• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Membaca Ulang Halal Bihalal dari Soekarno ke Pramono: Refleksi Lebaran 1447 Hijiriyah

Membaca Ulang Halal Bihalal dari Soekarno ke Pramono: Refleksi Lebaran 1447 Hijiriyah

April 6, 2026
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto saat memberikan keterangan kepada awak media (Foto: Dok: Istimewa).

Mangkir, KPK Akan Panggil Ulang Haji Her Terkait Kasus Mafia Cukai Rokok

April 8, 2026
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Budi Prasetyo. (Foto: Antara)

KPK Usut Keuntungan Ilegal Rp 40,8 Miliar dari Kuota Haji Khusus, Penyidik Cecar 3 Bos Travel

April 7, 2026
Alumni Lemhabas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

Alumni Lemhannas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

April 7, 2026
Dr. KH. Zakky Mubarok, MA, Dewan Pakar Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU)

Jaminan Bagi Manusia yang Bertakwa

April 7, 2026
Ra Mamak dan Inayah

Inayah Wahid Putri Gus Dur Menikah dengan Ra Mamak Guluk-Guluk Sumenep

April 7, 2026
Dr. KH. Shalahuddin A Warits Ilyas Pengasuh Ponpes Anuuqayah

Ra Mamak Pengasuh Ponpes Annuqayah Nikahi Inayah Wahid Putri Gus Dur

April 7, 2026
Komandan Quds IRGC Warning Bakal Datangnya Kejutan Baru untuk Elite Epstein

Komandan Quds IRGC Warning Bakal Datangnya Kejutan Baru untuk Elite Epstein

April 7, 2026
Operasi Penyelamatan Pilot AS di Isfahan Gagal, Iran Hancurkan C-130 dan Black Hawk (Foto: MKPS/MSN)

Iran Gagalkan Operasi Penyelamatan Pilot AS di Isfahan, IRGC Hancurkan C-130 dan Black Hawk

April 7, 2026
Peringati Hari Penyiaran Nasional, Resonara Gelar Diskusi Publik Tantangan Era Digital

Peringati Hari Penyiaran Nasional, Resonara Gelar Diskusi Publik Tantangan Era Digital

April 7, 2026
Jusuf Kalla -Rismon Sianipar

Jusuf Kalla Polisikan Rismon Sianipar Terkait Kisruh Ijazah Jokowi

April 6, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Wednesday, April 8, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Membaca Ulang Halal Bihalal dari Soekarno ke Pramono: Refleksi Lebaran 1447 Hijiriyah

Oleh: KH. Lutfi Hakim

liputan9news by liputan9news
April 6, 2026
in Opini
A A
0
Membaca Ulang Halal Bihalal dari Soekarno ke Pramono: Refleksi Lebaran 1447 Hijiriyah
501
SHARES
1.4k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

Setiap perayaan Idul Fitri, kita pasti mengadakan tradisi “Halal Bihalal” di kantor, kampung hingga keluarga. Namun hari ini kita mengenal Halal Bihalal sebagai acara sungkeman, makan ketupat bersama, dan foto-foto di kantor atau kampung setelah Lebaran. Terasa begitu biasa, di mana meminta maaf hanya sekadar tradisi bukan lahir dari kesadaran diri tentang urgensi menjaga harmoni.

Padahal tradisi ini lahir bukan dari langgar, pesantren atau buku-buku agama, melainkan dari ruang paling menegangkan dalam sejarah Indonesia, Istana Yogyakarta, tahun 1948. Terjadinya polarisasi yang tajam dan mengancam terjadinya disintegrasi bangsa.

Waktu itu Indonesia baru tiga tahun merdeka, tapi sudah nyaris pecah. September 1948, PKI memberontak di Madiun. Di Jawa Barat, Kartosoewirjo memproklamasikan Darul Islam. Para pemimpin politik saling curiga, parlemen gaduh, tentara terbelah. Soekarno melihat, yang retak bukan hanya kabinet, melainkan kepercayaan antar anak bangsa.

