BOGOR | LIPUTAN9NEWS
Dulu, kalau kita mau nabung atau transfer uang jajan bulanan ke keluarga, rasanya butuh effort yang lumayan. Kita mesti mandi, dandan rapi, panas-panasan di jalan menuju bank, senyum ke satpam buat ambil nomor antrean, terus duduk bosan berjam-jam nunggu dipanggil teller. Sekarang? Boro-boro. Rutinitas bertele-tele kayak gitu rasanya udah ketinggalan zaman banget. Hari ini, urusan duit kita nyaris seratus persen pindah ke layar HP genggam. Gelombang digitalisasi ini benar-benar ngacak-ngacak dalam artian positif cara bank beroperasi di Indonesia.
Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (BLKS) pastinya ogah dong cuma jadi penonton di pinggir lapangan. Mereka sekarang lagi getol-getolnya perang fitur. Ada yang bikin aplikasi mobile super canggih, ngerilis super-app yang bisa buat ngapa-ngapain dari beli tiket sampai bayar zakat, sampai nyemplung ke layanan fintech. Tujuannya cuma satu: merebut pasar anak muda, milenial, dan Gen Z yang maunya serba instan. Buka rekening nggak usah repot ketemu orang, pinjaman pun bisa cair sambil rebahan di kasur. Enak, kan?
Tapi, tunggu dulu. Di balik semua kemudahan yang bikin kita makin mager ini, ada bahaya nyata yang pelan-pelan ngintip dari balik selimut: hacker, scammer, dan horor bocornya data pribadi. Nah, di titik kritis inilah muruah dan identitas bank syariah lagi dites habis-habisan sama publik. Kita sebagai nasabah berhak dong nanya keras: apakah yang namanya kepatuhan syariah itu cuma sebatas pakai bahasa Arab di kertas perjanjian utang, atau memang benar-benar dipraktikkan sebagai etika kerja buat ngelindungin kita di dunia maya?
Teknologi yang larinya kayak mobil balap ini pelan tapi pasti melahirkan dilema moral baru yang lumayan bikin pusing kepala. Coba deh kita pakai logika sederhana. Bank syariah hari ini menampung jutaan data rahasia kita. Mereka pegang foto KTP kita, tahu persis nama gadis ibu kandung kita, merekam kebiasaan kita jajan di mana saja, sampai nyimpen data biometrik kayak wajah dan sidik jari. Di zaman sekarang, kumpulan data semacam itu bukan sekadar deretan angka nol dan satu di komputer. Itu adalah harta karun digital. Nilainya jauh lebih gila dibanding ladang minyak bumi.
Sialnya, realita di lapangan sering bikin kita ngurut dada. Sistem keamanan siber di negara kita ibarat pagar kawat yang udah bolong sana-sini. Sering banget kebobolan. Kalau musibah kebocoran data jutaan nasabah ini menimpa bank konvensional, mungkin bos-bosnya cuma mikir ini sekadar krisis PR (Public Relations) sementara. Paling-paling minta maaf di media, terus urusan beres.
Tapi, beda cerita dong kalau yang kebobolan itu entitas berlabel syariah. Gagal menjaga kerahasiaan data nasabah bukan sekadar error teknis, Bro. Ini bentuk pengkhianatan paling fatal terhadap satu prinsip dasar dalam Islam: Amanah.
Karena menjaga amanah itu ibarat harga mati dalam ajaran agama, mau nggak mau setiap institusi harus dan wajib pakai teknologi dengan level tanggung jawab yang nggak main-main. Wujud tanggung jawab ini nggak bisa cuma manis di bibir atau tulisan di laporan tahunan. Bank harus berani pasang badan melindungi privasi kita, ngebangun benteng siber yang super tebal, dan berani blak-blakan soal gimana cara mereka pakai teknologi ngeri macam kecerdasan buatan (AI).
Lalu, gimana sih cara kita menilai bank syariah itu sukses atau nggak di era serba digital ini? Parameternya juga mesti dibongkar total. Bank yang jempolan itu nggak pantes kalau cuma pamerin grafik laba triliunan tiap akhir tahun. Kesuksesan sebuah bisnis sejatinya juga harus diukur dari seberapa nyata dampak positif yang mereka kasih ke masyarakat luas, plus pelestarian lingkungan sekitarnya.
