• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

May 29, 2026
KH. Khotimi Bahri, Katib Syuriah PCNU Kota Bogor dan Sedang Menyelesaikan Program Doktoral di SPI UNUSIA

Salafi-Wahabi Dalam Sejarah Gerakan Radikalisme Islam

June 6, 2026
Gus Salam; Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

Gus Salam: Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

June 6, 2026
Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

June 6, 2026
SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

June 6, 2026
Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur). Oleh: Ahmad Samsul Rijal

Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur)

June 6, 2026
BGN Jadi Ladang Korupsi, PNIB Ngamuk

BGN Jadi Ladang Korupsi, PNIB Ngamuk

June 6, 2026
Mantan Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), di Surabaya, Rabu (03/06/2026).(Foto: kompas.com/Adhi Dwi)

Gus Salam Sebut pada Muktamar NU Ke-35 PC dan PWNU Ingin Perubahan di PBNU

June 5, 2026
KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang Rembang.

Gus Rosikh: NU Jangan Dibuat Mainan, Jangan Jadi Alat Kepentingan Antar Kelompok, NU Ora Didol, Reformasi PBNU

June 5, 2026
Prabowo Mania 08 Apresiasi Pergantian Kepala BGN Baru Naniek S. Deyang

Prabowo Mania 08 Apresiasi Pergantian Kepala BGN Baru Naniek S. Deyang

June 4, 2026
Pemberantasan Korupsi di BGN, Bukti Nyata dan Komitmen Prabowo Sesuai Amanat Reformasi 98

Pemberantasan Korupsi di BGN, Bukti Nyata dan Komitmen Prabowo Sesuai Amanat Reformasi 98

June 4, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Sunday, June 7, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

Oleh: Husain Sanusi

liputan9news by liputan9news
May 29, 2026
in Opini
A A
0
Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

Menjemput Takdir Sejarah: Sinyal Kuat Cirebon sebagai Tuan Rumah Muktamar Ke-35 NU

561
SHARES
1.6k
VIEWS

CIREBON | LIPUTAN9NEWS

– ⁠- Kunjungan Menteri Sosial, Saefullah Yusuf atau Gus Ipul, selaku Ketua Muktamar NU, ke Pesantren Bina Insan Mulia dan perjumpaannya dengan sang pengasuh, KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz), sama sekali bukan silaturahmi biasa.

Pertemuan ini menyiratkan gaung yang bersambut setelah PCNU Cirebon Raya secara resmi mengajukan diri sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Dalam pembacaan politik-organisatoris, kehadiran Gus Ipul di Cirebon adalah sebuah sinyalemen yang sangat terang.

Sebagai pemegang kendali strategis perhelatan muktamar, langkah Gus Ipul menemui tokoh sentral di Cirebon menunjukkan adanya perhitungan matang dari PBNU terhadap wilayah ini.

BeritaTerkait:

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

Siklus 100 Tahun PBNU (Perkumisan Besar Nahdlatul Ulama)

KH Imam Jazuli Siapkan Revolusi Tranformatif 5.000 Pesantren, Pengasuh dari 34 Provinsi Digembleng Sepanjang 2026

Di sisi lain, komitmen Kiai Imjaz yang menyatakan siap “membantu secara total” bukanlah sekadar retorika bagian dari tuan rumah yang ramah.

Kabarnya, bahkan siap membantu pantia menempatkan peserta Muktamar di hotel bintang 3-5, plus konsumsinya.

Pernyataan tersebut adalah garansi kultural sekaligus material bahwa Cirebon tidak sekadar menyodorkan proposal administratif, melainkan telah menyiapkan otot penggerak dan kapital sosial yang nyata di akar rumput.

Pertemuan dua tokoh ini bertemunya dua kutub penting: otoritas struktural PBNU dan kesiapan kultural pesantren Cirebon.

Sinyal positif yang memancar dari pertemuan tersebut membawa kita pada satu pertanyaan reflektif: Mengapa memang harus Cirebon?

Cirebon adalah Jantung, Bukan Pinggiran Sejarah

Bila kita menelaah lebih dalam, menunjuk Cirebon sebagai tuan rumah Muktamar bukanlah sekadar memilih lokasi geografis, melainkan sebuah langkah untuk menjemput takdir sejarah.

Cirebon bukan sekadar wilayah lintasan di Pantura. Ia adalah detak jantung sejarah Islam Nusantara.

Di tanah inilah dakwah tumbuh dan mengakar selama berabad-abad, menjadikannya kota santri yang denyut sosial-keagamaannya bertaut erat dengan ruh Nahdlatul Ulama.

Di tanah ini berdiri kokoh pesantren-pesantren sepuh yang menjadi benteng penjaga sanad keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah, seperti Pesantren Babakan, Buntet, Gedongan, hingga Balarante.

Mereka bukanlah lembaga pendidikan kemarin sore, melainkan rahim sejarah yang telah melahirkan ribuan ulama, kiai, pejuang, serta kader-kader penggerak NU lintas zaman.

Lebih dari itu, Cirebon menyimpan jejak spiritual yang teramat dalam.

Berdirinya maqbarah dan jejak dakwah Sunan Gunung Jati menjadi penanda abadi bahwa sejak mula, Cirebon adalah pusat penyebaran Islam yang mengedepankan hikmah, kebudayaan, dan persatuan.

Menggelar Muktamar NU di Cirebon sama artinya dengan menghadirkan kembali ingatan kolektif umat tentang akar dakwah Islam yang teduh, moderat, dan membumi.

Di tengah tantangan zaman yang kian mengeras, napas dakwah Sunan Gunung Jati adalah oase yang sangat relevan untuk terus dihidupkan oleh jam’iyah.

