BOGOR | LIPUTAN9NEWS
Kalau bicara soal bunga atau riba, biasanya yang langsung terbayang itu urusan ekonomi—pinjam meminjam, tambahan uang, atau sistem perbankan. Tapi semakin dibaca dan dipahami, ternyata pembahasannya tidak sesederhana itu.
Ada sisi lain yang sering terlewat. Bukan cuma soal angka, tapi juga soal bagaimana sistem ini pelan-pelan membentuk cara berpikir manusia, bahkan memengaruhi hubungan sosial.
Awalnya mungkin terlihat biasa saja. Orang meminjam, lalu mengembalikan dengan tambahan. Kelihatannya wajar. Tapi kalau dilihat lebih dalam, ada banyak konsekuensi yang muncul—dan tidak semuanya terlihat di permukaan.
Bunga bukan sekadar praktik ekonomi. Bunga dapat menjadi suatu hal yang bisa merusak karakter manusia.
Di sini mulai terasa bedanya.
Bunga mendorong seseorang untuk terlalu fokus pada uang. Bukan lagi sebagai alat, tapi sebagai tujuan utama. Dari situ, muncul keinginan untuk terus mengumpulkan harta—kadang tanpa terlalu peduli apakah cara yang ditempuh itu adil atau tidak.
Pelan-pelan, sifat egois mulai terbentuk.
Orang jadi lebih mementingkan diri sendiri. Rasa empati bisa berkurang. Bahkan dalam kondisi tertentu, seseorang bisa menjadi sangat keras terhadap orang lain, terutama ketika berhubungan dengan utang.
Misalnya, ketika si peminjam sedang kesulitan. Dalam sistem berbunga, yang tetap berjalan adalah perhitungan. Bunga terus bertambah. Tidak ada jeda hanya karena kondisi manusia sedang tidak baik-baik saja.
Di titik ini, hubungan manusia jadi terasa kering.
Selain itu, bunga juga bisa menumbuhkan sifat tamak. Orang jadi sulit merasa cukup. Selalu ingin lebih. Bahkan bisa muncul rasa iri terhadap apa yang dimiliki orang lain.
Yang menarik, ada juga dampak psikologis. Orang yang punya uang bisa jadi enggan berusaha secara langsung. Mereka merasa cukup dengan “menyimpan uang” dan menunggu bunga datang. Seolah-olah uang itu bekerja sendiri, sementara pemiliknya tidak perlu berbuat banyak.
Kalau dipikir-pikir, ini agak berbahaya. Karena bisa melemahkan semangat produktivitas.
Kalau dampak tadi lebih ke individu, sekarang coba dilihat dalam skala masyarakat.
Di sini mulai terlihat bahwa bunga bisa memengaruhi cara orang berinteraksi.
Semangat untuk saling membantu perlahan berkurang. Orang jadi lebih selektif—bahkan cenderung hanya mau bergerak kalau ada keuntungan pribadi.
Kebutuhan orang lain tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang harus ditolong, tapi sebagai peluang.
Dari situ, hubungan sosial berubah. Yang kaya semakin kuat posisinya, sementara yang lemah semakin bergantung.
Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini bisa memicu perpecahan. Karena tidak ada lagi rasa kebersamaan yang kuat.
Bahkan dalam hubungan antarnegara, pola yang sama bisa muncul. Negara yang membutuhkan bantuan sering kali harus menerima syarat yang berat, termasuk bunga.
Ada momen dalam sejarah ketika sebuah negara meminta bantuan tanpa bunga karena kondisi darurat, tapi tetap ditolak. Artinya, dalam sistem ini, pertimbangan kemanusiaan kadang kalah oleh kepentingan ekonomi.
Di sini terasa ada sesuatu yang “kurang pas”.
Bunga dan Kezaliman Ekonomi
Kalau dilihat lebih konkret, dampak bunga paling terasa di sektor ekonomi, terutama bagi kelompok yang lemah.
Pinjaman Kaum Dhu’afa
Banyak orang meminjam bukan untuk memperbesar usaha, tapi untuk bertahan hidup.
Masalahnya, ketika ada bunga, beban mereka jadi berlipat. Penghasilan yang seharusnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, harus dipotong untuk membayar utang.
Akibatnya, mereka sulit berkembang.
Bahkan dalam beberapa kasus, hidup mereka habis hanya untuk melunasi utang. Pendidikan anak terganggu, kualitas hidup menurun, dan tekanan mental meningkat.
Secara tidak langsung, ini juga berdampak ke ekonomi secara luas. Karena daya beli menurun, sektor industri ikut melemah.
Akses terhadap modal tidak merata.
Pengusaha besar biasanya lebih mudah mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah. Sementara usaha kecil justru menghadapi bunga lebih tinggi, atau bahkan kesulitan mendapatkan pinjaman sama sekali.
Ini menciptakan ketimpangan.
Selain itu, modal sering kali tidak digunakan untuk sektor yang benar-benar bermanfaat. Justru lebih banyak masuk ke sektor spekulatif yang tidak stabil.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa merusak struktur ekonomi secara keseluruhan.
Pinjaman Pemerintah
Pinjaman pemerintah juga tidak lepas dari persoalan bunga.
Untuk pinjaman dalam negeri, sering kali digunakan untuk kebutuhan mendesak, seperti bencana. Tapi tetap saja ada bunga yang harus dibayar.
Kalau dipikir lagi, ini agak janggal. Karena pada dasarnya, kebutuhan tersebut adalah untuk kepentingan masyarakat.
Pinjaman luar negeri bahkan lebih kompleks.
Selain beban ekonomi, ada juga dampak terhadap kedaulatan. Negara peminjam sering kali harus mengikuti arahan pihak pemberi pinjaman.
Di titik ini, masalahnya bukan cuma ekonomi lagi.
Dan yang paling terasa, beban itu akhirnya ditanggung rakyat—melalui pajak.
Menariknya, kritik terhadap bunga ini sudah lama dibahas oleh para ulama, salah satunya Imam Ar-Razi.
Beliau menjelaskan beberapa alasan kenapa bunga dilarang.
Pertama, karena dalam praktiknya, ada pihak yang mendapatkan keuntungan tanpa usaha yang seimbang. Ini dianggap tidak adil.
Kedua, bunga bisa merusak moral. Orang bisa menjadi tidak peka terhadap kesulitan orang lain.
Ketiga, hubungan sosial bisa terganggu. Karena ada potensi munculnya kebencian antara yang memberi pinjaman dan yang meminjam.
Dan yang paling mudah dilihat—yang kaya semakin kaya, sementara yang miskin semakin tertinggal.
Dalam kondisi ekonomi sulit, hal ini jadi semakin nyata.
Dari seluruh pembahasan ini, terlihat bahwa bunga atau riba bukan hanya persoalan tambahan dalam transaksi.
Dampaknya cukup luas.
Mulai dari perubahan karakter individu, melemahnya solidaritas sosial, sampai ketimpangan ekonomi yang semakin tajam.
Awalnya mungkin terlihat kecil. Tambahan sedikit dari pinjaman. Tapi ketika sistem ini berjalan terus-menerus dan dalam skala besar, efeknya jadi tidak sederhana.
Dan mungkin di sinilah pentingnya memahami konsep ini secara menyeluruh.
Karena pada akhirnya, ekonomi bukan hanya soal bagaimana uang berputar.
Tapi juga soal bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.
Muhammad Ihsan Adz-Dzikra, Mahasiswa STMIK Tazkia Bogor, Semester 2 – Prodi Teknik Informatika





















