CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, tengah memasuki abad keduanya. Di tengah dinamika zaman, fokus organisasi tidak lagi cukup hanya pada pendidikan (pesantren) dan dakwah kultural. Tantangan krusial yang mendesak adalah penguatan akses kesehatan dan jaring pengaman sosial bagi warga Nahdliyin.
Sudah saatnya kesehatan ditempatkan sebagai program prioritas utama, sebuah gerakan kesehatan yang merata dan terjangkau. Seringkali, isu kesehatan di lingkungan NU terasa belum menjadi prioritas utama. Jika itu ada masih kesehatan berbasis alternatif dan tradisional, itu bukan tak baik, tapi zaman sudah sedemikian cepat dengan perkembangan medis.
Padahal, basis massa NU—petani, buruh, santri, dan guru ngaji—adalah mereka yang paling rentan terhadap guncangan ekonomi saat jatuh sakit. Karena itu, isu kesehatan bukan sekadar urusan biologis, ia adalah martabat kemanusiaan. Penguatan akses kesehatan yang merata dan terjangkau harus segera digeser dari sekadar wacana pinggiran menjadi target utama jamaah.
Selama ini, energi NU banyak tersedot pada isu politik kebangsaan dan pendidikan formal (pesantren dan sekolah). Tentu itu penting, namun mengabaikan kesehatan adalah bom waktu. Ketimpangan akses medis di kantong-kantong warga NU, terutama di daerah pelosok, menciptakan kerentanan sosial yang akut.
Diantara problem hari ini adalah keterbatasan penyiapan SDM. Tak dipungkiri jumlah dokter dan tenaga medis di NU masih kurang. Maka langkah ini membutuhkan kanal yang tepat. PBNU telah mulai menata regulasi pendirian rumah sakit dan klinik melalui Perkum, namun gerakannya harus lebih akseleratif.
Langkah kongkret NU selanjutnya adalah untuk mendorong santri terjun ke dunia kesehatan merupakan manifestasi modern dari konsep himayatul ummah (menjaga umat). Secara historis, santri telah memiliki modalitas spiritual dan etik yang kuat dalam pengabdian, namun keterbatasan akses pada pendidikan sains seringkali membuat kontribusi mereka terbatas pada ranah sosial-keagamaan.
Dengan menggerakkan santri untuk melanjutkan studi di bidang kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, hingga farmasi, NU sedang melakukan transformasi besar: mencetak tenaga medis yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki kedalaman empati dan integritas moral khas pesantren dalam melayani pasien.
Strategi ini semakin konkret dengan langkah taktis Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) yang mulai membuka berbagai jurusan kesehatan di berbagai daerah. Kehadiran program studi kesehatan di lingkungan kampus NU memutus mata rantai hambatan struktural yang selama ini dialami santri untuk mengakses pendidikan tinggi yang mahal dan kompetitif.
Upaya kolektif itu bukan sekadar mengejar gelar akademik, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk mendistribusikan keadilan kesehatan di akar rumput, mengingat basis massa NU yang luas berada di wilayah-wilayah yang seringkali kekurangan tenaga medis profesional.
Visi besar tersebut diproyeksikan akan memanen hasilnya dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, di mana krisis SDM kesehatan di internal organisasi dapat teratasi secara mandiri. Melimpahnya dokter dan perawat dari rahim pesantren akan menjadi katalisator bagi transformasi klinik-klinik NU menjadi Rumah Sakit NU (RSNU) yang mumpuni di seluruh penjuru negeri.
Jadi, kemandirian kesehatan ini akan menjadikan NU sebagai pilar utama ketahanan nasional, di mana layanan medis yang berkualitas tinggi dapat diakses oleh masyarakat luas dengan sentuhan nilai-nilai kemanusiaan yang inklusif.
NU memiliki potensi luar biasa untuk membangun kemandirian di bidang kesehatan. Impian untuk membangun Klinik Utama NU menuju rumah sakit daerah di setingkat PCNU atau di setiap kabupaten atau daerah adalah hal mendesak yang harus direalisasikan. Klinik-klinik ini akan menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan primer, memberikan akses terjangkau dan dekat bagi warga Nahdliyin.
Klinik NU tidak perlu berdiri sendiri dengan modal terbatas. NU harus bermitra dengan pemerintah dan stakeholder profesional untuk menghadirkan fasilitas kesehatan standar (klinik pratama) yang ramah warga. Selain membangun fisik klinik, pengawalan program BPJS bagi warga miskin adalah kewajiban jaring pengaman sosial yang utama.
Maka tantangan NU mendatang adalah transformasi, dari sekadar penyedia layanan kuratif dan alternatif menuju penggerak kesehatan preventif dan promotif. Inilah saatnya NU membuktikan bahwa “khidmah untuk umat” tidak hanya berhenti di atas mimbar, tapi juga hadir di ruang-ruang perawatan. Jika NU mampu menghadirkan layanan kesehatan yang nyata, maka kemandirian umat bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang menghidupi.
Sekali lagi, memasuki abad kedua, NU harus menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas dengan menempatkan kesehatan masyarakat sebagai salah satu prioritas program strategis. Melalui penguatan jaringan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) dan optimalisasi RS NU/klinik di berbagai daerah, NU bergerak aktif menurunkan angka stunting, meningkatkan layanan kesehatan dasar, serta memperkuat jaminan kesehatan sosial bagi warga.
Fokus tersebut menunjukkan transformasi NU yang tidak hanya berkhidmat pada ranah pendidikan dan keagamaan, tetapi juga konsisten hadir dalam isu kesehatan dunia sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing.
Revitalisasi gerakan kesehatan di abad kedua ini diarahkan pada pendekatan preventif dan promotif, termasuk kampanye gaya hidup sehat dan pemenuhan gizi seimbang yang melibatkan kader pesantren serta struktur organisasi NU hingga tingkat akar rumput.
Dengan semangat “NU Care Sehat”, organisasi ini berupaya menjawab tantangan kesehatan umat melalui aksi nyata yang menjangkau masyarakat kurang mampu, sejalan dengan visi mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum. Langkah ini merupakan wujud nyata kontribusi NU dalam mendukung ketahanan kesehatan nasional dan global yang lebih signifikan.
Jadi, kesehatan bukanlah program pendukung, melainkan landasan utama keshalehan sosial. Tanpa warga yang sehat, mustahil Nahdliyin bisa beribadah dengan tenang dan bekerja dengan produktif. Saatnya NU dan siapapun nahkodanya menjadikan klinik dan pengawalan kesehatan masyarakat menjadi ujung tombak pengabdiannya. Wallahu’allam bishawab
KH. Imam Jazuli, Lc., MA., Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

























