disucikan dan dijaga kehormatannya sejak awal penciptaan alam semesta. Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya terdapat empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah, Keistimewaan Rajab bukan hanya pada statusnya sebagai bulan haram, tetapi juga pada konsekuensi amal perbuatan di dalamnya. Ketaatan akan diganjar dengan pahala yang lebih besar. Sementara dosa dan kezaliman, terutama yang berdampak sosial, mendapat ancaman yang lebih berat.
Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa Rajab adalah bulan pengendalian diri. Bukan hanya menahan diri dari maksiat pribadi, tetapi juga menahan lisan dari menyakiti, menahan tangan dari merugikan, serta menahan hati dari dendam dan kebencian. Bulan Rajab mengajarkan kepada kita pentingnya menahan diri, menghentikan permusuhan, serta memperbaiki hubungan yang retak, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
Dalam Kitab asy-Syahru Rajab karya Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ruslan, disebutkan bahwa bulan Rajab memiliki nama lain yakni bulan asham yang artinya tuli. Alasan di balik penamaan ini adalah karena pada bulan Rajab tidak terdengar gencatan senjata untuk berperang yang dilakukan oleh bangsa Arab jahiliah pada masa dulu.
Semua orang Arab pada masa itu menyimpan peralatan perang, dan kembali berdamai dengan musuh-musuh mereka. Bahkan, mereka berkunjung ke rumah orang-orang yang membunuh ayahnya di medan perang untuk menghormati bulan mulia ini.
Penegasan lain juga termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Raja, dalam kitab Fathul Bari, Bab Magazi, Juz 9, Hadis 4376. Hal. 533. Dalam hadits tersebut dijelaskan:
فَإِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَجَبٍ قُلْنَا مُنَصِّلُ الْأَسِنَّةِ فَلَا نَدَعُ رُمْحًا فِيهِ حَدِيدَةٌ وَلَا سَهْمًا فِيهِ حَدِيدَةٌ إِلَّا نَزَعْنَاهُ وَأَلْقَيْنَاهُ شَهْرَ رَجَب
Artinya: “Apabila datang bulan Rajab, kami mengatakan; tidak ada peperangan. Maka kami melepaskan tombak dan panah dari besinya (isyarat meninggalkan perang), sebagai pengagungan terhadap bulan Rajab.” (HR. Bukhari)
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rajab adalah bulan untuk menghentikan konflik, mengakhiri pertikaian, dan membuka pintu maaf. Karena sejatinya, ketakwaan yang hakiki akan selalu melahirkan kedamaian. Tentunya hal ini sangat relevan untuk digemakan di tengah berbagai peperangan dan konflik di berbagai penjuru dunia yang kita harapkan bisa segera dihentikan dan mengedepankan islah untuk mewujudkan perdamaian. Kita harus menjadi bagian terselenggaranya kebaikan sesuai makna Rajab sebagai bulan perbaikan.
Dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Rajab dinamakan demikian karena di dalamnya Allah menyiapkan banyak kebaikan untuk bulan-bulan setelahnya:
قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ لِمَ سُمِيَ رَجَبَ؟ قَالَ: لأنَّهُ يُتَرَجَّبُ فِيهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ لِشَعْبَانَ وَرَمَضَانَ
Artinya: “Ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Mengapa dinamakan Rajab?’ Beliau menjawab: Karena di dalamnya disiapkan banyak kebaikan untuk bulan Sya’ban dan Ramadhan.”
Para ulama menafsirkan bahwa Rajab adalah bulan di mana Allah melimpahkan peluang kebaikan yakni peluang memperbaiki ibadah, membersihkan hati, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Rajab adalah pintu awal pembersihan jiwa sebelum kita memasuki bulan Sya’ban dan Ramadhan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Bulan Rajab bukan hanya bulan ibadah personal, tetapi juga bulan rekonsiliasi dan perdamaian. Rajab mengajak kita menghentikan kezaliman, menahan ego, menumbuhkan sikap saling memaafkan, melakukan islah, dan membangun harmoni sosial sebagai wujud nyata ketakwaan.
Mari kita hidupkan bulan Rajab dengan semangat perbaikan diri dan perdamaian. Jika Rajab kita isi dengan hati yang bersih dan hubungan yang pulih, insyaAllah kita akan memasuki Ramadhan dengan jiwa yang lebih siap, tenang, dan penuh keberkahan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
KH. Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Materi Khutbah dalam bentuk PDF dapat di download dengan KLIK disini.























