LOMBOK TENGAH | LIPUTAN9NEWS
Puluhan ribu warga mengantarkan jenazah ulama kharismatik Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, atau yang dikenal sebagai Tuan Guru Bagu, ke peristirahatan terakhir pada Jumat (16/10/2026).
Prosesi pemakaman dipusatkan di kompleks Yayasan Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah. Jenazah dimakamkan di depan Masjid Asrama Putri yang berada di lingkungan pondok pesantren yang diasuh almarhum.
Sejak Kamis (15/10/2026) sore, ribuan pelayat dari berbagai daerah terus berdatangan ke rumah duka untuk memberikan penghormatan terakhir. Doa dan lantunan ayat suci Al-Qur’an mengiringi kepergian sosok yang dikenal luas sebagai guru umat tersebut.
Tuan Guru Bagu wafat pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 13.37 Wita di ruang ICU RSUP NTB. Sebelumnya, ia menjalani perawatan sejak Rabu (14/10/2026) malam. Almarhum meninggal dunia pada usia 90 tahun.
Semasa hidupnya, Tuan Guru Bagu mengemban amanah sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rais Syuriah PWNU NTB, serta pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Qomarul Huda.
Rangkaian salat jenazah dimulai pada Kamis sore setelah salat Asar. Pada malam harinya, salat jenazah kembali digelar dengan mantan Gubernur NTB, TGB Zainul Majdi, bertindak sebagai imam.
Melalui keterangannya, TGB mengungkapkan rasa syukur karena dapat bertakziah sekaligus ikut menyalatkan almarhum di kediamannya di Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah.
“Alhamdulillah , malam ini saya bisa takziyah dan ikut menyolatkan Almaghfurlahu Almarhum Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin di pegedengan beliau di Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah.
Jamaah datang silih berganti. Doa dan bacaan Al-Qur’an tak henti didaraskan. Pertanda beliau orang yang dicintai. Semoga Almaghfurlahu mendapat karunia Jannatul Firdaus. Amin ya Robbal alamin.
Mohon doa dan al-Fatihah untuk beliau,” kata TGB Zainul Majdi.
Pada Jumat (16/10/2026), jenazah kembali disalatkan sebelum diberangkatkan ke lokasi pemakaman sekitar pukul 16.00 Wita. Puluhan ribu warga mengikuti prosesi tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada ulama yang telah mendedikasikan hidupnya untuk umat dan pendidikan pesantren.
Duka mendalam juga disampaikan Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal. Ia menyebut wafatnya Tuan Guru Bagu sebagai kehilangan besar bagi masyarakat NTB.
“Innalillahi Wa”inna ilahi raji’un, atas nama pribadi, keluarga dan Pemerintah Provinsi NTB, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin,” kata Lalu Muhammad Iqbal, Kamis.
“NTB kehilangan ulama besar, guru umat, dan panutan masyarakat, selamat jalan Tuan Guru Bagu, jasa dan ilmumu akan selalu menjadi cahaya bagi umat,” sambungnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya penghormatan masyarakat terhadap almarhum, yang selama puluhan tahun berperan dalam pendidikan agama dan pembinaan kehidupan keagamaan di Lombok.
Sementara itu, ucapan belasungkawa juga disampaikan KH Ma’ruf Amin melalui siaran pers pada Jumat (16/10/2026). Ia mengenang Tuan Guru Bagu sebagai ulama besar yang kharismatik, sederhana, dan memiliki kedalaman ilmu.
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin yang lebih dikenal dengan panggilan Tuan Guru Bagu atau Datok Bagu. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rais Syuriah PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Lombok, NTB serta penulis Kitab Zadul Ma’ad yang berisi wirid dan doa-doa untuk diamalkan dalam kehidupan,” ucapnya.
Tuan Guru Bagu adalah ulama besar yang kharismatik, sederhana, dan samudera ilmu. Beliau adalah suluh atau obor penerang umat, yang membimbing masyarakat dengan kearifan, ketakwaan, serta rasa tunduk kepada Allah SWT.” imbunya.
KH Ma’ruf Amin juga mengutip ungkapan hikmah yang dinukil dari kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali tentang kedudukan seorang ulama bagi umat.
“Sebagian ulama ahli hikmah berkata; apabila satu ulama wafat, ikan di lautan serta burung di udara pun akan turut berduka cita. Jasadnya akan sirna, namun ia akan selalu dikenang.” jelasnya.
Ia juga menyampaikan makna bahwa wafatnya seorang ulama meninggalkan kekosongan dalam kehidupan umat yang hanya dapat diisi oleh generasi penerusnya.
Kepergian Tuan Guru Bagu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar pesantren, warga Nahdlatul Ulama, dan masyarakat NTB. Namun, pengabdian, ilmu, serta keteladanan yang diwariskannya diharapkan terus hidup melalui para santri dan generasi penerus.
Masyarakat pun diajak mendoakan agar seluruh amal ibadah dan pengabdian almarhum diterima Allah SWT, diampuni segala khilafnya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, keikhlasan, dan ketabahan.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, Tuan Guru Bagu. Semoga ilmu dan perjuanganmu terus menjadi cahaya bagi umat,” tutur Ajis Setiawan.

