Menjelang Idulfitri, Soekarno memanggil Kiai Wahab Chasbullah, ulama NU yang menjadi penasihat spiritualnya. Ia bertanya lugas, khas Soekarno: “Kiai, bagaimana cara menyatukan orang-orang yang sudah tidak mau duduk satu meja?”

BeritaTerkait:

PWNU DKI Jakarta Kritik Keras Rencana Pembentukan LPDU

Kembali Menuju Fitrah

Tetap Istiqomah Pasca Ramadan

PNIB: Idul Fitri Momentum Menyatukan Perbedaan, Intoleransi, Terorisme dan Intimidasi Bukan Budaya Kita

Kiai Wahab tidak menjawab dengan teori politik. Ia menjawab dengan adab santri: _“Adakan silaturahmi, Bung. Undang semua, suruh mereka salat Id bersama, lalu bersalaman. Kita namakan Halal Bihalal, saling menghalalkan kesalahan.”_

Soekarno, yang fasih membaca simbol, langsung menangkapnya. Halal Bihalal bukan sekadar maaf-maafan. Itu adalah _ritual rekonsiliasi_ yang dibungkus bahasa agama, sehingga semua pihak bisa datang tanpa merasa kalah dan dikalahkan.

Maka digelarlah Halal Bihalal pertama di Indonesia, di Istana Yogyakarta, Idulfitri 1948. Yang datang bukan hanya ulama, tapi tokoh-tokoh yang kemarin saling serang di koran, pemimpin partai, perwira militer, pejabat yang berbeda haluan. Mereka duduk, makan bersama, berjabat tangan. Tidak ada pidato politik, hanya kalimat pendek: “Saya halalkan, saya maafkan.”

Soekarno berhasil. Bukan karena acaranya mewah dan berbiaya mahal, tapi karena ia meminjam kearifan yang sudah hidup di masyarakat, adab saling memaafkan, lalu menempatkannya di panggung kenegaraan. Ia tidak menciptakan tradisi baru, ia hanya memberi contoh bahwa tradisi bisa menjadi alat persatuan dan perekat tenun kebangsaan.

Benedict Anderson dalam _Imagined Communities_ menyebut bangsa sebagai “komunitas terbayang”: orang merasa satu bukan karena saling kenal, melainkan karena ada ritual dan simbol yang diulang, yang membuat mereka membayangkan diri sebagai “kita”.

Halal Bihalal 1948 adalah contoh paling jernih. Para tokoh yang bermusuhan itu tidak tiba-tiba sepakat, tapi untuk sesaat mereka mau membayangkan diri kembali sebagai satu bangsa, lewat satu meja dan satu jabat tangan.

Dari istana, Halal Bihalal menjalar ke kantor-kantor pemerintah, lalu ke sekolah, tidak terkecuali ke kampung-kampung Betawi. Ia menjadi cara orang Betawi yang majemuk Arab, Tionghoa, Melayu, Jawa, Sunda, Padang, Batak dan lainnya yang melebur di kampung untuk merasa satu, bukan karena darah, tapi karena adab, saling memaafkan, menghormati tamu, duduk di bale yang sama dan menekankan betapa pentingnya solidaritas sosial untuk mempertahankan kohesi sosial dalam lingkungan masyarakat.

Masalah Jakarta sekarang bukan orang Betawi tidak mau bersatu, melainkan ruang perjumpaannya yang hilang. Kita masih Halal Bihalal, tapi hanya sebatas menjalankan tradisi dalam balutan selebrasi semata, bukan sebagai kebiasaan hidup. Modal sosialnya menipis, maka maafnya pun terasa formal dan kehilangan ruh.

