• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Imam Jazuli

Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Kritik-kritik Politiknya

October 29, 2023
Warga NU Gelar Mubes di Yogyakarta, Desak PBNU Kembali ke Khittah

Warga NU Gelar Mubes di Yogyakarta, Desak PBNU Kembali ke Khittah

June 1, 2026
Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

June 1, 2026
PNIB: Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Ideologi Bangsa Penjaga dari serangan Ideologi Khilafah Terorisme yang Bukan Omon-Omon

PNIB: Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Ideologi Bangsa Penjaga dari serangan Ideologi Khilafah Terorisme yang Bukan Omon-Omon

June 1, 2026
Tim Musyrif Diny, Prof KH Asrorun Ni'am Sholeh saat berada di Arafah. (Foto: Istimewa/MSN)

Prof Niam Tegaskan Qurban Presiden dari Banpres Tak Perlu Diperdebatkan

June 1, 2026
Gus Maftuh dan Gus Muwafiq Dukung Cak Imin Pimpin PBNU, Serukan Reformasi Kembali ke Khittah 1926, Deklarasikan FPGM

Gus Maftuh dan Gus Muwafiq Dukung Cak Imin Pimpin PBNU, Serukan Reformasi Kembali ke Khittah 1926, Deklarasikan FPGM

May 31, 2026
Aguk Irawan MN: Muktamar NU Harus Mengurai Semua Masalah Internal dan Teguhkan kembali NU sebagai Kekuatan Civil Society

Aguk Irawan MN: Muktamar NU Harus Mengurai Semua Masalah Internal dan Teguhkan kembali NU sebagai Kekuatan Civil Society

May 31, 2026
Musyrif Diny Kemenhaj KH Misbahul Munir: Output Ibadah Haji Umat Islam lebih Toleran terhadap Perbedaan

Musyrif Diny Kemenhaj, KH Misbahul Munir: Output Ibadah Haji Umat Islam lebih Toleran terhadap Perbedaan

May 31, 2026
Gus Muwafiq: NU Harus Teguhkan Kembali Sebagai Jangkarnya Indonesia

Gus Muwafiq: NU Harus Teguhkan Kembali Sebagai Jangkarnya Indonesia

May 31, 2026
Logis 08 Kritik BRI Soal Tantiem, Danantara Diminta Tegas Jalankan Arahan Presiden

Logis 08 Kritik BRI Soal Tantiem, Danantara Diminta Tegas Jalankan Arahan Presiden

May 30, 2026
Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

May 30, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, June 1, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Dunia Islam Tasawuf

Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Kritik-kritik Politiknya

Oleh: KH Imam Jazuli, Lc., MA

Abdus Saleh Radai by Abdus Saleh Radai
October 29, 2023
in Tasawuf
A A
1
Imam Jazuli

KH. Imam Jazuli, Lc. MA. Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015./Foto: Imanjazuli.com

511
SHARES
1.5k
VIEWS

LIPUTAN9.ID – Daulah Abbasiah di Iran kembali menyaksikan kelahiran Sufi besar, Abdul Qadir Jailani, pada tanggal 11 Rabius Tsani 470 H./23 Maret 1078 di Gilan. Kota Gilan ini masih diperdebatkan, ada yang menyebutnya Gilan Iran dan ada pula yang menyebutnya Gilan 40 km ke arah Utara Irak. Ada juga yang menyebutnya dari Kailan, Baghdad. Abdul Qadir adalah putra seorang ahli zuhud, Abu Sholih Musa yang bergelar Muhibbul Jihad. Ia wafat pada 10 Rabiul Tsani 561 H.

Dari kota Gilan, Abdul Qadir pergi menuju Baghdad pada tahun 488 H./1095 M, pada usia 18 tahun di era kepemimpinan Khalifah Abbasiah Al-Mustazhhihr Billah, yang berkuasa dari 1095-1118 M. Setibanya di Baghdad, ia langsung belajar kepada Syeih Abu Sa’id al-Makhrami. Ketika sudah tinggal di Baghdad, Abdul Qadir mengetahui peta politik global kala itu, Perang Salib.

