YOGYAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Di satu malam yang dingin. Pukul 1 dini hari. Kereta dari Kediri berhenti di Stasiun Yogyakarta. Saya bersama sahabat Miqdad keluar dari gerbong kereta. Di stasiun kami celingak celingak kayak orang hilang tak tahu arah. Kebetulan Miqdad saat itu sedang puasa Dalalil al-Khairat plus ngerowot (semacam tirakat tidak makan nasi) mengajak cari warung untuk sahur.
Akhirnya kita berinisiatif keluar dari stasiun ke jalan Malioboro mencari warung makan yang masih buka. Menelusuri jalan Malioboro yang lengang. Oh begini toh Malioboro yang digambarkan dalam lagu Kla Projek Katon Bagaskara itu? Gumam dalam hati. Sejurus kemudian kami menghampiri Warkop yang masih buka di alun-alun Malioboro.
Kami makan mie rebus, gorengan, air putih dan kopi panas. Di saat kami sedang menyantap makanan, ada bapak-bapak bertubuh kekar, tegap, tinggi, dan berotot duduk di samping Miqdad sembari memesan makanan. Kami selesai makan, makanan bapak itu baru selesai dimasak.
Kami agak merinding ketika bapak itu mengeluarkan suara bernada kemayu dan intonasi melambay gemulai. “Mas pesan endemie dong kayak mas-mas ini!” Sembari melambaikan tangan seolah perempuan.
Saya melirik Miqdad kasih kode agak kita bergegas pergi meninggalkan Warkop. Setelah selesai bayar, kami pergi jalan menelusuri Malioboro. Tidak lama kemudian, bapak yang melambai berlari kecil mengejar kami seraya berteriak dengan nada kemayu, “mas-mas tunggu..saya mau mengajak mas-mas istirahat di tempat saya…” Wow, semakin berdegup kencang jantung kami. Kami putuskan untuk berlari kencang. Waktu itu saya masih kurus dan masih lincah.
Lari terus. Kejar kejaran. Kami lalu bergabung dengan para seniman dan musisi jalanan yang sedang berkumpul di pinggir jalan Malioboro. Rupanya para seniman memahami kami. “Tenang saja mas, bencong gak akan berani kalau sudah kumpul bersama kita.”
Dari obrolan para seniman jalanan itu, rupanya sudah sering kejadian bencong mencari mangsa. Untung kami bisa lolos.
Kisah ini masih terngiang sampai saat ini. Kisah ini terjadi pada tahun 1998, tahun genting dan penting bagi bangsa Indonesia. Saat itu saya masih kelas 2 Aliyah Madrasah di Pesantren Lirboyo Kediri.
Saya bersama Miqdad dan Gus Fahmi Basya saat itu dipercaya menjadi delegasi utusan Pesantren Lirboyo Kediri untuk menghadiri perhelatan bahtsul masail antar pesantren se-Indonesia di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.
Gus Fahmi sudah jalan duluan ke Yogyakarta. Karena memang orang Yogyakarta. Gus besar di pesantren Mlangi. Saya dan Miqdad menyusul naik kereta api dan bertemu dengan bencong mencari mangsa dalam kisah itu.
Pagi tiba. Shalat di masjid yang ada di jalan Malioboro. Saya sarapan. Miqdad menonton saya sedang menikmati sarapan. Kami jalan ke pesantren Krapyak dengan keadaan mengantuk. Belum tidur. Begadang. Disambut panitia untuk istirahat. Kami tidur bablas sampai zuhur.
Bangun. Mandi. Shalat. Makan siang yang disiapkan panitia bahtsul masail.
Saya ingat betul tema-tema yang dibahas pada saat itu adalah teman-teman yang mencerminkan tahun 98. Hukum demokrasi, kepemimpinan perempuan, KKN, statemen Gus Dur tentang Soeharto, dll.
Jalsah pertama, panitia menunjuk salah satu delegasi Lirboyo untuk jadi moderator memimpin perhelatan bahtsul masail itu. Gus Fahmi dan Miqdad memberikan kepercayaan kepada saya untuk jadi moderator.
Jalsah kedua moderator dari delegasi pesantren Ploso. Saya ingat namanya Abdul Manan, santri yang terkenal pendekar bahtsul masail dari pesantren Ploso. Ya memang saya sendiri sering bertemu beliau dalam perdebatan bahtsul masail di pesantren yang lain.
Jalsah ketiga dan penutup dari panitia bahtsul masail Pesantren Krapyak Yogyakarta.
Setiap mendengar kata Krapyak saya selalu saja ingat dengan memori indah ini.
KH Mukti Ali Qusyairi, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Aktivis Perdamaian, Toleransi dan Anti Kekerasan
























