• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Dr. KHM. Saeful Kurniawan, MA,Pendakwah dan Penulis

Fiqih Lingkungan: Anak yang Meninggal Dunia Investasi Akhirat

May 23, 2026
Oknum Pimpinan Ponpes Lakukan Pencabulan, Sejumlah Santriwati Lapor ke Mapolres Ngawi

Oknum Pimpinan Ponpes Lakukan Pencabulan, Sejumlah Santriwati Lapor ke Mapolres Ngawi

May 23, 2026
PNIB Tolak Impor Tabung CNG China, Berdayakan Produk Anak Bangsa, Kedaulatan Energi Harga Mati

PNIB Tolak Impor Tabung CNG China, Berdayakan Produk Anak Bangsa, Kedaulatan Energi Harga Mati

May 23, 2026
M Nadhim Ardiansyah, Dir Pertanian dan Energi BEM PTNU Se Nusantara

BEM PTNU: Jangan Politisasi MBG di Lingkungan Kaum Akademisi

May 23, 2026
Hilman Latief

KPK Periksa Hilman Latief dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

May 22, 2026
Karakteristik Dasar Bank Syariah: Konsep, Penerapan, dan Perbandingan dengan Perbankan Konvensional

Karakteristik Dasar Bank Syariah: Konsep, Penerapan, dan Perbandingan dengan Perbankan Konvensional

May 21, 2026
Foto: Ilustrasi Hasan Yazid

Khutbah Jumat: Ketika Cinta Butuh Pengorbanan

May 21, 2026
PNIB: Momentum Hari Kebangkitan Nasional, Teguhkan Indonesia Negeri Pancasila Pusat Kesetaraan dan Toleransi Dunia

PNIB: Momentum Hari Kebangkitan Nasional, Teguhkan Indonesia Negeri Pancasila Pusat Kesetaraan dan Toleransi Dunia

May 21, 2026
Aguk Irawan

Napas Panjang Kemanusiaan: Dari Fatwa Mbah Hasyim hingga Sumud Flotilla

May 21, 2026
KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang Rembang.

Gus Rosikh Ajak Muktamar NU Ke-35 Kembalikan PBNU Sesuai Khittoh 1926, Bukan Menjadi Stempel Agenda Global

May 21, 2026
Wanita Islam Alkhairaat Bersama Dinkes Palu Gelar Sunatan Massal untuk Keluarga Kurang Mampu

Wanita Islam Alkhairaat Bersama Dinkes Palu Gelar Sunatan Massal untuk Keluarga Kurang Mampu

May 21, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Saturday, May 23, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Fiqih Lingkungan: Anak yang Meninggal Dunia Investasi Akhirat

Oleh: Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

liputan9news by liputan9news
May 23, 2026
in Opini
A A
0
Dr. KHM. Saeful Kurniawan, MA,Pendakwah dan Penulis

Dr. KHM. Saeful Kurniawan, MA,Pendakwah dan Penulis

492
SHARES
1.4k
VIEWS

BONDOWOSO | LIPUTAN9NEWS

Minggu yang lalu, penulis mendengar kabar kematian anaknya teman Muhammad Saifullah asal Ijen Sempol Bondowoso yang menikah dengan puteri bapak Sudirman S. Pd. pensiunanan guru sekolah dasar yang tiap malam puasa selalu sholat tarawih, tadarus, dan ngobrol di musholla Nurul Kawakib hingga larut malam. Tidak hanya itu, kadang beliau kerapkali masak dirumahnya untuk makan bareng di musholla.

Sedangkan ananda Saiful seringkali menjadi driver mobil saat penulis ngisi pengajian di sekitar Bondowoso bahwa putera sulungnya turut membersamainya ikut serta dalam pengajian. Sosok almarhum tersebut, anak yang penurut, imut dan berperawakan arab sehingga tak ayal jika ia sering disebut blasteran .

Keduanya, penulis ingin hadir saat acara pemakaman namun kebetulan kondisi badan kurang sehat. Karena tidak bisa menghadiri proses pemakaman, sedianya pula penulis akan hadir acara tahlilan, lagi lagi terkendala acara kematian ayahanda mas Yuda yang rumahnya berdempetan pas selatan rumah. Yang bersangkutan datang kerumah, minta tolong untuk pimpin tahlilan, tentu saja penulis tidak bisa menolaknya dan harus memprioritaskan tetangga terdekat.

