• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Yudhie Haryon (CEO Nusantara Centre) dan Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

Rupiah Lemah itu Taktis

May 19, 2026
Keterangan Gambar : Ilustrasi AI simulasi rekaman CCTV (Night Vision/Noise), yang direkonstruksi berdasarkan Laporan Polisi, dimana menunjukkan mobil Daihatsu Rocky merah di bahu jalan tol Tol Jakarta-Tangerang (Kebon Jeruk) dini hari. Terdapat label 'PELAKU MENDEKATI MOBIL' dan 'KORBAN DI SEMAK-SEMAK.

Pelaku Pencurian Mobil Sigra Di Tol Km 3,8 Diburu Polisi, Korban Berharap Bisa Tertangkap

May 19, 2026
Kritik Pertumbuhan Ekonomi 2026 Kepada Prabowo, Lebih Beresensi Pujian dan Dukungan

Kritik Pertumbuhan Ekonomi 2026 Kepada Prabowo, Lebih Beresensi Pujian dan Dukungan

May 19, 2026
KH. Muzaki Kholish Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta

KH. Muzaki Kholish Sebut Pernyataan Kiai Said Cerminkan Kedewasaan dan Adab Kepemimpinan NU

May 18, 2026
KH Said Aqil siroj

KH Said Aqil Siroj Konfirmasi Tidak akan Maju pada Perhelatan Muktamar NU ke-35

May 18, 2026
Konferensi pers Sidang Isbat penetapan awal Zulhijjah 1447 H yang digelar di Kantor Kemenag Jl. MH. Thamrin Jakarta, Ahad (17/05/2026).

Gelar Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan Idul Adha 27 Mei 2026

May 18, 2026
Muhammad Ikhsanurrizqi, Ketua BEM PTNU Se-Nusantara.

Ketua BEM PTNU Sentil Pernyataan Presiden soal Rupiah: Rakyat Kecil Tetap Jadi Korban

May 18, 2026
Kongkalikong Tender Gedung BTN Sulampua? Logis 08 Desak BTN dan Danantara Buka-bukaan

Logis 08 Soroti Danantara, Proyek Perkampungan Haji di Mekkah Belum Tunjukkan Progres Nyata

May 16, 2026
Fatayat NU dan Ratusan Jamaah Semarakkan Cahaya Hati Indonesia di Masjid Al-Hijrah Bekasi Utara

Fatayat NU dan Ratusan Jamaah Semarakkan Cahaya Hati Indonesia di Masjid Al-Hijrah Bekasi Utara

May 16, 2026
DPD PPNI Kabupaten Bekasi Sukses Jadi Tuan Rumah International Nurses Day 2026 Tingkat Jabar

DPD PPNI Kabupaten Bekasi Sukses Jadi Tuan Rumah International Nurses Day 2026 Tingkat Jabar

May 16, 2026
KH. Cholil Nafis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah

Jamaah Haji 2026 Diizinkan Kemenhaj Bayar Dam di Tanah Air, Inilah Respon Kiai Cholil Nafis

May 16, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Tuesday, May 19, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Rupiah Lemah itu Taktis

Oleh: Yudhie Haryono

liputan9news by liputan9news
May 19, 2026
in Opini
A A
0
Yudhie Haryon (CEO Nusantara Centre) dan Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

Rupiah Lemah itu Taktis oleh Yudhie Haryon (CEO Nusantara Centre) dan Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

494
SHARES
1.4k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

Setiap kali rupiah melemah, Indonesia hampir selalu bereaksi dengan kepanikan. Harga barang naik, biaya hidup meningkat, dan kekhawatiran terhadap krisis kembali memenuhi ruang publik. Pelemahan mata uang sering dipahami semata sebagai tanda kegagalan ekonomi. Padahal dalam sejarah pembangunan dunia, banyak negara justru menggunakan pelemahan mata uang sebagai momentum memperkuat industri nasional dan memperbesar ekspor domestik. Negara-negara Asia Timur telah membuktikan bahwa mata uang lemah tidak selalu identik dengan kehancuran ekonomi, melainkan dapat menjadi instrumen strategis untuk mempercepat industrialisasi nasional.

Tiongkok adalah contoh paling nyata. Selama bertahun-tahun, pemerintah Tiongkok mempertahankan yuan pada level yang relatif rendah agar produk manufakturnya tetap kompetitif di pasar global. Strategi ini membuat barang-barang produksi Tiongkok lebih murah dibanding produk negara lain. Dalam waktu beberapa dekade, Tiongkok berhasil berubah dari negara agraris miskin menjadi pusat manufaktur dunia. Produk mereka membanjiri pasar internasional karena negara secara sadar menggunakan kebijakan moneter, industri, dan perdagangan untuk memperkuat kapasitas produksi domestik. Pelemahan mata uang di sana tidak diperlakukan sebagai bencana nasional, tetapi sebagai alat memperbesar industri nasional dan menyerap tenaga kerja dalam skala besar.