Kini, Gubernur Pramono Anung menggagas Halal Bihalal Akbar di Lapangan Banteng. Sebagian orang mungkin melihatnya hanya sebagai acara seremonial. Tapi jika kita membaca sejarah, Lapangan Banteng bukanlah ruang sembarangan. Ia adalah lapangan bekas Waterlooplein, saksi bisu perundingan, demonstrasi, dan pertemuan rakyat sejak zaman kolonial hingga reformasi.

Memilih lapangan Banteng sebagai tempat Halal Bihalal, sadar atau tidak, adalah memilih _ruang publik_ — bukan ruang kekuasaan yang eksklusif. Dan di situlah relevansinya dengan Soekarno.

Soekarno memakai Istana Yogyakarta 1948 bukan untuk pamer kekuasaan, melainkan untuk membuka pintu mengundang lawan politik duduk setara dalam bingkai kesadaran bersama sebagai sebuah bangsa. Begitu juga Pramono dengan Lapangan Bantengnya, membuka ruang perjumpaan massal, mengundang warga Jakarta — Betawi, pendatang, muda, tua pria dan wanita— untuk duduk bersama tanpa sekat birokrasi. Membangun jembatan hati di antara warga Jakarta.

Namun fungsi Halal Bihalal hari ini, tentu berbeda dengan 1948. Jika dulu ia dipakai untuk meredam perpecahan internal pasca-kemerdekaan, hari ini ia menjadi penting sebagai _mitigasi awal_ di tengah arus konflik global yang kian memanas.

Gejolak di Timur Tengah yang potensial berdampak politik maupun ekonomi bagi Indonesia tidak bisa dianggap jauh. Jakarta, sebagai ibu kota negara dan jantung Indonesia, adalah simpul pertama yang akan merasakan getarannya dari sentimen keagamaan, tekanan ekonomi, hingga polarisasi sosial.

Dalam konteks itu, Halal Bihalal bukan lagi sekadar tradisi lebaran. Ia adalah _vaksin sosial_ menguatkan imunitas persatuan sebelum virus perpecahan masuk. Mengingatkan kita bahwa perbedaan mazhab, afiliasi, atau pandangan politik tentang konflik luar negeri tidak boleh merobek tenun kebangsaan di dalam negeri, terutama di Jakarta.

Karena itu, Halal Bihalal di Lapangan Banteng bisa jatuh menjadi seremoni jika hanya berhenti di panggung dan foto bersama. Tapi ia bisa menjadi titik balik jika dimaknai sebagai janji untuk menghidupkan kembali ruang-ruang perjumpaan dan lapangan kota yang benar-benar menjadi milik warga.

Persatuan, seperti kata Soekarno dan Kiai Wahab, tidak dibangun di podium. Ia dibangun di meja makan, di lapangan terbuka, dengan tangan yang terulur dan kalimat yang tulus “_saya halalkan, saya maafkan._”

Oleh karena itu, dibutuhkan Ikrar Halal Bihalal—seperti yang pernah digagas oleh seorang ulama Betawi, Abuya KH. Abdurrahman Nawi pada tahun 1998–sebagai ruh spiritualitas, sehingga acara tersebut tidak hanya bernilai profan, tapi juga memenuhi unsur sakralitasnya. Menurut Rahmad Zaelani Kiki, Ikrar tersebut merupakan sebuah pengakuan bahwa sebagai manusia kita memang tak pernah luput dari kesalahan terhadap orang lain, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, karenanya perlu ada pernyataan yang jelas (sharih) agar kesalahan-kesalahan itu dapat dimaafkan oleh orang lain.

Ikrar tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk saling meminta maaf dan memaafkan kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuatnya. Alasan KH. Abdurrahman Nawi merujuk pada firman Allah dalam Surat Ali Imran, Ayat 134:

‎الَّذِيْنَ  يُنْفِقُوْنَ  فِى  السَّرَّآءِ  وَا لضَّرَّآءِ  وَا لْكٰظِمِيْنَ  الْغَيْظَ  وَا لْعَا فِيْنَ  عَنِ  النَّا سِ  ۗ وَا للّٰهُ  يُحِبُّ  الْمُحْسِنِيْنَ

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Bunyi teks Ikrar tersebut adalah sebagai berikut:

“Pada hari ini, saya halalkan dan saya maafkan segala kesalahan hadirin yang ada di sini, baik disengaja maupun tidak, lahir maupun batin, besar  maupun kecil, saya ikhlas dan ridha karena Allah ta`ala”.

