JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Melihat sosok KH. Imam Jazuli hari ini, yang mengasuh dan berdiri di tengah ribuan santri di Pesantren Bina Insan Mulia, ingatan saya justru kerap melompat jauh ke belakang—ke lorong-lorong Cairo yang berdebu, ke aroma teh di kedai kopi pinggir jalan, dan ke ruang-ruang diskusi yang penuh asap rokok serta argumen yang meledak-ledak.
Bagi lebih dari 5.000 santrinya, ia adalah Kiai. Teladan dan ayah ideologis. Namun bagi saya, ia tetaplah Izul; sosok sahabat yang sejak masa mahasiswa di Al-Azhar telah memilih jalan hidup sebagai “sang pengganggu” kemapanan berpikir.
Kenangan saya paling lekat bermuara pada meja redaksi. Saat itu, kami bersama-sama mengelola Buletin Mahasiswa Terobosan, lalu berlanjut di Jurnal Nuansa (KMNU) dan di ICMI Orsat Cairo. Di sanalah saya melihat bagaimana nalar kritis Izul bekerja. Ia bukan tipe pemikir yang puas dengan sekadar menghafal teks-teks klasik tanpa kontekstualisasi.
Izul adalah musuh bebuyutan bagi “mentalitas sektarian”. Ia seringkali melempar kritik tajam pada kawan-kawan mahasiswa yang lebih senang menghabiskan waktu di sekretariat organisasi kedaerahan tanpa bobot akademis yang jelas. Baginya, menjadi mahasiswa adalah tugas intelektual, bukan sekadar gaya-gayaan berorganisasi.
Ada satu fragmen ingatan yang tak mungkin luntur: peristiwa di Senat Ushuluddin Universitas Al-Azhar Mesir -PPMI. Saat itu, dengan gagah dan berani, Izul sebagai ketua Senat mengundang tokoh Kristen Koptik Mesir, Milad Hana untuk nara sumber seminar, Di tengah iklim mahasiswa yang mungkin masih kaku, ia berani mendobrak sekat eksklusivisme.
Puncak dari “keliaran” ijtihad politiknya adalah ketika ia menjadi pendiri dan ketua partai PDIP Perwakilan Mesir (Anis Maftuchin Sekjend, dan Guntur Romli Bendahara)—ini adalah sejarah, ketika membidani lahirnya organisasi politik nasionalis sekuler di gerbang al-Azhar Mesir. Saat banyak mahasiswa Azhar masih berdebat apakah “politik Islam” itu wajib, Izul sudah melompat jauh ke depan dengan sebuah tesis sederhana namun mendalam: “Berpartai adalah soal ijtihad.” Ia meyakini bahwa pengabdian pada bangsa tidak harus selalu dipasung dalam simbol-simbol agama yang formalistik.
Kritis bukan berarti tanpa risiko. Izul adalah pribadi yang gentle. Saya teringat ketika ia menulis kritik keras soal sektarianisme yang menyinggung salah satu organisasi kedaerahan. Alih-alih lari, ia memenuhi undangan organisasi tersebut untuk mempresentasikan pemikirannya.
Namun, kejujuran intelektual terkadang harus dibayar mahal. Saat berpamitan pulang, ia menerima kekerasan fisik dari ratusan oknum mahasiswa yang tidak siap menerima otokritik. Di titik itulah saya melihat kualitas seorang Imam Jazuli: ia tidak gentar oleh bogem mentah. Baginya, kebenaran yang diyakini harus disampaikan, meski tubuh harus menjadi sasarannya.
Jika dibandingkan dengan sahabat kami, Gus Zuhairi Misrawi (Dubes RI untuk Tunisia) yang kritisisme-nya lahir dari pergulatan teks-teks akademis yang ketat, Izul memiliki corak yang berbeda. Kritisisme Izul adalah kritisisme lapangan—sebuah perpaduan antara pembacaan realitas sosial dan keberanian untuk bersikap tidak populer. Izul sering menulis opini yang anti kemapanan, sementara Gus Zuhairi lebih memilih artikel ilmiah.
Melihat tulisan-tulisan dan sikapnya hari ini—terutama dalam mengkritisi dinamika internal NU dan isu-isu nasional lainnya—banyak orang mungkin kaget dengan gayanya yang tetap “pedas”. Namun bagi saya, itu bukan hal baru. KH Imam Jazuli tetaplah Izul dan tidak berubah. Ia hanya bertransformasi dari seorang mahasiswa aktivis menjadi seorang Kiai aktivis.
Dan, ia tetaplah “pendobrak” yang sama. Kesuksesannya membangun pesantren dengan ribuan santri tidak membuatnya menjadi “jinak” oleh kemapanan posisi. Ia tetap istiqomah di jalur “melawan arus”. Ia mengajarkan kita bahwa menjadi santri atau kiai tidak berarti harus kehilangan daya kritis. Justru, kecintaan pada lembaga (seperti NU) atau bangsa, dibuktikan dengan keberanian untuk menunjukkan lubang-lubang yang perlu ditambal.
Tentu saja, sahabatku, KH. Imam Jazuli, adalah pengingat hidup bahwa kejujuran berpikir adalah aset paling berharga seorang manusia. Dari meja redaksi Terobosan hingga mimbar Pesantren Bina Insan Mulia, ia tetap memegang teguh satu prinsip: Berani berpikir, berani berijtihad, dan berani menanggung konsekuensi.
Terima kasih Zul, telah menjadi cermin yang terkadang menyilaukan, namun selalu mampu memperlihatkan bagian wajah kita yang kotor agar kita mau membasuhnya.
KH. Fadhil Rahmi, Lc., MA., Anggota DPD RI Periode 2019-2024 dan Pimpinan Pesantren Modern Al Zahrah, Bireuen Aceh

























