SIDOARJO | LIPUTAN9NEWS
Dalam tautan sejarah peradaban Islam di bumi Nusantara, saling berkunjung atau silaturrahmi ketika ketemu 1 Syawal adalah menjadi tradisi dan keunikan tersendiri (Baca: Sejarah Peradaban Islam di Nusantara).
Bahkan terkait akan hal ini, para pendahulu kita mengenalkannya dengan istilah yang familiar di zamannya. Yakni Lebar, Lebur, Luber, dan Labur. Empat istilah ini sangat terkait dengan filosofi kehidupan masyarakat Muslim Nusantara dalam memaknai Idul fitri atau Lebaran (Baca: Akhlak Tasawuf).
Dan, keempat istilah ini mewakili serangkaian tindakan spirit spiritualitas dan nilai sosial untuk kembali ke fitrah atau suci setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh lamanya.
Untuk lebih jelasnya, berikut adalah makna dari keempat istilah tersebut:
Pertama, Lebar yaitu selesai. Yakni, memiliki makna selesainya masa berpuasa Ramadan dan berakhirnya kewajiban untuk menahan diri. Termasuk, Lebar juga memiliki makna sebagai terlepasnya manusia dari belenggu nafsu atau lebar dari dosa-dosa karena telah diampuni oleh Allah SWT.
Kedua, Lebur yaitu habis. Yakni, memiliki makna melebur atau melelehkan. Ini sebagai lambang peleburan dosa-dosa kita melalui ibadah puasa, salat, dan saling bermaaf-maafan atau halalbihalal pada hari kemenangan ini.
Ketiga, Luber yaitu melimpah. Yakni, memiliki makna melimpahnya pahala, rezeki, dan kebahagiaan kita. Hal ini bisa kita wujudkan melalui tradisi senang berbagi. Mulai dari bersedekah, mengeluarkan zakat fitrah, termasuk berbagi THR kepada sanak-keluarga atau antar sesama. Tujuan utamanya adalah untuk melimpahkan kasih sayang, dan berbagi kebahagiaan sebagaimana keteladanan para pendahulu kita.
Keempat, Labur yaitu cerah, berwarna putih. Yakni, memiliki makna kembali bersihnya hati dan jiwa kita. Jiwa yang telah dilebur, dosa-dosanya diampuni dan bersih serta kembali cerah seperti berwarna putih.
Simpulnya, secara keseluruhan spirit spiritualitas Lebar, Lebur, Luber dan Labur adalah sebagai cermin kebudayaan Muslim di bumi Nusantara yang memadukan ajaran Islam dengan basis kearifan lokal demi menciptakan harmoni kehidupan yang rahmatal lil alamin (Baca: Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner).
Termsuk juga sebagai upaya menciptakan pundi-pundi spiritual yang unggul, berdaya saing di kancah belahan bumi yang selalu merindukan perdamaian, kelembutan, ketenangan, kenyamanan dan seterusnya……….
Semoga Bermanfaat!
Dr. Heru Siswanto, M.Pd.I, Ketua Program Studi dan Dosen PAI-BSI (Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner) Pascasarjana IAI Al-Khoziny Sidoarjo; Dosen PAI-Terapan Poltek Pelayaran Surabaya; Pengurus Lembaga Takmir Masjid PCNU Sidoarjo; Ketua Lembaga Dakwah MWCNU Krembung.























