• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Tidak Ada Politik Islam di Indonesia

October 27, 2022
AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB)

PNIB Apresiasi Polri, Bahar Smith Tersangka Kasus Dugaan Persekusi Banser di Tangerang

February 2, 2026
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/01/2026).(Foto: Liputan9news/MSN 2026)

Gus Yahya Tegaskan PBNU Dukung Indonesia Gabung Board of Peace (BoP)

February 2, 2026
Foto: Ilustrasi

Doa Aulia Allah Khusus untuk Malam Nisfu Sya’ban Lengkap dengan Latin dan Artinya

February 2, 2026
BEM PTNU Lampung Apresiasi Sikap Kapolri

BEM PTNU Lampung Apresiasi Sikap Kapolri

February 2, 2026
HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder Owner Rokok Bintang Sembilan

Rokok Rakyat dan Konglomerat dalam Paradoks Kebijakan Cukai

February 2, 2026
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Tersangka Kasus Penganiayaan, Polisi Gunakan Pasal Pencurian dengan Kekerasan

February 2, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Tidak Ada Politik Islam di Indonesia

Oleh: Sulaiman Djaya, (Pengurus Majelis Kebudayaan Banten)

Abdus Saleh Radai by Abdus Saleh Radai
October 27, 2022
in Uncategorized
A A
0
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Penyair dan Budayawan

505
SHARES
1.4k
VIEWS

Seorang teman berkata, bahwa saat ini di Indonesia tengah terjadi kebangkitan konservatisme keagamaan dan Islam Politik. Saya jawab, jika kebangkitan konservatisme yang kau maksud adalah konservatisme keagamaan sebagaimana yang saya pahami seperti Revolusi Islam Iran, itu malah bagus, dan yang kedua, soal Islam Politik, bagi saya tidak ada Politik Islam di Indonesia, yang ada di Indonesia adalah politisasi Islam seperti yang dulu dikhawatirkan Cak Nur sampai-sampai mengeluarkan kredo: Islam Yes, Partai Islam No! Karena dalam pemahaman saya, Cak Nur melihat di Indonesia itu memang yang ada dan terjadi adalah upaya dan usaha yang tak pernah berhenti untuk mempolitisasi agama demi kepentingan sekuler.

Jawaban saya kepada seorang teman itu karena bagi saya yang dimaksud Islam Politik itu yah seperti Revolusi Islam Iran 1979 yang jelas ideologi, argumen dan tujuan-nya: semangat keagamaan yang mencerahkan dengan tujuan memerdekakan manusia dari tirani dan penindasan serta ketakbebasan yang akan menghilangkan jati diri kemanusiaannya sebagai pribadi dan manusia, bukan agama yang memperbudak dan menjadi alat tirani. Sebenarnya saya kecewa juga kepada para sarjana lulusan Barat yang mengimani secara ideologis, dan lalu menulis bahwa politik Islam itu buruk. Mereka sepertinya tidak memahami bahwa politik yang diajarkan Islam itu ajaran, nilai, dan gerakan yang bertujuan mencerahkan dan memerdekakan manusia.

Para sarjana itu bagi saya ‘korban’ pabrikasi (pencetakan dan penyamaan) oleh dogmatisme akademik universitas atau perguruan tinggi yang kepentingan utamanya adalah terpenuhinya capaian yang ingin didapatkan kapitalisme: pemetaan demi tujuan strategis politik global. Istilah-istilah seperti Islamisme dan Fundamentalisme diciptakan dalam rangka ‘memudahkan’ pemetaan demi tujuan strategis yang sama. Dalam hal ini, para sarjana Barat atau para sarjana non-Barat yang lulusan perguruan tinggi atau universitas di Barat memaksudkan Islamisme sebagai komunitas atau gerakan sebagian kaum muslim yang mereka identifikasi sebagai kelompok atau kaum yang memiliki ciri-ciri apa yang mereka sebut sebagai Islam Politik. Segaris dengan ini, sebagai contoh, Revolusi Islam Iran 1979, mereka anggap sebagai Fundamentalisme dan Islamisme, yang sayangnya mereka samakan dengan Wahabisme dalam cakupan istilah dan definisi yang sama. Padahal, Islam di Iran dan Wahabisme seumpama perbedaan antara terang dan gelap.

BeritaTerkait:

Beratnya Beban Kerja Panitia Pilkada, Ali Mochtar Ngabalin: E-Voting sebagai Solusi Bijak

Rumi

BEM PTNU Se-Nusantara Tegas Menolak Wacana Pilkada dipilih oleh DPRD.

