• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Pemimpin Harus Mengafirmasi Aspirasi Masyarakat

February 25, 2026
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur Bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar

Tokoh Muda Nahdliyin Sebut NU Bukan Komoditas, Muktamar Harus Steril dari Mainan Aktor Politik

April 15, 2026
Tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji dan penyelenggaraan ibadah haji Yaqut Cholil Qoumas memasuki mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Yaqut Disebut KPK Siapkan USD1 Juta untuk Pansus Haji DPR

April 15, 2026
Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

April 15, 2026
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftahul Achyar, saat menghadiri Muskerwil PWNU Jawa Timur di Sunan Bejagung 2, Tuban, Jaw Timur, Minggu (12/4/2026) (Foto: ANTARA/HO-PWNU Jawa Timur)

Rais Aam PBNU Ungkap Gelaran Muktamar ke-35 NU pada 1-5 Agustus, Tempat Belum Pasti!

April 14, 2026
KPK Uangkap Polisi Aktif Terima Rp16 Miliar dari Proyek di Bekasi

KPK Uangkap Polisi Aktif Terima Rp16 Miliar dari Proyek di Bekasi

April 14, 2026
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, Founder Owner Bandar Rokok Nusantara Global Grup (Barong Grup) (Foto: Liputan9news/MSN)

Deklarasi PANCA AMPERA, Gus Lilur Sampaikan Lima Amanat Petani Tembakau Madura-Nusantara

April 13, 2026

Dukungan Tokoh Muda Alkhairaat Menguat, Helmi Kwarta Siap Menjadi Kapolda Sulteng

April 13, 2026
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo. (Foto: Liputan9nwes/MSN)

KPK Periksa Rokhmawan Pengusaha Rokok sebagai Saksi Dugaan Korupsi di Bea Cukai

April 13, 2026
Muhammad Ihsan Adz-Dzikra, Mahasiswa STMIK Tazkia Bogor, Semester 2 - Prodi Teknik Informatika

Bunga, Riba dan Dampaknya dalam Kehidupan Manusia

April 13, 2026
Koalisi Nasional Relawan Prabowo Gibran – Jokowi Laporkan Saiful dan Islah ke Bareskrim, Atas Himbauan Makar

Koalisi Nasional Relawan Prabowo Gibran – Jokowi Laporkan Saiful dan Islah ke Bareskrim, Atas Himbauan Makar

April 12, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Wednesday, April 15, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Pemimpin Harus Mengafirmasi Aspirasi Masyarakat

Oleh: Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya by Sulaiman Djaya
February 25, 2026
in Opini
A A
0
Sulaiman Djaya

Foto: Sulaiman Djaya

502
SHARES
1.4k
VIEWS

BANTEN | LIPUTAN9NEWS

“Sungguh, pemenuhan janji adalah kembaran kebenaran. Aku tidak mengetahui perisai yang lebih baik, terhadap serangan dosa, daripada itu. Orang yang menyadari realitas bahwa ia akan kembali ke akhirat, tak pernah berkhianat. Kita berada di suatu masa ketika orang memandang pengkhianatan sebagai kebijaksanaan. Pada hari ini, orang jahil menamakannya dengan hebatnya kecerdikan. Ada apa dengan mereka?” (Ali bin Abi Thalib)

Setiap kejadian atau peristiwa social-politik atau peristiwa sejarah adalah cermin dan bahan refleksi kita bersama. Demonstrasi (aksi) rakyat dan mahasiswa Indonesia pada 25 sampai 28 Agustus 2025 lalu, yang bahkan letupan-letupan sporadisnya hingga akhir Agustus dan awal September 2025 itu, sudah tentu merupakan peristiwa sosial, ekonomi, dan politik atau peristiwa historis (kesejarahan) bangsa kita, Indonesia. Dinamakan peristiwa kesejarahan sebab pemicu dan penyulutnya adalah faktor-faktor sosial ekonomi politik, yang merupakan faktor-faktor utama terjadinya peristiwa dan kejadian historis (kesejarahan).

Sejumlah analis menyatakan bahwa daya-gentar aksi (demonstrasi) rakyat dan mahasiswa bulan Agustus 2025 lalu itu mendekati daya-gentar (daya-dobrak) aksi (demonstrasi) mahasiswa 1998. Diantaranya karena aksi yang semula membesar di Jakarta itu, ternyata turut membesar dan menyebar juga ke kota-kota besar dan penting di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan, yang terbilang pulau-pulau besar di Indonesia.