Sebagaimana layaknya sebuah ikrar, maka dibutuhkan keberadaan orang yang memimpin atau memandu pembacaan ikrar secara bersamaan. Ikrar Halal Bihalal ini dapat dibacakan dan dipandu oleh seorang ulama dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan antara satu dengan yang saling untuk memperteguh ikrar tersebut.

Selain itu, ketika Ikrar tersebut dibacakan, biasanya kita akan merinding, di mana ada sesuatu di dada yang tidak bisa dijelaskan dengan untaian kata, bukan sedih bukan senang. Tapi sesuatu yang melebihi semuanya.

Menurut Emile Durkheim (1912), ini disebut Fenomena Collective Effervescence—ketika sekelompok besar manusia melakukan hal yang sama pada waktu yang sama, maka akan muncul energi kolektif yang melampaui individu.

Ikrar Halal Bihalal yang dibacakan bersama-sama membuat kita merinding, bukan hanya karena suaranya tapi karena kita merasakan sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Energi ini akan berdampak positif terhadap psikologi warga Jakarta.

Sebagai catatan penutup, saya sangat berharap Lapangan Banteng tahun ini bisa menjadi bale besar kita, tempat Jakarta kembali belajar memaafkan, membangun kembali kepercayaan terhadap pemimpin, mengantisipasi badai dari luar, sebelum kembali berjalan bersama sebagai satu bangsa. Sepertinya tageline “Dari Jakarta untuk Indonesia” yang pernah digemakan oleh Penjabat Gubernur Heru Budi Hartono cukup tepat untuk menggambarkan acara tersebut. Tabik.

KH. Luthfi Hakim, Penulis adalah Wakil Ketua PWNU Jakarta dan Ketua MUI Jakarta Bidang Seni dan Budaya_

Tags: Halal BihalalKH Luthfi HakimLebaranRamadan
Share200Tweet125SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Wakil Ketua PWNU Jakarta dan sekaligus Ketua Umum Forum Betawi Rempug (FBR) KH Lutfi Hakim/Foto: Istimewa
Nasional

PWNU DKI Jakarta Kritik Keras Rencana Pembentukan LPDU

by liputan9news
April 6, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Wakil Ketua Pengurus Wilyah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta, KH Lutfi Hakim, mengkritisi rencana Kementerian Agama (Kemenag)...

Read more
KH Zakky Mubarok

Kembali Menuju Fitrah

April 2, 2026
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)

Tetap Istiqomah Pasca Ramadan

March 31, 2026
PNIB: Idul Fitri Momentum Menyatukan Perbedaan, Intoleransi, Terorisme dan Intimidasi Bukan Budaya Kita

PNIB: Idul Fitri Momentum Menyatukan Perbedaan, Intoleransi, Terorisme dan Intimidasi Bukan Budaya Kita

March 26, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2543
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Setyo Budiyanto saat memberikan keterangan kepada awak media (Foto: Dok: Istimewa).

Mangkir, KPK Akan Panggil Ulang Haji Her Terkait Kasus Mafia Cukai Rokok

April 8, 2026
Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Budi Prasetyo. (Foto: Antara)

KPK Usut Keuntungan Ilegal Rp 40,8 Miliar dari Kuota Haji Khusus, Penyidik Cecar 3 Bos Travel

April 7, 2026
Alumni Lemhabas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

Alumni Lemhannas 98 David Pajung: Ajakan Tumbangkan Prabowo adalah Provokasi dan Opini Jalanan 

April 7, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In