Perang Salib terjadi dan sedang menggempur umat muslim di Syam (Suriah), menguasai Antokia (Turki), dan Baitul Maqdis (Palestina). Di negara-negara ini, Kaum Salib banyak membantai habis umat muslim dan menjarah harta benda sebagai barang rampasan perang mereka. Selain konflik Islam versus Kristen, saat itu Abdul Qadir juga melihat konflik antar umat muslim, pasukan Turki versus Saljuk.

BeritaTerkait:

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

Siklus 100 Tahun PBNU (Perkumisan Besar Nahdlatul Ulama)

Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

Sultan Turki Barkyaruq bin Muluksyah membawa pasukan besar menuju Baghdad dan meminta Khalifah al-Mustazhhihr Billah melepaskan Ibnu Juhair (menteri Barkyaruq). Namun, Khalifah menolak permintaan Sultan sehingga pecahlah banyak peperangan. Ketika Sultan Turki berhasil mengalahkan Khalifah Baghdad, kelompok Batiniah di Ashfihan, Iran, bangkit melakukan perlawanan rahasia. Walaupun pada akhirnya, Sultan Saljuk mampu meredam pemberontakan tersebut.

Tidak saja itu, para Amir Bani Mazid dari Kabilah Bani Asad di bawah pimpinan Shidqah bin Mazid juga bangkit melawan Sultan Saljuk. Pasukan Shidqah bin Mazid ini berasal dari bangsa Arab dan kaum Kurdi. namun, Sultan Saljuk kembali berhasil meredam perlawanan tersebut (Ibnu Atsir, Al-Kamil fi At-Tarikh, Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1987: 9/8).

Sementara kehidupan sosial sama parahnya dengan kehidupan politik. Masyarakat muslim pada abad 6 Hijriah atau 12 Masehi ini menjalani kehidupan yang rusak, amoral, karena alasan politik. Materialisme dan pragmatisme menghantui setiap sendi kehidupan masyarakat. Penyakit menggempur kesehatan masyarakat, dan krisis ekonomi mencapai puncaknya. Aksi pencurian di rumah-rumah dan perampokan di jalan-jalan semakin parah.

Di tengah-tengah kehidupan sosial politik dunia Islam tersebut, Abdul Qadir Jailani menempuh jalur pendidikan untuk melakukan perlawanan. Syeikh Abdul Qadir banyak menyampaikan pelajaran dan mengkritik para penguasa yang zalim. Tidak saja itu, ia juga mendorong umat manusia untuk menjauhi para penguasa yang zalim dan meninggalkan syariat. Salah satu ucapan Syeikh Abdul Qadir sebagai berikut:

“para raja menjadi Tuhan bagi rakyatnya; kenikmatan duniawi, kekayaan, kesehatan dan kekuatan menjadi tuhan bagi banyak orang; apabila para penguasa dunia, para fir’aun dan raja, orang-orang kaya raya sudah tidak lagi ingat pada Allah dan tidak mengagungkan-Nya, maka kamu seperti menyembah berhala. Orang yang engkau agungkan adalah berhalamu,” (Jamaluddin Falih al-Kailani, Syeikh Abdul Qadir al-Kailani: Ru’ya Tarikhiah Mu’ashirah, Dar al-Fikr, 2014: 213).

Jamaluddin Falih al-Kailani mengatakan,pada tahun 541 H./1146 M, Muhammad al-Muqtafi li Amrillah berkuasa menjadi Khalifah dan bertindak sangat kejam pada rakyat, dan menjadi penerima suap terbesar. Kemudian Syeikh Abdul Qadir Jailani berkhotbah di sebuah masjid ketika sang Kholifah juga ikut bejamaah di sana.

Di atas mimbar, Syeikh berkata: “seandainya engkau adalah orang yang paling zalim terhadap umat muslim, apa jawabanmu nanti di hadapan Tuhan semesta alam?” Mendengar Syeikh Abdul Qadir mengatakan begitu, Khalifah al-Qadhi Muhammad al-Muqtafi li Amrillah langsung berdiri dan pergi meninggalkan masjid dan Syeikh Abdul Qadir beserta pengikutnya (Falih al-Kailani, 2014: 213).

Mengingat perilaku para elite Daulah Abbasiah yang penuh dosa itu, Syeikh Abdul Qadir memilih menjauhkan diri dari sana dan melakukan gerakan reformasi iman melalui madrasah yang didirikannya. Melalui metode pendidikan (tarbiyah) ini, Abdul Qadir berhasil membentuk satu generasi yang berjuang mewujudkan idealismenya. Para generasi inilah yang mengusung kembali gagasan Syeikh Abdul Qadir Jailani dibekali dengan berbagai karya, terutama karya monumentalnya berjudul “Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haqq.”