Membaca Gestur Politik KH Miftachul Akhyar dalam Resolusi Konflik PBNU

Political Science karena didesak kebutuhan pemetaan yang demikian, pada akhirnya tak sanggup menghindarkan diri dari reduksi dan generalisasi. Yang pertama adalah praktik kekerasan memasukkan sesuatu yang tak sama dan tidak tepat bersama-sama dengan sesuatu yang lainnya, dan yang kedua melakukan penyimpulan berdasarkan kasus sebagai kebenaran universal atau kebenaran umum. Sebagai contoh, para sarjana umumnya menggunakan istilah Islam Sunni yang di dalamnya mencakup pula sekte Wahabi (yang mana Wahabi ditolak para ulama Sunni se-Dunia sebagai bagian dari mereka) dan tidak diakui sebagai bagian dari Mazhab Islam oleh ulama se-Dunia ketika mereka memetakan mazhab Islam demi membedakannya dengan Islam Syi’ah.

Barangkali saja, ketika ada sejumlah sarjana lulusan Barat menyatakan Islam Politik dan Politik Islam di Indonesia semisal kelompok yang menyuarakan gerakan khilafah itu, maka itu hanya kulit luar saja. Karena mereka yang menyuarakan pendirian khilafah itu adalah kaum dan golongan yang dibajak dan menjadi korban indoktrinasi kelompok Islam Proksi yang garis kepentingannya adalah tujuan politik global Barat (Amerika dkk) yang memiliki motif dan kepentingan menyebarkan ekstrimisme melalui elite-elite yang mereka kendalikan dan mereka bayar. Maka tak heran, ketika sejumlah elite monarkhi Saudi Arabia, misalnya, sempat menyatakan bahwa mereka menyabarkan doktrin dan ideologi Wahabi mereka ke seluruh dunia atas permintaan Barat (Amerika dkk). Maka sebut saja yang demikian sebagai Pseudo Islam Politik atau Islam Politik Gadungan (palsu).

Hal demikian terbukti dengan kasus ISIS, ketika kaum muslim ekstrim dan yang termakan isu pendirian khilafah, banyak yang menjadi begundal ISIS. Sementara elite-elite dan pemimpin ISIS itu sendiri dikendalikan dan ‘dibayar’ oleh Amerika, Israel dkk. Mereka yang kemudian menjadi para begundal ISIS itu, contohnya, adalah mereka yang menjadi korban kampanye-kampanye takfir (pengkafiran) terhadap sesama muslim, misalnya kepada Islam Syi’ah. Mereka-mereka yang termakan isu murahan (fitnah) bahwa konflik dan Perang Suriah adalah perang Sunni dan Syi’ah seperti yang dihembuskan oleh Bachtiar Nasir dkk.

Singkat kata, istilah-istilah dan definisi-definisi yang digunakan dalam diskursus dan penulisan di ranah ilmu sosial termasuk political science atau dalam sains sekalipun memang berguna demi pemetaan dan ‘penyederhanaan’, namun bukan berarti merepresentasikan kebenaran dan validitas. Malah seringkali merupakan reduksi semata, untuk tidak dikatakan ‘praktik kebohongan’ demi kepentingan politis dan strategis atas nama sains dan diskursus akademik.

Oleh: Sulaiman Djaya, Pengurus Majelis Kebudayaan Banten

Tags: PolitikPolitik IdentitasPolitik IslamSulaiman Djaya
Share202Tweet126SendShare
Abdus Saleh Radai

Abdus Saleh Radai

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Prof. Ali Mochtar Ngabalin
Nasional

Beratnya Beban Kerja Panitia Pilkada, Ali Mochtar Ngabalin: E-Voting sebagai Solusi Bijak

by Moh. Faisal Asadi
January 20, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Beban kerja berat yang dialami panitia pemilihan kepala daerah (pilkada) kembali menjadi perhatian. Pengalaman di lapangan menunjukkan...

Read more
Rumi

Rumi

January 17, 2026
Achmad Baha’ur Rifqi, Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara (Foto: WLY/GW/MSN)

BEM PTNU Se-Nusantara Tegas Menolak Wacana Pilkada dipilih oleh DPRD.

December 30, 2025
Membaca Gestur Politik KH Miftachul Akhyar dalam Resolusi Konflik PBNU

Membaca Gestur Politik KH Miftachul Akhyar dalam Resolusi Konflik PBNU

December 29, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal), Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB)

PNIB Apresiasi Polri, Bahar Smith Tersangka Kasus Dugaan Persekusi Banser di Tangerang

February 2, 2026
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam konferensi pers di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/01/2026).(Foto: Liputan9news/MSN 2026)

Gus Yahya Tegaskan PBNU Dukung Indonesia Gabung Board of Peace (BoP)

February 2, 2026
Foto: Ilustrasi

Doa Aulia Allah Khusus untuk Malam Nisfu Sya’ban Lengkap dengan Latin dan Artinya

February 2, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In