Usai tahlilan 7 hari kematian ayah mas Yuga, penulis bersama isteri ta’ziyah kerumah duka mas Saiful. Setibanya disana, kami berdua disambut dengan hangat kendati dengan aura sedih diwajahnya. Semula kita hanya mengangkat topik biasa, tapi lama kelamaan mengarah pada topik kronologis kemarin anaknya. Dengan menarik nafas dalam dalam iapun bercerita ihwal kematian anak kesayangannya,

BeritaTerkait:

BEM PTNU DIY Kecam Tewasnya Remaja 14 Tahun di Tual: Ada Krisis Sistemik di Tubuh Polri

Khutbah Jumat: Pahami Fiqih Puasa, Jaga Keabsahannya

Gus Baha: Ia Hanya Minta Buku dan Pena, Tapi Negeri Ini Tak Mendengar

Mendidik Anak Berbasis Pertanyaan 

“Aku merindukan suara langkah kecilnya yang riang di lorong rumah. Merindukan tangannya yang kecil menggenggam jemariku dengan erat, seolah-olah tidak ingin pernah melepaskan. Aku merindukan suaranya yang penuh kepolosan itu.” Ungkapnya. Lebih lanjut ia menceritakan kisah kematian anaknya,

“Tiap kenangan yang kami bagi seakan menjadi pedang bermata dua, yang satu sisi menghangatkan hatiku, tapi di sisi lain menusuk luka yang tak pernah sembuh. Aku merasa terluka. Rasanya seperti potongan diriku telah diambil dan ditinggalkan bersama dengan dirinya.” Ungkapnya sambil menarik nafas dalam dalam. Sesekali melanjutkan ceritanya,

“Pada malam-malam yang sunyi, rasa rindu menjadi semakin kuat. Aku membayangkan bagaimana hidup akan berjalan jika ia masih ada di sampingku kelak. Apakah ia akan berkembang menjadi sosok yang kuat? Apakah ia akan mencapai impian-impiannya? Semua itu menjadi tanya tanpa jawaban, dan hanya ada kesedihan yang membekas dan hanya ada air mata yang tiada henti mengalir dari mata ku.”

Begitulah cerita seorang teman, sembari berurai air mata beberapa waktu lalu. Ia baru saja kehilangan anak pertamanya. Seorang anak laki laki tampan rupawan. Kulitnya putih. Senyumnya indah. Anaknya baru berumur 8 tahunan. Kata dokter, anaknya terjangkit Sudden infant death syndrome [SIDS]. Penyakit gangguan metabolisme dan gangguan irama jantung yang membawa kembalinya anak usia 8 tahunan itu kembali kepangkuan Sang Khalik.

Kematian pada anak merupakan duka yang mendalam. Kehilangan anak luka yang akan membekas hingga kapan pun. Wajar saja, ketika Henry Manamping, dalam buku Filosofi Teras, menyetir ungkapan bahwa tidak ada kesedihan yang lebih besar, dari kesedihan orang tua yang harus menguburkan anaknya. Anak yang dibesarkan dengan cinta dan kasih. Bangun di tengah malam, untuk sekadar memberikan ASI dan memandang wajah lugunya. Kerja pagi sampai malam, hanya untuk anak bisa membeli mainan. Atau sengaja pulang cepat dari urusan kantor, hanya untuk melihat senyumnya. Tetiba harus terlihat tidak bergerak, kesakitan, dan kemudian harus ditanam oleh tangan sendiri.

Kematian memang kejam. Kematian sebagai sesuatu yang datang dari luar diri kita, kata Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir edisi 22 Januari 2007. Kematian begitu cepat mencekik atau menebas leher. Semua manusia menolak atas ajal. Tapi penampikan yang percuma. Toh pada akhirnya, kematian makin akrab dengan manusia. Saban hari kita melihat pilu, ratusan nyawa menghilang, bahkan ribuan jiwa mati, akibat flu burung, Covid-19, dan pesawat jatuh. Mungkin ini pengingat, maut tak pernah jauh. Maut sekeping bagian dari hidup. Bukankah sebelum ada, manusia didahului tiada.

Lantas bagaimana solusi Islam, dalam menghadapi kehilangan anak? Apa langkah yang bisa dilakukan agar duka yang ada tidak semakin menganga, dan menjadikan diri tidak terkontrol? Pasalnya tak jarang akibat kematian anak, pasangan suami istri jadi tidak akur, hingga berujung pisah. Atau salah satunya, terjerumus pada hal buruk lain, misalnya narkoba, alkohol, atau juga bunuh diri. Naudzubillah.

