• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum

Syekh Yusuf An-Nabhani Mengitsbat Ba’alwi Berbasis Subjektifitas Tanpa Data dan Dalil

July 13, 2024
HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder Owner Rokok Bintang Sembilan

Rokok Rakyat dan Konglomerat dalam Paradoks Kebijakan Cukai

February 2, 2026
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur

Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia Di BoP dan NU Harus Tegas Mengingatkan

February 1, 2026
Gus Yahya

Rais Aam dan Sekjen PBNU Hingga Prabowo tidak Hadiri Harlah Ke-100 NU, Ini Penjelasan Gus Yahya

February 1, 2026
Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM., Pengamat Sosial dan Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN Bandung

Meneguhkan Polri di Bawah Presiden: Kuatkan Agenda Reformasi, Bukan Degradasi Institusi

February 1, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Syekh Yusuf An-Nabhani Mengitsbat Ba’alwi Berbasis Subjektifitas Tanpa Data dan Dalil

Oleh: KH Imaduddin Utsman

liputan9news by liputan9news
July 13, 2024
in Uncategorized
A A
0
KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum

KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum/Foto: Liputan9news

513
SHARES
1.5k
VIEWS

Banten, LIPUTAN 9 NEWS

“Klaim adanya ijma’ dari Syekh Yusuf al Nabhani bahwa nasab paling sahih itu jelas tidak sesuai kenyataan. Klaim ijma nasab Ba’alwi paling sahih itu tertolak.” (Kiai Imad)

Salah seorang yang menyebut nasab Ba’alwi adalah Syaikh Yusuf al-Nabhani (w. 1350 H). ia bukan keluarga Ba’aawi. penyebutan oleh An-Nabhani ini, banyak dinukil oleh pembela nasab Ba,alwi sebagai salah satu hujjah ketersambungan nasab Ba’alwi. Apakah benar pernyataan Syekh Yusuf al nabhani ini bisa menjadi hujjah?

Sebelumnya mari kita berkenalan dengan Syekh Yusuf al Nabhani. Nama lengkapnya adala Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Ismail bin Hasan bin Muhammad al Nabhani. Ia lahir tahun 1846 H. di Palestina. Ia belajar di Universitas Al Azhar Mesir. Setelah ia keluar dari Al Azhar, ia bekerja sebagai redaktur di Koran “Al Jawa’ib” di kota Al Astanah Kajakstan. Ia wafat tahun 1932 M di Beirut (Riyadul Jannah h. 15). Dilihat dari tahun wafatnya Ia jauh lebih yunior dari Syekh Nawawi al Bantani yang tercatat wafat tahun 1897 M.

BeritaTerkait:

KH. Abdul Hakim Mahfudz: Kombinasi Nasab, Leadership, dan Kemandirian Ekonomi sebagai Modal Kuat Memimpin PBNU

Kitab Minhajunnassabin, NU dan Santri Bermasyrab Quburiyah

Utsman bin Yahya Ulama atau Alat Kekuasaan Kolonial?

Menyelesaikan Polemik Nasab Ba’alawi di Indonesia

Dalam kitabnya, Riyadul jannah fi Adzkaril Kitab wassunnah, ia memuji nasab Ba’alwi. Mari kita perhatikan bagaimana kalimat Syaikh Yusuf al Nabhani ketika ia memuji Ba’alwi sebagai berikut:

«إن سادتنا آل باعلوي، قد أجمعت الأمة المحمدية في سائر الأعصار و الأقطارِ، على أنهم من أصح أهل بيتِ النبوة نسباً، وأثبتهم حسباً، و أكثرهم علماً و عملاً و فضلاً و أدباً. وهم كلهم من أهل السنة والجماعة، على مذهب إمامنا الشافعي رضي الله عنه

“Sesungguhnya para sadat kita Ba’alwi telah berijma’ umat Nabi Muhammad SAW di seluruh masa dan daerah bahwa sesungguhnya mereka termasuk dari paling sahihnya nasab ahli bait Nabi, dan paling tetap pangkatnya, dan paling banyak ilmu, amal, keutamaan, dan akhlaknya. Dan mereka semuanya dari ahlisunnah waljama’ah madzhab Imam Sayfi’I” (Riyadul Jannah h. 23).

