Naskah khutbah Jum’at: MUHASABAH AKHIR TAHUN
Disampaikan dalam sidang shalat Jumat di Masjid Al-Kautsar Komplek Pesona Khayangan 2 Jl. Juanda Depok Jawa Barat, pada 05 Rajab 1447 H/26 Desember 2025 M.
Khatib: Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag.
الحَمْدُ لِلُٰهِ ٱلَّذِیۤ اَمَرَنَا اَنْ نَعْبُدَهُ بالإيْمَانِ وَالإخْلَاصِ والْكَيْفِيَّة الْمَشْرُوْعَيَّةِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا¸ مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ¸ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ.
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’aalaa.
Menjadi prioritas utama bagi khatib dalam mengawali khutbah ini untuk senantiasa mengingatkan, mengajak, dan berwasiat kepada diri khatib dan para jamaah untuk terus dan tak henti-hentinya berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa.
Wujud peningkatan ketakwaan ini adalah dengan penguatan komitmen untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Kata muhasabah berasal dari bahasa Arab hasaba–yuhasibu–muhasabatan, yang berarti menghitung, menilai, mengintrospeksi atau mengevaluasi.
Dalam konteks keislaman, muhasabah berarti proses introspeksi diri atau evaluasi diri secara mendalam atas segala amal perbuatan yang telah dilakukan untuk menilai dan mengidentifikasi kesalahan dan kekurangan, mana yang baik dan buruk, benar dan salah dan memperbaiki diri agar lebih taat kepada Allah serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat
Muhasabah (Introspeksi/evaluasi diri) adalah bagian penting dari kehidupan seorang mukmin untuk meningkatkan ketaqwaan dan memperbaiki diri.
Allah Subhanahu wata’aalaa berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١
Artinya: _”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”_ (QS Al-Hasyr: 18).
Menurut Ibnu Kathir rohimahullah ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang mukmin harus bertakwa kepada Allah dan memperhatikan apa yang telah mereka persiapkan untuk hari akhirat, yaitu amal-amal saleh yang akan menjadi bekal mereka di akhirat.
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوها قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، وَتَأهَّبُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ
Artinya: “Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal.”
• Apakah yang Harus Dievaluasi ?
Diantara yang harus kita evaluasi adalah ibadah kita kepada Allah Subhanahu wata’aalaa. Apakah ibadah yang selama ini kita persembahkan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa sudah benar sesuai yang telah disyariatkan olehNya dan dituntunkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ?
Kita tidak ingin ibadah yang sudah kita kerjakan puluhan tahun sia-sia di sisi Allah Subhanahu wata’aala yang dalam Al-Qur’an surat Al-Ghosyiah disebut dengan
عاملة ناصبة
(Amal yang melelahkan namun Sia-sia)
Allah Subhanahu wata’aalaa berfirman dalam surat Al-Ghisyiyah : 1-4.
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْغَٰشِيَةِ
“Sudah datangkah kepadamu (wahai Muhammad) berita tentang hari pembalasan ?”
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَٰشِعَةٌ
“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina,”
عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ
“Melakukan amalan dengan susah payah namun sia-sia (di sisi Allah)”
4. تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً
“Amalan yang sia-sia itu menyebabkan seseorang memasuki api yang sangat panas (neraka),”
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’aalaa.
Disebutkan dalam siroh nabawiyah bahwa sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu dan seorang ulama tabi’in Atha As-Salami menangis saat mendengar ayat ini. Karena mereka khawatir jangan-jangan amal ibadah yang beliau kerjakan sia-sia. Mereka menyangka bahwa ibadah yang dikerjakan selama bertahun-tahun tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah Subhanahu wata’aalaa ada cacatnya.
Imam Ibnu Katsir rohimahullah mengatakan bahwa salah satu penyebab seseorang dimasukan ke neraka yang disebutkan dalam surat Al-Ghosyiah ayat 4 adalah amalan yang banyak dan beragam, tapi penuh cacat, baik motif, niat maupun syari’at/kaifiyyat (Tata cara ) Ibadah yang benar seperti yang dituntunkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam
{ ٱلَّذِی خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَیَوٰةَ لِیَبۡلُوَكُمۡ أَیُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلࣰاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡغَفُورُ }.
“(Allah Subhanahu wata’ala) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”_(QS. Al-Mulk: 2)
Ketika menafsirkan ayat di atas imam Ibnu Katsir rahimhullah mengatakan bahwa dalam ayat di atas Allah Subhanahu wata’aala menjelaskan bahwa ukuran amal yang terbaik bukanlah amal yang terbanyak tapi amal yang palin benar sesuai syari’at
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ?Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”_(QS. 18 : 103 &104)
Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,”) yakni orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang sesat dan tidak berdasarkan syari’at yang ditetapkan (syari’at yg telah dicontohkan Rasulullah Saw), diridhai dan diterima oleh Allah Subhanahu wata’aalaa.
