• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Rumi

Rumi

January 17, 2026
Gelar Munas Konbes PBNU, Kiai Lukman Paparkan Kesiapan Pesanten Al-Hamid sebagai Tuan Rumah

Di Balik Perubahan Nama Giri Kencana Menjadi Waduk Batu Licin Cilangkap

February 9, 2026
KH. MH. Bahaudin atau Gus Baha

Gus Baha: Indonesia Masuk BoP, Tapi Jangan Jadi Penonton Penjajahan

February 9, 2026
Prabowo: 100 Tahun Kiprah NU  Jadi Pilar Kebesaran Bangsa Indonesia

Prabowo: 100 Tahun Kiprah NU Jadi Pilar Kebesaran Bangsa Indonesia

February 8, 2026
Hermenutika Tradisi dalam Reinterpretasi Budaya

Hermenutika Tradisi dalam Reinterpretasi Budaya

February 8, 2026
Silaturrahmi Gus Yusuf Chudlari dengan KH Imam Jazuli pengasuh ponpes Bina Insan Mulia Cirebon (Foto: Dok. Kiai Imjaz)

Kiai Imam Jazuli Ungkap Gus Yusuf Chudlari Figur Kuat Bursa Ketum PBNU pada Muktamar NU ke-35

February 8, 2026
Presiden Prabowo Subianto meminta izin minum kopi di Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang, Jawa Timur, Minggu (8/2/2026). (Foto: Dok. YouTube Setpres)

Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang, Diwarnai Jeda Minum Kopi Saat Pidato

February 8, 2026
Peran Pemerintahan Prabowo Subianto Mengatasi Dampak Konflik dan Perang Dagang Global

Peran Pemerintahan Prabowo Subianto Mengatasi Dampak Konflik dan Perang Dagang Global

February 8, 2026
Gus Yusuf Chudlori: Sosok Santri Tulen, Magnet Massa, dan Harapan Baru PBNU di Muktamar ke-35

Gus Yusuf Chudlori: Sosok Santri Tulen, Magnet Massa, dan Harapan Baru PBNU di Muktamar ke-35

February 7, 2026
FBR Turut Amankan Pengukuhan Pengurus MUI Pusat di Masjid Istiqlal

FBR Turut Amankan Pengukuhan Pengurus MUI Pusat di Masjid Istiqlal

February 8, 2026
Presiden Prabowo Hadir dalam Pengukuhan Pengurus MUI di Masjid Istiqlal

Presiden Prabowo Hadir dalam Pengukuhan Pengurus MUI di Masjid Istiqlal

February 7, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 9, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Rumi

Oleh: Sulaiman Djaya

liputan9news by liputan9news
January 17, 2026
in Opini, Tasawuf
A A
0
Rumi
503
SHARES
1.4k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

“Cinta adalah dasar perbuatanku” (Muhammad Rasulullah Saw). “Agama itu cinta dan cinta adalah agama” (Imam Muhammad Al-Baqir as)

Al-Quran diawali dengan imperatif (seruan): Bacalah! Matsnawi Rumi diawali dengan imperatif: Dengarkanlah! Simaklah semesta yang berbicara kepadamu. Ricik air. Kicau burung. Desir angin, dan lainnya. Dengarkan apa yang ada di dalam dirimu.

Kearifan untuk sejenak menyimak, mendengarkan (tafakkur), akan menghadirkan ketersingkapan. Jika sudah tersingkap, maka terbukalah pemahaman, bukan semata dugaan. Inilah seruan Matsnawi:

Jika kau memiliki hati, bertawaflah mengelilinginya.

Secara spiritual, Ka’bah sejati adalah hati,

Bukan bangunan fisik dari batu dan tanah.

Allah mewajibkan tawaf mengelilingi fisik Ka’bah

Untuk mendapatkan Ka’bah hati

Yang bersih dan murni’ (Rumi –Matsnawi).

Dari Rumi, selain tentu saja dari junjungan Rumi, yaitu Muhammad Rasulullah, kita jadi tahu bahwa fondasi agama adalah cinta. Agama di sini adalah gerak dan spirit yang memperjuangkan keadilan dan melawan kezaliman. Iman juga harus dituntun oleh ilmu dan akal yang akan membuatnya melihat, memiliki bashirah, dan tidak terjerembab dalam kebutaan serta kejahiliyahan. Ilmu, cinta, dan akal ini adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Namun, nahkodanya yang utama adalah cinta.

BeritaTerkait:

BEM PTNU DIY Tolak Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD

Pilkada Melalui DPRD dalam Perspektif Islam Nusantara

Jarak dan Cermin: Keteladanan KH Saifuddin Zuhri

Kedaulatan Rakyat Bukan Barang Dagangan: Suara Keras BEM PTNU Jateng Tolak Pilkada Lewat DPRD

Lalu apa cinta itu, dalam pengertian yang religius sekaligus humanis? Imam Ali bin Abi Thalib as berkata, “Cinta itu seperti air –dengannya hidup segalanya. Seperti bumi –cinta bisa menumbuhkan semuanya.”

