SERANG BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, KH Imam Jazuli, mendorong penguatan edukasi seks, kesehatan mental, dan keharmonisan rumah tangga bagi ibu nyai dan ning. Menurutnya, persoalan keluarga yang tidak terselesaikan dapat berdampak pada kehidupan pengasuh sekaligus pengelolaan pesantren.
Pesan tersebut disampaikan Imam Jazuli saat membuka Workshop Edukasi Seks, Kesehatan Mental, dan Keharmonisan Rumah Tangga Angkatan II di Hotel Aston Serang, Banten, Ahad (18/10/2026). Kegiatan yang digelar Imam Jazuli Foundation (IJF) itu diikuti 372 peserta dari berbagai daerah di Banten.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, tersebut menilai pembicaraan mengenai kehidupan seksual dalam perkawinan tidak semestinya selalu dianggap tabu. Edukasi yang tepat justru dapat membantu pasangan memahami kebutuhan satu sama lain, membangun komunikasi yang sehat, serta menjaga keharmonisan keluarga.
“Sejak tahun 2015, saya buka open house untuk wali santri dan masyarakat umum. Itu saya lakukan setiap hari Jumat sore. Yang datang ternyata makin variatif kelas sosial, profesi, dan jabatannya, tak terkecuali pengasuh pesantren dari mana-mana. Dari dialog itulah saya paham bahwa hubungan suami-istri yang tidak selesai dapat berpengaruh ke pengelolaan pesantren,” ujar Imam Jazuli dalam sambutannya.
Menurut Imam Jazuli, pengasuh pesantren menghadapi tanggung jawab yang kompleks. Mereka harus mengurus santri, guru, fasilitas pendidikan, berkomunikasi dengan wali santri, sekaligus menjaga kehidupan keluarga.
Di tengah tanggung jawab tersebut, persoalan hubungan suami-istri yang dibiarkan berlarut-larut berpotensi menambah beban emosional dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.
“Ketika hubungan itu bermasalah, maka akibatnya berupa rangkaian masalah yang mengular dan kait mengait,” terangnya.
Ia mengungkapkan, gagasan penyelenggaraan workshop berangkat dari pengalamannya berdialog dengan masyarakat dan para pengasuh pesantren. Sejak 2025, ia juga menyebut telah berinteraksi dengan lebih dari 5.000 kiai dari berbagai daerah melalui kegiatan workshop pesantren transformatif di Pesantren Bina Insan Mulia.
Pengalaman tersebut, menurutnya, memperkuat kebutuhan menyediakan ruang pembelajaran bagi ibu nyai dan ning untuk memahami kesehatan mental, komunikasi pasangan, serta persoalan kehidupan rumah tangga.
Workshop tersebut menghadirkan pakar psikologi Hena Rustiana dari Kesehatan Mental Indonesia dan seksolog dr Boyke Dian Nugraha.
Hena Rustiana membahas hubungan kesehatan mental dengan kualitas relasi pasangan. Pengelolaan emosi, kemampuan mengendalikan diri, dan komunikasi terbuka menjadi aspek penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Sementara itu, dr Boyke memberikan edukasi mengenai kehidupan seksual dalam perkawinan, termasuk pemahaman tentang kebutuhan pasangan, orgasme, dan cara membicarakan persoalan intim secara tepat.
Materi tersebut ditujukan untuk membantu peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai relasi suami-istri, dengan tetap memperhatikan kesehatan, kenyamanan, dan komunikasi timbal balik.
Sejumlah peserta mengaku mendapatkan perspektif baru dari kegiatan tersebut. Nyai Heni dari Tangerang, misalnya, menilai pembahasan mengenai persoalan seksual penting untuk mendorong keterbukaan dalam rumah tangga. Peserta lain, Ning Indah dari Lebak, mengaku tertarik mempelajari materi tentang kehidupan intim pasangan. Nyai Nena juga menyoroti manfaat pembahasan mengenai kehidupan seksual pada masa menopause.
Antusiasme peserta terlihat dalam pelaksanaan workshop yang dikhususkan bagi ibu nyai dan ning di Banten tersebut. Panitia mencatat 372 peserta hadir, meskipun masa pendaftaran dan seleksi berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Kegiatan ini merupakan angkatan kedua setelah sebelumnya diselenggarakan bagi ibu nyai dan ning di Jawa Barat. Penyelenggara menargetkan program serupa dapat menjangkau hingga 5.000 peserta di berbagai provinsi melalui kerja sama dengan jaringan hotel Aston.
Ketua Panitia Ubaydillah Anwar mengatakan, kebutuhan penyelenggaraan kegiatan, mulai dari tempat, akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga narasumber, ditanggung oleh Imam Jazuli Foundation.
Ia menjelaskan, IJF merupakan lembaga nirlaba yang bergerak dalam pemberdayaan, pelatihan, dan pengembangan pesantren, kiai, guru, dai, santri, serta masyarakat berprestasi.
Melalui program tersebut, Imam Jazuli berharap ibu nyai dan ning memiliki kesempatan lebih luas untuk memperoleh pengetahuan yang relevan dengan kehidupan keluarga dan tanggung jawab sosial mereka.
Baginya, penguatan pesantren tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, peningkatan mutu pendidikan, atau pengembangan kurikulum. Kesehatan mental keluarga pengasuh dan keharmonisan hubungan suami-istri juga perlu mendapat perhatian agar pesantren dapat berkembang dalam lingkungan yang sehat, nyaman, dan aman bagi seluruh warganya.

























