• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman-Djaya

Negara Korporasi Republik Indonesia

December 8, 2025
PWNU DKI Jakarta: Modifikasi Cuaca tidak Efektif Atasi Banjir

PWNU DKI Jakarta: Modifikasi Cuaca tidak Efektif Atasi Banjir

January 25, 2026
Road to Muktamar ke-35 NU: KH Said Aqil Siroj Dinilai Paling Memenuhi Kriteria Rais Aam PBNU

Road to Muktamar ke-35 NU: KH Said Aqil Siroj Dinilai Paling Memenuhi Kriteria Rais Aam PBNU

January 24, 2026
Mahasiswa Pagar Nusa Ngaji Hukum, Antisipasi Narasi Provokatif

Mahasiswa Pagar Nusa Ngaji Hukum, Antisipasi Narasi Provokatif

January 24, 2026
Tiga Dusun Desa Leubok Pusaka Masih Dilanda Krisis Pascabencana, BEM PTNU se-Nusantara Serukan Aksi Kemanusiaan

Tiga Dusun Desa Leubok Pusaka Masih Dilanda Krisis Pascabencana, BEM PTNU se-Nusantara Serukan Aksi Kemanusiaan

January 23, 2026
PKB, NU, dan Post-Sekularisme: Jalan Tengah Agama dan Negara Pasca-Khittah 1926

PKB, NU, dan Post-Sekularisme: Jalan Tengah Agama dan Negara Pasca-Khittah 1926

January 23, 2026
KPK Panggil Dito Ariotedjo hari ini dala Kasus Korupsi Kuota Haji

KPK Panggil Dito Ariotedjo Hari ini dala Kasus Korupsi Kuota Haji

January 23, 2026
Owner dan Founder Bandar Indonesia Grup (BIG), HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy atau Haji Lilur

Gunakan Tirto Boyo Agung (TBA), Haji Lilur Yakin Penuhi Kebutuhan 9 Pabrik Kalsium Karbonat dengan Harga Terbaik

January 23, 2026
Masjidil Aqso

Khutbah Jumat: Meneguhkan Amal di Bulan Sya’ban, Persiapan Menuju Ramadan

January 23, 2026
 Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Jawa Timur menggelar Diskusi Publik "Kuota Haji 2024 dalam Perspektif Hukum, Etika, dan Kepercayaan Umat" pada hari Kamis. (Foto: FJN/MSN)

LBH Ansor Jawa Timur Klaim Penetapan Tersangka Yaqut Cholil Qoumas Belum Sesuai Hukum

January 23, 2026
Dr. KHM. Saeful Kurniawan, MA, Pendakwah dan Penulis

The Power of Tawakkal: Perjalanan Dakwah di Hutan Kalimantan

January 22, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Sunday, January 25, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Negara Korporasi Republik Indonesia

Oleh: Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya by Sulaiman Djaya
December 8, 2025
in Opini
A A
0
Sulaiman-Djaya

Sulaiman Djaya, Esais, Penyair, dan Pengurus Majelis Kebudayaan Banten

503
SHARES
1.4k
VIEWS

BANTEN | LIPUTAN9NEWS

Sejumlah teman dan akademisi berseloroh bahwa NKRI itu akronim dari Negara Kepolisian Republik Indonesia. Seloroh mereka tak sepenuhnya keliru, sebab sejak Jokowi berkuasa, Dwi Fungsi POLRI, sebagai polisi dan pejabat di luar lembaga kepolisian hingga menduduki banyak jabatan penting di korporasi nyata adanya.

Tapi ada juga beberapa teman yang berseloroh bahwa NKRI itu singkatan dari Negara Korporasi Republik Indonesia, bahkan Negara itu sendiri sudah menjelma korporasi swasta. Candaan yang ini juga benar adanya, mengingat telah terjadi banyak kasus kolaborasi (kolusi) antara korporasi (swasta) dengan rezim yang menggusur lahan dan hajat hidup rakyat di tanah air tercinta Indonesia kita, sejak era orde baru hingga saat ini.

Dan lagi-lagi, terlebih dalam tragedi banjir Sumatra, pernyataan meledek itu juga pas adanya. Karena kayu gelondongan yang ada nomornya yang terbawa banjir dan longsor itu tidak mungkin jatuh dari langit. Bukit Barisan yang membentang dari Aceh hingga Sumatra Barat, menurut pakar alam dan ilmuwan, tidak sama dengan pegunungan di Jawa. Di sana butuh resapan air yang lebih luas dan besar bila hujan tidak diinginkan menjadi longsor besar.

Sudah tentu pula, praktik lempar batu sembunyi tangan hingga cuci tangan sudah menjadi tradisi elit Indonesia kita. Di DPR ribut dan ada debat panas. Perwakilan Partai Gerindra menolak apologi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang ‘membela diri’ bahwa otoritas dan kewenangan politik sepenuhnya ada di tangan presiden. Tidak lupa pula, Kepala BNPB dalam rangka untuk berupaya memberikan alasan untuk tidak adanya status tragedi itu sebagai bencana nasional, menyatakan bahwa tragedi itu hanya mencekam di media sosial saja.

BeritaTerkait:

Kearifan Lokal dan Kekerasan Negara 

Hasil Mudzakarah Perhajian, Penyembelihan hewan Dam di Luar Tanah Suci Boleh dan Sah

Indonesia Emas 2045? Hanya untuk Pemuda Jujur dan Berani!