Orang-orang SCBD atau kaum korporat biasanya nyebut pendekatan ini sebagai triple bottom line. Intinya, bisnis yang sehat itu harus imbang antara nyari cuan (Profit), mikirin kesejahteraan orang (People), dan ngejaga bumi (Planet). Usut punya usut, konsep bule ini ternyata sefrekuensi banget sama Maqashid Syariah alias tujuan utama hukum Islam terutama soal urusan Hifdzul Maal (ngejaga harta) dan Hifdzul Nafs (ngejaga nyawa).
Cuma ya gitu, di era internet sekarang, arti kata “menjaga harta” itu udah bergeser jauh banget. Nggak lagi sekadar nyimpen duit kertas di brankas besi anti maling. Bank sekarang dituntut buat proaktif nyelamatin nasabahnya dari lintah darat berwujud pinjol yang algoritmanya mencekik, nebas jebakan link penipuan yang tiap hari dikirim via WhatsApp, sampai ngeblokir maling identitas online.
Satu contoh yang lagi hangat dibicarain: pemakaian AI buat mutusin orang layak dikasih pinjaman atau nggak. Algoritma robot ini mutlak butuh pengawasan super ketat dan wajib transparan ke publik. Jangan sampai mesin pintar ini dibiarin liar buat ngejebak nasabah biar ngutang di luar nalar, cuma gara-gara sistem berhasil baca kalau si nasabah ini punya penyakit gampang kalap lihat flash sale. Kalau bank tutup mata sama praktik manipulasi psikologis kayak gini, mereka sama aja lagi nginjek-nginjek etika perlindungan konsumen yang sangat diagungkan dalam ajaran Islam.
Melihat makin ruwetnya urusan ini, para bos regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ulama di Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) rasanya mesti cepet-cepet turun gunung. Bikin aturan main yang jelas dan tegas soal “Kepatuhan Syariah Digital”.
Nantinya, auditor syariah nggak bisa lagi kerja santai di ruangan ber-AC cuma buat meriksa draf kontrak demi mastiin nggak ada unsur bunga atau judi. Ulama dan Dewan Pengawas Syariah (DPS) juga dituntut buat melek teknologi. Mereka harus berani turun ke ruang server, ngecek langsung apakah bank udah punya benteng cyber security yang tangguh. Inilah wujud nyata dari pertanggungjawaban ngejaga amanah nasabah di era modern.
Lebih dari itu, etika berbisnis dan kepedulian sosial itu ibarat napas kalau sebuah perusahaan mau hidup panjang dan terus disayang masyarakat. Nah, duit CSR (Corporate Social Responsibility) dari bank syariah itu mendingan difokusin aja buat ngajarin literasi digital ke masyarakat bawah, warga desa, atau kakek-nenek pensiunan yang sering banget jadi sasaran empuk para penjahat online.
Kan lucu bin ironis jadinya. Bank maksa-maksa nasabahnya pindah ke aplikasi digital biar bank bisa hemat biaya operasional, tapi giliran nasabahnya nangis bombay karena duitnya dikuras hacker, bank malah buang badan sambil bilang, “Maaf, itu murni kelalaian Anda sendiri karena klik link sembarangan.” Ini nggak adil.
Ujung-ujungnya, hukum alam dan karma di dunia bisnis itu selalu berlaku. Perusahaan yang lurus pegang etika dan rajin nebar manfaat buat orang banyak, pasti bakal panen tingkat kepercayaan publik yang melimpah ruah. Kalau bank konsisten dan disiplin ngejaga etika digital dari A sampai Z, mereka bakal gampang banget ngerawat kesetiaan pelanggannya, biarpun arus teknologi di luar sana berubah sekencang badai.
Nilai-nilai mulia yang tertanam ini juga bakal jadi tameng terkuat mereka buat ngadepin kejamnya persaingan dan rintangan bisnis di masa-masa depan. Kalau kita nengok ke depan, bank syariah yang bakal keluar jadi juara di hati rakyat Indonesia itu bukanlah mereka yang teriak “anti-riba” paling kencang sambil jualan aplikasi paling glowing.
Juara sejatinya adalah institusi yang bisa ngasih jaminan rasa aman paripurna. Aman di dunia karena duit dan datanya nggak gampang dicolong hacker, dan aman di akhirat karena roda bisnisnya digerakkan pakai etika kenabian yang senantiasa memanusiakan manusia.
Livia azarah, Mahasiswa Akuntansi Syariah di Universitas TAZKIA Bogor