Jika kita renungi, hikmah itu lebih luas dan lebih kaya dalam memandang apa itu cinta –pengertian, makna dan cakupannnya, dari sekedar cinta yang dipahami hanya terkait relasi antara dua manusia semata.

Hikmah Imam Ali bin Abi Thalib as itu menyatakan secara hermeneutik dan alegorik bahwa cinta menyangkut sikap kita dalam hidup terkait dengan segala hal –tak semata spesifik menyangkut relasi dua manusia, tetapi suatu hukum semesta, agama, dan pengetahuan. Ali, washi-nya dan pintu gerbang ilmu dan hikmahnya Muhammad saw, itu pada dasarnya adalah maestro filsuf dan pujangga.

Dalam sejarah sastra, penyair sekaligus filsuf sufi yang konsen mengurai makna dan penjelajahan kosmologi cinta dalam agama (Islam) ini adalah Jalaluddin Rumi.

“Aku bagai benih di bawah tanah

aku menanti tanda musim semi.

Angin kala fajar memiliki rahasia

untuk memberitahumu. Jangan kembali tidur.

Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan,

mengubah orang tak berpendirian

menjadi teguh berpendirian,

mengubah pengecut menjadi pemberani,

mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan,

dan cinta membawa perubahan-perubahan

bagi siang dan malam.

Karya-karya sastra adiluhung memang biasanya mengandung filosofi dan hikmah, bukan sekedar narasi estetik yang hanya mengejar bentuk belaka, dan para penyair adiluhung biasanya adalah juga para filsuf –yang dalam hal ini contohnya Jalaluddin Rumi, sang filsuf sufi Persia yang kemudian hijrah ke Anatolia itu.

“Karena cinta ampas berubah jadi sari murni,

karena cinta pedih menjadi obat.

Karena cinta kematian berubah jadi kehidupan”.

Jalaluddin Rumi bicara apa saja dengan puisi-puisinya –mulai dari rahmat pagihari dan juga fajar, perenungan senjakala, meditasi malam, hingga upaya menerjemahkan ‘cinta’ sebagai sebuah cakrawala yang mencakup kapasitas pemahaman yang toleran dan sanggup mengerti orang lain, kemampuan bersikap welas-asih kepada sesama –di mana cinta kemudian mewujud dalam kesabaran, peredaman ego yang acapkali mendatangkan amarah dan destruksi, hingga cinta dalam arti yang ‘irfani.

Sampai-sampai bagi Jalaluddin Rumi, cinta adalah ‘kosmos’ dan ‘semesta’ yang menjadi hukum harmoni dan penjaga atau perawat keberlangsungan hidup dan eksistensi manusia,

“Cinta adalah lautan tak bertepi,

langit hanyalah serpihan buih belaka.

Di dalam cahaya-Mu aku belajar mencintai.

Di dalam keindahan-Mu aku belajar menulis puisi.”

Puisi Jalaluddin Rumi di atas bisa saja dibaca sebagai upaya untuk ‘memahami’ arti dan makna cinta dalam arti yang ‘irfani, suatu kawah kerinduan seorang manusia kepada Sang Khalik karena manisnya iman dan rahmat pengampunan, yang pada saat bersamaan, bersifat manusiawi, sebagai kodrat alami yang ada di dalam diri manusia untuk mengembangkan pemahaman dan sikap welas-asih.

Adakalanya Jalaluddin Rumi pun menegur dan menyindir secara terus-terang dengan gaya dan nada bertanyanya yang khas puitik, ketika ia mengkritik kemalasan intelektual dan spiritual manusia, yang acapkali menjebak manusia hanya menuruti sikap dan karakter yang justru membuat manusia menjadi rendah, tiadanya kemampuan untuk menjadi seorang pencinta, baik secara manusiawi maupun ‘irfani. Semisal manusia-manusia yang hidupnya hanya terseret pada arus komodifikasi, mereka yang terjerembab dalam kehampaan spiritual, meskipun yang ironisnya, mereka adalah juga orang-orang yang mengaku beragama:

“Engkau dilahirkan memiliki sayap

mengapa lebih memilih hidup merangkak?”

Sayap dalam puisi itu tentu saja tidak dimaksudkan secara verbal, seperti misalnya sayap yang dimiliki para burung, melainkan sebagai alegori-aforistis bagi pendakian dan ikhtiar untuk menggapai progress dan ketinggian. Bukankah para burung sanggup terbang ke arah ketinggian karena memiliki sayap? Sehingga, sayap adalah sebuah ‘alegori khusus’ dalam puisi-puisi para penyair-filsuf sufi untuk memaksudkan makna dari fungsi sayap dalam arti verbal tersebut, sebagaimana alegori kedai dan anggur demi menerjemahkan kerinduan dan madrasah ‘pelatihan’ bathin.

Secara semantis dan hermeneutis, ‘cinta’ yang berusaha dimaknakan dan diberi pengertian dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi adalah cinta dalam arti yang luas –cinta yang baginya unsur utama semesta dunia ini, semisal dasar bagi penciptaan semesta dan serta hukum yang menjaga dan mengaturnya, bukan semata cinta ingusan anak-anak remaja, misalnya.

