CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Untuk mengukur seberapa penting perpustakaan bagi masyarakat pengguna buku, saya mencoba mengidentifikasi 100 judul buku koleksi di perpustakaan pribadi saya secara acak. Cara pengukuran yang saya pakai sangat sederhana, menghitung berapa banyak penulis buku yang mengucapkan terima kasih kepada perpustakaan (nasional, daerah, perguruan tinggi, sekolah, komunitas) sehingga buku tersebut dapat terbit, yang tertulis dalam setiap pengantar penulis di masing-masing buku.
Hasilnya, perpustakaan perguruan tinggi menempati posisi paling tinggi 96 persen, diikuti bahan bacaan dari sumber lain, toko buku atau teman 82 persen. Perpustakaan nasional di posisi ketiga, sebanyak 79 persen, Perpustakaan daerah 57 persen, diikuti perpustakaan umum/komunitas 8 persen dan terakhir perpustakkan sekolah sebesar 3 persen.
Jumlah penggunaan buku yang sumbernya variatif bagi para penulis buku di atas, secara spekulatif dapat ditelusuri, faktor kemudahan dan kedekatan penulis buku dengan perpustakaan menjadi faktor utama. Karena itu, menjadi rasional mengapa perpustakaan perguruan tinggi, bahan bacaan dari sumber lain, dan perpustakaan daerah menjadi tempat favorit bagi para penulis. Perpustakaan sekolah dan perpustakaan komunitas hanya 3 persen dan 8 persen, diduga karena terkait dengan orientasi dan fungsi kedua perpustakaan tersebut yang lebih terbatas dan spesifik. Perpustakan nasional menempati posisi ketiga dengan 79 persen, hampir semua penulis buku menyebut karena perannya yang sangat besar dalam menyediakan akses buku-buku lama dan langka yang sulit didapatkan lagi di pasaran maupun tempat-tempat lain. Terlepas dari penjelasan arti penting masing-masing perpustakaan bagi para penulis, yang dapat diambil dari sampel ini adalah bahwa perpustakaan menjadi kebutuhan mutlak bagi masyarakat.
Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (Negara, 2007) . Bisa dikatakan perpustakaan adalah lembaga jasa yang melayani kebutuhan masyarakat dalam bidang informasi dan pustaka. Bila jasa perpustakaan memuaskan maka pengguna akan terus datang, secara kuantitas bertambah, dan keuntungan dalam berbagai bentuk meningkat dengan sendirinya. Sebaliknya, bila layanan perpustakaan tidak memuaskan pengguna akan ditinggalkan, pengguna jasa menurun, dan citra negatif akan melekat. Kemunduran, kebangkrutan, bahkan penutupan adalah resiko-resiko yang paling dekat, ketika pengguna meninggalkan jasa layanan yang diberikan oleh perpustakaan.
Untuk menghindari akibat buruk dari ketidakpuasan pengguna, maka perpustakaan penting dikelola secara profesional dan standart mutu tinggi (mutu absolut) dengan mengadaptasi dunia industri-bisnis, misalnya. Di dunia industri senantiasa menghayati (bahkan menciptakan desain) perkembangan peradaban sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan masyarakat (Edward, 2018). Perkembangan masyarakat kemudian menjadi basis untuk menciptakan produk dan dipasarkan. Melalui cara ini dunia bisnis telah mampu membujuk masyarakat untuk membeli, sehingga melahap produk berlipat dan menciptakan gelembung besar keuntungan.
Perpustakan dapat mengadaptasi cara yang relatif sama dengan dunia bisnis untuk memasarkan jasanya agar pengguna menjadi ketagihan dan menemukan-menciptakan pengguna-pelangan baru yang potensial dan strategis. Globalisasi, industrialisasi, dan sistem informasi tingkat tinggi, yang melaju bersama kehidupan masyarakat saat ini harus dihayati oleh pengelola perpustakaan sebagai peluang-peluang untuk memajukan jasa yang diberikan (Schwab, 2016). Artinya, jasa layanan perpustakaan harus senantiasa disesuaikan dengan kemajuan zaman. Tanpa cara demikian perpustakaan nasional akan tergerus oleh laju layanan perpustakaan yang semakin banyak tumbuh di masyarakat, utamanya perpustakaan umum dan perguruan tinggi.
Perpustakaan mesti bergerak cepat untuk melakukan pembrandingan secara konsisten dan menjaga kredibilitas (reinventing), sehingga akan lebih mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Digitalisasi perpustakaan (perpustakaan digital) yang sering di sebut sebagai hybrid library (perpustakaan hibrida) merupakan wajah baru dunia perpustakaan yang akan mendominasi di masa-masa mendatang. Karena dengan perpustakaan digital, pengguna dapat mengakses perpustakaan dalam waktu dua puluh empat jam non stop, tanpa terkendala tempat, kawasan, waktu, dan situasi (Harahap, 2018). Perpustakaan menjadi pelaksana teori dunia datar, the world is flat seperti yang dikatakan Friedman (Leamer, 2007).
