• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

June 7, 2026
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

September 24, 2026
Sulaiman Djaya

Tentang Penulisan Puisi – Robert Frost dan Walt Whitman

September 24, 2026
Dr. Nurul Huda SA, Staf Pengajar Programs Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Daya Pesona Perpustakaan

September 24, 2026
Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

September 23, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, September 25, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

Oleh: Robikin Emhas

liputan9news by liputan9news
June 7, 2026
in Opini
A A
0
Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

525
SHARES
1.5k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

Perubahan nomenklatur dari Rais Akbar menjadi Rais ’Aam Syuriyah dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU) sering kali dipahami sebagai peristiwa sejarah yang telah selesai. Padahal, di balik perubahan tersebut tersimpan sebuah gagasan besar tentang bagaimana otoritas keagamaan, kepemimpinan ulama, dan tata kelola organisasi seharusnya dibangun. Bahkan, jika dibaca secara lebih mendalam, keputusan yang diambil para pendiri NU hampir delapan dekade lalu justru terasa semakin relevan dalam menghadapi tantangan organisasi modern saat ini.

Sejak NU berdiri pada tahun 1926, pemimpin tertinggi Syuriyah adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari yang menyandang gelar Rais Akbar. Gelar itu tidak hanya menunjukkan posisi organisatoris, tetapi juga mencerminkan kedudukan beliau sebagai pendiri, guru para ulama, dan otoritas keagamaan tertinggi di lingkungan NU. Keilmuan, keteladanan, dan kharisma Hadratussyekh menjadikan beliau figur sentral yang menyatukan jam’iyah pada masa-masa awal pertumbuhannya.

Namun, setelah Hadratussyekh wafat pada 25 Juli 1947, penggantinya, KH Abdul Wahab Chasbullah, memilih tidak menggunakan gelar tersebut. Dalam berbagai catatan sejarah disebutkan bahwa Kiai Wahab berpandangan gelar Rais Akbar hanya layak disandang oleh Hadratussyekh. Karena itu, sejak Muktamar NU ke-17 di Madiun tahun 1947 digunakan nomenklatur Rais ’Aam.

Melalui keputusan tersebut, NU hendak menegaskan bahwa keagungan Hadratussyekh tidak diwariskan kepada jabatan. Keagungan melekat pada pribadi yang dibentuk oleh ilmu, integritas, pengabdian, dan perjuangan. Jabatan dapat berganti, tetapi ketokohan tidak dapat diwariskan melalui nomenklatur organisasi. Karena itu, dalam sejarah NU hanya ada satu Rais Akbar, yakni Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

BeritaTerkait:

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

NU Abad Kedua: Otokritik yang Belum Selesai

Melanjutkan Amanah Nahdliyyin Betawi: Dari Muktamar 1933 Batavia Menuju Jakarta Kota Global

Gus Kikin dan Ujian Besar Membenahi “Konstitusi” NU: Sebuah Kontribusi Pemikiran

Pilihan tersebut sekaligus mencerminkan pandangan khas Ahlussunnah wal Jamaah mengenai otoritas. Dalam tradisi keilmuan Islam, otoritas tidak semata-mata bersumber dari kedudukan formal, melainkan dari pengakuan kolektif atas kapasitas keilmuan dan moral seseorang. Karena itu, kepemimpinan ulama tidak boleh terjebak pada pengkultusan individu. Ia harus ditopang oleh musyawarah, kolektivitas, dan kelembagaan.

Dari sinilah lahir konsep Rais ’Aam Syuriyah. Otoritas tertinggi NU tidak lagi dipahami sebagai otoritas personal seorang tokoh, melainkan sebagai kepemimpinan yang dijalankan melalui lembaga Syuriyah. Rais ‘Aam menjadi primus inter pares, yang pertama di antara para ulama, sekaligus penjaga arah, nilai, dan prinsip dasar jam’iyah.

Dalam perspektif tata kelola organisasi, perubahan tersebut sesungguhnya merupakan transformasi dari model kepemimpinan karismatik menuju kepemimpinan institusional. Yang dipertahankan bukan dominasi figur, melainkan keberlanjutan sistem. Yang dijaga bukan hanya kewibawaan individu, melainkan kewibawaan lembaga.

Menariknya, konstruksi ini justru sangat sejalan dengan prinsip-prinsip tata kelola modern. Organisasi besar pada umumnya memisahkan fungsi penentu arah dengan fungsi pelaksana. Dalam dunia korporasi dikenal pemisahan antara dewan komisaris dan direksi. Dalam tata negara dikenal pemisahan antara lembaga penjaga konstitusi dan lembaga pelaksana pemerintahan. Dalam NU, pemisahan itu tercermin dalam hubungan antara Syuriyah dan Tanfidziyah.

