LOMBOK TENGAH | LIPUTAN9NEWS
Suasana duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dan masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) atas wafatnya ulama sepuh kharismatik, TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin atau yang dikenal sebagai Tuan Guru Bagu.
Pada hari kedua setelah pemakaman, Sabtu (17/10/2026), KH Cholil Nafis, utusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), berziarah ke maqbarah atau makam almarhum. Ia kemudian mengikuti rangkaian dzikir, tahlil, dan doa malam kedua wafatnya Mustasyar PBNU tersebut.
TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin wafat pada Kamis (15/10/2026) dalam usia 90 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat, khususnya kalangan santri dan umat Islam yang mengenal kiprah dakwahnya.
Sehari setelah wafatnya, Jumat (16/10/2026), lautan manusia dari berbagai daerah hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ulama yang berasal dari Bagu, Lombok Tengah, NTB, tersebut.
Pada moment tersebut, rangkaian dzikir dan tahlil malam kedua dihadiri KH Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D., Rais Syuriyah PBNU sekaligus Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, M.Ag., KH Syafi’i dari Pasuruan, Sekretaris PW Muhammadiyah NTB, serta sejumlah tuan guru dan tokoh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Cholil Nafis menyampaikan takziah sekaligus mengenang perjalanan hidup, keilmuan, dan perjuangan almarhum dalam membimbing umat serta membina generasi penerus.
“Ini bukan sekadar menyampaikan belasungkawa dan penghormatan terakhir, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengambil ibrah dari perjalanan hidup, keilmuan, keteladanan, dan perjuangannya,” ujar KH Cholil Nafis.
Ia mengungkapkan, Tuan Guru Bagu merupakan sosok ulama yang tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk membimbing umat, tetapi juga memberikan perhatian besar terhadap kaderisasi dan pembinaan generasi muda.
“Saya mengenal almarhum sebagai tokoh umat yang menjadi panutan, sosok ulama yang tidak hanya mengabdikan hidupnya untuk membimbing umat, tetapi juga senang mengader dan membina generasi junior agar tumbuh menjadi penerus perjuangan. Bagi beliau, perjuangan dakwah bukan hanya tentang apa yang dapat dilakukan hari ini, melainkan juga tentang siapa yang dipersiapkan untuk melanjutkannya esok hari,” terangnya.
Menurut Kiai Cholil Nafis, keteladanan Tuan Guru Bagu harus menjadi pelajaran penting bagi para santri, ulama, dan masyarakat. Penghormatan kepada ulama yang telah wafat, katanya, tidak cukup hanya melalui doa dan mengenang jasa-jasanya, tetapi juga dengan meneruskan perjuangan yang telah dirintis.
“Karena itu, menghormati ulama yang telah wafat tidak cukup dengan mengenang jasa-jasanya, tetapi harus dengan meneruskan perjuangannya. Ilmunya kita pelajari, akhlaknya kita teladani, kader-kadernya kita kuatkan, dan pengabdiannya kepada umat kita lanjutkan,” tegasnya.
Tahlil Tujuh Hari, Merawat Warisan Ulama
Rangkaian doa dan tahlil untuk almarhum dilaksanakan selama tujuh hari, mengikuti tradisi yang lazim dijalankan sebagian masyarakat Nahdlatul Ulama sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi orang yang telah wafat.
Kehadiran utusan PBNU dalam ziarah dan takziah tersebut menjadi bagian dari penghormatan terhadap jasa Tuan Guru Bagu dalam kehidupan keagamaan masyarakat NTB.
Kiai Cholil Nafis menegaskan, wafatnya seorang ulama tidak boleh membuat perjuangan dakwah dan pendidikan umat berhenti. Sebaliknya, kepergian mereka harus menjadi pengingat bagi generasi penerus untuk menjaga ilmu, akhlak, dan pengabdian.
“Sebab, ulama boleh berpulang, tetapi ilmu, keteladanan, dan perjuangannya harus tetap hidup sepanjang zaman,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa warisan terbesar seorang ulama bukan hanya kenangan atas kiprahnya, melainkan juga ilmu yang terus dipelajari, akhlak yang diteladani, serta generasi penerus yang melanjutkan perjuangannya.
Ketua DPP Aswaja Center, Kiai Misbah Ajak Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Korban Tragedi Kanjuruhan


























