• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sunan Ampel Peletak Islam Nusantara, Tinjauan Sanad dan Nasab Penyebar Islam Abad 15-17 M

Sunan Ampel Peletak Islam Nusantara, Tinjauan Sanad dan Nasab Penyebar Islam Abad 15-17 M

November 30, 2022
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur

Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia Di BoP dan NU Harus Tegas Mengingatkan

February 1, 2026
Gus Yahya

Rais Aam dan Sekjen PBNU Hingga Prabowo tidak Hadiri Harlah Ke-100 NU, Ini Penjelasan Gus Yahya

February 1, 2026
Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM., Pengamat Sosial dan Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN Bandung

Meneguhkan Polri di Bawah Presiden: Kuatkan Agenda Reformasi, Bukan Degradasi Institusi

February 1, 2026
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat memimpin konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: NU Online/Syakir NF)

Ketum PBNU Tegaskan Seluruh Unsur Organisasi Kompak Hadiri Harlah Ke-100 NU

January 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Sunan Ampel Peletak Islam Nusantara, Tinjauan Sanad dan Nasab Penyebar Islam Abad 15-17 M

Oleh: KHM. Hamdan Suhaemi

liputan9news by liputan9news
November 30, 2022
in Uncategorized
A A
0
Sunan Ampel Peletak Islam Nusantara, Tinjauan Sanad dan Nasab Penyebar Islam Abad 15-17 M

Sunan Ampel Peletak Islam Nusantara, Tinjauan Sanad dan Nasab Penyebar Islam Abad 15-17 M

626
SHARES
1.8k
VIEWS

Mukadimah
Sejarah perlu diketengahkan ketika ada yang rumit untuk dijelaskan, dan ketika alurnya telah membelok. Bahkan yang tabu pun perlu dibuka sebagai sesuatu yang profan, bahwa sejarah adalah pelajaran hidup kita. Tidak boleh sejarah lalu dibilang hanya masa lalu semata, karena masa lalu adalah cerminan masa depan. Manusia hidup pasti mengisi ruang dan waktu dengan segala harapan dan tantangannya, disinilah manusia lupa bahwa dirinya adalah pelaku sejarah.

Dalam tulisan ini ingin menyodorkan semacam tesis tentang awal mula Islam di Nusantara ini, bahwa Sayyid Ali Rahmatullah bin Sayyid Ibrahim Samarkandi dinyatakan betul sebagai peletak awal Islamisasi Nusantara. Meski jauh sebelum Sayyid Ali Rahmatullah terdapat para penyebar Islam yang berprofesi pedagang, sebut dari Gujarat atau dari Persia dengan ditandai tetinggalnya makam-makam khas Gujarat atau Malabar dengan relief kaligrafi Arab model khufi di kampung Leran dekat Gersik Jawa Timur, perkiraan makam tersebut sudah ada sejak abad 13 M dan abad 14 M seperti makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim.

Siapa Sayyid Ali Rahmatullah
Sayyid Ali Rahmatullah lahir tahun 1401 M di Champa, adalah putra dari Syaikh Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy dengan Dyah Candrawulan, Dyah Candrawulan Puteri Raja Champa Kamboja, sementara Sayyid Ibrahim As-Samarqandy merupakan putra Sayyid Jamaluddin Akbar al-Husaini. Ayahnya ini berasal dari Samarkand, negeri yang kini masuk Rusia Selatan. Diceritakan bahwa sebelum tahun 1446 M, keluarga Ibrahim Samarkandi masih berada di Champa sebelum negeri itu jatuh oleh pasukan dari kerajaan Sangora. Meski demikian puteranya Ibrahim Samarkandi yang kedua yakni Sayyid Ali Rahmatullah sudah berada di Ampel Majapahit di tahun 1442, hingga ketika mendengar kabar menyakitkan itu Sayyid Ali Rahmatullah yang seharusnya pulang ke Champa, kemudian dicegah oleh Raja Brawijaya V ( suami dari bibinya ). Peristiwa tersebut tercatat dalam Serat Walisana.

BeritaTerkait:

Pilkada Melalui DPRD dalam Perspektif Islam Nusantara

BEM PTNU DIY Gelar Kirab Merah Putih dan Parade Budaya Nusantara di Malioboro

BEM PTNU SE-NUSANTARA Menggelar Aksi Lanjutan, Geruduk Kantor Trans7

King of Nusantara Ajak Pengusaha Manca Negara Berinvestasi di Indonesia

Dalam catatan Kronik Tiongkok dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng – seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Tionghoa di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu – menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Tionghoa di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Tionghoa di Jiaotung Bangil ( Slamet Muljana : 2005 ).

