CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Nahdlatul Ulama (NU) saat ini berada di persimpangan sejarah yang krusial. Memasuki abad kedua, organisasi Islam terbesar di dunia ini tidak lagi hanya dituntut menjaga tradisi keagamaan (muhafazhah ala al-qadim al-shalih), tetapi juga melakukan akselerasi transformasi organisasi yang sistemik (al-akhdhu bi al-jadid al-ashlah).
Di tengah dinamika global dan tantangan sosiopolitik nasional, sosok KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) muncul bukan sekadar sebagai figur alternatif, melainkan sebagai kebutuhan objektif bagi struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendatang. Beberapa alasan, kenapa Gus Rozin layak dan ideal memimpin NU di Muktamar ke 35.
Salah satu alasan terkuat yang menempatkan Gus Rozin sebagai calon ideal adalah kemampuannya melakukan sintesis antara nilai-nilai luhur pesantren dengan manajemen organisasi modern. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, beliau mewarisi genetika intelektual dan spiritual dari KH. MA. Sahal Mahfudh. Namun, Gus Rozin tidak terjebak dalam romantisme masa lalu.
Ia memahami bahwa di abad ke-21, khidmah (pengabdian) kepada umat tidak cukup hanya dengan wejangan spiritual, melainkan harus didukung oleh tata kelola organisasi yang transparan, akuntabel, dan berbasis data. Pengalamannya memimpin RMI-PBNU (Asosiasi Pesantren NU) selama dua periode membuktikan kapasitasnya dalam mengonsolidasikan ribuan pesantren dengan pendekatan yang profesional namun tetap inklusif.
Gus Rozin memiliki rekam jejak unik sebagai “ulama teknokrat”. Perannya sebagai Staf Khusus Presiden RI selama beberapa tahun memberikan beliau perspektif makro mengenai bagaimana kebijakan publik berinteraksi dengan realitas sosial. Hal ini sangat krusial bagi PBNU.
NU membutuhkan pemimpin yang bisa berdialog dengan negara tanpa kehilangan independensinya, serta mampu menerjemahkan visi besar organisasi ke dalam program-program kerja yang konkret dan terukur. Gus Rozin tidak hanya berbicara tentang “keumatan” secara abstrak; ia berbicara tentang kemandirian ekonomi pesantren, penguatan literasi digital santri, dan perlindungan hukum bagi warga Nahdliyin.
Dalam konstelasi kepemimpinan nasional, seringkali organisasi besar terjebak pada figur yang menjadikan posisi ketua umum sebagai batu loncatan politik. Di sinilah letak distingsi utama Gus Rozin. Visi besar, komitmen, dan totalitasnya dalam mengemban amanah—seperti yang ia tunjukkan saat ini sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah—menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang telah “selesai dengan dirinya sendiri”
Fokus utamanya adalah menggerakkan roda organisasi di semua level, dari ranting hingga pusat. Beliau memahami bahwa kekuatan NU terletak pada akar rumput. Kepemimpinan Gus Rozin diprediksi akan membawa PBNU kembali pada khidmah sejatinya: menjadi pelayan umat yang hadir dalam setiap persoalan rakyat, mulai dari isu agraria, kemiskinan, hingga pendidikan.
Gaya kepemimpinan Gus Rozin menunjukkan adanya pergeseran dari pola kepemimpinan “top-down” menuju “collaborative leadership”. Ia adalah tipe pemimpin yang mendengarkan, namun tetap tegas dalam mengambil keputusan strategis. PBNU mendatang membutuhkan sosok yang mampu menjahit kembali fragmen-fragmen potensi warga NU yang tersebar di berbagai sektor—akademisi, profesional, pengusaha, hingga aktivis.
Gus Rozin saat ini menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah untuk masa khidmat 2024-2029, sebuah organisasi PWNU terbesar kedua setelah Jatim. Dalam masa kepemimpinannya, ia telah menunjukkan kapasitas manajerial dan visi yang kuat. Salah satu misi strategis yang dicanangkan Gus Rozin adalah membuka akses pendidikan dan pelatihan global bagi santri dan pelajar NU.
Inisiatif tersebut menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia NU agar siap bersaing di kancah internasional. Gus Rozin secara konsisten, juga menekankan pentingnya respons terhadap perkembangan teknologi informasi di lingkungan pesantren. Ia mengidentifikasi empat fokus transformasi digital, yang menunjukkan pemahaman mendalam tentang modernisasi pendidikan Islam di Indonesia.
Kemudian kemandirian organisasi, Gus Rozin mengemukakan tiga kemandirian NU yang harus diwujudkan: kemandirian politik, ekonomi, dan pemikiran. Visi ini bertujuan menjadikan NU sebagai organisasi yang mandiri dan tidak tersubordinasi oleh kekuatan luar, memastikan marwah organisasi tetap terjaga.
Setelah pelantikan pengurus PWNU Jateng, Gus Rozin menekankan pentingnya sinergi antar 18 lembaga di bawah naungan PWNU Jateng untuk mengakselerasi pembangunan daerah dan memajukan masyarakat. Keberhasilan dalam mengimplementasikan program-program visioner ini di tingkat wilayah menjadi bukti konkret kapasitas kepemimpinannya, yang dapat direplikasi dan ditingkatkan di tingkat PBNU.
Gus Rozin memiliki latar belakang pendidikan tinggi yang mumpuni, termasuk studi di Monash University di Australia. Pendidikan di salah satu universitas terkemuka di dunia ini memberikannya perspektif global dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan internasional.
Relevansi pendidikan internasionalnya dengan kepemimpinan PBNU mencakup: Jejaring Global: Latar belakang pendidikan ini memfasilitasi kemampuannya untuk membangun jejaring dan bergaul di kancah internasional, yang krusial bagi PBNU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia. Pengalaman hidup dan belajar di negara Barat memberikan Gus Rozin wawasan yang kaya tentang moderasi beragama dalam konteks global, memungkinkannya mempromosikan Islam rahmatan lil alamin khas NU secara efektif di panggung dunia.
Studi di institusi pendidikan kelas dunia juga melengkapi Gus Rozin dengan keterampilan manajerial modern dan tata kelola organisasi yang efektif, yang sangat dibutuhkan untuk mengelola PBNU yang kompleks dan besar. Dengan kombinasi pengalaman kepemimpinan lokal yang solid dan wawasan internasional yang luas, Gus Rozin dinilai siap untuk membawa PBNU ke level selanjutnya, menjawab tantangan domestik sekaligus memperkuat peran NU dalam diplomasi global.
Gus Rozin adalah representasi dari generasi baru pemimpin NU yang memiliki wawasan global namun tetap lokal di atas sajadah tradisi. Kehadirannya akan membawa angin segar bagi modernisasi jam’iyah, tanpa mencabut akar jama’ah. Pengalamannya yang panjang dan membentang dari ruang-ruang kelas pesantren hingga luar negeri dan meja-meja kebijakan strategis nasional menjadikan dirinya layak sebagai pemimpin yang dinantikan kehadirannya. Wallahu’alam bishawab.***
KH. Imam Jazuli, Lc., MA., adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.
