Bagi orang bodoh, suatu ungkapan dari orang lain akan ditakar oleh subjektifitas: “siapa yang mengatakan”. Sedangkan bagi orang cerdas, suatu ungkapan akan ditakar oleh objektifitas: “apa yang dikatakan”. Orang bodoh ketika menilai sesuatu mengandalkan perasaannya. Perasaan suka atau tidak suka; dekat atau tidak dekat. Lalu perasaan ini dikedepankan dengan mengabaikan nalar kritisnya.

Dengan itu sepanjang masa, orang-orang bodoh selalu dimanfaatkan orang-orang yang punya tujuan untuk mendapatkan kepentingannya walau harus mengorbankan orang-orang bodoh tersebut. Orang-orang cerdas ketika mendapatkan suatu narasi ia tidak akan menerimanya begitu saja, ia bawa narasi itu ke hadapan realitas: sesuai atau tidak; benar atau salah, baru ia akan menerima atau menolak.

Makanya di dalam Islam, jihad yang diajak oleh Nabi dengan resiko hilangnya nyawa itu, tidak hanya dijanjikan surga tetapi juga harta ganimah. Jika ia mati mendapatkan surga; jika ia hidup mendapatkan harta. Itu semua karena Islam menghargai hak-hak kemanusiaan yang dimiliki setiap individu untuk hidup sejahtera.

Berbeda dengan para pimpinan ormas Islam yang mendoktrin pengikutnya yang bodoh untuk berbuat sesuatu atas nama agama, namun, hak-hak kemanusiaannya diabaikan. Dengan doktrin agama, ia menuntut pengikutnya untuk setia kepadanya, tetapi sama sekali pengikutnya itu tidak akan mendapatkan apapun dari kesetiaannya selain kerugian. Ia ajak pengikutnya berdemo dengan biaya sendiri dengan dalih perjuangan dan keikhlasan, sementara sebenarnya ia sedang menjaring para “dalang tajir” untuk kekayaannya. Jika ada pengikutnya yang absen tidak mengikuti suatu kegiatan yang ia agendakan, maka ia akan mengecapnya sebagai orang yang tidak istiqomah dalam berjuang dan tidak mempunyai keikhlasan.

Jika ada pimpinanya diundang berceramah di suatu provinsi, maka pengikutnya yang ada di provinsi itu harus hadir di titik-titik tempat pimpinannya itu berceramah, walaupun jarak rumah pengikutnya itu ratusan kilometer. Tentu untuk dapat hadir ke acara yang jauh itu harus membutuhkan biaya, dan ia pun harus meninggalkan kegiatan rutinnya yang berharga. Kadangkala di bulan-bulan tertentu acara pimpinannya itu bisa 20 titik di suatu provinsi, dan ia harus selalu datang ke seluruh acara itu, kalau tidak ia akan di cap sebagai pengikut yang tidak setia, tidak ikhlas dan pengecut. Padahal kedatangannya hanya sebagai jama’ah untuk membuat kesan bahwa pimpinannya itu banyak pengikutnya. Ormas semacam ini harus ditinggalkan karena hanya akan merugikan, baik dunia maupun akhirat.

Dalam ungkapan Syekh Yusuf al Nabhani tersebut, ia melakukan apa yang disebut “da’watul ijma’” (mengklaim adanya ijma’ ulama) tentang beberapa hal, yaitu: pertama, ijma’ ulama bahwa nasab Ba’alwi adalah nasab yang paling sahih; kedua, ijma’ ulama bahwa Ba’alwi paling tetap kedudukannya; ketiga, bahwa Ba’alwi paling banyak ilmunya, amalnya, keutamaannya dan akhlaknya; keempat, bahwa Ba’alwi semuanya Ahlussunnah wal jama’ah bermadzhab Syafi’i. Benarkah semua klaim itu? mari kita bongkar satu persatu.