Perbedaan asal usul Sayyid Ali Rahmatullah seperti di atas tidak perlu diperdebatkan, karena satu sama lainnya memiliki bukti baik primer maupun sekunder, tapi yang jelas ada relasi diantara data tersebut, kuncinya adalah Champa, yang masih bagian dari wilayah Tiongkok. Tetapi saya ingin mengambil data yang masyhur saja agar tidak ada perdebatan tajam soal asal usul sang Sayyid dari Champa ini.

Silsilah
Masyhur di kalangan para pencatat silsilah, bahwa Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat atau Susuhunan Ampel, adalah mursyid tarekat Naqsyabandiyah, bahkan telah sampai maqom Qutub, ulama besar Ahli Sunnah wal Jama’ah yang bermazhab Syafi’i. Sayyid Ali Rahmatullah ini meski terlahir di Champa tapi garis leluhurnya adalah dzuriyatnya Rosulullah S.a.w.

Sayyid Ali Rahmatullah bin
Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandi bin
Sayyid Husain Jamaluddin bin
Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
Sayyid Abdullah bin
Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin
Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
Sayyid Alwi bin
Sayyid Muhammad bin
Sayyid Alwi bin
Sayyid Ubaidillah bin
Imam Ahmad Al-Muhajir bin
Imam Isa Ar-Rumi bin
Imam Muhammad An-Naqib bin
Imam Ali Al-Uraidhi bin
Imam Ja’far Shadiq bin
Imam Muhammad Al-Baqir bin
Imam Ali Zainal Abidin bin
Imam Husain bin
Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti
Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Silsilah di atas ini dikuatkan oleh kitab ‘Uqudu al-Maas, karya Sayyid Alawi al-Hadad, kitab A’qob Aly al-Uraidli dan kitab Abnau al-Imam fi mishri wa al-Syami karya Ibnu Thobathoba.

Guru Keluarga Majapahit
Pada era Raja Brawijaya V, kehidupan masyarakat Majapahit terutama keluarga keraton Wilwatikta mengalami kemunduran yang sangat signifikan, terutama dalam hal moral. Akibat dari perang yang tidak berkesudahan, seperti perang Paregreg dan intrik-intrik pengambilalihan kekuasaan baik di keluarga keraton maupun di wilayah taklukan Majapahit pasca mangkatnya Maharaja Hayam Wuruk. Itu terjadi di akhir abad 14 dan sampai di pertengahan abad 15 M.

Dampak dari konflik sosial politik di kerajaan Majapahit itu sangat dirasa berat di kalangan masyarakat waisa dan sudra, belum lagi keonaran-keonaran ditimbulkan akibat ketercanduan atas arak dan madat. Gambaran sosiologis masyarakat Majapahit di tahun 1440-an memicu keinginan kuat sang permaisuri Raja Brawijaya V, yakni Ratu Diyah Dwarawati untuk meminta tolong keponakannya di Champa agar berkenan untuk membimbing keluarga keraton yang tengah mengalami kemerosotan moral tersebut.

Keponakan sang Ratu dari Champa itu baru sampai di Trowulan ibukota Majapahit, di tahun 1442 yang sebelumnya menetap sebentar di Tuban. Sang Ratu pun mengusulkan kepada Raja Brawijaya V agar Sayyid Ali Rahmatullah diterima sebagai keluarga besar Keraton Majapahit, hingga sang Sayyid dari Champa ini lalu diberi gelar Raden, akhirnya yang lebih dikenal panggilan Raden Rahmat.

Ajaran Molimo Raden Rahmat ini menjadi efektif dalam upayanya merubah kebiasaan buruk para anggota keluarga keraton Wilwatikta, sampai kemudian keberhasilannya diakui oleh sang Raja dengan memberikan sebidang tanah di dekat Surabaya, namanya Ampel. Di Ampel inilah perjuangan Raden Rahmat mencapai puncaknya ketika Ampel menjadi pusat pembelajaran agama Islam sekaligus pusat dakwahnya, hingga Ampel terkenal terutama bagi masyarakat Majapahit yang ada di Trowulan hingga pengaruhnya sampai di Sukadana Kalimantan ( Agus Sunyoto: 2013).

Peletak Islam Nusantara
Sayyid Ali Rahmatullah yang kemudian berubah sebutan Raden Rahmat, pada tahun 1470 M memfokuskan pada pengembangan jejaring penyebar Islam dengan penguatan mujahadah dan riyadoh dalam mendidik santri-santrinya, disamping penguatan jejaring dakwah Islam, Raden Rahmat pun menguatkan dengan pertalian nasab.

