• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Elite yang Tidak Kompeten dan Masalah Mis-Alokasi Talenta

August 21, 2025

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

June 6, 2026
SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

June 6, 2026
Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur). Oleh: Ahmad Samsul Rijal

Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur)

June 6, 2026
BGN Jadi Ladang Korupsi, PNIB Ngamuk

BGN Jadi Ladang Korupsi, PNIB Ngamuk

June 6, 2026
Mantan Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), di Surabaya, Rabu (03/06/2026).(Foto: kompas.com/Adhi Dwi)

Gus Salam Sebut pada Muktamar NU Ke-35 PC dan PWNU Ingin Perubahan di PBNU

June 5, 2026
KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang Rembang.

Gus Rosikh: NU Jangan Dibuat Mainan, Jangan Jadi Alat Kepentingan Antar Kelompok, NU Ora Didol, Reformasi PBNU

June 5, 2026
Prabowo Mania 08 Apresiasi Pergantian Kepala BGN Baru Naniek S. Deyang

Prabowo Mania 08 Apresiasi Pergantian Kepala BGN Baru Naniek S. Deyang

June 4, 2026
Pemberantasan Korupsi di BGN, Bukti Nyata dan Komitmen Prabowo Sesuai Amanat Reformasi 98

Pemberantasan Korupsi di BGN, Bukti Nyata dan Komitmen Prabowo Sesuai Amanat Reformasi 98

June 4, 2026
PNIB Tuntut Negara Wajib Bubarkan FJI, Jangan Tunduk dan Kalah Pada Intoleransi Terorisme, Pelaku Penghalangan Ibadah dan Pendirian Rumah Ibadah Wajib Ditindak Tegas

PNIB Minta Negara Bubarkan FJI

June 4, 2026
M Nadhim Ardiansyah, Dir Pertanian dan Energi BEM PTNU Se Nusantara

Dir BEM PTNU soroti MBG: Antara Harapan Besar dan Krisis Tata Kelola

June 4, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Saturday, June 6, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Elite yang Tidak Kompeten dan Masalah Mis-Alokasi Talenta

Oleh: Sulaiman Djaya

liputan9news by liputan9news
August 21, 2025
in Opini
A A
1
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Budayawan

501
SHARES
1.4k
VIEWS

BANTEN | LIPUTAN9NEWS

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih, Sri Mulyani, bicara tentang kemiripan antara pajak dan zakat, bahkan cenderung berusaha menganalogikan pajak dengan zakat. Kengawuran Sri Mulyani yang menganalogikan pajak dengan zakat, tak boleh dianggap remeh. Memiliki ragam kemungkinan: ketakpahaman ekonomi, inkompetensi hingga politisasi agama.

Meski demikian, saya tak mau bersikap sarkastis terhadapnya seperti halnya beberapa teman saya yang mendapuk-nya sebagai SPG (Sales Promotion Girl)-nya IMF (International Monetary Fund) dan World Bank. Namun demikian, dengan tulisan ini, saya sebenarnya ingin bicara ngalor-ngidul saja terkait keprihatinan saya atas Indonesia.

Negara bangsa ini, yah Indonesia, sebenarnya sedang mengalami rongrongan dari berbagai sisi: sosial-ekonomi-politik serta sisi kultural-keagamaan, yang jika kita tidak memahami jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang unik, memiliki kecerdasan dan falsafah jenuin-nya, niscaya akan ambruk, dan tak lebih menjadi sebuah geografi yang kehilangan identitas dan ideologinya. Di sinilah perlu kembali ditegaskan bahwa ideologi dan falsafah kita bukan liberalisme, neoliberalisme, atau pun komunisme, tetapi ideologi keadaban dan kemanusiaan yang telah tertuang dalam Pancasila dan UUD 45.

BeritaTerkait:

POROZ Minta IM3 Indosat Tarik Iklan “Telpon Ngajak Zakat, Jangan Diangkat! Jangan-jangan Scammer”

Khutbah Jumat: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah

Belajar dari Einstein

Komisi Fatwa MUI Masih Kaji Nisab Zakat Pendapatan Versi Baznas

Sayangnya, elite-elite Negara bangsa ini bukanlah mereka yang menjalankan amanat dan pengamal falsafah serta ideologi Negara bangsa sendiri. Alih-alih mereka hanya menjadi ‘perpanjangan’ tangan dari ideologi-ideologi ekonomi-politik dan paham-paham imporan seperti neoliberalisme yang membuat Negara bangsa ini tak punya jatidiri dan menjadi pelayan oligarkhi dan korporasi global ketika menetapkan kebijakan-kebijakan neoliberal, seperti privatisasi aset-aset publik dan pencabutan subsidi sosial –sembari mengorbankan kepentingan nasional yang utama, yaitu kesejahteraan rakyat.

Negara bangsa ini merupakan geografi dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, yang karenanya menjadi sasaran upaya ‘konsumerisasi’ atau upaya menjadikan warga Negara ini hanya sebagai konsumen oleh perusahaan-perusahaan multinasional, hanya menjadi pasar konsumen semata, yang pada saat bersamaan, sejumlah kebijakan pemerintah lebih berpihak kepada korporasi global yang mengorbankan kepentingan nasional, bukannya kepada sektor-sektor yang digarap dan dikelola rakyat, seperti kebijakan yang pro-petani, nelayan, dan usaha-usaha rakyat kecil serta industri manufaktur dalam negeri yang akan meningkatkan ekspor dan daya-saing.