Fenomena serupa juga terlihat di Filipina. Ketika peso melemah, ekspor elektronik dan remitansi meningkat tajam karena produk dan jasa Filipina menjadi lebih kompetitif di pasar global. Situasi ini memperlihatkan bahwa mata uang lemah tidak otomatis menghancurkan ekonomi selama negara memiliki strategi kontra ekopol dahsyat dan basis produksi yang cukup kuat untuk memanfaatkan momentum tersebut.

Kurangnya Minat Industrilisasi Dalam Negeri

Masalah Indonesia justru terletak pada struktur ekonominya sendiri. Ketika rupiah melemah, barang dalam negeri ikut mahal karena industri nasional masih bergantung pada bahan baku impor: ilmu impor, mesin impor, energi impor, dan teknologi impor. Akibatnya, pelemahan rupiah berubah menjadi imported inflation atau inflasi impor. Negara lain memanfaatkan mata uang lemah untuk mendorong ekspor dan produksi domestik, sedangkan Indonesia justru terjebak dalam kenaikan biaya hidup akibat ketergantungan impor yang terlalu besar. Inilah kutukan “negeri impor dan konsumtif” yang sedang kita rasakan.

BeritaTerkait:

Ketua BEM PTNU Sentil Pernyataan Presiden soal Rupiah: Rakyat Kecil Tetap Jadi Korban

Rupiah Terjun Bebas ke Rp17.433/USD, BEM PTNU Se-Nusantara: Alarm Keras Kegagalan Pemerintah Menjaga Stabilitas Ekonomi

Rupiah Menguat Tajam Tantang Dolar AS Usai Libur Panjang

Dalam buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan (2026) dijelaskan bahwa Soemitro sejak awal percaya kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi hanya akan melahirkan bentuk ketergantungan baru yang lebih halus. Karena itu, industrialisasi dipandang bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan proyek kedaulatan nasional. Indonesia tidak boleh terus berada dalam posisi periferi ekonomi dunia yang hanya menjadi pasar barang asing dan pengekspor bahan mentah tanpa kapasitas produksi yang kuat.

Menurut pemikiran Soemitro, Indonesia sebenarnya memiliki seluruh syarat dasar untuk menjadi negara industri besar. Negara ini memiliki sumber daya alam melimpah, bonus demografi, pasar domestik yang luas, dan posisi geografis strategis. Pelemahan rupiah seharusnya dapat membuat produk nasional lebih kompetitif di pasar global, terutama produk berbasis komoditas seperti rempah, herbal, kopi, kakao, sawit, perikanan, tekstil, hingga produk agroindustri. Namun peluang itu sulit dimanfaatkan secara optimal karena rantai produksi nasional belum benar-benar mandiri.

Kelemahan industrialisasi Indonesia juga terlihat dari stagnasi ekspor UMKM nasional. Hingga saat ini kontribusi ekspor produk UMKM Indonesia masih berada stagnan di kisaran 15,6% terhadap total ekspor nasional. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar UMKM Indonesia masih terjebak di pasar domestik dan belum terintegrasi kuat ke rantai perdagangan global. Padahal di banyak negara industri Asia, UMKM menjadi tulang punggung ekspor nasional. Kondisi ini memperlihatkan bahwa industrialisasi Indonesia belum mampu menciptakan ekosistem produksi yang benar-benar kuat dari bawah hingga ke industri besar.

Pertarungan Ideologis Menuju Kemandirian Ekonomi

Berdasarkan pemikiran Soemitro , industrialisasi merupakan simbol modernitas sekaligus jalan menuju kemandirian bangsa. Negara yang mampu memproduksi barang bernilai tambah tinggi akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam hubungan internasional. Sebaliknya, negara yang terlalu bergantung pada impor akan mudah terguncang setiap kali terjadi perubahan ekonomi global, termasuk ketika nilai tukar mata uang melemah.

Oleh karena itu, persoalan rupiah hari ini sebenarnya bukan sekadar masalah kurs mata uang asing. Persoalan utamanya adalah Indonesia terlalu lama nyaman menjadi pasar konsumsi global dibanding membangun industri nasional secara mendalam serta menciptakan demand kepada pasar global. Bahkan banyak produk yang disebut lokal ternyata masih bergantung pada bahan baku dan komponen luar negeri. Ketika mata uang asing naik, biaya produksi domestik ikut melonjak. Akibatnya, warga negara harus membayar lebih mahal untuk ekonomi yang belum sepenuhnya mandiri.

Soemitro dalam bukunya mengatakan, “negara tidak boleh hanya menjadi penonton mekanisme pasar global. Negara harus hadir sebagai arsitek pembangunan nasional. Negara harus memiliki keberanian melindungi industri strategis, memperkuat kapasitas produksi domestik, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.” Tanpa keberanian dan program-program dahsyat tersebut, pelemahan rupiah hanya akan menjadi penderitaan ekonomi tanpa menghasilkan transformasi struktural.

