JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Jazuli, Lc., MA, menyoroti dua agenda penting NU setelah pelantikan pengurus PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026). Salah-satunya pembaruan dakwah digital dan transformasi sumber daya manusia (SDM) pesantren.
Menurut KH Imam Jazuli, NU perlu mengembangkan pendekatan dakwah yang mampu menjangkau generasi muda, terutama Generasi Z dan Generasi Alpha. Dakwah tidak cukup hanya mengandalkan pengajian konvensional, tetapi harus hadir di ruang digital dengan konten yang relevan dan solutif.
“Agenda besar kita adalah bagaimana NU itu bisa diterima oleh Gen Alpha dan Gen Z,” ujar KH Imam Jazuli dalam keterangan dilansir dari Kompas.com, Selasa (27/10/2026).
Ia menilai, konten dakwah perlu dikemas lebih kreatif dan sesuai dengan kebiasaan generasi muda, termasuk melalui video singkat berdurasi sekitar 60 detik. Materi yang disampaikan juga harus menjawab persoalan nyata yang mereka hadapi.
“Tentu perlu perubahan paradigma dakwah NU, khususnya dalam dakwah digital, bagaimana menyentuh mereka,” terangnya.
Selain dakwah digital, KH Imam Jazuli menekankan pentingnya transformasi pendidikan pesantren agar mampu menghasilkan lulusan dengan kompetensi yang lebih beragam.
Menurut alumni Universitas Al-Azhar tersebut, pendidikan pesantren selama ini masih banyak berfokus pada bidang keagamaan, sementara Indonesia membutuhkan SDM berkualitas untuk mengisi berbagai sektor, mulai dari birokrasi pemerintahan hingga dunia profesional dan kewirausahaan.
“Bagaimana agar pesantren-pesantren itu mulai berpikir menciptakan SDM andal sesuai dengan kebutuhan negara ini. Dengan begitu, ke depan, kita bisa mengharapkan pesantren itu sebagai solusi untuk bangsa,” tegasnya.
KH Imam Jazuli juga menilai kompetensi akademik perlu berjalan seiring dengan integritas. Karena itu, ia mendorong agar lulusan pesantren memiliki kemampuan yang memadai untuk berkontribusi dalam tata kelola pemerintahan dan pembangunan nasional.
Ia meminta para pengasuh pesantren terbuka terhadap perubahan, tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan tradisi pesantren.
Dalam hal ini, KH Imam Jazuli menegaskan PBNU perlu mengambil peran dalam memfasilitasi transformasi tersebut agar lulusan pesantren memiliki kesempatan berkontribusi lebih luas.
“Di situlah pentingnya para pengasuh pesantren untuk siap bertransformasi, dan PBNU sebagai ormas harus memfasilitasi ini agar proses transformasi ini bisa berjalan,” pungkasnya.

