وَقَدِمۡنَاۤ إِلَىٰ مَا عَمِلُوا۟ مِنۡ عَمَلࣲ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَاۤءࣰ مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka lakukan, kemudian Kami jadikan ia bagi debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23).
Dalam tafsir Al-Muyassar disebut bahwa amal ibadah akan sia-sia di sisi Allah Subhanahu wata’aalaa apabila tidak didasari iman kepada Allah; berikut ikhlas untukNya dan mengikuti tuntunan RasulNya, Muhammad Shalallahu alaihi wasallam
• Ibadah Apa yang Harus Dievaluasi
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’aalaa
Diantara sekian banyak ibadah yang harus kita evaluasi adalah shalat, karena shalat merupakan ibadah yang pertama kali diperiksa di akhirat kelak. Bila benar shalat seseorang, maka benarlah semua ibadah lainnya dan Allah Subhanahu wata’aalaa tidak memeriksa lagi ibadah-ibadah lainnya itu.
أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
“Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk.” (HR. Thabrani)
حَـٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَ ٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَـٰنِتِینَ }[Surat Al-Baqarah: 238]
Jagalah/perbaikilah oleh kalian (wahai kaum muslimin) shalat lima waktu yang diwajibkan dengan cara rutin dalam menjalankannya pada waktu-waktunya dengan memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya.
Dan jagalah shalat yang berada di tengah-tengah antara sholat-sholat itu itu yaitu sholat ashar. Dan dirikanlah shalat kalian dengan menaati Allah, khusyuk lagi tunduk menghinakan diri
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitabnya Marahul Labid li Kasyfi Ma’nal Quranil Majid jilid II halaman 218 menjelaskan bahwa ayat tersebut memerintahkan kita untuk menjaga shalat dengan memperhatikan dan menyempurnakan kaifiyyatnya (rukun dan syarat-syaratnya.)….
A. Apa saja yang harus dijaga ?
1. Sejak dari pelaksanaan wudhu’nya,
2. Kaifiyyat (tata cara)nya, baik waktunya, gerakannya, bacaannya,thuma’ninahnya, khusyu’nya serta pengaruhnya dalam kehidupan
Pertanyaannya adalah, sudah benarkah shalat yang kita kerjakan selama ini ? Apakah shalat kita sudah sesuai syari’at yang ditetapkan Allah Subhanahu wata’aalaa dan dituntunkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam ? Sejauh apa kesungguhan kita memperbaiki kualitas shalat ? Pernahkah kita menyengajakan diri mengajak keluarga kita (istri dan anak-anak kita) menemui guru agama/ustadz untuk memeriksa benar tidaknya shalat yang selama ini kita kerjakan ? Naif sekali andai kita beribadah hanya berdasarkan secuil ilmu yang pernah didapat saat di bangku sekolah dasar atau ibtidaiyyah
Dalam banyak haditsNya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengingatkan kita. Diantaranya hadits riwayat Imam Ahmad
يأَتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يُصَلّوْنَ وَلاَ يُصَلُّوْنَ (رواه أحمد)
“Akan datang suatu masa menimpa manusia, banyak yang melakukan shalat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat”.(HR Ahmad, No. 47)
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً مَا تُقْبَلُ لَهُ صَلَاةٌ، لَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلَا يُتِمُّ السُّجُودَ، وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلَا يُتِمُّ الرُّكُوعَ
“Sungguh, ada orang yang shalat selama 60 tahun, namun tidak diterima Shalatnya walau satu pun. Boleh jadi, dia sempurnakan ruku’nya tetapi sujudnya kurang sempurna, atau dia menyempurnakan sujudnya, namun tidak menyempurnakan Ruku’nya”. (Hadits Sahih Riwayah Al Imam Abi Syaibah.
C. Seperti Apakah Shalat yang Benar itu ?
Shalat yang baik dan benar adalah shalat yang dikerjakan sesuai kaifiyyat ( rukun dan serta ketentuan-ketentuan lainnya) yang telah ditetap oleh syari’at diikuti dengan kekhusu’an dan keikhlasan yang mendalam serta sesuai dengan yang telah dituntunkan atau dicontohkan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam serta bermakna dan berpengaruh positif dalam kehidupan.
Dalam hadits singkat tapi mempunyai arti yang luas terkait kaifiyyat shalat yang benar sesuai syari’at Islam Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى
_”Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Bukhari).
Hadits di atas menunjukkan bahwa shalat yang benar itu mengandung berbagai aspek . Aspek bacaan, gerakan, kekhususan dan keikhlasan
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Wallahu a’lam bisshowab
Hasan Yazid Al-Palimbangy M. Ag, Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)_
Domisili : Thali’a Clauster (Ps. Ceger) Jl. Musholla Nurul Huda No.1, blok B12Jurang Mangu Barat, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222 HP/WA +62852-1737-0897


























Comments 1