Mengutip tulisan Zainuddin Lubis dalam salah satu tulisanya yang mengatakan bahwa menghadapi Kehilangan Anak dalam Islam. Harus diakui, menghadapi kehilangan, terutama kehilangan anak akibat kematian, adalah salah satu pengalaman yang paling sulit dalam hidup seseorang. Butuh proses yang memerlukan waktu, dukungan, dan pengelolaan emosi yang kompleks. Setidaknya ada beberapa tips atau cara yang bisa dilakukan agar tidak larut dalam duka.

Pertama, silahkan bersedih, asalkan nalar tidak boleh diabaikan. Dukacita yang mendalam akan kehilangan seseorang itu sesuatu yang lumrah dan manusiawi. Tidak ada yang salah. Menangis akan kematian orang yang terkasih, dalam Islam, itu sesuatu hal yang wajar. Toh, manusia makhluk yang Allah titipkan cinta dan kasih dalam hatinya. Jika kekasihnya pergi, hati akan otomatis bersedih dan menangis.

Akan tetapi ketika kehilangan, jangan sampai terlelap dalam duka. Terlebih jika sampai jatuh dalam kondisi yang merusak diri. Berduka boleh, tetapi nalar juga harus dipakai. Dalam buku Filosofi Teras; Filsafat Yunani- Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini, halaman 206, bahwa seorang filsuf Seneca, dibuang di Pulau Corsica oleh Kaisar Claudius. Ia menyadari duka yang dirasakan ibunya yang masih hidup. Masa itu, pembuangan tidak akan tahu kapan berakhir hukumannya. Bisa saja yang dihukum tidak kembali lagi, atau mati di area pengasingan.

Dalam pengasingan, Seneca menulis surat cinta pada ibunya tentang perpisahan antara anak dan ibunya. Seneca tahu akan kesedihan ibunya, tetapi ia tidak bisa membiarkan ibunya terlelap lama dengan kesedihan, padahal dunia akan terus berlanjut.

“Jangan engkau menggunakan alasan karena kamu perempuan, karena perempuan telah mendapatkan hak untuk berkabung di dalam air mata, tetapi tidak untuk selama-lamanya. Berduka yang tiada henti, atas kehilangan seseorang tercinta sesungguhnya adalah keegoisan yang bodoh. Jalan tengah terbaik antara kasih sayang dan akal sehat adalah untuk merasakan kehilangan dan di saat yang sama menaklukkannya. Dukacita yang dicoba ditutup-tutupi atau dialihkan perhatiannya akan terus kembali, dengan kekuatan yang lebih besar. Namun, dukacita yang telah ditaklukkan nalar akan tenang selamanya,”.

Dalam Al-Qur’an Q.S Al Jumu’ah [62] ayat 8, Allah berfirman;

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Artinya; “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemuimu. Kamu kemudian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”

Menurut Makki Ibn Abi Thalib dalam Kitab Al-Hidayah Ila Bulughi an Nihayah, [UE; University of Sharjah, 2008], halaman 7463, bahwa ayat ini menerangkan tentang kematian akan datang pada siapapun. Kendati pun mati itu sesuatu yang dibenci oleh manusia, akan tetapi ia akan datang pada manusia kendati manusia menghindarinya dengan cara bersembunyi. Ia berkata;

قل لليهود – يا محمد -: إن الموت الذي تهربون منه وتكرهونه – لما قدمت أيديكم من الآثام – لا بد أن يحل بكم {ثُمَّ تُرَدُّونَ} – إذا متّمْ – {إلى عَالِمِ الغيب والشهادة}، أي: إلى الله الذي يعلم غيب السموات والأرض، ويعلم ما ظهر من ذلك، ويعلم ما أسررتم من أعمالكم وما أظهرتم فيجازيكم

Artinya; “Katakan kepada kaum Yahudi wahai Muhammad; “Kematian yang kalian lari darinya dan benci padanya – ketika tangan-tangan kalian telah menghampiri dosa-dosa – pasti akan tiba bagi kalian, kemudian kalian akan dikembalikan – saat kalian mati – kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yaitu kepada Allah yang mengetahui yang tersembunyi di langit dan bumi, Dia mengetahui apa yang tampak dari itu, dan Dia mengetahui apa yang kalian sembunyikan dari perbuatan kalian dan apa yang kalian perlihatkan, lalu Dia akan memberi balasan kepada kalian.”