Klaim adanya ijma’ dari Syekh Yusuf al Nabhani bahwa nasab paling sahih itu jelas tidak sesuai kenyataan. Klaim ijma nasab Ba’alwi paling sahih itu tertolak. Karena, mensahihkan nasab Ba’alwi berarti mensahihkan bahwa Ubaid adalah anak Ahmad bin Isa. sementara, nasab Ubed tertolak sebagai anak Ahmad berdasarkan kitab nasab Abad ke-5-9 Hijriah. Jadi ungkapan Syekh Yusuf al Nabhani bahwa “telah terjadi ijma’ ulama tentang bahwa nasab Ba’alwi adalah nasab paling sahih” itu seluruhnya tidak dapat dibenarkan. Pertama klaim adanya ijma, itu jelas tidak terbukti. Bagaimana adanya ijma’, keberadaan sosok Ubed saja tidak terbukti; kedua, klaim paling sahih, jelas tertolak. Jangankan disebut bahwa nasab Ba’alwi paling sahih, dikatakan nasab sahih saja tertolak. Nasab Ba’alwi adalah nasab yang batil, munqoti’un, maudhu’un (nasab batal, terputus dan palsu).

Syekh Yusuf al Nabhani tidak membawakan satupun dalil bahwa benar Ubaid adalah anak Ahmad bin Isa. ia hanya bernarasi lepas tanpa data. Sementara data menyebutkan tidak ada satupun kitab nasab yang menyebut nama Ubed sebagai anak Ahmad bin Isa sampai Ba’alwi mengakuinya sepihak di abad sembilan tanpa adanya satupun sumber dari kitab nasab yang menjadi referensinya. kitab Syajarah Mubarakah abad ke-6 menyebutkan anak Ahmad bin Isa hanya tiga: Muhammad, Ali dan Husain, tidak ada Ubed. Dari sini “da’watul ijma’” (pengakuan adanya ijma’) tentang sahihnya nasab Ba’alwi yang disebutkan oleh Syekh Yusuf itu adalah hoak belaka. Nasab Ba’alwi itu “maudu’” (diciptakan) baru abad sembilan Hijriah, sebelumnya “zero”. Keberadaanya pun tertolak secara permanen oleh kitab Al Syajarah al Mubarakah.

Begitupula klaim adanya ijma’ bahwa nasab Ba’alwi paling teritsbat kedudukannya. Itu tidak terbukti. Bahkan paling tertolak. Begitupula klaim adanya ijma’ bahwa Ba’alwi paling banyak ilmunya, amalnya, keutamaannya dan akhlaknya. Semua itu tidak terbukti. Khusunya di Indonesia hari ini. para Ba’alwi dari sisi ilmu, ceramah-ceramah mereka di media sosial lebih menjual khurafat daripada ilmu; dari sisi amal, kebanyakan mereka suka berjoged; dari sisi akhlak, penceramah mereka suka mencaci maki dan berkata kotor. Lalu klaim adanya ijma’ tentang ilmu, amal dan akhlak itu dilihat dari mana?

Lalu klaim Syekh Yusuf al Nabhani bahwa telah terjadi ijma’ ulama, bahwa Ba’alwi semuanya Ahlussunnah wal jama’ah bermadzhab Syafi’I itu hoak juga. Buktinya di Indonesia ini para Ba’alwi banyak yang bermadzhab Syi’ah. Contohnya Husen al Habsyi Bangil, itu Syi’ah. Begitu juga Haidar Bagir al Habsyi, Umar al Seggaf Solo, Husin Abdullah Solo, dll, semuanya Syi’ah. Jadi klaim adanya ijma’ bahwa seluruh Ba’alwi adalah ahlussunnah dan bermadzhab Syaf’ii itu jelas tertolak.