Fenomena global saat ini justru memperlihatkan bahwa banyak negara mulai kembali pada nasionalisme ekonomi. Amerika Serikat melindungi industrinya melalui kebijakan perdagangan dan teknologi. Tiongkok memperkuat manufaktur nasionalnya secara agresif. India mendorong substitusi impor dan produksi domestik. Dunia sedang bergerak menuju persaingan industrialisasi baru, sementara Indonesia masih sering terjebak dalam pola ekonomi konsumsi yang rapuh terhadap gejolak mata uang asing.

Singkatnya, ini bukan hanya pertarungan angka, kurs, data dan statistik ekonomi semata. Ini adalah pertarungan kejeniusan. Ini perang struktural dan ideologis tentang arah bangsa. Rupiah boleh melemah, tetapi negara yang memiliki institusi inklusif, industri nasional yang kuat, dan keberanian melindungi kepentingan domestiknya justru dapat menjadikan tekanan ekonomi sebagai jalan menuju kebangkitan nasional. Negara yang kuat bukan negara yang sekadar memiliki mata uang stabil, tetapi negara yang mampu menjaga martabat ekonominya, melindungi warga negaranya, dan berdiri mandiri di tengah tekanan global.

Tetapi, kemandirian ekonomi bukanlah kondisi yang hadir secara otomatis, melainkan hasil dari proses panjang yang memerlukan konsistensi kebijakan, disiplin institusional, dan keberanian negara menentukan arah pembangunannya sendiri, serta elite pemerintahan yang merdeka. Pelemahan rupiah saat ini seharusnya menjadi alarm sekaligus momentum bagi Indonesia untuk mempercepat industrialisasi nasional, memperkuat hilirisasi komoditas, dan membangun rantai produksi domestik yang lebih berdaulat.

Pada akhirnya, pertarungan terbesar Indonesia bukan semata melawan mata uang asing. Pertarungan sesungguhnya adalah melawan ketergantungan ekonomi yang membuat bangsa ini selalu rentan setiap kali mata uang asing menguat. Menurut pemikiran Soemitro, “bangsa yang gagal membangun kapasitas produksinya sendiri akan terus berada dalam bayang-bayang penjajahan ekonomi dalam bentuk yang baru. Sebaliknya, bangsa yang berani membangun industri nasional, memperkuat institusi inklusif, dan memuliakan produksi dalam negeri akan melahirkan negara yang benar-benar merdeka, bermartabat, mandiri, dan manusiawi.”

Saatnya rupiah berdaulat. Saatnya kita cari ekonom yang paham memenangkan perang kurs dan turunannya. Saatnya cari pemimpin yang merealisasikan kedaulatan di segala hal.

Yudhie Haryon (CEO Nusantara Centre) dan Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

Tags: LemahNilar Tukar RupiahRupiah
Share198Tweet124SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Muhammad Ikhsanurrizqi, Ketua BEM PTNU Se-Nusantara.
Nasional

Ketua BEM PTNU Sentil Pernyataan Presiden soal Rupiah: Rakyat Kecil Tetap Jadi Korban

by liputan9news
May 18, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Ketua BEM PTNU Se-Nusantara Muhammad Ikhsanurrizqi mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang...

Read more
Ketua BEM PTNU Se-Nusantara, Muhammad Ikhsanurrizqi

Rupiah Terjun Bebas ke Rp17.433/USD, BEM PTNU Se-Nusantara: Alarm Keras Kegagalan Pemerintah Menjaga Stabilitas Ekonomi

May 11, 2026
Fantastis! UMK Kabupaten Bekasi Naik Jadi Rp5,1 juta, Lebih Tinggi dari Jakarta

Rupiah Menguat Tajam Tantang Dolar AS Usai Libur Panjang

September 17, 2024
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2561
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Keterangan Gambar : Ilustrasi AI simulasi rekaman CCTV (Night Vision/Noise), yang direkonstruksi berdasarkan Laporan Polisi, dimana menunjukkan mobil Daihatsu Rocky merah di bahu jalan tol Tol Jakarta-Tangerang (Kebon Jeruk) dini hari. Terdapat label 'PELAKU MENDEKATI MOBIL' dan 'KORBAN DI SEMAK-SEMAK.

Pelaku Pencurian Mobil Sigra Di Tol Km 3,8 Diburu Polisi, Korban Berharap Bisa Tertangkap

May 19, 2026
Yudhie Haryon (CEO Nusantara Centre) dan Agus Rizal (Ekonom Universitas MH Thamrin)

Rupiah Lemah itu Taktis

May 19, 2026
Kritik Pertumbuhan Ekonomi 2026 Kepada Prabowo, Lebih Beresensi Pujian dan Dukungan

Kritik Pertumbuhan Ekonomi 2026 Kepada Prabowo, Lebih Beresensi Pujian dan Dukungan

May 19, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In