• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Sulaiman Djaya

Film The Name of the Rose, Satir Semiotik di Antara Sejarah dan Politik 

December 15, 2025
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta menyatakan dukungan dan apresiasi terhadap sikap tegas Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

BEM PTNU Wilayah DKI Jakarta Apresiasi Kapolri Listyo Sigit Prabowo

February 1, 2026
Hodri Ariev

Pesan Metafora Harlah Satu Abad NU: Mampukah Marwah Pesantren Menjadi Kompas Kepemimpinan Jam’iyah?

February 1, 2026
Cholil Nafis-MUI

MUI Minta Presiden Prabowo Menarik Diri dari BoP

February 1, 2026
KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh PP Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang Jawa Timur

Tinjau Ulang Keanggotaan Indonesia Di BoP dan NU Harus Tegas Mengingatkan

February 1, 2026
Gus Yahya

Rais Aam dan Sekjen PBNU Hingga Prabowo tidak Hadiri Harlah Ke-100 NU, Ini Penjelasan Gus Yahya

February 1, 2026
Dr.H. Dudy Imanuddin Effendi, M.Ag., MQM., Pengamat Sosial dan Wakil Dekan I Bidang Akademik FDK UIN Bandung

Meneguhkan Polri di Bawah Presiden: Kuatkan Agenda Reformasi, Bukan Degradasi Institusi

February 1, 2026
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat memimpin konferensi pers di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (Foto: NU Online/Syakir NF)

Ketum PBNU Tegaskan Seluruh Unsur Organisasi Kompak Hadiri Harlah Ke-100 NU

January 31, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Monday, February 2, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Film The Name of the Rose, Satir Semiotik di Antara Sejarah dan Politik 

Oleh: Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya by Sulaiman Djaya
December 15, 2025
in Opini
A A
0
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, Ketua Bidang Perfilman Majelis Kebudayaan Banten

500
SHARES
1.4k
VIEWS

BANTEN | LIPUTAN9NEWS

“Buku-buku acapkali membicarakan buku lain….kala membaca buku Thomas Aquinas, aku jadi tahu apa yang dikatakan oleh Averroes (Ibn Rusyd)” (Umberto Eco, The Name of the Rose). “Jika dua hal tidak cocok namun Anda mempercayai keduanya, dan Anda berpikir sesuatu telah tersembunyi, maka yang menghubungkan ketiganya adalah iman” (Umberto Eco, Foucault’s Pendulum)

Adalah William dari Baskerville dan muridnya, Adso dari Melk, dua orang novis Katolik yang ditugaskan menyelidiki terjadinya pembunuhan seorang tukang lukis atau seniman ilustrasi (lay-outer atau desainer) halaman buku di sebuah biara Benediktin yang terpencil –jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota dan metropolitan kala itu. Demikian kisahan film The Name of the Rose yang diadaptasi dari bukunya Umberto Eco yang populer di kalangan akademisi, intelektual dan khalayak pembaca buku lainnya.

Sesampainya di sana, mereka dikejutkan dengan kemegahan kompleks biara tersebut, bukan hanya karena bangunan gerejanya yang indah, berukir menawan serta kaya akan pusaka luar biasa, namun juga karena keberadaan Aedificium nan menjulang tinggi, yang akan mengingatkan kita pada kisah Menara Babel di Babilonia yang telah musnah ribuan tahun silam itu, sebuah narasi tentang keruntuhan yang dipicu kesombongan tiran.

Aedificium ini bahkan menyimpan permata yang luar biasa sangat berharga: naskah, buku, dan perkamen kuno dari Yunani, Andalusia, Romawi, dan pelosok Eropa. Di dalamnya, mereka menemukan berbagai risalah kuno yang diduga telah lama hilang, buku-buku sains dan ilmu pengetahuan dari negeri non Kristiani (Arab-Persia) yang di kalangan mereka disebut kawasan dan jazirah orang-orang kafir (bukan penganut Kristen), serta lembar-lembar Injil (Bible) yang paling awal.

