JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Fenomina degradasi moral di kalangan Nahdliyin, khususnya dari kalangan santri, akibat polarisasi internal PBNU sungguh memprihatinkan dan merupakan ironi tajam yang menusuk jantung doktrin fundamental pesantren: al-adab fauqol ilmi (adab di atas ilmu).
Media sosial, yang seharusnya menjadi medium dakwah dan silaturahmi, kini berubah menjadi arena pertarungan verbal yang brutal, di mana kosa kata “kamar belakang” (toilet) dan kosa kata kebun binatang keluar semua ke permukaan tanpa filter, mencoreng citra santri dan kewibawaan organisasi.
Sikap saling menghormati dan tabayyun (cek dan ricek informasi) yang diajarkan di pesantren dan tradisi NU, lenyap ditelan ego identitas kelompok. Kondisi ini adalah alarm merah bagi NU. Polarisasi struktural dan kultural telah menciptakan jurang komunikasi yang dalam, di mana fanatisme buta menggantikan nalar kritis berbasis adab.
Kini nyata, kita bersama menyaksikan sebuah pemandangan yang memilukan: santri dan nahdliyin, yang hampir semua pendidikannya berbasis diniyah pesanten, dulunya dikenal santun dan tawadhu, kini terbelah dalam kubu-kubu digital yang saling serang. Argumen rasional telah mati, digantikan oleh caci maki yang membabi buta.
Dan, yang paling memprihatinkan, serangan verbal tersebut tidak hanya menyasar sesama awam, melainkan juga diarahkan kepada para kiai sepuh, Mustasyar, Syuriah, bahkan Rais Aam. Otoritas keilmuan dan spiritual yang selama ini menjadi rujukan utama Nahdliyin runtuh di hadapan layar ponsel.
Adab seakan kabur, berganti dengan amarah, sarkasme, dan argumen yang pincang karena didorong oleh sentimen kubu-kubuan, bukan substansi keilmuan atau etika. Rasa skeptis pun muncul: masih relevankah bicara “adab” di tengah hiruk pikuk perpecahan ini?
Degradasi ini bukan sekadar dinamika biasa, melainkan krisis etika akut yang mengancam fondasi pesantren sebagai benteng moral bangsa. Ketika bayan (penjelasan) kalah oleh bully-an, ketika hujjah (argumen) tenggelam dalam hoax dan fitnah, kita kehilangan identitas kita sebagai komunitas yang menjunjung tinggi akhlak.
Kita seolah lupa bahwa dunia maya sama halnya dengan dunia nyata, memiliki konsekuensi moral dan jejak digital yang abadi. Setiap kata makian, setiap tuduhan tak berdasar, adalah pengkhianatan terhadap ajaran para muassis NU, para pendiri yang membangun organisasi ini dengan darah, keringat, dan, yang terpenting, adab yang mulia.
Momentum konflik internal PBNU ini seharusnya menjadi ajang introspeksi (muhasabah), bukan festival umpatan. Sudah saatnya kita, sebagai bagian dari keluarga besar Nahdliyin, menarik rem darurat, kembali kepada khittah, dan merajut kembali adab yang terkoyak.
Kembalikan kosa kata dari “kamar belakang” ke tempatnya semula, dan kembalikan al-adab fauqol ilmi ke singgasananya di hati dan lisan setiap santri. Jika tidak, ironi ini akan terus berlanjut. Generasi yang digadang-gadang sebagai pewaris ulama, justru menjadi aktor utama dalam pembunuhan karakter dan etika di ruang digital. Wallahu’alam Bishawab.***
KH. Imam Jazuli, Lc., MA, Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015

