AD dan ART NU menempatkan Rais ‘Aam sebagai pemimpin tertinggi jam’iyah sekaligus penjaga arah keagamaan dan konstitusional organisasi. Sementara itu, Ketua Umum Tanfidziyah memimpin pelaksanaan program, pengelolaan organisasi, dan berbagai aktivitas operasional sehari-hari. Dengan kata lain, Rais ’Aam berfungsi sebagai penjaga kompas organisasi, sedangkan Ketua Umum menjadi penggerak mesin organisasi.

Pertanyaannya, apakah model ini masih kompatibel dengan tantangan zaman sekarang?

Jawabannya bukan hanya kompatibel, tetapi berpotensi menjadi salah satu model tata kelola organisasi keagamaan yang paling maju jika dijalankan secara konsisten.

Di era kecerdasan buatan, digitalisasi, disrupsi sosial, perubahan geopolitik, dan krisis lingkungan global, organisasi besar menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, kebutuhan untuk bergerak cepat. Kedua, kebutuhan untuk tetap berpegang pada nilai dan identitas. Banyak organisasi mampu berinovasi tetapi kehilangan arah. Sebaliknya, tidak sedikit yang mampu menjaga tradisi tetapi gagal beradaptasi.

Struktur kepemimpinan NU sebenarnya dirancang untuk menjawab dua kebutuhan tersebut sekaligus. Syuriyah memastikan bahwa langkah-langkah organisasi tetap berada dalam koridor nilai, maqashid syariah, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah. Tanfidziyah memastikan bahwa organisasi mampu bergerak dinamis menghadapi perubahan zaman. Dalam teori tata kelola modern, keseimbangan seperti ini merupakan salah satu bentuk checks and balances yang ideal.

Namun, relevansi suatu sistem tidak hanya ditentukan oleh desainnya, melainkan juga oleh kualitas implementasinya. Tantangan terbesar NU ke depan bukanlah mengganti sistem yang ada, melainkan memastikan sistem tersebut bekerja secara efektif.

Syuriyah tidak boleh terjebak hanya menjadi simbol legitimasi formal. Sebaliknya, ia harus menjadi pusat kebijaksanaan strategis yang mampu membaca perubahan zaman dan memberikan arah bagi organisasi. Pada saat yang sama, Tanfidziyah tidak boleh sekadar menjadi pelaksana administratif, melainkan harus menjadi motor inovasi dan transformasi organisasi.

Yang lebih penting lagi, supremasi Syuriyah perlu terus dimaknai sebagai supremasi nilai dan kebijaksanaan kolektif ulama, bukan supremasi personal seorang pemimpin. Sebab sejak awal, perubahan dari Rais Akbar menjadi Rais ’Aam justru dimaksudkan untuk menghindari personalisasi otoritas. Kekuatan NU terletak pada kelembagaan, bukan pada figur semata.

Di sinilah letak kebesaran visi para pendiri NU. Ketika banyak organisasi masih bertumpu pada kharisma individu, NU telah mengambil langkah maju dengan membangun sistem yang menempatkan musyawarah, kolektivitas, dan kelembagaan sebagai fondasi kepemimpinan. Perubahan dari Rais Akbar menjadi Rais ’Aam Syuriyah bukan sekadar perubahan nama. Ia merupakan tonggak penting dalam perjalanan NU dari organisasi yang bertumpu pada kharisma pendiri menuju organisasi yang bertumpu pada kekuatan institusi.

Karena itu, dalam agenda Muktamar ke-35 NU, yang perlu terus diperkuat bukanlah pencarian figur yang paling kuat, melainkan penguatan sistem yang memungkinkan kharisma ulama, otoritas keilmuan, kebijaksanaan kolektif, dan profesionalisme organisasi bekerja secara harmonis. Hemat saya, itulah pesan besar yang terkandung dalam perubahan nomenklatur dari Rais Akbar menjadi Rais ’Aam Syuriyah.

Robikin Emhas, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 2015-2021

Gelar Maulid Akbar, Kiai Misbah: Ayo Hadir Bersama Aswaja Center

Tags: Kepemimpinan PBNUNahdlatul UlamaNURais AamRais AkbarRobikin Elhas
Share210Tweet131SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua
Opini

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

by liputan9news
September 13, 2026
0

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

Read more
KH. Taufik Damas, Lc. MA., Aktiivis Muda NU & Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta.

NU Abad Kedua: Otokritik yang Belum Selesai

September 22, 2026
Melanjutkan Amanah Nahdliyyin Betawi: Dari Muktamar 1933 Batavia Menuju Jakarta Kota Global

Melanjutkan Amanah Nahdliyyin Betawi: Dari Muktamar 1933 Batavia Menuju Jakarta Kota Global

September 10, 2026
Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU) Abd. Aziz bersama Kiai Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kantor PWNU Jatim, Selasa, 8 September 2026 sore.

Gus Kikin dan Ujian Besar Membenahi “Konstitusi” NU: Sebuah Kontribusi Pemikiran

September 9, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2632
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

760
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In