BeritaTerkait:

Rumi

Sepenggal Kisah Inspiratif pada Sebuah Kayu Tua Masjid Pesantren 1825, Jadi Spirit Penaklukan Cicit Kiai Raden Mas Su’ud Situbondo

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

Namun, teka-teki dan pesona serta misteri kedua keburu muncul tanpa mereka duga, dan tak sempat mereka antisipasi pula. Sesosok rahib ditemukan tewas tenggelam dalam kuali penuh darah, kemudian rahib lain ditemukan meninggal di bak penampungan air. Keduanya memiliki ciri yang sama, jari dan lidahnya menghitam. Hari keempat, sang ahli herbal ditemukan meninggal juga, ia dipukul sampai mati oleh seseorang, yang tak diketahui identitasnya. William dan Adso, yang tak ubahnya Sherlock Holmes dan asistennya dalam novel Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, harus bergegas menemukan siapa pembunuhnya, sebelum korban lain jatuh, dan sebelum petaka lain datang menyusul.

Maka, malam-malam keduanya pun dipakai untuk menjelajahi labirin sekaligus perpustakaan misterius di Aedificum. Di antara pekatnya misteri dan suasana pembunuhan, keduanya menemukan berbagai buku berharga sebagai saksi kejayaan dari berbagai bangsa dan kerajaan atau imperium di masa silam.

Di sana mereka menemukan simpanan naskah-naskah kuno yang pasti membuat para pustakawan pingsan: berbagai kitab ilmu karya Averroes (Ibn Rusyd dari Andalusia), Ibnu Haitham dan Al-Khawarizmi dari Persia, perkamen para ahli zaman Yunani kuno, hingga potongan-potongan yang mungkin merupakan bagian dari Injil yang asli.

Tetapi, bagaimanapun, misteri dan teka-teki yang telah banyak merenggut nyawa itu harus dituntaskan segera oleh William dan Adso, karena pada hari kelima terjadi lagi pembunuhan dengan ciri yang sama sebagaimana kematian-kematian misterius sebelumnya. Hanya ada satu petunjuk, dan keduanya, William dan Adso yang tak ubahnya pasangan detektif swasta Sherlock Holmes dan Watson rekaan Sir Arthur Conan Doyle itu, yakin bahwa ada sebuah buku yang menyebabkan kelima orang di biara tersebut mati.

Ketika akhirnya mereka berhasil memasuki ruang rahasia di labirin dan menemukan buku itu, semuanya telah terlambat. Korban keenam telah jatuh dan korban ketujuh adalah si penjahat yang mengorbankan dirinya demi kesalihan atau purifikasi keimanan dan keagamaan. Bencananya tidak cukup sampai di situ. Perpustakaan itu, segala buku-buku kuno yang tersimpan di dalamnya, tersuulut api dan membara dalam sebuah kebakaran akbar yang tak terpadamkan.

Maka begitulah, lenyap sudah buku yang menjadi sumber dari semua malapetaka ini, yang keberadaannya telah meyakinkan seseorang untuk mengambil segala daya dan upaya yang ia bisa, agar buku itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Maka, dengan dalih melindungi kemurnian Kerajaan Kristus, ia dengan tega telah bermain racun dan melenyapkan jiwa-jiwa malang yang “terlalu ingin tahu.”

Membaca novel The Name of the Rose yang ditulis Umberto Eco yang kemudian diangkat ke layar lebar ini, memang tak ubahnya kita membaca kisah-kisah penyelidikan dan petualangan menyingkap misteri yang dilakukan oleh tokoh Sherlock Holmes dan sahabatnya, Watson, dalam lembar-lembar kisah detektif yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle itu, meski The Name of the Rose-nya Umberto Eco, tentu saja, meletakkan dan menempatkan dirinya dalam isu-isu filsafat dan kemanusiaan yang terkait dengan minat penulisnya pada isu-isu keagamaan dan pemikiran.