Sebagai sebuah peristiwa ekonomi-politik (sociological and historical event), aksi (demonstrasi) Agustus 2025 yang terjadi di sejumlah kota-kota penting dan kota-kota besar tersebut, tentulah memberikan pengaruh (efek/effect) dan dampak (impact) ekonomi-politik pula, baik positif atau pun negatif, terutama sekali dalam keterkaitannya dengan eskalasi dan kebijakan ekonomi-politik pemerintah pusat (kementerian dan presiden) dan DPR RI yang berdampak pada kondisi kebijakan ekonomi-politik daerah-daerah dan kecemburuan (ketersinggungan) rakyat, khususnya dalam kebijakan distribusi anggaran dan kebijakan pajak regresif (PPN).

BeritaTerkait:

Belajar dari Einstein

Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Besar yang Menolak Tunduk Pada Penjajahan

Seni yang Menyadarkan

Ekoteologi dan Falsafah Perennial Ekologi Masyarakat Kanekes Banten

Secara umum, aksi (demonstrasi) rakyat dan mahasiswa bulan Agustus 2025 sesungguhnya merupakan ekspresi rakyat dan para mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi, sebelum kemudian ada aktor-aktor yang memperkeruhnya atau menungganginya untuk agenda mereka sendiri masing-masing.

Dalam hal demikian, kita perlu menimba pemahaman dan keinsyafan tentang apa itu ‘peristiwa sejarah’ dan ‘sejarah’ itu sendiri dari Ibn Khaldun, agar kita tak senantiasa mengulang kesalahan-kesalahan yang tidak produktif. Menurut sosiolog dan sejarahwan dunia itu, sejarah bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan ilmu tentang “umran” (peradaban) yang mempelajari dinamika sosial dan pertumbuhan masyarakat. Ia memperkenalkan metodologi kritis dengan menekankan verifikasi fakta dan analisis sebab-akibat.

Pemikiran dan pandangan kesejarahan multi-disiplin yang kelak dikembangkan Mazhab Annales Perancis di jaman modern, semisal oleh Lucien Febvre yang lalu dilanjutkan oleh figur-figur seperti Denis Lombard dan Claude Guillot. Dalam pandangan Lucien Febvre, yang tak jauh dengan pendahulunya, yaitu Ibn Khaldun, peristiwa sejarah bukanlah sekadar rangkaian kejadian tunggal, melainkan interaksi kompleks antara berbagai faktor, terutama struktur sosial, kondisi ekonomi, psikologi manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

Aksi (demonstrasi) rakyat dan mahasiswa bulan Agustus 2025 lalu itu harus kita mengerti sebagai reaksi dan tanggapan dari situasi atau kondisi ekonomi-politik Indonesia itu sendiri, terutama sebagai ‘aspirasi’ ketaksetujuan rakyat dan mahasiwa terhadap sejumlah kebijakan (oleh kementerian dan presiden, semisal Menteri Keuangan), perilaku politik dan gaya hidup DPR RI yang tidak sensitif dengan kenyataan atau kondisi objektif secara ekonomi yang menimpa kehidupan rakyat banyak, dan yang lainnya yang bisa dianalisis dan dipahami secara lebih lanjut dan lebih mendalam.

Diantara kebijakan yang memicu kemarahan rakyat dan mahasiswa itu adalah kenaikan pajak regresif (PPN) dan pemotongan anggaran TKD oleh Menteri Keuangan yang sampai puluhan triliun yang membuat sejumlah pemerintah daerah menaikkan pajak berkali-kali lipat sebagai upaya mempertahankan adanya pendapatan bagi daerah, tapi malah memantik kemarahan masyarakat di daerah, seperti yang diawali oleh masyarakat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang kemudian merembet dan menyebar ke daerah-daerah lain semisal Bone, Sulawesi Selatan. Dan sudah tentu, yang paling banyak disorot adalah kenaikan fantastis gaji dan tunjangan DPR RI yang dinilai paling banyak memicu kemarahan publik atau masyarakat Indonesia.

