• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Kosmos Ekologis Islam

October 16, 2022
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/01/2026).(Foto: Liputan9news/MSN 2026)

Gus Yahya Tegaskan PBNU Dukung Indonesia Gabung Board of Peace (BoP)

February 2, 2026
Foto: Ilustrasi

Doa Aulia Allah Khusus untuk Malam Nisfu Sya’ban Lengkap dengan Latin dan Artinya

February 2, 2026
BEM PTNU Lampung Apresiasi Sikap Kapolri

BEM PTNU Lampung Apresiasi Sikap Kapolri

February 2, 2026
HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder Owner Rokok Bintang Sembilan

Rokok Rakyat dan Konglomerat dalam Paradoks Kebijakan Cukai

February 2, 2026
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Tersangka Kasus Penganiayaan, Polisi Gunakan Pasal Pencurian dengan Kekerasan

February 2, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Kosmos Ekologis Islam

Oleh: Sulaiman Djaya

Abdus Saleh Radai by Abdus Saleh Radai
October 16, 2022
in Uncategorized
A A
0
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Penyair dan Budayawan

514
SHARES
1.5k
VIEWS

“Paradigma holistik ekologis ini, sebagaimana kita tahu bersama, dalam bahasanya Fritjof Capra diistilahkan dengan jaring-jaring kehidupan atau webs of life, di mana eksistensi makhluk saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain, sebagaimana dinyatakan dan ditegaskan Mulla Sadra ratusan tahun sebelum Capra menuliskannya kembali dan memadukannya dengan perspektif filsafat dan sains Barat”

Isu tata-kota, limbah atau residu dan krissis lingkungan telah menyedot perhatian dan energi kita belakangan ini terkait hubungannya dengan masalah industri, kapitalisme dan dampak residunya serta kelangkaan tanah bagi hunian dan kebutuhan yang terkait dengan lainnya. Meski demikian, tulisan ini hanya sekedar mencoba berbagi sedikit wawasan Islam tentang isu tata-lingkungan atau konservasi tersebut. Dalam hal ini, seperti kita tahu bersama, dalam Islam dikenal istilah “haram” (lingkungan khusus yang bahkan disucikan) dan ditata sedemikian rupa agar tetap terawat dan tidak terancam destruksi atau pengrusakan yang disengaja atau tidak disengaja. Pioneer-nya tak lain adalah Nabi Islam itu sendiri, yaitu Muhammad Rasulullah, semisal ketika menjadikan Makkah dan Madinah sebagai “kota” khusus alias kota suci bagi ummat Islam.

Sementara itu, terkait masalah ekologis sekaligus ekonomi, Syari’ah Islam juga mengenal perlindungan alam, seperti kehidupan liar yang termasuk dalam kategori “hima” (perlindungan hak-hak sumberdaya alam asli atau wildlife). Madinah adalah contoh “hima” semasa kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Secara syari’at, misalnya, Islam melarang ummat-nya untuk mengkonsumsi (memakan) binatang-binatang yang diharamkan, yang ternyata mengandung hikmah ekologis bagi kelangsungan fauna yang dapat menjaga kelangsungan dan keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan.

Contoh lain adalah di Iran, di mana di negeri itu ada sejumlah kota-kota yang dijadikan “haram”, semisal Mashhad dan Qum, karena kebetulan di kota-kota yang dijadikan “haram” itu juga merupakan makam-makam figur-figur suci Islam, yaitu beberapa Imam Ahlubait Muhammad Rasullullah (seperti Imam Ali Ibn Musa ar Ridho) dan keluarga Muhammad Rasulullah lainnya (seperti Sayyidah Fatimah Ma’shumah) yang pada saat bersamaan kota-kota yang dijadikan “haram” tersebut menjadi tempat ziarah orang-orang dari berbagai Negara, yang dengan sendirinya mendatangkan manfaat ekonomi, selain tempat-tempat tersebut juga menjadi cagar-cagar kota.

BeritaTerkait:

Rumi

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

Menjadi Bermakna Sebagai Manusia

https://twitter.com/Liputan9id/status/1581224510199472128?s=20&t=NuWLxWO29Z8jGiI78SmfcQ

Isu tata-lingkungan dan ekologi ini juga menjadi konsen beberapa kaum arif dan filsuf muslim, semisal Mulla Sadra. Dalam tulisannya yang bertajuk “Prinsip-prinsip Ekologis Mulla Sadra” contohnya, Seyyed Mohsen Miri (dengan meminjam langsung ungkapannya) menegaskan bahwa kita saat ini sedang berjuang keras menghadapi berbagai krisis ekologis dan lingkungan yang semakin meluas dan menyebar. Dalam tulisannya itu, Seyyed Mohsen Miri menyatakan:

“Salah satu prinsip filsafat lingkungan hidup Islam adalah bahwa alam semesta diciptakan berdasarkan keseimbangan dan harmoni antar anggota alam tersebut. Selain itu, manusia harus berusaha maksimal untuk menjaga keseimbangan dan berinteraksi secara benar dengan maujud-maujud lain di alam. Tentang keseimbangan dan harmoni alam semesta, Allah swt berfirman: “Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang” (Al-Mulk: 13).

