BOGOR | LIPUTAN9NEWS
Kadang suka kepikiran, kita ini kan sering banget bangga menyandang status sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Logika paling gampangnya, apa pun bisnis yang ada embel-embel syariahnya pasti bakal laku keras. Tapi anehnya, kalau urusan naruh duit, ceritanya malah beda 180 derajat.
Coba deh cek data OJK tahun 2022 kemarin. Tingkat literasi atau melek keuangan syariah kita itu mentok di angka 9 persenan doang. Jauh banget kalau dibandingin sama literasi keuangan umum yang udah nyaris setengah dari total populasi. Imbasnya? Pangsa pasar bank syariah di Indonesia bertahun-tahun cuma jalan di tempat, asyik nongkrong di kisaran 7 sampai 8 persen.
Padahal kalau diingat-ingat, pas beberapa bank syariah milik negara digabung jadi satu entitas raksasa beberapa waktu lalu, euforianya gila-gilaan. Banyak yang mikir ini bakal jadi game changer. Tapi kok mayoritas masyarakat masih lebih milih antre di bank konvensional?
Jujur aja, ini masalah persepsi. Buat kebanyakan orang awam, bank syariah itu kesannya cuma bank biasa yang istilah-istilahnya diganti pakai bahasa Arab. Sistem kerjanya kerasa sama aja. Terus terang, kalau disuruh milih antara bank yang rajin ngasih promo diskon ngopi tiap tanggal kembar, sama bank yang cuma nawarin “ketenangan batin” karena bebas riba, nasabah rasional ujung-ujungnya pasti goyah juga.
Apalagi kalau dihadapkan sama realita teknologi. Anak muda sekarang itu level sabarnya tipis banget. Kalau buka rekening masih harus ribet, atau aplikasi mobile banking-nya sering error pas lagi mau checkout keranjang belanjaan, ya sudah. Ditinggal. Kalau industri ini cuma ngandelin kelompok nasabah yang murni nyari pahala, pasarnya nggak akan ke mana-mana.
Terus, bank syariah harus gimana biar nggak cuma jadi “ban serep”? Nah, di sinilah letak peluang emas yang ironisnya malah sering dilewatin. Kuncinya ada di Milenial dan Gen Z.
Anak-anak muda zaman now itu punya kepedulian yang ampun-ampunan tingginya soal isu lingkungan hidup. Mereka itu generasi yang rela bayar kopi lebih mahal asal sedotannya bukan dari plastik. Mereka berani memboikot brand fesyen besar kalau ketahuan bayar buruhnya murah atau buang limbah sembarangan ke sungai. Di dunia bisnis, gaya hidup peduli lingkungan dan sosial ini punya nama keren: ESG (Environmental, Social, and Governance).
Menariknya, kalau kita mau jujur dan bedah dalem-dalem, konsep ekonomi syariah itu dari sananya emang udah sangat pro-lingkungan alias ESG banget! Aturan main utamanya jelas: uang nasabah di bank syariah itu haram hukumnya dipakai buat modalin bisnis yang ngerusak alam, mengeksploitasi manusia, atau membahayakan kehidupan.
Masalahnya, nilai jual sekeren ini jarang banget dipakai buat marketing. Kampanye bank syariah rata-rata masih berkutat di kalimat, “Ayo nabung di sini biar berkah dan bebas riba.” Kesannya agak kaku dan kadang bikin sebagian orang ngerasa lagi diceramahin.
Coba bayangin kalau narasinya dirombak total. Bayangin ada billboard atau iklan di media sosial dari bank syariah yang nulis gini: “Uang yang Anda tabung di sini 100 persen aman. Kami pastikan tidak ada satu rupiah pun yang dipakai buat mendanai korporasi perusak hutan atau industri batu bara yang bikin polusi.”
Wah, itu pasti ngena banget. Pesan kayak gini kerasa jauh lebih fresh, universal, dan langsung menjawab kegelisahan anak muda hari ini soal krisis iklim. Bahkan, orang yang bukan muslim pun sangat mungkin tertarik buat buka rekening kalau tahu uangnya nggak dipakai buat ngerusak bumi.
Tentu saja, punya narasi keren harus dibarengi sama perombakan cara komunikasi. Nggak semua orang itu lulusan ekonomi Islam yang paham bedanya mudharabah sama musyarakah. Kalau tujuannya mau merangkul orang banyak, bahasanya wajib dibumikan. Pakai aja istilah sehari-hari kayak “investasi patungan”, “sistem bagi hasil yang adil”, atau “titipan aman”. Esensinya tetep syariah kok, cuma bungkusnya aja yang dibikin lebih renyah.
Selain itu, bank syariah juga harus mulai berani unjuk gigi di lapangan. Mulailah agresif ngasih modal atau kredit murah buat bisnis masa depan. Misalnya, modalin startup anak muda yang ngurusin daur ulang sampah plastik, kasih kemudahan cicilan buat kendaraan listrik, atau support UMKM yang jual makanan organik.
Udah bukan zamannya lagi bank syariah main aman dan cuma ngincar pasar orang-orang yang pengin hijrah. Ini tuh momen emas buat ngebuktiin kalau sistem keuangan Islam itu bisa jadi solusi nyata buat ngeberesin masalah bumi dan ketimpangan sosial.
Sekarang tinggal pilihannya aja: mau berani ambil panggung dan memimpin revolusi ekonomi hijau ini, atau tetep asyik jalan di tempat sambil ngeliatin bank konvensional terus-terusan lari maraton di depan mata.
Zaydan Ilmi Taqiyudin, Mahasiswa Akuntansi Syariah di Universitas TAZKIA Bogor