Kedua, tidak mengutuk diri. Dalam kehilangan dan kematian, terkadang orang menyalahkan diri dengan menyatakan hukuman dari Tuhan atas segala dosa yang dilakukan. Tak jarang kita dengar kalimat “anak saya meninggal akibat hukuman atas dosa dari Tuhan”, ketika ditinggal mati orang terkasih. Sikap ini akibat manusia sering kali suka menginterpretasikan dan memaknainya sendiri.

Dalam Islam, tindakan mengutuk kematian dengan hukuman Tuhan dapat dianggap sebagai penolakan terhadap ketentuan Allah dan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapinya. Islam mengajarkan bahwa manusia seharusnya tunduk dan pasrah terhadap kehendak Allah, termasuk dalam hal kematian. Mengutuk kematian dengan hukuman Tuhan juga bisa mencerminkan ketidakpuasan terhadap rencana-Nya, yang bertentangan dengan prinsip keimanan dan kepatuhan.

Lebih jauh lagi, tindakan ini dapat menciptakan rasa kebencian, permusuhan, dan sikap negatif terhadap orang yang telah meninggal. Islam mengajarkan untuk berbuat baik kepada semua orang, baik semasa hidup maupun setelah meninggal dunia. Mengutuk kematian tidak hanya merugikan pribadi yang melakukannya, tetapi juga menciptakan ketegangan dan konflik dalam masyarakat.

Dalam Q.S Az Zumar [39] ayat 30, Allah berfirman;

اِنَّكَ مَيِّتٌ وَّاِنَّهُمْ مَّيِّتُوْنَ

Artinya; “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad akan) mati dan sesungguhnya mereka pun (akan) mati.”

Syekh Fakruddin Ar Razi dalam kitab Mafatih al Ghaib halaman 451 mengatakan bahwa segala yang bernyawa pada hakikatnya akan mati. Tidak akan ada yang kebal dari kematian, setiap yang bernyawa akan hilang. Ruh akan kembali ke pemilik hakikatnya.

وَقَوْلُهُ تَعَالَى: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ أَيْ إِنَّكَ وَإِيَّاهُمْ، وَإِنْ كُنْتُمْ أَحْيَاءً فَإِنَّكَ وَإِيَّاهُمْ فِي أَعْدَادِ الْمَوْتَى، لِأَنَّ كُلَّ مَا هُوَ آتٍ آتٍ، ثُمَّ بَيَّنَ تَعَالَى نَوْعًا آخَرَ مِنْ قَبَائِحِ أَفْعَالِهِمْ، وَهُوَ أَنَّهُمْ يَكْذِبُونَ وَيَضُمُّونَ إِلَيْهِ أَنَّهُمْ يُكَذِّبُونَ الْقَائِلَ الْمُحِقَّ. أَمَّا أَنَّهُمْ يَكْذِبُونَ، فَهُوَ أَنَّهُمْ أَثْبَتُوا لِلَّهِ وَلَدًا وَشُرَكَاءَ. وَأَمَّا أَنَّهُمْ مُصِرُّونَ عَلَى تَكْذِيبِ الصَّادِقِينَ، فَلِأَنَّهُمْ يُكَذِّبُونَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ قِيَامِ الدَّلَالَةِ الْقَاطِعَةِ عَلَى كَوْنِهِ صَادِقًا فِي ادِّعَاءِ النُّبُوَّةِ،

Artinya; “Dan firman-Nya Yang Maha Tinggi: [Sesungguhnya Engkau (Muhammad) adalah termasuk orang yang mati dan sesungguhnya mereka juga mati]. Artinya, Engkau dan mereka sama-sama mati. Dan jika kamu termasuk orang-orang yang hidup, maka sesungguhnya Engkau dan mereka berada dalam jumlah orang mati. Karena segala yang hidup pasti akan mati. Kemudian Allah menjelaskan jenis lain dari perbuatan buruk mereka, yaitu bahwa mereka berdusta dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berdusta terhadap orang yang membantah kebenaran.”

Penting untuk dicatat, kematian dengan hukuman Tuhan dapat menyebabkan penderitaan emosional bagi keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan oleh almarhum. Sikap seperti ini tidak sesuai dengan etika Islam yang mengajarkan untuk memberikan dukungan, penghiburan, dan doa kepada mereka yang berduka. Untuk itu, sikap baik terhadap kematian adalah mendoakan perlindungan dan pengampunan bagi almarhum.