Ekpresi Kiai Kampung Dalam Menyikapi Dinamika Kebangsaan (Pemikiran KH. Amin Said Husni, Wakil Ketua Umum PBNU)

Sontak saja, publik jagat mayantara langsung geram dengan kelakuan para elit kita itu, yang bahkan ada yang sampai berkomentar bahwa mereka tak lebih para pejabat dungu. Dan sepertinya memang, uang korporasi terlalu menggoda untuk diabaikan para elit yang kognisi-nya sudah sangat American Materialism. Kalau kata ustadz, hubbud dunya. Mencintai kemewahan dan kadung nyaman dengan laku hedonisme, rahim subur benih-benih keserakahan.

Beberapa akun di media sosial mengunggah postingan bahwa sangat mungkin tidak ditetapkannya status bencana nasional untuk tragedi banjir Sumatra adalah karena diantara pemilik perkebunan sawit yang semula hutan itu adalah juga Prabowo Subianto. “Kan kalau ditetapkan sebagai bencana nasional, perusahaan bapak presiden juga perlu diselidiki dan diaudit”, demikian salah-satu komentar di jagat mayantara itu, “kalau terbukti bersalah, yah harus menerima konsekuensi dan hukuman dong…”

Membaca ragam postingan dan komentar-komentar di jagat mayantara itu, masyarakat Indonesia, terutama yang memiliki akses informasi dan para pengguna media sosial, sudah tidak bisa dibohongi elit yang suka berkelit dan menggunakan ragam modus dan isu untuk mengelabui. Begitu pula jurnalisme warga terbukti lebih cepat pula menyebarkan informasi ketimbang media.

Jadi di mana pengamalan amanat konstitusi tertinggi republik yang berbunyi: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat itu?” Tentu, sudah lama hanya jadi arsip dan artefak belaka, sejak orde baru Soeharto. Elit kita sudah ‘menghamba’ kuasa swasta dan privatisasi, bukan mengabdi kepada konstitusi.

Saat ini, Republik Indonesia sedang tidak berjalan dan beroperasi dalam koridor dan laku daulat rakyat sebagaimana yang dititipkan etos dan spirit revolusi kemerdekaan serta para bapak bangsa, tapi dalam daulat korporasi dan privatisasi swasta. Lebih liberal bahkan diibanding Negara-negara pencetus liberalisme itu sendiri. Jadi, yang mengkhianati cita-cita kemerdekaan dan nilai-nilai serta spirit perjuangan bangsa ini yah para elit republik ini.

Menjelang satu abad usia Indonesia sejak diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta sebagai Negara dan bangsa yang merdeka, kekayaan yang ada di atas bumi dan di dalam buminya dikuasai korporasi swasta (asing), sejak Soeharto berkuasa. Terpusat di lingkaran kecil elit, yang di era orde baru bahkan berbagi dan berkolaborasi (berkolusi) dengan keluarga penguasa. Paska Soeharto lengser, yang terjadi bukan pergeseran atau keterputusan, tapi keberlanjutan, hingga kini. Singkatnya, siapa pun presidennya, korporasi swasta adalah para dalang di balik layarnya.

Dalam soal konsesi perkebunan sawit, Presiden Soekarno dan Megawati adalah dua presiden Indonesia yang nol konsesi. Gus Dur yang paling sedikit memberikan konsesi, dan yang paling banyak memberikan konsesi adalah Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Memang mengkhawatirkan bila daulat korporasi (swasta dan privatisasi) telah mengambil alih daulat rakyat. Bukan cuma menyalahi dan mengkhianati konstitusi, tapi juga nantinya Negara akan memperlakukan rakyatnya tak lebih sebagai pasar dan konsumen, bukan para peserta dan penyusun kontrak sosial sebagaimana cikal-bakal terbentuknya Negara itu sendiri. Yang lebih mengerikan, Negara bukan tidak mungkin justru akan menjadi monster bagi rakyatnya.

Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan

Imam Besar Masjid Istiqlal: Tokoh Lintas Agama Jangan Dijadikan Pemadam Kebakaran

Tags: IndonesiaKorporasiNegaraNKRIRepublik Indonesia
Share201Tweet126SendShare
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

BeritaTerkait

Sulaman Djaya
Opini

Kearifan Lokal dan Kekerasan Negara 

by liputan9news
November 26, 2025
0

BANTEN | LIPUTAN9NEWS - Diantara yang mengancam, dan bahkan terbukti menghancurkan masyarakat adat dan eksistensi warisan kearifan lokal yang dijaga...

Read more
Hewan Dam

Hasil Mudzakarah Perhajian, Penyembelihan hewan Dam di Luar Tanah Suci Boleh dan Sah

May 12, 2025
Indonesia Emas 2045

Indonesia Emas 2045? Hanya untuk Pemuda Jujur dan Berani!

February 19, 2025
Amin Said Husni

Ekpresi Kiai Kampung Dalam Menyikapi Dinamika Kebangsaan (Pemikiran KH. Amin Said Husni, Wakil Ketua Umum PBNU)

January 31, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2520
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
PWNU DKI Jakarta: Modifikasi Cuaca tidak Efektif Atasi Banjir

PWNU DKI Jakarta: Modifikasi Cuaca tidak Efektif Atasi Banjir

January 25, 2026
Road to Muktamar ke-35 NU: KH Said Aqil Siroj Dinilai Paling Memenuhi Kriteria Rais Aam PBNU

Road to Muktamar ke-35 NU: KH Said Aqil Siroj Dinilai Paling Memenuhi Kriteria Rais Aam PBNU

January 24, 2026
Mahasiswa Pagar Nusa Ngaji Hukum, Antisipasi Narasi Provokatif

Mahasiswa Pagar Nusa Ngaji Hukum, Antisipasi Narasi Provokatif

January 24, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In