Terlepas dari kericuhan dan aksi pembakaran yang dilakukan pihak-pihak yang menunggangi dan memperkeruh di sejumlah daerah di pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi itu, aksi (demonstrasi) 25 Agustus 2025 tersebut dan sejumlah aksi susulannya, bila dicermati berdasarkan konteks umum aksi (demonstrasi) itu sendiri, telah menyumbang pada peningkatan kesadaran publik terhadap sejumlah isu dan kebijakan yang berdampak pada kehidupan rakyat.

Telah mendorong pemerintah (presiden, DPR RI, dan Menteri Keuangan) untuk meninjau atau mengubah kebijakan, menjadi medium atau wahana yang menjadi sarana penyampaian aspirasi yang efektif ketika jalur dialog sudah buntu dan ketika DPR RI dan pemegang kebijakan di pemerintahan pusat senjang dari kenyataan kehidupan riil rakyat, serta wujud nyata dalam memperkuat partisipasi warga dalam proses politik dan sosial sebagai hak politik mereka dalam rezim dan pemerintahan demokratis.

Demonstrasi (aksi) Agustus 2025 lalu itu dapat menarik perhatian publik dan media terhadap sejumlah isu tertentu, seperti kesenjangan kebijakan dan distribusi anggaran APBN antara untuk para elit dan untuk kepentingan rakyat banyak, sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong diskusi lebih lanjut mengenai sejumlah masalah tersebut.

Begitu pula, aksi (demonstrasi) Agustus 2025 telah memberikan tekanan kepada pemerintah (presiden dan Menteri Keuangan) atau lembaga terkait (DPR RI) untuk merevisi, membatalkan, atau membuat kebijakan baru yang sebelumnya dianggap merugikan masyarakat atau kebijakan yang tidak adil, menjadi kebijakan yang lebih adil.

Dalam hal demikian, demonstrasi (aksi) Agustus 2025 menjadi wadah penting bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat, keluhan, dan kritik terhadap kebijakan atau tindakan pemerintah yang timpang dan tidak adil, terutama ketika saluran komunikasi formal dianggap tidak efektif atau sudah buntu, atau ketika pemegang kebijakan kehilangan kepekaan mereka. Lewat aksi (demonstrasi) Agustus 2025, para mahasiswa dan rakyat Indonesia dapat menunjukkan partisipasi aktif dalam kehidupan bernegara dan sosial, serta menunjukkan solidaritas terhadap suatu tujuan atau maksud tertentu, selain tentu saja wujud nyata menghidupkan demokrasi sejati, yaitu demokrasi partisipatoris.

Dengan meletusnya aksi (demonstrasi) Agustus 2025 tersebut, pemerintah dan pejabat publik (seperti presiden, menteri keuangan, dan DPR RI) menjadi lebih termotivasi untuk bersikap lebih akuntabel dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, karena khawatir akan reaksi publik yang lebih besar dan berkelanjutan atau berlarut-larut, yang sangat mungkin mengganggu stabilitas politik dan ekonomi.

Momentum aksi (demonstrasi) Agustus hingga awal September 2025 itu sesungguhnya menegur kita semua, terutama sekali pemerintah dan para pemegang kebijakan, untuk senantiasa peka pada hidup keseharian rakyat dan kebutuhan pokok mereka untuk tidak direnggut kebijakan yang tidak adil dan senjang, yang merupakan syarat dan fondasi pertama Negara dan kedaulatannya setelah eksistensi wilayah atau geografi.

Terlebih, beberapa bulan setelah Presiden Prabowo Subianto dilantik secara resmi sebagai presiden Indonesia yang secara otomatis sebagai panglima tertinggi, sejumlah menterinya yang juga pernah menjabat di era Presiden Joko Widodo, membuat kegaduhan dan kemarahan masyarakat karena pernyataan-pernyataan dan kebijakan-kebijakan kontroversial mereka, yang akhirnya dianulir Presiden Prabowo Subianto.

Kebijakan-kebijakan kontroversial dan mengundang kemarahan publik itu contohnya adalah: Kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyebabkan kelangkaan gas elpiji 3 kg akibat pembatasan distribusi, yang kemudian memicu antrean panjang hingga tersiar berita ada yang meninggal karena kelelahan mengantri.