Meskipun perpustakaan digital akan merajai dunia perpustakaan di masa-masa mendatang, namun perpustakaan model konvensional dalam bentuk pelayanan pustaka secara fisik (hard copy) tetap akan abadi. Berbagai karya anak bangsa, tentang bangsa, dan karya-karya dari dunia manapun akan tetap harus dipelihara secara fisik. Meskipun dipercanggih dalam bentuk digital, bentuk fisik suatu karya harus tetap terpelihara dan terabadikan.
Namun demikian, berbagai kemudahan dan kecanggihan mengakses perpustakaan, baik digital maupun konvensional, tidak akan pernah terwujud bila tidak dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia yang baik. Sumberdaya manusia ini merupakan salah satu tantangan paling berat di banyak perpustakaan (Mahmood, n.d.).
Pendanaan juga menjadi masalah klasik untuk dapat mewujudkan perpustakaan yang kredibel, sekaligus mampu mengelola berbagai jenis pustaka, termasuk naskah-naskah kuna dan sebagian besar pustaka bermutu dari berbagai belahan dunia. Tanpa pendanaan yang besar, sehebat apapun sumber daya yang dimiliki tak akan mampu mengemban amanat khitah perpustakaan.
Untuk menciptakan perpustakaan yang bermutu, maka penting belajar dari para guru mutu yang telah berhasil menempatkan dunia bisnis pada posisi leading. Total Quality Management atau Manajemem Mutu Terpadu (Sallis, 1996) dapat dijadikan rujukan potensial untuk meningkatkan mutu perpustakaan yang ideal. Mudah di akses, layanan cepat, dengan kelengkapan pustaka. Pasca perang dunia kedua Jepang mengadopsi MMT dalam dunia industri, hasilnya luar biasa Jepang menguasai industri dunia, termasuk menjatuhkan industri Amerika Serikat . Pengelola perpustakaan untuk menjadi perpustakaan terdepan maka penting belajar pada para guru mutu, seperti Wiliam Edward Demming, Joseph N. Juran, Philip B. Crosby, Shigeo Shingo, Kaoru Ishikawa, dan Genichi Taguchi (Dahlgaard et al., 2007).
Pemasaran dalam dunia bisnis telah berhasil mendorong masyarakat dalam melipatgandakan pembelian suatu produk. Philip Kotler dan Gerald Zaltman, pakar pemasaran dari Amerika Serikat, meyakini teknik-teknik pemasaran dalam bisnis juga dapat diadaptasi dan diterapkan untuk menjual gagasan dan perilaku dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan. Cara menjual untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan ini oleh Kotler dan Gerard disebut dengan istilah social marketing, pemasaran sosial (Kotier & Zaltman, 1996). Sosial marketing diharapkan dapat mengubah pemikiran, persepsi, sikap, dan perilaku masyarakat pada keadaan yang lebih maju. Pengalaman di berbagai negara terbukti bahwa melalui social marketing dapat memberdayakan organisasi, lembaga,dalam memperoleh dukungan untuk melanjutkan hidupnya yang lebih berkualitas, antara lain dalam memperoleh sumber dana potensial yang berasal dari masyarakat secara luas.
Perpustakaan dapat membuka akses yang lebih besar untuk mendapatkan support dari sektor fund raising ini. Perpustakaan memang harus memiliki tim kreatif yang memiliki jiwa enterpreneurship yang handal, serta rela bekerja ekstra, agar fund raising dapat membantu dan mendorong secara signifikan untuk mewujudkan perpustakaan ideal. Dalam konteks seperti ini, tantangan perpustakaan untuk menggalang fund raising tampak signifikan dijadikan prioritas. Karena mengharapkan dana yang cukup dari pemerintah, pada kenyataannya selalu jauh panggang dari api. Kerjasama dengan berbagai pihak yang selama ini telah di galang harus terus dijadikan cermin yang baik untuk peningkatan mutu perpustakaan. Bukan hanya dari segi pengelolaan dan pengadaan bahan pustaka, tetapi juga pada peningkatan kualitas dan kuantitas perpustakaan yang mengemban amanat di bidang penelitian.
Dr. Nurul Huda SA, Staf Pengajar Programs Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. Menyelesaikan Pendidikan sarjana dan magister di UIN Sunan Kalijaga. Mendapatkan gelar Doktor Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) dari Universitas Negeri Yogyakarta. Anggota Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI). Alumni Pondok Pesantren Al-Qur’aniyy Mangkuyudan Solo dan Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Salah satu pendiri Pondok Pesantren Bumi Cendekia dan Pondok Pesantren Inovasi Bangsa Yogyakarta.






