Sementara itu, secara ‘irfani, cinta yang dimaksudkan dalam puisi-puisinya Jalaluddin Rumi adalah cinta dalam arti yang mistis dan spiritual antara manusia dengan Sang Khalik berkat iman, yang karena iman itulah, lahir dan tumbuh-lah harapan dan pemahaman yang benar. Sebab, banyak mereka yang mengaku beragama hanya basah di kulit, tapi hatinya kering-kerontang.

Memang, cinta-lah yang membuat seseorang menyandang predikat ‘person’ dalam hidupnya, dan personalitas adalah manifestasi kepribadian (akhlak), sebagaimana bisa kita baca puisinya Yunus Emre yang masih di jalan spiritual yang sama dengan Rumi:

Cinta adalah mazhab dan agamaku.

Saat mataku melihat wajah Sang Sahabat,

semua derita menjadi riang.

 

Ini, Rajaku,

kupersembahkan diriku pada-Mu.

Sejak mula hingga akhirnya

segala harta kekayaanku hanya diri-Mu.

Awal akal dan jiwa ini,

ketika jarak bermula

adalah bersama-Mu.

Engkaulah ujungnya, dan segala diantaranya

Aku hanya bisa maju ke arah-Mu.

Jalanku adalah dari-Mu, menuju-Mu.

Lidahku bicara tentang-Mu, dalam diri-Mu.

Walau begitu, tanganku tak bisa menyentuh-Mu.

Pemahaman ini mempesonakan daku.

Tak bisa lagi kusebut diriku “aku”.

Tak bisa lagi kusebut siapapun “engkau”.

Tak bisa kubilang ini hamba dan itu raja.

Itu takkan masuk akal.

Sejak kudapatkan cinta dari Sang Sahabat

alam ini dan alam berikutnya menyatu.

Kalau kau bertanya tentang awal yang tak berpangkal

dan akhir yang tak berujung,

itu hanya siang dan malam bagiku.

 

Tak bisa lagi aku berduka

atau hatiku bermuram durja,

karena suara kebenaran telah didengar,

dan aku kini dalam pesta pernikahanku.

 

Jangan biarkan aku mengembara dari cinta-Mu,

jangan biarkan aku meninggalkan pintu-Mu,

dan jika aku kehilangan diriku,

biarlah kutemukan dia sedang bersama-Mu.

 

Sang Sahabat menyuruhku kemari.

Pergi dan lihatlah dunia, katanya.

Aku telah datang dan menyaksikan

alangkah indahnya ia ditata.

Tapi mereka yang mencintai-Mu tak berhenti disini.

 

Dia katakan pada para hamba-Nya,

Esok kan Kuberi kalian surga.

Esok yang itu adalah hari-ini ku.

 

Siapa lagi yang mengerti kebenaran dan penderitaan ini?

Dan andai pun terpahami,

itu takkan terkatakan.

Maka kuhadapkan wajahku pada-Mu.

 

Engkaulah kehidupan dan alam semesta,

harta yang dirahasiakan.

Segala raih dan lepas adalah dari-Mu.

Tindakanku tak lagi jadi milikku.

 

Yunus menghadapkan wajahnya pada-Mu

melupakan dirinya.

Dia sebut setiap kata bagi-Mu.

Engkaulah yang menjadikannya bicara.

Sulaiman Djaya, Pembaca pustaka filsafat, sastra dan kebudayaan

Tags: DPRDJalaluddin RumiPemilihan BupatiPemimpinPuisiRumiSulaiman Djaya
Share201Tweet126SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

BEM PTNU DIY Tolak Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD
Nasional

BEM PTNU DIY Tolak Wacana Kepala Daerah Dipilih DPRD

by liputan9news
January 18, 2026
0

YOGYAKARTA | LIPUTAN9NEWS Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta (BEM PTNU DIY) menyatakan sikap tegas menolak...

Read more
Yusuf mars

Pilkada Melalui DPRD dalam Perspektif Islam Nusantara

January 15, 2026
KH. Saifuddin Zuhri

Jarak dan Cermin: Keteladanan KH Saifuddin Zuhri

January 13, 2026
Kedaulatan Rakyat Bukan Barang Dagangan: Suara Keras BEM PTNU Jateng Tolak Pilkada Lewat DPRD

Kedaulatan Rakyat Bukan Barang Dagangan: Suara Keras BEM PTNU Jateng Tolak Pilkada Lewat DPRD

January 11, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2524
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Gelar Munas Konbes PBNU, Kiai Lukman Paparkan Kesiapan Pesanten Al-Hamid sebagai Tuan Rumah

Di Balik Perubahan Nama Giri Kencana Menjadi Waduk Batu Licin Cilangkap

February 9, 2026
KH. MH. Bahaudin atau Gus Baha

Gus Baha: Indonesia Masuk BoP, Tapi Jangan Jadi Penonton Penjajahan

February 9, 2026
Prabowo: 100 Tahun Kiprah NU  Jadi Pilar Kebesaran Bangsa Indonesia

Prabowo: 100 Tahun Kiprah NU Jadi Pilar Kebesaran Bangsa Indonesia

February 8, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In