Ketiga, ikhlas. Dalam Islam, tentu saja agama lain, kematian pada hakikatnya adalah ujian dari Tuhan untuk mengukur keimanan seseorang. Pun sejatinya, kematian adalah bagian alami dari siklus kehidupan manusia yang tak terelakkan. Setiap insan yang hidup pasti akan mengalami momen ini. Dalam konteks Islam, pandangan terhadap kematian dihubungkan dengan keyakinan kepada Allah SWT dan tatanan-Nya dalam penciptaan serta penghancuran.

Dalam Islam, hidup di dunia ini adalah ujian, dan kematian adalah perpindahan menuju kehidupan yang lebih abadi, yaitu kehidupan akhirat. Kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan peralihan menuju pengadilan Allah terhadap amal perbuatan manusia. Karena itulah, ikhlas dalam menerima kematian dihubungkan dengan kesadaran akan sementara dan fana nya kehidupan di dunia serta persiapan untuk menghadapi pengadilan di hadapan Allah.

Di dunia ini, tujuan hidup manusia untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas. Ini berarti bahwa setiap tindakan, termasuk cara menghadapi kematian, harus didasarkan pada niat yang tulus untuk memperoleh keridhaan Allah semata, bukan untuk memperoleh pujian atau pengakuan dari manusia lain.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya; “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar. “

Dalam Tafsir Al-Baghawi Jilid 1, halaman 169 dijelaskan maksud dari “anfus” dalam ayat ini ialah manusia akan diuji dengan pembunuhan dan kematian. Keduanya, adalah ujian dari Allah untuk manusia, dan kelak berbahagialah orang yang ikhlas. Sejatinya, ikhlas dalam menerima kematian adalah melalui kesabaran dan reda terhadap takdir yang Allah tetapkan.

{وَالْأَنْفُسِ} يَعْنِي بِالْقَتْلِ وَالْمَوْتِ وَقِيلَ بِالْمَرَضِ وَالشَّيْبِ

Artinya; “[mengujimu dengan jiwa] maksudnya pembunuhan, kematian, atau bahkan penyakit dan uban.”

Hotel Grand Padis, 21 Mei 2026
Dr. KHM. Saeful Kurniawan, MA,Pendakwah dan Penulis

Tags: AnakFiqihFiqih LingkunganMeninggal Dunia
Share197Tweet123SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

BEM PTNU DIY Kecam Tewasnya Remaja 14 Tahun di Tual: Ada Krisis Sistemik di Tubuh Polri
Nasional

BEM PTNU DIY Kecam Tewasnya Remaja 14 Tahun di Tual: Ada Krisis Sistemik di Tubuh Polri

by liputan9news
February 24, 2026
0

YOGYAKARTA | LIPUTAN9NEWS BEM PTNU DIY menyatakan kemarahan dan kecaman keras atas tewasnya seorang remaja 14 tahun di Tual, Maluku,...

Read more
Foto: Ilustrasi

Khutbah Jumat: Pahami Fiqih Puasa, Jaga Keabsahannya

February 19, 2026
Sekretaris PWNU DKI Jakarta, KH. MH. Bahaudin atau akrab disapa Gus Baha (Foto: Ist/MSN)

Gus Baha: Ia Hanya Minta Buku dan Pena, Tapi Negeri Ini Tak Mendengar

February 5, 2026
Dr. Muhammad Saeful Kurniawan, MA

Mendidik Anak Berbasis Pertanyaan 

November 16, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2565
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Dr. KHM. Saeful Kurniawan, MA,Pendakwah dan Penulis

Fiqih Lingkungan: Anak yang Meninggal Dunia Investasi Akhirat

May 23, 2026
Oknum Pimpinan Ponpes Lakukan Pencabulan, Sejumlah Santriwati Lapor ke Mapolres Ngawi

Oknum Pimpinan Ponpes Lakukan Pencabulan, Sejumlah Santriwati Lapor ke Mapolres Ngawi

May 23, 2026
PNIB Tolak Impor Tabung CNG China, Berdayakan Produk Anak Bangsa, Kedaulatan Energi Harga Mati

PNIB Tolak Impor Tabung CNG China, Berdayakan Produk Anak Bangsa, Kedaulatan Energi Harga Mati

May 23, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In