Dalam kitab al-Ghunyah ini, Syeikh Abdul Qadir membagi konsep melatih dan membersihkan jiwa menjadi empat bagian: pertama, tentang rahasia-rahasia ibadah; ilmu, akidah, thaharah, shalat, zakat, puasa, hajji, membaca al-Quran, berdzikir dan berdoa, serta tertib wiridan.

Pada bagian kedua, tentang adat istiadat dan aturannya, seperti etika makan, menikah, bekerja dan mencari penghasilan hidup, perbedaan halal dan haram, arti penting persaudaraan dan kasih sayang, pentingnya uzlah, etika bepergian jauh, etika untuk mengalami Sima’ dan Wajdu, arti amar ma’ruf nahi munkar, dan etika hidup yang didasarkan pada akhlak kenabian.

Ketiga, tentang hal-hal yang menghancurkan hidup manusia, seperti penjelasan tentang hati manusia, latihan jiwa dan akhlak, keburukan akibat syahwat, keburukan karena lidah, dengki, iri, meri, terlalu cinta duniawi, kikir dan buruknya cinta harta.

Keempat, tentang hal-hal yang menyelamatkan manusia; taubat, shabat, syukur, raja’, khauf, fakir, zuhud, tauhid, tawakkal, mahabbah, syauq, ridha, unsu, niat, jujur, dan ikhlas (Abdul Qadir Jailani, al-Ghunyah, Muassasah ‘Izzuddin, 1992: 101).

Tujuan pendidikan Syeikh Abdul Qadir tersebut terbukti berhasil, terlihat dari terbentuknya generasi sholeh-sholehah yang terjun ke dunia politik dengan mendukung perjuangan Shalahuddin al-Ayyubi. Misalnya, tercatat sekitar 800 alumni Madrasah Syeikh Abdul Qadir terdiri dari kaum perempuan. Mereka menjabat posisi sebagai pembuat fatwa di Syam, terutama pada masa Shalahuddin al-Ayyubi (Majid al-Kailani, Hakadza Zhahara Jailu Shalahuddin wa Hakadza ‘Asyat al-Quds, Dar al-Qalam, 2002: 251).

Dengan kata lain, generasi yang mendukung perjuangan Shalahuddin al-Ayyubi adalah hasil kaderisasi Syeikh Abdul Qadir Jailani.

Artikel ini tayang juga di Disway.id dengan judul Syeikh Abdul Qadir Jailani dan Kritik-kritik Politiknya, pada hari Senin, 05 September 2022.

KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
Tags: Abdul Qodir JaelaniImam JazuliPolitikQadir JilaniTasawuf
Share204Tweet128SendShare
Abdus Saleh Radai

Abdus Saleh Radai

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi
Nasional

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

by liputan9news
June 1, 2026
0

CIREBON | LIPUTAN9NEWS Masa depan pesantren tidak ditentukan oleh besarnya tantangan, melainkan oleh keberanian untuk berubah. Ketika pesantren mampu mengelola...

Read more
Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

May 30, 2026
Siklus 100 Tahun PBNU (Perkumisan Besar Nahdlatul Ulama)

Siklus 100 Tahun PBNU (Perkumisan Besar Nahdlatul Ulama)

May 30, 2026
Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

May 29, 2026
Load More

Comments 1

  1. finessa says:
    4 months ago

    **finessa**

    Finessa is a natural supplement made to support healthy digestion, improve metabolism, and help you achieve a flatter belly.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2574
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Warga NU Gelar Mubes di Yogyakarta, Desak PBNU Kembali ke Khittah

Warga NU Gelar Mubes di Yogyakarta, Desak PBNU Kembali ke Khittah

June 1, 2026
Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

June 1, 2026
PNIB: Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Ideologi Bangsa Penjaga dari serangan Ideologi Khilafah Terorisme yang Bukan Omon-Omon

PNIB: Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni, Ideologi Bangsa Penjaga dari serangan Ideologi Khilafah Terorisme yang Bukan Omon-Omon

June 1, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In