Mata Air Perjuangan Nahdlatul Ulama

Secara historis, Cirebon memiliki ikatan darah dengan sejarah perjuangan Nahdlatul Ulama. Banyak tokoh besar NU yang lahir, dibesarkan, dan berkiprah di kawasan Cirebon Raya.

Kita tentu mengingat sosok KH Abbas Abdul Jamil dari Buntet Pesantren, ulama kharismatik yang menjadi panglima laskar jihad NU pada masa Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Peran heroisme beliau dalam menggerakkan santri adalah bagian tak terpisahkan dari tegaknya republik ini.

Selain itu, ada pula KH Abdul Chalim, tokoh kunci dan salah satu pendiri NU yang menjabat sebagai sekretaris Tanfidziyah pertama. Secara historis dan sosiologis, kiprah beliau masih berada dalam orbit kultural Cirebon Raya.

Fakta-fakta ini menegaskan satu hal: dalam peta sejarah NU, Cirebon adalah salah satu mata air utama yang ikut menghidupkan dan menjaga nyala organisasi sejak masa embrio hingga hari ini.

Kesiapan Pragmatis: Episentrum yang Rasional
Romantisme sejarah tentu tak cukup untuk menyelenggarakan hajat raksasa sekelas Muktamar. Di sinilah letak keunggulan rasional Cirebon yang diyakini turut menjadi pertimbangan utama Gus Ipul.

Berada persis di tengah Pulau Jawa, Cirebon sangat mudah dijangkau dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, maupun Jawa Timur.

Titik ini dikelilingi oleh infrastruktur kelas satu: Bandara Internasional Kertajati, jaringan Tol Trans Jawa, serta persimpangan jalur kereta api nasional yang sangat aktif.

Kesiapan fasilitas akomodasinya pun sangat mumpuni. Selain ratusan pesantren yang siap disulap menjadi pusat kegiatan dan penginapan khas santri dengan daya tampung masif, Cirebon juga ditopang oleh infrastruktur komersial yang matang.

Tercatat sekitar 1.960 kamar hotel berbintang tiga dan empat siap digunakan, belum termasuk jaringan penginapan kelas menengah dan homestay yang tersebar merata di penjuru kota dan kabupaten.

Pada akhirnya, kita meyakini bahwa Muktamar NU bukanlah sekadar forum administratif untuk merevisi aturan atau suksesi kepemimpinan.

Muktamar adalah ruang perjumpaan batin, etalase kebudayaan, ajang kaderisasi, dan kompas peneguhan arah peradaban.

Hasrat Cirebon untuk mengambil bagian dalam khidmah besar ini berangkat dari kesadaran paripurna.

Cirebon tidak hanya siap secara teknis dan logistik, tetapi juga telah matang secara historis, kultural, dan batiniah.

Jabat erat antara Gus Ipul dan Kiai Imjaz adalah pendulum yang mulai bergerak—sebuah harapan besar agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama benar-benar pulang ke tanah para santri, tanah para pejuang, dan tanah yang sejak berabad silam merawat napas Islam Nusantara.

Muktamar adalah ruang perjumpaan batin, etalase kebudayaan, ajang kaderisasi, dan kompas peneguhan arah peradaban.

Hasrat Cirebon untuk mengambil bagian dalam khidmah besar ini berangkat dari kesadaran paripurna.

Cirebon tidak hanya siap secara teknis dan logistik, tetapi juga telah matang secara historis, kultural, dan batiniah.

Jabat erat antara Gus Ipul dan Kiai Imjaz adalah pendulum yang mulai bergerak—sebuah harapan besar agar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama benar-benar pulang ke tanah para santri, tanah para pejuang, dan tanah yang sejak berabad silam merawat napas Islam Nusantara.

Husain Sanusi, Pegiat Literasi Santri

Tags: Gus IpulImam JazuliMuktamar Ke-35 NUTakdir Sejarah
Share224Tweet140SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi
Nasional

Kiai Imjaz Bina Insan Mulia: Ketika Pesantren Berani Bertransformasi, PTN dan Beasiswa Global bukan Lagi Mimpi

by liputan9news
June 1, 2026
0

CIREBON | LIPUTAN9NEWS Masa depan pesantren tidak ditentukan oleh besarnya tantangan, melainkan oleh keberanian untuk berubah. Ketika pesantren mampu mengelola...

Read more
Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

Tingkatkan Wawasan Global, Pesantren Bina Insan Mulia Berangkatkan 17 Santri ke New Zealand

May 30, 2026
Siklus 100 Tahun PBNU (Perkumisan Besar Nahdlatul Ulama)

Siklus 100 Tahun PBNU (Perkumisan Besar Nahdlatul Ulama)

May 30, 2026
KH Imam Jazuli Siapkan Revolusi Tranformatif 5.000 Pesantren, Pengasuh dari 34 Provinsi Digembleng Sepanjang 2026

KH Imam Jazuli Siapkan Revolusi Tranformatif 5.000 Pesantren, Pengasuh dari 34 Provinsi Digembleng Sepanjang 2026

May 25, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2579
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
KH. Khotimi Bahri, Katib Syuriah PCNU Kota Bogor dan Sedang Menyelesaikan Program Doktoral di SPI UNUSIA

Salafi-Wahabi Dalam Sejarah Gerakan Radikalisme Islam

June 6, 2026
Gus Salam; Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

Gus Salam: Inovasi Khidmah NU Sulsel Berbasis Potensi Dan Kearifan Lokal

June 6, 2026
Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

June 6, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In