Beberapa minggu sebelum meletusnya aksi (demonstrasi) Agustus 2025, PPATK melakukan pemblokiran rekening secara sepihak. Langkah dan kebijakan ini tentu saja menebar ketakutan baru, terutama bagi pelaku usaha mikro yang modal usahanya bergantung pada simpanan kecil di rekening bank mereka, dan yang lainnya.

Belum lagi pernyataan sejumlah menteri yang kontraproduktif dan blunder, semisal mengejek mereka yang mencari kerja di luar negeri, padahal kerja di luar negeri bisa menyumbang devisa bagi Negara. Dan tak lupa, yang juga turut menjadi pemicu atau pemantik kemarahan masyarakat adalah pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam ceramahnya ihwal gaji guru dan dosen yang dirasa tidak pantas dan tidak patut dinyatakan seorang menteri jika menteri bersangkutan memahami Konstitusi Tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan demikian, adalah sebuah kearifan, bila demonstrasi (aksi) Agustus hingga awal September 2025 lalu itu haruslah dimengerti dan disikapi sebagai teguran untuk kita semua, terutama sekali untuk para pemegang kebijakan, agar lebih peka dan responsif terhadap kebutuhan bagi kebaikan bersama.

Setelah menyadari apa yang disuarakan rakyat dan para mahasiswa tersebut dalam aksi (demonstrasi) Agustus hingga awal September 2025 itu, yang menjadi pekerjaan selanjutnya bagi kita adalah kesungguhan dan upaya kita menciptakan masa depan bangsa ini yang lebih adil, bermartabat dan sejahtera. Meningkatkan kepercayaan publik atau masyarakat dengan kejujuran dan kinerja berkualitas para pejabat publik, termasuk dengan tidak semena-mena membuat kebijakan yang melukai hajat hidup mayoritas warga Negara.

Adalah upaya kita untuk terus berupaya memajukan bangsa ini dengan membenahi yang perlu dibenahi, mereformasi apa yang perlu direformasi, merenovasi apa yang perlu direnovasi, memperkuat bidang-bidang dan ruang-ruang hidup bagi mayoritas warga negara agar semakin berdaya dan bermanfaat bagi mayoritas warga Negara.

Juga, tentu saja, harus membuang apa yang memang harus dibuang, serta yang terutama sekali adalah bagi para pemimpin dan para pemegang kebijakan agar mereka sungguh-sungguh menegakkan pemerintahan yang bersih dan efisien, akuntabel, dan harus mulai berani memberlakukan dan menegakkan hukum yang adil yang akan efektif untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan efisisien, pemerintahan dan manajemen yang tidak memaklumi korupsi sekecil apa pun. Agar bangsa ini sanggup melangkah dengan tegak dan percaya diri menyongsong masa depan.

Sulaiman Djaya, Penyair

Tags: AfirmasiAspirasiMasyarakatPemimpinPimpinanSulaiman Djaya
Share201Tweet126SendShare
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

BeritaTerkait

Sulaiman-Djaya
Opini

Belajar dari Einstein

by Sulaiman Djaya
March 10, 2026
0

BANTEN | LIPUTAN9NEWS “Saya bukan jenius, saya hanya selalu ingin tahu,” demikian ujar Einstein tentang betapa bakat dan kecerdasan saja...

Read more
Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Besar yang Menolak Tunduk Pada Penjajahan

Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Besar yang Menolak Tunduk Pada Penjajahan

March 1, 2026
Sulaiman Djaya

Seni yang Menyadarkan

February 27, 2026
Sulaiman-Djaya

Ekoteologi dan Falsafah Perennial Ekologi Masyarakat Kanekes Banten

March 15, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2549
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau yang akrab disapa Gus Lilur Bersama Menteri Agama Nasaruddin Umar

Tokoh Muda Nahdliyin Sebut NU Bukan Komoditas, Muktamar Harus Steril dari Mainan Aktor Politik

April 15, 2026
Tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji dan penyelenggaraan ibadah haji Yaqut Cholil Qoumas memasuki mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (12/3/2026). (Foto: Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Yaqut Disebut KPK Siapkan USD1 Juta untuk Pansus Haji DPR

April 15, 2026
Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

Pikir Matang Sebelum Berhutang: Antara Kebutuhan dan Godaan Zaman

April 15, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In