JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Konflik Cristiano Ronaldo dengan pelatih Portugal, Jorge Jesus, memasuki babak panas. Di tengah polemik setelah sang megabintang meninggalkan pemusatan latihan Timnas Portugal, nama José Mourinho ikut terseret dengan kritik keras terhadap cara Jesus memperlakukan Ronaldo.
Mourinho disebut menilai keputusan memanggil Ronaldo ke timnas tetapi kemudian memperlakukannya seperti pemain biasa sebagai bentuk yang tidak menghargai status dan kontribusi sang kapten Portugal.
Menurut pernyataan yang beredar, Mourinho menegaskan bahwa Ronaldo bukan sekadar pemain lain.
“Cristiano bukan Endrick. Dia bukan Vinícius. Dia bukan Yamal. Dia adalah Cristiano Ronaldo,” demikian pernyataan yang dikaitkan dengan Mourinho.
Mourinho juga disebut mengingatkan bahwa Jesus sudah mengetahui usia Ronaldo ketika memanggilnya. Pada usia 41 tahun, Ronaldo memang tidak lagi berada pada level fisik seperti ketika berusia 25 tahun. Namun, menurut pandangan tersebut, kondisi itu tidak otomatis menghapus peran dan pengaruh Ronaldo di lapangan maupun di ruang ganti.
Ketegangan Ronaldo dan Jesus mencuat setelah Ronaldo hanya menjadi pemain cadangan ketika Portugal menghadapi Norwegia dalam lanjutan Nations League, 27 September 2026.
Jesus sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya sempat memiliki kesepakatan dengan Ronaldo untuk memasukkan sang kapten pada 30 menit terakhir. Namun, performa Gonçalo Ramos membuat rencana tersebut berubah. Jesus memilih tidak memasukkan Ronaldo karena menilai pertandingan tidak membutuhkan kehadirannya.
Situasi kemudian berkembang menjadi lebih serius.
Pada 30 September, Ronaldo meninggalkan pemusatan latihan Portugal di Kopenhagen setelah sebelumnya muncul ketegangan dengan Jesus. Ronaldo mengumumkan kepergiannya melalui media sosial dan menyatakan bahwa dirinya akan mengungkap alasan sebenarnya pada waktunya.
Jesus sendiri berusaha meredam isu tersebut. Ia menyatakan tidak terjadi konflik serius dengan Ronaldo dan menegaskan bahwa pemain berusia 41 tahun itu tetap profesional.
Dalam pernyataannya, Mourinho menilai persoalannya bukan apakah Ronaldo harus selalu menjadi starter.
Menurutnya, pelatih tetap memiliki hak untuk mengatur menit bermain Ronaldo. Bahkan, ada pertandingan ketika Ronaldo memang tidak seharusnya bermain sejak menit pertama.
Namun, Mourinho disebut membedakan antara mengelola Ronaldo yang sudah berusia 41 tahun dan mengurangi penghormatan kepada Ronaldo karena faktor usia.
Jika membutuhkan Ronaldo selama 20 menit, kata-kata yang dikaitkan dengan Mourinho, maka mainkan dia selama 20 menit. Jika dibutuhkan untuk satu momen penting, persiapkan dia untuk momen tersebut.
“Usia boleh mengubah cara Ronaldo digunakan, tetapi tidak menghapus pengalaman, kualitas, dan pengaruh yang masih dimilikinya,” tegas pelatih Real Madrid itu.
Ronaldo merupakan pemain dengan jumlah penampilan dan gol terbanyak dalam sejarah Timnas Portugal. Ia juga menjadi bagian penting dari perjalanan Portugal meraih sejumlah pencapaian internasional dalam dua dekade terakhir.
Karena itu, polemik dengan Jesus bukan semata soal apakah Ronaldo menjadi starter atau cadangan.
Persoalannya berkembang menjadi pertanyaan tentang bagaimana sebuah tim mengelola pemain yang memiliki status historis sangat besar, tetapi secara bersamaan harus beradaptasi dengan keterbatasan usia.
Jesus sendiri sebenarnya telah berbicara mengenai hal tersebut sejak ditunjuk sebagai pelatih Portugal. Pada Juli 2026, ia menyebut Ronaldo sebagai simbol sepak bola Portugal dan menegaskan bahwa keputusan terkait penggunaannya tetap berada di tangan pelatih.
Jesus juga mengungkapkan bahwa ketika menangani Al-Nassr musim sebelumnya, Ronaldo bermain dalam 31 dari 50 pertandingan dan beberapa kali digantikan.
Kini, hubungan keduanya kembali menjadi sorotan. Ronaldo telah meninggalkan pemusatan latihan, sementara Portugal harus melanjutkan agenda Nations League tanpa kehadiran sang kapten untuk sementara waktu.
Bagi Ronaldo, persoalan ini bukan hanya tentang berapa menit ia bermain.
Sementara Jesus, persoalannya adalah bagaimana seorang pelatih mengambil keputusan ketika berhadapan dengan salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola Portugal. Dan bagi publik sepak bola, konflik ini kini menjadi salah satu drama terbesar yang mengiringi perjalanan Portugal di era baru Jorge Jesus.

