Umberto Eco sendiri dikenal sebagai pakar semiotika dan pembaca filsafat dan buku-buku teologi para penulis Kristen Abad Pertengahan. Minatnya pada teologi dan filsafat, cukup kentara terlihat, misalnya, dalam dialognya dengan Cardinal Carlo Maria Martini, yang salah-satu pokok pembicaraannya adalah bagaimana agar orang-orang beriman dan orang-orang yang tak beriman tetap melakukan dialog dan diskusi konstruktif demi menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik –dengan sama-sama bersikap rendah hati di antara keduanya, di antara mereka yang beriman dan mereka yang tak beriman.

Namun novel itu juga sesungguhnya sebuah sindiran keras bahwa kekerasan dan pembunuhan atas sesama manusia dalam hidup kita kerapkali dipicu atau dimotivasi oleh tafsir keagamaan oleh kelompok dan kepercayaan tertentu.

Sulaiman Djaya, Peminat Kajian Kebudayaan.

Tags: FilmSatir SemiotikSejarahSejarah dan PolitikSulaiman DjayaThe Name of the Rose
Share200Tweet125SendShare
Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya, lahir di Serang, Banten. Menulis esai dan fiksi. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di Koran Tempo, Majalah Sastra Horison, Indo Pos, Pikiran Rakyat, Media Indonesia, Majalah TRUST, Majalah AND, Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten, Rakyat Sumbar, Majalah Sastra Pusat, Jurnal Sajak, Tabloid Kaibon, Radar Banten, Kabar Banten, Banten Raya, Tangsel Pos, Majalah Banten Muda, Tabloid Cikal, Tabloid Ruang Rekonstruksi, Harian Siantar, Change Magazine, Banten Pos, Banten News, basabasi.co, biem.co, buruan.co, Dakwah NU, Satelit News, simalaba, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya Mazmur Musim Sunyi diterbitkan oleh Kubah Budaya pada tahun 2013. Esai dan puisinya tergabung dalam beberapa Antologi, yakni Memasak Nasi Goreng Tanpa Nasi (Antologi Esai Pemenang Sayembara Kritik Sastra DKJ 2013), Antologi Puisi Indonesia-Malaysia, Berjalan ke Utara (Antologi Puisi Mengenang Wan Anwar), Tuah Tara No Ate (Antologi Cerpen dan Puisi Temu Sastra IV di Ternate, Maluku Utara Tahun 2011), Sauk Seloko (Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI di Jambi Tahun 2012)), Kota, Kata, Kita: 44 Karya Para Pemenang Lomba Cipta Cerpen dan Puisi 2019, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Yayasan Hari Puisi, Antologi Puisi ‘NUN’ Yayasan Hari Puisi Indonesia 2015, dan lain-lain.

BeritaTerkait

Rumi
Opini

Rumi

by liputan9news
January 17, 2026
0

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS “Cinta adalah dasar perbuatanku” (Muhammad Rasulullah Saw). “Agama itu cinta dan cinta adalah agama” (Imam Muhammad Al-Baqir...

Read more
Sepenggal Kisah Inspiratif pada Sebuah Kayu Tua Masjid Pesantren 1825, Jadi Spirit Penaklukan Cicit Kiai Raden Mas Su’ud Situbondo

Sepenggal Kisah Inspiratif pada Sebuah Kayu Tua Masjid Pesantren 1825, Jadi Spirit Penaklukan Cicit Kiai Raden Mas Su’ud Situbondo

January 12, 2026
Sulaiman-Djaya

Kepedulian Menumbuhkan Kehidupan yang Sehat

December 28, 2025
Sulaiman-Djaya

Keutamaan Ilmu Bernalar Sahih

December 24, 2025
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2522
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

758
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

142
Bahar bin Smith. (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga).

Bahar Smith Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan dan Pencurian dengan Kekerasan

February 1, 2026
Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

Komunikasi Transendental dan Sejarah Leluhur Melalui Tawasul

February 1, 2026
Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

Ekonom Salamuddin Daeng: BI Harus Selaras Jalankan Kebijakan Kontrol DHE SDA sebagai Amanat Pasal 33 UUD 1945

February 1, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In