Segala sesuatu tercipta berdasarkan perhitungan dan ukuran dan ditempatkan di posisi yang tepat: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya” (Al-Furqan: 2). “Segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya”(Ar-Ra’d: 8). “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan, bintang dan pohon tunduk kepadaNya, Allah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca” (Ar-Rahman: 5-8). “Ciptaan Tuhan Yang telah mengokohkan segala sesuatu” (An-Naml: 88). Tidak satupun benda tercipta sia-sia: “dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Ya Tuhan Kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau” (Ali Imraan: 191)”

Paradigma holistik ekologis ini, sebagaimana kita tahu bersama, dalam bahasanya Fritjof Capra diistilahkan dengan jaring-jaring kehidupan atau webs of life, di mana eksistensi makhluk saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain, sebagaimana dinyatakan dan ditegaskan Mulla Sadra ratusan tahun sebelum Capra menuliskannya kembali dan memadukannya dengan perspektif filsafat dan sains Barat. Dalam hal ini Seyyed Mohsen Miri melanjutkan:

Jika manusia menjaga keseimbangan alam ini dan tidak merusaknya ia telah memaksimalkan keuntungannya dari alam, karena sejak semula alam diciptakan untuk digunakan manusia. “Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian” (Al-Baqarah: 29). “Tidakkah kalian perhatikan sesungguhnya Allah menundukkan untuk kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan telah menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin” (Luqmaan: 20).

“Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan untuk kalian, agar kalian dapat memakan darinya daging yang segar, dan kalian mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai dan engkau melihat bahtera berlayar padanya dan agar kalian mencari dari karuniaNya dan agar kalian bersyukur” (An-Nahl: 14). “Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit lalu Dia keluarkan darinya dari buah-buahan rizki bagi kalian dan Dia tundukkan bahtera untuk berlayar di laut dengan perintahNya dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai. Dan menjadikan bagi kalian matahari dan bulan silih berganti dan menjadikan bagi kalian malam dan siang. Ia telah berikan bagi kalian dari segala yang kalian minta dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka tidak akan dapat kalian hitung” (Ibrahim: 32-34).

Soalnya adalah seringkali manusia itu tidak bersyukur, zhalim, dan rakus, hingga mengeksploitasi alam dan kekayaan lingkungan sekitarnya yang acapkali “hanya” mengejar keuntungan sesaat semata dan tidak diimbangi dengan memikirkan dampak kerusakannya bagi masa depan akibat pencemaran dan residu (limbah). Untungnya, belakangan ini, berkat tekanan sejumlah organisasi dan aktivis lingkungan dan konservasi –juga kesadaran sejumlah ilmuwan dan lembaga-lembaga dunia lainnya, berbagai upaya penemuan dan tekhnologi (mesin dan alat produksi) yang ramah lingkungan mulai diupayakan dan mulai pula mencapai keberhasilan.

Sebenarnya, secara tradisi, kita memiliki sejumlah kearifan lokal bangsa kita, yang ternyata mengajarkan kita untuk menjaga dan merawat ekologi dan lingkungan bagi keberlangsungannya di masa depan bagi generasi mendatang. Sebagai contohnya adalah “tabu” bagi masyarakat Irian Jaya (sebelum banyak pendatang yang tinggal di negeri itu) untuk membuang air (kencing) dan membuang sampah di sungai, karena menurut mereka sungai adalah tempat mandi Dewi Sereregade, sebuah kearifan lokal-ekologis yang tak jauh berbeda dengan masyarakat Baduy Banten. Alam dan bumi ini, seperti ditegaskan Mahatma Gandhi, dapat mencukupi kebutuhan ummat manusia, namun tidak mencukupi untuk memenuhi kerakusan manusia.

Sebagai penutup, dan sebelum mengakhiri tulisan ini, ada suatu ilustrasi menarik tentang akhlaq Nabi Muhammad saw sebagaimana dicatat para sejarawan dan para pencatat hadits, bahwa: Diriwayatkan suatu ketika Nabi Muhammad Saw bepergian bersama para sahabat, termasuk Ibnu Mas’ud (yang juga meriwayatkan riwayat teladan ini). Dalam perjalanan itu sahabat-sahabat Nabi melihat seekor burung yang memiliki dua anak, lalu sahabat tersebut mengambil kedua anaknya, kemudian datanglah induknya terbang di atas mereka. Ketika menyaksikan hal itu Nabi saw bersabda, “Siapakah yang menyusahkan burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan kepadanya anaknya”.

Sulaiman Djaya lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

Liputan9.id | Liputan9 Sembilan | Liputan9_id | Liputan 9 Nusantara | Seputar Nusantara

Tags: EkologisIslamKosmosSulaiman Djaya
Share206Tweet129SendShare
Abdus Saleh Radai

Abdus Saleh Radai

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Rumi
Opini

Rumi

by liputan9news
January 17, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS “Cinta adalah dasar perbuatanku” (Muhammad Rasulullah Saw). “Agama itu cinta dan cinta adalah agama” (Imam Muhammad Al-Baqir...

Read more
Sulaiman-Djaya

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

December 28, 2025
Sulaiman-Djaya

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

December 24, 2025
Sulaiman Djaya

Menjadi Bermakna Sebagai Manusia

December 11, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/01/2026).(Foto: Liputan9news/MSN 2026)

Gus Yahya Tegaskan PBNU Dukung Indonesia Gabung Board of Peace (BoP)

February 2, 2026
Foto: Ilustrasi

Doa Aulia Allah Khusus untuk Malam Nisfu Sya’ban Lengkap dengan Latin dan Artinya

February 2, 2026
BEM PTNU Lampung Apresiasi Sikap Kapolri

BEM PTNU Lampung Apresiasi Sikap Kapolri

February 2, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In