Dari segi politik, dalam sistem dan mekanisme demokrasi neo-liberal yang dipraktikkan di Indonesia saat ini, banyak mereka yang tidak kompeten dengan modal kapital dari korupsi menjadi para elit karena didukung partai politik untuk kembali korupsi. Mereka yang menjadi para menteri di kabinet presiden dan wakil presiden Indonesia yang terpilih berasal dari orang-orang partai politik yang tidak kompeten ini. Begitu pun posisi-posisi strategis lainnya akan menyingkirkan mereka yang kompeten dan kapabel karena mereka bukan bagian dari ‘orang dalam’ atau bagian dari partai politik dan jaringan loyalis lainnya yang serupa. Inilah yang dalam istilah populer disebut sebagai talent misallocation atau masalah mis-alokasi talenta, yaitu ketika orang-orang yang kompeten justru tersingkir dan tidak diberdayakan oleh Negara.

Jika demikian, adalah nonsense belaka slogan meritokrasi dalam birokrasi dan pemerintahan. Sebab, pada kenyataannya pos-pos penting kebijakan dalam birokrasi dan pemerintahan mayoritas diisi orang-orang yang lebih akrab dengan kasak-kusuk ketimbang oleh mereka yang kompeten dan kapabel, mereka yang memiliki khazanah, memahami persoalan-persoalan penting dan tahu mengatasinya. Tahu kebijakan apa yang harus mereka tetapkan dan terapkan. Sayangnya, pos-pos penting dalam birokrasi dan pemerintahan lebih sering diisi oleh mereka yang berada dalam jaringan loyalis para kandidat atau partai politik alias orang dalam. Dan itu juga yang terjadi tingkat pemerintahan pusat.

Terkait dengan hal itu, barangkali kita sangat layak untuk bertanya: apakah sebaiknya partai politik di Indonesia tidak mesti terlalu banyak? Ini mungkin pertanyaan sensitif tapi menjadi sangat penting karena aktual dengan situasi dan kondisi. Mereka merusak ekosistem sosial-politik hanya sebagai medan dan praktik transaksional belaka. Rakyat hanya dijadikan alat dan tidak diberi kesempatan untuk bersuara dan berpartisipasi dalam kebijakan yang justru akan sangat berdampak kepada mereka. Jawaban untuk pertanyaan tersebut tentu saja perlu dirembugkan secara matang.

Terkait Sri Mulyani, ia merupakan contoh ketidakkompetenan yang bukan dari kalangan partai politik, di saat banyak mereka yang profesional dan ahli yang sesungguhnya cocok untuk berada di posisi jabatannya. Pernyataan Sri Mulyani lainnya yang jelas dan terang menunjukkan ketakpahamannya terhadap konstitusi tertinggi Negara adalah: “guru adalah beban Negara…”, padahal pendidikan merupakan tulang-punggung dan fondasi utama kemajuan dan keberdayaan-kekuatan sebuah bangsa dan masyarakat.

Pernyataannya itu bertambah ironis dan miris di saat gaji anggota DPR naik berlipat-lipat, belum lagi ditambah tunjangan mereka yang tak kalah fantastis, gaji orang-orang BUMN yang justru banyak yang rugi dan korupsi.

Masalah mis-alokasi talenta ini yang menurut banyak pakar merupakan salah-satu faktor utama mandeg-nya Indonesia, jelang satu abad usianya. Mereka yang berprestasi dalam sains dan teknologi bahkan lebih memilih berkarir di luar negeri ketimbang di negeri sendiri. Yah karena mereka tahu bila pulang ke Indonesia justru tidak akan mendapatkan tempat yang akan menampung bakat dan kapasitas mereka. Yang untung malah Negara lain karena bisa memanfaatkan talenta-talenta berbakat Indonesia untuk kemajuan Negara mereka. Belum terciptanya ekosistem riset sains dan teknologi yang komprehensif juga merupakan kendala bagi lahirnya kreativitas dan inovasi Indonesia, dan investasi Negara masih sangat minim dalam bidang ini. Kalah jauh dengan Iran yang justru diembargo Barat, apalagi dengan Tiongkok, sebagai sesama Negara Asia.

Sulaiman Djaya, penyair

Tags: EliteKompetenPajakSulaiman DjayaWakafZakat
Share200Tweet125SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Dr. KH. Bukhori Muslim, Lc, MA, Ketua Umum Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ)
Filantropi

POROZ Minta IM3 Indosat Tarik Iklan “Telpon Ngajak Zakat, Jangan Diangkat! Jangan-jangan Scammer”

by Yuzep Ahmad
April 3, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ), sebagai wadah berhimpunnya lembaga-lembaga pengelola zakat di Indonesia, menyampaikan protes keras dan...

Read more
Zakat Fitrah

Khutbah Jumat: Hikmah Zakat Fitrah, Menyucikan Jiwa dan Menyempurnakan Ibadah

March 14, 2026
Sulaiman-Djaya

Belajar dari Einstein

March 10, 2026
Ilustrasi Harta Pendapatan

Komisi Fatwa MUI Masih Kaji Nisab Zakat Pendapatan Versi Baznas

March 8, 2026
Load More

Comments 1

  1. herpafend says:
    4 months ago

    **herpafend**

    herpafend is a natural wellness formula developed for individuals experiencing symptoms related to the herpes simplex virus.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2579
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143

Dari Rais Akbar ke Rais ’Aam: Relevansi Kepemimpinan Ulama NU di Era Modern

June 6, 2026
SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

SIG III dan Aksi Tanam Pohon, PMII IAI Ngawi Perkuat Kaderisasi dan Kepedulian Lingkungan

June 6, 2026
Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur). Oleh: Ahmad Samsul Rijal

Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur)

June 6, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In