Setelah penulis telaah, ternyata Syekh Yusuf al Nabhani memuji nasab Ba’alwi, bukan karena ia telah meneliti nasab tersebut, tetapi karena ia adalah murid dari dua orang yang berasal dari klan Ba’alwi. Syekh Yusuf al Nabhani tercatat sebagai murid dari Ahmad bin Hasan al Athas (w. 1334 H.) dan Hasan bin Muhammad al Habsyi (lihat Wikipedia). Iapun banyak bergaul dengan para Ba’alwi. Selain itu, ia saling berkirim surat dengan kaum Ba’alwi. Dapat ditambahkan pula, bahwa ia mendapatkan banyak referensi untuk kitab yang ditulisnya tersebut, dari koleganya yang seorang ulama Ba’alwi, ia bernama Zainal Abdidin Jamalullail. Sosok tersebut meminjamkan dua buah kitab karya kakeknya yang berjudul “Rahatul Arwah bi Dzikril Fattah” dan hasyiyahnya (lihat kitab Riyadul Jannah h. 23) .

Maka penulis berkesimpulan, yang dinyatakan oleh Syekh Yusuf an-Nabhani tentang adanya ijma bahwa nasab Ba’alwi adalah nasab yang paling sahih, sama sekali tidak sesuai dengan realitas kebenaran yang instrument pengukurannya telah tersedia. ia mengitsbat Ba’alwi tanpa dalil dan data apapun. Itu semua terdorong oleh semangat subjektifitas karena ia murid dari dua orang yang berasal dari klan Ba’alwi. hal yang sama terjadi di Indonesia, para pembela nasab Ba’alwi yang telah terbukti tidak tersambung kepada Rasulullah itu kebanyakan adalah sisa-sisa anggota FPI, karena pemimpinnya berasal dari klan Ba’alwi. Atau sedikit anak-anak NU yang belajar di Darul Mustafa Yaman atau lembaga milik Ba’alwi lainnya. Begitu juga ia yang masih membela itu, disebabkan karena sudah terlanjur mempunyai menantu atau besan dari klan Ba’alwi, atau alasan-alasan subjektifitas lainnya.

Klan Ba’alwi yang di ingin dipanggil habib itu, sudah terbukti bukan keturunan Nabi Muhammad SAW. dari sisi ilmu nasab terputus, dari sisi ilmu sejarah tidak terkonfirmasi, dari hasil tes DNA mustahil sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. lalu, berdasar apa anda masih membelanya? Apakah surga dan isinya yang indah, dengan bunga-bunga berwarna warni, dengan kemewahan tiada tara, dengan bidadari cantik yang menghiasinya, tidak membuat anda tertarik memasukinya, hanya karena ingin membela orang yang mengaku cucu Nabi padahal DNA nya terbukti melenceng ke mana-mana?

KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Kampung Cempaka, Desa Kresek, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.

Tags: ItsbatNasabNasab Ba'alwiNasab HabibSyekh Yusuf An-Nabhani
Share205Tweet128SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

KH Abdul Hakim Mahfudz atua Gus Kikin (Foto: Ai/MSN)
Opini

KH. Abdul Hakim Mahfudz: Kombinasi Nasab, Leadership, dan Kemandirian Ekonomi sebagai Modal Kuat Memimpin PBNU

by liputan9news
January 13, 2026
0

CIREBON | LIPUTAN9NEWS Kepemimpinan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, selalu menjadi sorotan, tidak hanya karena...

Read more
KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum

Kitab Minhajunnassabin, NU dan Santri Bermasyrab Quburiyah

September 18, 2025
Utsman bin Yahya

Utsman bin Yahya Ulama atau Alat Kekuasaan Kolonial?

August 6, 2025
Nasab Ba'alwi

Menyelesaikan Polemik Nasab Ba’alawi di Indonesia

August 1, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
HRM. Khalilur R Abdullah Sahlawiy, Founder Owner Rokok Bintang Sembilan

Rokok Rakyat dan Konglomerat dalam Paradoks Kebijakan Cukai

February 2, 2026
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In