JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat (2010-2021), Prof Dr KH Said Aqil Siroj berpartisipasi sebagai narasumber dalam MAPIM–WFPIST Regional Conference 2026 yang diselenggarakan pada 20 Januari 2026 di Putrajaya International Convention Centre (PICC), Selangor, Malaysia.
Konferensi ini mempertemukan lebih dari 300 peserta yang terdiri dari akademisi, pemimpin NGO, diplomat, media, dan aktivis dari Asia Tenggara, Timur Tengah, serta kawasan lain. Seperti dilaporkan Ismail Amin dalam postingan media sosial peribadinya, Selasa (20/01/2026).
Forum internasional ini diselenggarakan oleh Malaysian Consultative Council of Islamic Organizations bekerja sama dengan World Forum for Proximity of Islamic Schools of Thought, dengan fokus utama pada penguatan persatuan umat (Ummah unity), perdamaian, serta advokasi hak Palestina atas kebebasan dan penentuan nasib sendiri.
Dalam forum tersebut, KH Said Aqil Siroj mempresentasikan makalah berjudul; وحدة الأمة الإسلامية بين تعدد المذاهب ورفض احتكار الحقيقة. “Persatuan Umat Islam antara Keragaman Mazhab dan Penolakan atas Monopoli Kebenaran”.
Kiai Said menegaskan bahwa persatuan umat Islam merupakan kebutuhan mendasar peradaban dan bukan sekadar slogan normatif. Ulama NU ini juga menyoroti bahwa perbedaan mazhab adalah keniscayaan sejarah dan hasil ijtihad, namun menjadi sumber konflik ketika dipahami secara eksklusif dan disertai klaim monopoli kebenaran.
“Sesungguhnya kesatuan umat Islam bukan sekadar isu retoris yang muncul saat krisis, atau slogan emosional yang dikibarkan pada momen-momen genting. Ia adalah prinsip syar’i, kebutuhan peradaban, dan pilihan eksistensial yang menentukan masa depan umat serta perannya dalam sejarah.” ujar Kiai Said dalam International Conference on Muslim Unity and Palestine, Selasa (20/01/2026) di Selangor-Malaysia.
Dalam pemaparannya KH Aqil Siroj juga menjelaskan bahwa akar utama perpecahan umat Islam terletak pada sikap menafikan pandangan lain dan menganggap penafsiran mazhab sendiri sebagai kebenaran mutlak. Padahal, yang bersifat absolut hanyalah wahyu, sementara pemahaman manusia selalu relatif dan terbuka untuk dialog serta koreksi.
Lebih lanjut, Kiai Said juga menekankan bahwa perpecahan internal umat telah membuka ruang bagi dominasi politik, budaya, dan ekonomi asing, sekaligus melemahkan daya tawar dunia Islam di tingkat global. Karena itu, Pengasuh Ponpes Luhur Al-Tsqafah ini mendorong penguatan etika dialog, pendekatan maqashid syariah, serta kerja sama lintas mazhab sebagai jalan strategis membangun persatuan.
“Bahaya semakin besar ketika umat sibuk dengan konflik internal. Umat yang terpecah tidak mampu melindungi budayanya, apalagi memproduksi narasi peradaban yang percaya diri. Melampaui kondisi ini menuntut pembangunan kesadaran budaya Islam yang inklusif, bertumpu pada nilai-nilai bersama lintas mazhab, serta mengembalikan etika Islam sebagai inti identitas—bukan sekadar warisan historis.” terangnya seperti dilansir akun IG @saidaqilsiroj53, Selasa.
Ia juga menegaskan bahwa pendekatan taqrib atau pendekatan antar-mazhab bukanlah bentuk kompromi akidah, melainkan strategi sadar untuk menjaga keutuhan umat dan membangun masa depan bersama Islam di tengah tantangan global.

