Dalam Babad Ngampeldenta, Raden Rahmat memperistri Mas Karimah Puteri Ki Bang Kuning yang masyhur dikenal Mbah Karimah, dari istrinya ini memiliki 2 anak perempuan yaitu Murtasiah dan Murtasimah. Lalu Murtasiah dinikahkan dengan santri sekaligus keponakannya yaitu Raden Paku bin Maulana Ishaq alias Raja Wali Lanang. Kelak ketika Raden paku menetap di Giri namanya masyhur dengan sebutan Susuhunan Giri, atau Prabu Satmata. Dari jalur Murtasiah inilah Sunan Ampel menurunkan para penyebar Islam berikutnya yaitu putera dari Sunan Giri yakni Sunan Dalem dan cucunya yakni Sunan Prapen, dari tangan mereka inilah Islam tersebar hampir menyeluruh di pelosok Nusantara.

Sementara dari anaknya yang kedua yaitu Murtasiah atau Asyikoh, Sunan Ampel menikahkan dengan Raden Fatah bin Prabu Brawijaya V. Dari jalur ini lahirlah para penguasa Islam, hingga lewat kekuasaan politik dakwah Islamiyyah di seluruh Nusantara tidak lagi mendapatkan tantangan dan rintangan.

Sunan Ampel dalam waktu yang bersamaan menikahi Puteri dari Arya Teja, Adipati Tuban dan Arya Teja adalah keturunan Ranggalawe, yakni Nyai Ageng Manila. Dengan Nyi Ageng Manila ini sunan Ampel dikaruniai putera Puteri yaitu Sayyidah Fatimah, Sayyidah Willis, Sayyidah Taluqi atau Nyi Ageng Maloka, Sayyid Makhdum Ibrahim, Sayyid Qosim. Kedua nama terakhir ini adalah para penyebar Islam yang paling gigih di seantero Nusantara. Sayyid Makhdum lebih dikenal dengan Sunan Bonang sedangkan Sayyid Qosim dikenal dengan Sunan Derajat.

Islam yang disampaikan oleh para Wali Songo tentunya berpijak pada induknya para wali songo yaitu Sayyid Ali Rahmatullah, atau Raden Rahmat alias Sunan Ampel, yang telah menanamkan ajaran Islam dengan cara moderat, dan toleran. Hingga Islam yang dipeluk oleh bangsa Nusantara terkhusus Jawadwipa adalah Islam ala Ahli Sunnah wal Jama’ah.

Dari ajaran Sang Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah inilah ada perpaduan tradisi Champa yang dibawanya dengan budaya Jawa, dan Islam yang disampaikan oleh sang Mursyid tersebut adalah agama yang tidak menolak adat, tidak juga mencampurkan dengan adat, membumikan Islam dengan cara pendekatan budaya, dengan pendekatan sufistik maka dari inilah Islam di Nusantara ada kekhasannya. Karena khas itulah kemudian kita kenali Islam Nusantara.

Serang 29-11-2022
KHM. Hamdan Suhaemi, Wakil Ketua PW GP Ansor Banten, Ketua PW Rijalul Ansor Banten, Sekretaris komisi Haub MUI Banten, dan Sekretaris Tsani Idaroh Wustho Jatman Banten.

Tags: Islam NusantaraKHM Hamdan SuhaemiNusantaraSunan Ampel
Share250Tweet157SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Yusuf mars
Nasional

Pilkada Melalui DPRD dalam Perspektif Islam Nusantara

by liputan9news
January 15, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) melalui DPRD kembali menguat dalam diskursus publik nasional. Isu ini kerap dipersepsikan...

Read more
BEM PTNU DIY Gelar Kirab Merah Putih dan Parade Budaya Nusantara di Malioboro

BEM PTNU DIY Gelar Kirab Merah Putih dan Parade Budaya Nusantara di Malioboro

November 23, 2025
BEM PTNU SE-NUSANTARA Menggelar Aksi Lanjutan, Geruduk Kantor Trans7

BEM PTNU SE-NUSANTARA Menggelar Aksi Lanjutan, Geruduk Kantor Trans7

October 26, 2025
King of Nusantara Ajak Pengusaha Manca Negara Berinvestasi di Indonesia

King of Nusantara Ajak Pengusaha Manca Negara Berinvestasi di Indonesia

October 25, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In